Perbedaan

Perbedaan
Eps 7


__ADS_3

"Seseorang yang pernah aku temui di taman tengah kota, beberapa Minggu yang lalu." ucap Bobo sambil membayangkan wajahnya.


Emon penasaran pada wanita yang di maksud dengan Bobo. "Memangnya seperti apa sih wanita itu? bisa membuatmu berubah aneh seperti ini. Gue jadi ingin tahu."


"Kalau menurutku dia itu wanita yang cantik. wajahnya sangat polos, kulitnya putih, matanya sedikit sipit, kalau tertawa matanya makin menyipit. Rambutnya lurus berwarna coklat panjangnya sampai ke bahu. Potongan rambutnya berponi menutupi dahinya, dan itu membuat wajahnya terlihat sangat imut. Dulu aku sempat menyukainya juga, saat pertama kali bertemu. Namun karena aku tidak tahu dia ada dimana, perlahan perasaanku hilang begitu saja. Lalu sekarang aku sudah menemukannya lagi. Perasaanku yang dulu tumbuh kembali. Sepertinya dia tinggal di kota ini. Aku akan mencarinya dan aku yakin, aku pasti akan menemukannya." ucap Bobo sambil meresapi perasaannya.


"gue bahagia melihat lo saat ini. Akhirnya lo bisa juga meyakinkan diri lo berjuang untuk cinta." Emon tersenyum manis. "Semoga saja kamu bisa menemukannya." sambung Emon.


Sejenak Emon merenung dan menumpuhkan kedua tangannya kebelakang di lantai ranjang. 'Kasihan Feby, ternyata perasaannya pada Bobo bertepuk sebelah tangan. Jika dia tahu hal ini, dia pasti akan sangat terluka. Gue harus jawab apa, jika dia bertanya tentang perasaan Bobo pada dia. Gue gak mungkin cerita yang sebenarnya pada dia.' lirih Emon dalam hati.


"Huhh ..." Emon menghela nafasnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


Sepanjang malam Bobo memikirkan keberadaan Erta. Hal itu membuatnya gelisah. Ia masih bingung harus mencarinya kemana. Sesejali ia menghela nafasnya. Pikirannya terus mengganggunya dan membuatnya tak bisa tidur.


***


Pagi ini Bobo bekerja seperti biasa. Namun perasaannya pada Erta yang mulai bersemi kembali terus mengganggu pikirannya. Dia tak bisa tenang sepanjang bekerja. Dia menghentikan mesin pemotong besi yang dia gunakan dan meletakkan di lantai. Berlalu dia pergi ke sisi kosong yang sunyi dan menyandarkan bagian badan belakangnya pada dinding. Kepalanya sedikit mendengak dan kedua tangannya di masukkan dalam saku. Perlahan bibirnya tersenyum manis. Lalu Emon datang menghampirinya.


"Lo kenapa Bo?"


"Kali ini aku benar-benar tidak berdaya Mon. Sepertinya aku tak mampu menghindari perasaan ini. Hatiku sangat menggebu ingin bertemu dia lagi. Tapi aku masih bingung, kota ini luas. Kemana aku harus mencarinya."


"Gak perlu bingung, kita bisa menjelajahi seluruh kota ini. Aku akan membantumu. Ayo kita cari dia." ucap Emon memberi semangat sambil menyentuh bahu Bobo.


Semangat bergejolak dalam jiwanya saat mendengar perkataan Emon. Bobo membuang padangannya kearah Emon. Ia tersenyum simpul.


"Baiklah, ayo kita pergi!"


Segera Bobo melangkahkan kakinya cepat berjalan keluar meninggalkan lokasi proyek.


"Kita akan mulai mencari dari mana?" tanya Emon.

__ADS_1


"Kita mencari ke taman olahraga saja dulu. Kemarin gue sempat melihatnya di sana."


"Baiklah."


Mereka sampai di taman olahraga setelah berjalan selama 15 menit dan mereka menelusuri setiap sisi taman itu. Namun hasilnya masih nihil.


sejenak Emon menghentikan langkahnya saat ide masuk kedalam pikirannya.


"Sebentar Bo." ucap Emon meraih tangan Bobo menahan langkahnya. "Bagaimana kalau kita berpencar? mungkin kita bisa lebih cepat menemukannya." sambungnya.


"Berpencar? sekarang bukan waktunya bergurau" ucap Bobo merasa bodoh.


"Gue tidak sedang bergurau Bo. Gue berkata benar."


"hah" Bobo menghela nafasnya dan membuang pandangannya ke sisi kosong. "Sudahlah, ayo kita jalan lagi." sambungnya.


"Baiklah, gue kearah sana ya. ucap Emon segera berjalan pada arah yang berbeda.


Emon berhenti dan membalikkan badannya. "Benar juga. Bagaimana gue bisa menemukannya, ya." Emon menggaruk-garuk kepalanya merasa bodoh sambil tertawa kuda.


seluruh sisi taman sudah di telusuri. Namun karena hasilnya nihil, Mereka berlalu mencari di tempat yang lain. Tengah berjalan Bobo melihat ada sebuah kompleks perumahan. Bobo mengajak Emon untuk menghampiri kompleks itu. Namun ada peraturan di kompleks itu, hanya orang-orang yang tinggal di kompleks saja, bisa masuk kedalam perkarangannya.


Saat Bobo mencoba masuk, lalu ada penjaga gerbang kompleks menghentikan langkahnya.


"Tunggu! siapa kalian? ada perlu apa kesini?"


"Kami sedang mencari seseorang." ucap Bobo.


"Siapa yang kalian cari, kalian tidak bisa masuk. Lebih baik kalian tunggu di luar gerbang dan hubungi dia saja dulu."


"Baiklah, kalau begitu kami ingin bertanya. Apa ada seorang gadis bernama Erta yang tinggal disini?"

__ADS_1


"Sebentar." penjaga gerbang sejenak mengingat-ingat sambil mengelus dagunya. "Sepertinya tidak ada yang bernama Erta tinggal disini."


"Apa kau yakin?"


"Ya, aku sangat yakin. Karena aku mengenal semua orang-orang yang tinggal disini. Dari yang kecil sampai yang tua. Tidak ada satupun yang bernama Erta disini."


"Baiklah kalau begitu. Kami akan pergi. Terimakasih pak." ucap Bobo melanjutkan langkahnya.


"Kemana lagi kita akan pergi?" ucap Emon bertanya pada Bobo.


"kita telusuri saja jalan ini."


"Lo sangat kuat berjalan, ya. Gue sudah sangat lelah Bo. Sebaiknya kita cari minuman dan istirahat saja dulu."


"Baiklah."


Sejenak mereka duduk di warung sederhana sekedar untuk menghilangkan dahaga. Setelah beberapa menit istirahat, Bobo mengajak Emon melanjutkan langkahnya. Sudah banyak tempat yang mereka kunjungi namun hasilnya masih saja nihil.


"Sudah sepanjang hari kita mencari. Tapi hasilnya masih sia-sia. Hari sudah sangat sore. Sebaiknya kita kembali saja Bo." ucap Emon merasa lelah.


"Hah." Bobo menghela nafasnya. "Yasudah, kalau lo sudah tidak sanggup lagi. Ayo kita kembali."


Setelah lelah sepanjang hari mencari. Emon memutuskan untuk mengajak Bobo kembali pulang. Sebenarnya jarak rumah Erta dan Bobo itu hanya berjarak 30 menit jika berjalan kaki. Namun karena ia tidak tahu keberadaan rumah Erta, dia harus menelusuri kota untuk mencarinya. Bobo sempat melewati rumah Erta saat berjalan pulang. Hanya berjarak 10 meter saja Saat Bobo melewati rumah Erta, lalu Erta membelokan mobilnya ke perkarangan rumahnya pulang dari rumah Cinte. Karena datang dari arah yang sama, Bobo tidak melihat ada nya Erta membelok di belakangnya.


Ada sebuah taman kecil tidak terlalu jauh dari rumah Bobo. Saat Bobo berjalan pulang ia melintasi taman itu. Sejenak ia menghentikan langkahnya.


"Mon, kamu duluan saja. Aku ingin istirahat sebentar di sana." ucap Bobo mengarahkan pandangannya pada taman itu.


"Baiklah lah, gue Duluan ya."


Bobo berlalu berjalan ke taman. Dia melihat ada beberapa pasangan kekasih sedang duduk menikmati indahnya malam. Ia tersenyum sendu dan segera membuang pandangannya pada sisi kosong. Lalu ia menghentikan langkahnya dan membuang bokongnya di atas rerumputan hijau berbukit sedikit miring. Dia merebahkan tubuhnya, kepalanya di tumpuhkan pada kedua telapak tangannya dan satu kakinya di tekukkan.

__ADS_1


pandangannya kosong, matanya menatap hamparan langit luas yang bertaburan ribuan bintang. Lagi-lagi pikirannya membayangkan senyuman indah yang terukir dari bibir Erta. Tanpa sadar dia tersenyum simpul dan perlahan matanya terpejam, merasakan hangatnya kenyamanan saat pertama kali bertemu dengan Erta.


__ADS_2