
Meskipun Bobo dan teman-teman pulang berjalan kaki. Tak butuh waktu lama karena jaraknya yang dekat, mereka sampai di warung Feby.
"Terimakasih ya. Malam ini aku sangat senang." ucap Feby memandang ke arah Bobo.
"Sama-sama Feb. Kalau begitu kami pulang dulu, ya."
"Ya." jawab Feby. Sesaat ia tak melepaskan tatapannya pada setiap langkahan kaki Bobo yang menjauh dari pandangannya. 'Aku menyukaimu Bo. Semoga saja kamu juga menyukaiku.' gumam dalam hatinya.
"Ah ..." Bobo menghela nafasnya membuang rasa lelah saat membaringkan badannya di ranjang.
"Sepertinya Feby suka tuh sama lo." ucap Emon sedikit kecewa. " Lo juga suka ya sama dia." sambung Emon.
"Tahu dari mana lo. Mana mungkin dia suka sama gue. Selama ini gue gak pernah menggoda dia."
"Justru itu ... Sepetinya Feby suka dengan tipe cowok seperti lo.
Tenang, santai kalau bicara apa adanya."
"Mungkin itu hanya perasaan lo saja. Sudah ah, lebih baik tidur." ucap Bobo sambil menelungkupkan badannya.
"Lo gak usah mikirin yang macam-macam, nanti hidup lo gak tenang." sambung Bobo dengan memejamkan matanya.
"Perasaan gue dari mana? gue dari tadi perhatiin lo berdua, kalian seperti orang pacaran."
"Suka kan lo dengan Feby, sudah jujur saja. Gue gak akan dekati Feby, kalau lo memang suka."
"Bo ... jawab omongan gue." sambil menggoyang-goyangkan kaki Bobo.
"Ahh ... lo, di ajak bicara malah tidur. Bagaimana sih." ucap Emon sambil merebahkan badan.
***
Arya menghirup berat udara pagi ini dan melepaskan dari mulutnya.
"Hah ... Pagi ini segar sekali, ya?" tanya Arya sedang pemanasan olahraga menggerakan kedua tangannya."
"Sudah pemanasannya? kalau sudah lebih baik kita lari sekarang, takutnya keburu siang." tanya Erta.
"Yasudah ayo ..." jawab Arya penuh semangat.
Setelah beberapa menit berlari, rasa lelah menghentikan langkah mereka untuk beristirahat sejenak. Ada kursi taman yang kosong di sekitarnya, mereka beristirahat di sana.
"Jadi gimana Er ... Mau gak kamu kenalan sama teman aku? Kamu coba saja dulu, kan gak ada salahnya. Anaknya baik kok, aku jamin deh. Dari pada kamu sendiri terus."
"Aduh ... Itu lagi itu lagi yang kamu bahas. Gak ada pembahasan lain apa."
"Aku hanya ingin membantu saja. Karena aku kasihan sama kamu.
Erta tersenyum kecil. "Terimakasih ya Ar. Tapi maaf, sepertinya aku belum butuh bantuan.
"Hemm ...' Arya menghela nafas.
***
"Bangun Bo, lo gak sarapan? ucap Emon
"Gak, lo saja yang sarapan, gue masih kenyang."
Emon menyunggingkan bibirnya. "Kenyang apaan lo! kenyang Makan angin? Sudah seperti gareng saja lo."
"Ha ... ha ... ha ..." Emon tertawa sambil berjalan keluar.
Meskipun suasana semalam membuat Emon merasa kecewa . Namun jiwanya yang humoris tak membuat dia merasa sedih.
__ADS_1
"Pagi Feby, seperti biasa ya." sapa Emon sambil duduk di kursi depan display, biasa ia duduk bersama Bobo.
"Loh ... Kenapa sendiri hari ini bang, Bobo mana? tanya Feby kepada Emon.
"Bobo masih tidur."
"kenpa gak di bangunkan, gak setia kawan ya, bang Emon." jawab Feby menyindir, sambil menyiapkan makanan.
"Bu bu ... bukan begitu Feb! Tadi sudah aku bangunkan, katanya dia masih kenyang. Mungkin semalam dia kebanyakan makan angin. jawab Emon dengan kalut.
"Oh ... Apa dia sakit?" ucap Feby panik.
"Bobo itu gak apa-apa. Dia baik-baik saja. Kenapa kamu begitu kawatir?"
"Siapa yang kawatir! aku kan, hanya bertanya."
"Aku pergi sebentar ya." sambung Feby, setelah meletakkan sarapan di meja Emon.
'Sepertinya dugaan ku benar. Feby pasti menyukai Bobo.' lirih Emon dalam hati.
"Bo ... Bobo!" teriak Feby berdiri di depan pintu rumah Bobo.
Bobo bangun dari tidurnya dan membuka pintu untuk Feby. "Ada apa Feb." tanya Bobo
"Kamu sakit ya?"
"Kata siapa aku sakit. Aku baik-baik saja."
"Aku pikir kamu sakit, kata Emon kamu belum bangun, karena semalam banyak terkena angin."
Bobo tersenyum mendengar ucapan Feby. "kamu itu jangan terlalu percaya dengan ucapan Emon. Dia memang suka asal."
Feby tersenyum malu. Rasa sukanya kepada Bobo membuat dia menjadi salah tingkah saat berbicara dengan Bobo.
"Terimakasih Bo. Aku pulang saja, karena aku masih banyak pekerjaan." tolak Feby lembut, dia tersipu malu dan cepat beranjak kembali pulang.
'Kenapa hari ini tingkah Feby sedikit aneh? apa Mungkin, yang dikatakan
Emon benar.' lirih Bobo dalam hati,menatap Feby sedang berjalan pulang.
Bobo menghela nafasnya.
"Hah ... yasudah lah. Dari pada aku memikirkan hal yang aneh, lebih baik hari ini aku pergi bersantai. Mana tahu saja ada taman di sekitar sini."
***
"Kamu baru saja menemui Bobo, ya?" tanya Emon kepada Feby.
"Iya ... Aku pikir dia sakit."
"tarus kalau dia sakit kenapa? kamu kawatir ...?" tanya Emon menggoda Feby.
"Ihh ... apaan sih! mana ada aku kawatir." ucap Feby mengeles.
"Kamu suka kan, sama Bobo? sudah jujur saja, nanti aku bantu deh."
"Gak ahh ...! Benar ya kata Bobo, kamu tuh kalau ngomong suka asal. rona kemerahan perlahan muncul di wajahnya saat dia berusaha menutupi perasaannya.
"Mulut kamu mungkin bisa berbohong Feb, tapi wajah kamu gak bisa menutupi isi hati kamu.
"masa sih ... Memangnya kelihatan ya, dari wajahku. Kalau aku suka sama Bobo?"
"Kelihatan banget, wajah kamu sudah memerah. Kamu gk bakal bisa menutupinya."
__ADS_1
"Hah." Feby menghela nafasnya berat. menumpuhkan dagunya pada kedua tangan. "Gimana ya, aku sendiri tidak tahu apa aku suka sama Bobo. Tapi dadaku selalu berdebar-debar kalau dekat dengan Bobo, dan aku merasa nyaman. Aku bingung dengan parasaanku ini. Kenapa aku jadi begini ya." ucap Feby meresapi peraaannya.
"Itu artinya Kamu jatuh cinta."
"Kamu jangan mengatakannya sama Bobo ya. Aku malu jika Bobo tahu hal ini."
"Tenang ... Aku akan diam. Tapi kalau kamu selalu bersikap seperti tadi. Cepat atau lambat Bobo juga pasti akan tau."
"Oh iya, apa Bobo sudah punya pacar?" tanya Feby penasaran.
"Setahu aku sih belum. Dia itu takut kalau jatuh cinta.
"kenapa gitu?" Feby heran.
"Ya ... Karena rasa minder dia lebih besar dari rasa inginnya. dia itu suka membunuh. Membunuh perasaan yang berusaha tumbuh di hatinya.
"kenapa dia harus membunuh perasaannya?" tanya Feby tak mengerti sambil mengernyitkan dahinya.
"Dia belum bisa meyakini dirinya sendiri, untuk memberikan kebahagiaan pada orang yang dia cintai. Karena itu dia memilih untuk membunuh perasaan yang ada dan menghindar, dari pada dia harus mencoba menjalani perasaan itu." jawab Emon menceritakan tentang Bobo pada Feby.
"Kamu tahu dari mana? kalau Bobo seperti itu."
"Aku mengenal Bobo bukan cuma satu hari, dia itu sahabat aku. Bekerja pun kami selalu bersama. Bahkan dia selalu bercerita padaku kalau dia sedang punya masalah. Karena itu aku tahu semua tentang dia.
"Kamu gak lagi ngomong asal kan?" tanya Feby sedikit tidak percaya.
"Ya tidak lah. Kapan aku pernah ngomong ngasal sama kamu."
"Tadi waktu aku bertanya Bobo mana, kamu bilang Bobo masih tidur karena banyak terkana angin. Tapi buktinya aku lihat Bobo baik-baik saja."
"Tapi aku gak ada bilang kalau Bobo sakit, kan? Kamu yang salah faham bukan omongan aku yang ngasal. ucap Emon sambil tersenyum
"Yasudah lah, lupakan saja."
***
Karena hari sudah telihat mulai siang Erta dan Arya melanjutkan obrolan mereka sambil berjalan menuju pulang.
"Sepertinya sudah mulai siang, balik yuk." ucap Erta bangun dari tempat duduknya.
"Oya ... Kenapa sih kamu sepertinya ingin banget jodohin aku sama temen
kamu itu?"
"Sebenarnya aku bukan ingin jodohin sama kamu. Cuma karena kebetulan
saja. Karena aku tahu kamu sudah putus sama cowok kamu, dan temen aku sudah lama minta tolong cariin pacar. Ya ... Aku pikir gak ada salahnya kan, kalau aku kenali sama kamu."
"Oh ... Begitu. Tapi lebih baik kamu cari yang lain saja ya, jangan aku."
jawab Erta sambil terseyum.
"Lagian kenapa juga teman kamu minta di cariin pacar. Apa dia gak bisa cari sendiri?" sambung Erta.
"Dia itu seorang pengusaha. Waktunya terlalu sibuk untuk pekerjaan. jadi dia tidak punya waktu untuk mencari sendiri."
"Lalu kenapa kamu yang di suruh, kenapa gak orang tuanya saja yang mencari jodoh untuknya?"
"Kami sudah lama bersahabat, dan yang tahu banget selera di itu cuma aku. karena itu dia lebih percaya sama aku."
"Berarti seleranya dia seperti aku, ya?" ucap Erta sambil tertawa kecil.
Saat sedang asyik berjalan sambil mengobrol menuju parkiran taman. mereka melihat jajanan ringan di pinggiran jalan taman dan mereka menghampirinya untuk membeli. Tiba-tiba ada yang memanggil Erta dari arah sampingnya.
__ADS_1
"Erta."