Perbedaan

Perbedaan
Episode 20 # Reaksi Obat


__ADS_3

Anjani menunggu kedatangan Andre. Ia mencoba misi yang disarankan Boy dan Sita. Terdengar bunyi mobil terparkir di garasi. Anjani bersiap-siap menyambut kedatangan Andre.


"Sudah pulang, Mas," sapa Anjani.


Lalu Anjani mengambil tas Ransel meletakkannya disebelah sofa dan merapikan sepatu Andre. Andre yang disambut Anjani seperti itu terheran-heran.


"Mas, mau makan apa mau mandi dulu?" tanya Anjani kembali.


"Aku mau mandi dulu," jawab Andre.


Andre berjalan menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamarnya. Andre membuka kancing kemejanya sambil bertanya-tanya dengan sikap Anjani tadi.


Ada apa dengan Anjani? Gumam Andre.


Saat mau melangkah ke kamar mandi, Andre melihat ada perlengkapan make up wanita di nakas dekat tempat tidurnya. Andre berjalan keluar pintu kamar dan memperhatikan pintu kamarnya.


Aku nggak salah kamar ko! Gumam Andre.


Andre masuk kembali ke dalam kamarnya. Lalu ia pergi menuju kamar mandi, guyuran air shower menyegarkan kepalanya yang penat dengan pekerjaan dikantor.


Beberapa menit kemudian Andre selesai membersihkan badannya, ia ingin mengambil pakaiannya dilemari.


Andre terkejut dengan isi lemarinya. Dilihatnya ada pakaian dalam wanita, ia mengambil salah satu pakaian dalam itu yang berbentuk dua kerucut berwarna hitam. Andre terkejut dan bergidik dan menaruhnya kembali.


Dilihatnya ada beberapa baju yang pernah ia lihat Anjani memakainya.


Apa ini Anjani yang melakukannya? Batin Andre.


Andre tak mau ambil pusing dan menahan amarahnya. Andre menuju lantai bawah ke meja makan karena perutnya sudah konser.


Sesampainya dimeja makan Anjani sudah duduk dengan manis sambil tersenyum lebar. Dilihat makanan di atas meja seperti masakan rumahan.


Andre menarik kursi dan duduk, dengan sigap Anjani langsung mengambilkan nasi serta lauk pauk. Andre mengereyitkan dahinya.


Lalu Andre memakan masakan itu, masakan itu cocok dimulut Andre.


"Kamu, delivery dimana?" tanya Andre.

__ADS_1


Anjani yang mendengarkan perkataan Andre langsung terbatuk-batuk. Andre pun langsung memberi segelas air kepada Anjani. Anjani pun berkata.


"Aku yang masak, Mas," jelas Anjani.


Andre sedikit membelalakan matanya sambil memakan makanan itu. Ada sedikit tidak percaya tapi begitu yang ia dengar dari mulut Anjani.


Andre telah menyelesaikan makannya.


"Aku ke atas dulu," ucap Andre.


"Iya, Mas," jawab Anjani.


Andre berjalan meninggalkan Anjani di meja makan. Andre mengambil tas ranselnya dan melangkah menuju ke kamarnya.


Sementara Anjani membereskan meja makan dilanjut mencuci piring. Semuanya telah selesai, kemudian Anjani mengambil tempat obat yang bentuk obatnya seperti obat biasa.


Kok nggak ada petunjuk dosisnya, ya?


Gumam Anjani sambil membaca tulisan dibotol obat yang ia pegang itu.


Dan Anjani mematikan lampu-lampu yang menurutnya tidak berguna saat menjelang tidur malam.


Sementara Andre dikamar, memejamkan sejenak matanya dan menyenderkan badannya diatas sofa kamar. Kemudian Andre menghela napasnya secara kasar, dan Andre mengambil ponselnya dan mencoba menelpon seseorang.


"Pak Tono, bisa tolong carikan orang buat urus rumah saya." Pinta Andre.


Andre menganggukan kepalanya saat mendengar jawaban pak Tono disana. Dan Andre mematikan ponselnya.


Andre mulai membuka laptop dan fokus dengan layar laptopnya itu.


Anjani berjalan menaiki anak tangga tapi tiba-tiba ia merasa gerah dan panas.


Ada apa denganku! Gumam Anjani.


Kemudian Anjani turun kembali, ia berjalan menuju dapur mengambil air minum dan membawa gelas dan sebotol air minum untuk dibawanya ke dalam kamar.


Anjani masuk kedalam kamar Andre, dilihatnya Andre sibuk dengan laptopnya. Andre menoleh ke arah Anjani yang masuk kekamarnya, ia terheran kenapa Anjani masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Andre memperhatikan wajah Anjani dan berkata.


"Anjani, mukamu kenapa merah," tanya Andre.


"Nggak tau Mas, tiba-tiba aku kayak gini," jawab Anjani sambil mengipas ngipaskan badannya.


"Kamu kegerahan?" tanya Andre pada Anjani yang terus mengipas-ngipaskan tubuhnya.


Aneh, suhu kamar ini kan dingin buat badannku yang gemuk, tapi Anjani malah kegerahan. Gumam Andre.


Andre mulai mengkhawatirkan Anjani. Andre menghampiri Anjani dan meletakkan tangannya didahi Anjani.


"Kamu tidak demam," jelas Andre.


Andre memandangi Anjani heran karena pandangan Anjani semakin tajam seperti harimau ingin menerkam mangsanya.


"Kamu kenapa?" tanya Andre panik dengan sikap Anjani itu.


Anjani berjalan menghampiri Andre terus. Tapi Andre masih tetap menghindar. Tiba-tiba Anjani melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya.


Spontan mata Andre melotot kearah Anjani dan sedikit ada kepanikan dalam diri Andre. Entah senang atau tidak melihat tubuh polos Anjani yang sekarang telah sah menjadi istrinya.


Andre berjalan menuju tempat tidurnya dan mengambil selimut. Kemudian Andre menghampiri Anjani. Andre menutup tubuh Anjani menggunakan selimut itu.


Namun Anjani merontak dengan kerasnya. Selimut yang menutupi tubuhnya itu terlepas.


Andre berjalan kearah lemari dan mengambil 2 celana panjang tidur miliknya.


Andre berjalan kearah Anjani dan menutup kembali tubuh Anjani dengan selimut itu lagi. Andre mengikat tubuh Anjani yang terbungkus itu dengan menggunakan celana panjang tidur miliknya itu.


Sekarang tubuh Anjani benar-benar tidak bisa bergerak. Ada rasa kasihan Andre melihat Anjani seperti itu.


Andre mengangkat tubuh Anjani dan diletakkannya tubuh Anjani diatas tempat tidur.


Andre mengusap kasar wajahnya dan menghela napas panjang. Andre merasa kehausan setelah peristiwa yang baru dialaminya. Lalu Andre keluar kamar dan berjalan menuruni anak tangga.


Andre membuka kulkas, mengambil air mineral didalam botol. Sambil meminum air yang ada digelas, mata Andre tertuju pada benda mirip botol obat. Kemudian Andre memegangnya dan berkata.

__ADS_1


__ADS_2