Perbedaan

Perbedaan
Eps1


__ADS_3

Langit sore itu terihat lebih cerah dari biasanya.


Dengan langkah santai, Bobo menghampiri dan menunggang motor sederhananya. Sekedar menghabiskan waktu senggang.


Melaju pelan untuk pergi ke sebuah taman di tengah kota, mencari suasana tenang untuk bersantai di sore hari.


Sampai di taman, ia berjalan menikmati pemandangan sekitar. Ramai orang-orang di taman yang datang untuk menghabiskan waktu senggang.


Bobo melihat ada dua wanita yang sedang santai, duduk di rerumputan bawah pohon.


Perlahan Bobo pun menghampiri mereka, sekedar mecari teman untuk lawan berbincang.


"Hai" sapa Bobo ramah berlutut di depan kedua wanita itu, menumpuhkan salah satu lututnya di atas rerumputan.


"Iya." jawab mereka serentak.


"Bolehkah aku bergabung? mungkin kita bisa berbincang-bincang sebentar?"


Kedua wanita itu sibuk memainkan gawai mereka masing-masing. "Iya silahkan, duduk saja." jawab salah satu wanita itu, tanpa menolehkan pandangannya.


"Apa kalian berdua saja? atau kalian sedang menunggu seseorang?" tanya Bobo sambil membuang bokongnya di depan mereka.


"Tidak, kami hanya bersantai saja di sini."


"Oh.., kalau begitu aku tidak mengganggu kalian, kan?"


"Tidak, santai saja" jawab salah satu cewek itu sedikit cuek.


Dengan hati yang senang, Bobo pun berlalu mengulurkan tangannya.


"Nama ku Bobo, Nama kalian siapa?"


"Nama aku Cinta, tapi panggil saja Cinte. Karena teman-temanku biasa memanggil seperti itu."


dan ini teman ku, namanya Erta." sambil menyentuh pahanya.


Setelah berkenalan, Bobo, Erta, dan Cinte pun mulai mengobrol panjang lebar.


Sepanjang percakapan, Bobo selalu membuat candaan dan tingkah konyol, yang membuat Erta dan Cinte tidak berhenti tertawa.


Bobo membuat suasana menjadi penuh kegembiraan. Sehingga Erta dan Cinte merasakan kenyamanan atas kehadiran Bobo.


Padahal mereka baru saja kenal, tapi candaan Bobo yang konyol itu mampu menyulap suasana layaknya seperti persahabatan yang sudah lama terjalain.


Di tengah perbincangan Bobo sempat berbicara dalam hatinya.


'Cantik juga dia, sepertinya dia tipe wanita yang polos. Mengapa aku merasa nyaman saat menatapnya?' lirih Bobo dalam hati mengagumi Erta.


'Jangan sampai aku ada perasaan padanya, aku harus bisa menahan.'


Bobo pun tersadar setelah berkata dalam hatinya.


Tanpa terasa mereka sudah mengobrol cukup lama. Langit sore yang cerah mulai berubah warna keorenan. Menyisahkan warna jingga di sudut sana.


"Tidak terasa ya, matahari sudah mulai tenggelam. Sepertinya kami harus pulang dulu. Takut kemalaman." ucap Cinte sambil mengenakan tasnya.


"Iya yuk, Soalnya rumahku kan jauh dari sini."


"Ohh ... Yasudah kalau begitu, hati-hati ya." ucap Bobo berdiri dari duduknya, serentak bersamaan dengan mereka.


"Oh iya ... Terimakasih ya, sudah mau mengenalku." Bobo tersenyum tipis.


"Iya sama-sama Bo, terimakasih juga sudah menghibur kami." ucap Cinte sambil tersenyum, karena kelucuan Bobo yang masih membayangi pikirannya.


Lalu mereka berjalan melangkah dengan arah yang berbeda. Baru beberapa langkah berjalan Bobo membalikan badannya.


"Semoga kita bisa bertemu lagi, ya!" teriak Bobo melambaikan tangan, berjalan mundur.


Saat ini suasana hati Erta sedang tidak baik, Erta sedang mengalami patah hati. Karena baru satu minggu ia putus dengan pacarnya.


Tujuan Erta pergi ke taman hari ini, ingin menenangkan hati, sambil becerita tentang kesedihannya pada Cinte.


Karena itu bibir Erta tidak mengeluarkan sepatah kalimat pun saat bersama Bobo.


Niat tulus, selalu tersenyum, bicara apa adanya dan berpikir positif, magic sederhana yang di lakukan Bobo. Sehingga pertemuan pertama mereka, Bobo mampu mencuri perhatian Erta.


"Kamu tahu Cinte, tadi aku merasa nyaman, dia sangat menghibur, ya." ucap Erta, suasana hatinya berubah jadi senang.


"Iya sama, aku juga merasa nyaman." jawab Cinte spontan. "Oh iya ... Aku tahu gimana supaya kamu bisa cepat melupakan kesedihan kamu itu." sambung Cinte.


Erta melemparkan pandangannya kearah Cinte, sedikit bingung.


"Bagaimna caranya?" sahutnya


"Kamu sering-sering saja bertemu dia. Lihat saja tadi, kamu banyak tertawa.


Posisi kamu saat ini, cocok berteman dengan orang seperti dia. Kamu butuh hiburan untuk melupakan kesedihanmu.


Aku rasa dia bisa membantumu." ujar Cinte sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Lalu bagaimana aku bisa bertemu dia? kita kan baru kenal, nomor ponselnya juga tidak ada."


Cinte memutar bola matanya. memikirkan perkataan Erta.


"Iya juga sih ..." ucap Cinte sedikit bingung.


Cinte mengangkat satu jarinya, saat sebuah ide masuk ke dalam pikirannya. "Hahh ...!" nada keras membuat Erta sedikit terkejut.


"Bagaimana kalau besok kita pergi ke taman lagi, mana tahu bisa bertemu." sambung Cinte.


Erta sedikit bingung, ia mengernyitkan dahinya. "Tapi apa mungkin dia bakal datang lagi?"


"Aku juga gak tau, tapi kita bisa mencobanya besok, siapa tau saja bertemu."


"Yasudah deh, besok pulang kerja aku jemput ya."


"Oke..." jawab cinte dengan nada semangat.


Rumah Cinte tidak terlalu jauh dari taman, tidak butuh waktu lama mereka pun sampai di rumah Cinte.


"Terimakasih sudah mengantarku." ucap Cinte sambil membuka pintu mobil.


"Iya, aku pulang dulu ya, besok aku datang lagi."


"Oke ... hati-hati ya di jalan." ucap Cinte sambil melambaikan tangan, dan berjalan memasuki perkarangan rumahnya.


Selain Erta, yang merasakan kenyamanan karena pertemuan itu. Ternyata Bobo juga merasakan hal yang sama seperti Erta.


Candaan yang sudah terjadi saat bersama mereka, masih saja membekas di pikiran Bobo saat mengendarai motornya. Kembali menuju rumahnya.


***


Pukul 5 subuh deringan alarm dari kamar Erta berbunyi.


"Hamm..." ia merenggangkan badannya. "Cepat sekali paginya." ujarnya dengan nada malas.


Kantor tempat Erta berkerja memakan waktu lebih dari 1 jam dari rumahnya.


Karena itu, Erta harus bangun subuh setiap hari, agar tidak telat pergi kekantornya.


Siang.


"Akhirnya selesai juga kerjaanya." lirih dalam hatinya.


Erta berjalan keluar kantor menuju parkiran sambil menelpon Cinte.


"Bagaimana Cinte? jadikan hari ini kita pergi?"


"Iya ... jadi kok, ini aku lagi nunggu kamu." jawab Cinte sambil bersiap-siap.


"Oh ... yasudah, tunggu sebentar ya, aku lagi jalan ini." ujar Erta. Ia melajukan mobil hitamnya menembus jalanan padat siang hari.


Tidak lama kemudian, Erta sampai di rumah Cinte.


Tok...tok...tok.


Suara ketukan dari daun pintu rumah. Cinte berjalan dari dalam rumah menuju pintu, dan membukanya.


"Hey ... kamu sudah sampai, mau duduk dulu, atau langsung berangkat?" tanya Cinte.


"kamu sudah siap? kalau sudah kita langsung berangkat saja."


"Yasudah yuk, kita berangkat."


Tanpa membuang waktu mereka melajukan mobil menuju taman.


Decitan suara dari ban mobil Erta terdengar, saat Erta menginjak pedal rem memasuki parkiran taman.


Mereka turun dan langsung berjalan menuju taman.


Erta dan Cinte berjalan memutari taman. Sembari Erta menenangkan degupan jantungnya yang bertabuh kencang.


"Kira-kira Bobo ada gak ya, kalau tidak ada sia-sia dong kita kemari."


"Ya ... muda-mudahan saja ada." ucap Cinte.


Setelah beberapa waktu memutari taman. Tapi mereka belum melihat adanya Bobo di setiap sudut taman.


"Aku capek jalan terus, cari tempat duduk yuk, kita istirahat dulu." ucap Cinte dengan nafas sedikit lelah.


"Yasudah, aku juga capek. Kita duduk di sana saja." menunjuk kearah


bangku di bawah pohon yang rimbun.


Setelah berjam-jam mereka duduk berdua, saling bercerita sampai hari


mulai gelap, tapi Bobo tidak kunjung datang.


"Sudah terlalu sore, pulang yuk. lain waktu kita kemari lagi" Cinte dengan

__ADS_1


wajah bosan.


Erta sedikit kecewa karena harapannya ingin bertemu Bobo tidak kesampaian. Erta pun menjawab ucapan Cinte hanya dengan menganggukan kepalanya saja. wajahnya sedikit kecewa dan kesal.


Mereka bejalan kembali pulang.


***


Bobo sempat memikirkan Erta setelah pertemuan itu. Seakan ada perasaan yang tumbuh dalam hatinya.


Seharian Bobo tidak bisa tenang, karena rasa nyaman itu masih membekas, dan mengganggu pikirannya.


Tapi itu hanya bertahan selama dua hari. Karena keraguan dalam hal percintaannya mampu melawan perasaan yang ada.


Sehingga membuat Bobo menjalani hidupnya kembali normal. Seiring waktu berjalan, perasaannya pada Erta pun mulai menghilang.


Tapi Bobo tidak menyadari, ada rasa kagum terhadap Erta, yang bersembunyi di balik hati kecilnya.


Jika sekali saja ia bertemu lagi. Hal itu akan membuat perasaan Bobo pada Erta bersemi kembali.


Mungkin keraguan mampu untuk melawan perasaan. Tapi sikap tidak akan mampu untuk membohongi hati. Karena sebenarnya, di balik keraguan ada sebuah harapan dalam hati yang ingin memiliki.


***


Beberapa hari sudah berlalu.


Erta duduk sendiri di meja makan untuk menyantap sarapannya.


Karena ini hari minggu, ia berfikir mungkin Bobo akan ada di taman hari ini.


'Mungkin gak ya hari ini aku bisa bertemu Bobo?' lirih Erta dalam hati,


sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ah ..." Erta tersentak dari lamunannya.


'kenapa aku jadi mikirin Bobo sih?' lirihnya dalam hati. Ia menepuk dahinya dan menggeleng pasrah.


"Lebih baik aku telepon Cinte saja." Erta mengambil ponsel dalam sakunya.


untuk menelpon Cinte.


"Halo ... Ada apa Erta?" jawab Cinte di seberang sana.


"Sore ini kita jalan yuk, aku lagi boring gak ada kegiatan ini."


"Duhh ... Kayaknya hari ini aku gak bisa deh, soalnya hari ini aku sudah ada janji


sama Irul. Maaf ya Erta aku gak bisa nemeni kamu." tolak Cinte lembut.


"Yahhh..." ucap Erta lemas, "Ya sudah kalau begitu." sambungnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Karena hari ini Cinte punya janji sama Irul, akhirnya Erta memutuskan untuk pergi sendiri. Suara musik dalam mobil mengiringi perjalanan Erta menuju taman.


decitan terdengar saat Erta menginjak pedal remnya. "Hahh ..." membuang safas. "Sampai juga" ucapnya


Dengan sebotol minuman dan beberapa makanan, ia melangkah menuju pohon tempat yang biasa dia duduki bersama Cinte, seperti minggu lalu saat bertemu Bobo.


Tujuannya ke taman ingin menenangkan hati, tapi yang dirasakan bukan ketenangan melainkan hanya rasa gelisah.


Menit demi menit sudah berlalu, ada sebuah harapan ingin bertemu Bobo dalam hatinya, tapi sampai detik ini masih belum tercapai.


Erta menundukan pandangannya, menatap kosong kehamparan hijau rerumputan taman. Kembali ia menghela nafasnya berat. mendongakan kepalanya dan membuang nafas berat.


'Sudah hampir senja, aku pun sudah lama di sini. lebih baik aku pulang saja.' lirihnya dalam hati.


Ia segera melangkahkan kakinya menjuh dari taman." Sudahlah lupakan saja, aku pun sudah baik-baik saja."


Dengan raut wajah kecewa, mungkin takdir belum mepertemukan.


***


Bobo bekerja di sebuah proyek bangunan. Kebetulan minggu ini Bobo harus pergi ke suatu tempat untuk mengecek lokasi yang akan ia kerjakan nantinya.


Karena itu Bobo tidak datang untuk bersantai di taman seperti biasanya. Waktu belum berpihak pada mereka. Sehingga Erta dan Bobo tidak bisa bertemu.


Karena lokasi proyek bangunannya itu lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Sementara ia memutuskan untuk menginap di rumah sewa, dekat lokasi proyek yang akan dia kerjakan nantinya.


Mungkin Bobo akan tinggal di sana sampai pekerjaannya selesai.


Bagaimana dengan nasib Erta yang berharap bisa bertemu Bobo.


Harapan Erta satu-satunya untuk bertemu Bobo hanyalah taman itu.


Sementara Bobo harus pindah tempat karena pekerjaannya. Tidak memungkinkan untuk Bobo bisa pergi ke taman.


***


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa di like dan di jadikan favoritmu, untuk mendapatkan updete terbaru dari episode-episode selanjutnya. Semoga ceritanya bisa menghibur..,

__ADS_1


__ADS_2