Perbedaan

Perbedaan
Eps14


__ADS_3

"Jadi ini tempatnya. Tempatnya sangat indah." ucap Bobo turun dari mobil. memperhatikan setiap sudut tempat itu.


"Apa kamu suka dengan tempatnya?" ucap Erta setelah turun dan berdiri di samping Bobo.


"Tempat ini sangat cocok untuk orang seperti ku. Sudah pasti Aku suka dengan tempat ini."


"Tapi tempat ini sudah banyak berubah. Ternyata sekarang lebih indah dari yang dulu."


"Oh ya, memangnya apa saja yang sudah berubah di tempat ini?"


"Coba kamu lihat cafe yang di atas bukit itu. dulu cafe itu tidak sebesar itu. Dulu cafe itu tidak kelihatan kalau kita melihatnya dari bawah. Sekarang cafe itu sudah di perbesar dan terlihat sangat mewah. Sepertinya sangat sejuk jika kita bersantai di sana. Ayo kita naik ke atas." ucap Erta berjalan sambil menarik tangan Bobo.


"Oya, kamu suka dengan taman kan? di atas juga ada tamannya. Nanti kamu bisa bersantai di cafe sambil menikmati pemandangan taman dan laut." sambung Erta. sambil berjalan.


"Sepertinya kamu sudah banyak tahu tentang aku."


"Tidak ah. Aku hanya baru tahu kalau kamu suka dengan taman, itu saja. Tapi aku ingin tahu banyak tentang kamu. Nanti kamu harus cerita semua tentang kamu, ya."


"Aku ini biasa-biasa saja, tidak ada yang menarik dariku. Lebih baik aku tidak perlu cerita."


"Hem." Erta mengerucutkan bibirnya. Melemparkan tatapannya kesal pada Bobo.


"He-he-he. Baiklah, aku akan cerita. Tapi kamu jangan marah gitu dong. Nanti cantik kamu pudar, kamu gak imut lagi." ucap Bobo tersenyum.


"Bodo amat, aku sudah kenyang dengerin modus kamu."


"Wah ..." Mata Bobo membulat sempurna sambil mengapus peluh keringat di dahinya, saat sudah berada di atas, mengagumi suasana tempatnya. Ada cafe yang mewah dihiasi taman-taman yang cantik, banyak pepohonan yang rimbun dan laut yang terbentang luas di bawah bukit.


"Indah kan? sudah aku tebak, kamu pasti akan suka dengan tempatnya. Ayo kita ke sana." ucap Erta mengajak Bobo menuju cafe itu.


Mereka memilih meja yang berada di teras cafe. Bobo menghampiri pagar yang mengelilingi teras. Ia menumpuhkan kedua tangannya di atas pagar teras dan menatap luasnya bentangan laut. Perlahan Erta menghampirinya, berdiri di samping kirinya.


"Terimakasih ya. Kamu sudah membawa ku ke sini. Aku sangat senang." ucap Bobo lembut, melemparkan tatapannya ke arah Erta.


Erta tersenyum bahagia, sesaat membalas tatapan Bobo.


"Aku ingin melihat hati dari telapak tangan lagi. Aku rindu dengan suasana itu. ucap Erta senang.


"Kamu sangat menyukainya, ya? Kalau begitu, ayo kita lakukan lagi."


Dengan Perlahan Bobo menjulurkan tangan kanannya ke depan. Lalu Erta menjulurkan tangan kirinya perlahan, menyatukan telapak tangannya pada telapak tangan Bobo bagian belakangnya. Mereka menikmati kembali pemandangan hati dari telapak tangan itu dengan lekat. Yang disinari dengan cahaya matahari. Sesekali Mata mereka saling bertemu dan bertautan. Bibirnya saling melemparkan senyuman.

__ADS_1


'Ingin sekali rasanya aku memeluk mu Erta. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan perasaan ini. Dada ku benar-benar sudah sangat sesak menahannya. Mungin ini waktu yang tepat untuk aku mengungkapkan nya. lirih Bobo dalam hatinya.


Perlahan Bobo menurunkan tangannya. tatapannya tajam mengarah ke arah Erta. Sesaat dia menelan salivanya.


"Er." ucapnya lembut. Perlahan peluh keringat bermunculan di dahinya.


"Ya" Sahut Erta. tatapan Bobo membuat ia sedikit tegang, jantungnya tiba-tiba berdegup tak beraturan.


"Aku ... Aku ..." Bibir Bobo terasa keluh saat ingin mengungkapkan perasaannya. Ia membuang pandangannya ke sisi kosong.


"Kenapa kamu diam. Sebenarnya apa yang mau kamu katakan?"


"Nanti saja deh."


"Katakan saja sekarang Bo. Kalau nanti aku tidak mau mendengarnya lagi."


"Bagaimana, ya. Aku masih bingung."


"Isst ... Jangan buat aku kesal deh. Aku paling gak suka ya, di buat penasaran." ucap Erta mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah, aku akan mengatakannya. Tapi kamu jangan manyun gitu dong."


"Makanya, cepat beritahu aku. Apa yang ingin kamu katakan?"


"Hem ... Sebenarnya aku cuma mau mengatakan, kalau kamu itu cantik. aku sangat mengagumi mu."


"Hanya itu saja. Hah ... Erta menghela nafasnya. "Perasaan, Kamu itu selalu bilang, kalau aku ini cantik, cantik, cantik. Aku sudah bosan mendengarnya. Tidak ada kata-kata lain apa." ucap Erta perlahan berjalan mendekati meja yang di pesannya.


Bobo melemparkan pandangannya ke belakang. Memperhatikan setiap langkahan kaki Erta.


'Ternyata mengungkapkan perasaan itu lebih sulit dari pada menahannya. Hah.' lirih Bobo dalam hatinya, sambil membuang nafasnya panjang.


'Aku tahu, kalau kamu menyukaiku. Kenapa kamu tidak mengatakannya saja. Jangan membuat aku menderita, karena terlalu lama menahan perasaan ini, Bo. lirih Erta sendu dalam hatinya.


Perlahan Bobo menghampiri Erta. Membuang bokongnya di kursi yang berhadap-hadapan dengan Erta.


"Apa aku sudah membuat mu merasa tidak nyaman? maafkan aku, ya." ucap Bobo melas.


'Tidak ... Aku nyaman kok." ucap Erta tersenyum, menutupi rasa kesalnya. "Oya. katanya tadi kamu mau cerita. Ayo cerita Sekarang."


"Cerita?" ucap Bobo mengernyitkan dahinya, ia sedikit bingung. "Cerita apa, ya?" sambungnya.

__ADS_1


"Hem!" Erta kembali kesal sambil melipatkan kedua tangannya di dada. "Baru saja beberapa menit yang lalu, Masa kamu tidak ingat!"


Bobo memutarkan bola matanya. membalikan pikirannya kebelakang beberapa menit yang lalu.


'Duh ... bagaimana ini, aku benar-benar tidak ingat. Memangnya aku mau cerita apa ya, tadi. Gawat ini, bisa-bisa dia marah lagi.' lirih Bobo dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam Bo?"


"Aku masih memikirkannya. He-he-he."


"Hah." Erta menghela nafasnya. Tadi waktu kita naik bukit ini, katanya kamu ingin cerita tentang mu. Masa kamu lupa."


Bobo menepuk dahinya. " Oh iya, aku baru ingat. He-he-he. Maaf ya."


"Bobo ... Bobo ... Kamu itu masih muda sudah pelupa, ya." ucap Erta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Yasudah, kalau begitu kamu ceritakan sekarang."


"Aku harus cerita dari mana, hidupku sama sekali tidak menarik."


"Yasudah, kalau begitu aku akan bertanya. Apa kamu sudah punya pacar di kota mu?"


"Hem." pertanyaan Erta yang terlalu pribadi membuatnya sedikit kaget.


"Tidak punya, aku masih sendiri. Hidupku sangat santai. Jadi aku tidak terlalu memikirkan hal itu." sambung Bobo.


"Apa kamu tidak bosan sendiri terus. tidak suka keramaian. Selalu bermimpi dalam khayalan. Dasar sang pemimpi. Kamu itu memang aneh."


"Tapi kamu pernah kan, pacaran?" sambung Erta.


"Pernah sih ... Tapi aku tidak terlalu serius."


"Kenapa?"


"Aku tidak menemukan kenyamanan dari cinta itu. Mungkin karena dia juga tidak serius menjalani hubungan dengan ku. Sepertinya dia tidak pernah mengharapkan kehadiranku. Aku malah bosen pacaran. Lebih baik aku sendiri, kan."


"Itu karena dia tidak sungguh-sungguh menyukaimu. Seandainya ada wanita yang bersungguh-sungguh menyukaimu, apa kamu mau mencobanya?" tanya Erta santai. Seakan menutupi rasa sukanya.


Bobo menyandarkan badannya pasrah pada sandaran kursinya. Matanya menatap hamparan langit biru.


"Hem ... Sebenarnya, saat ini aku punya teman wanita. Jujur, aku sangat menyukainya. Tapi aku baru saja dekat dengannya. Jadi aku masih ragu untuk mengungkapkannya. Aku takut dia tidak menyukaiku." ucap Bobo lembut meresapi perasaannya.


'Wanita itu ada di hadapan ku saat ini.' lirih Bobo dalam hatinya.

__ADS_1


Seketika hati Erta seperti kaca yang terjatuh, hancur berkeping-keping. Mendengar perkataan Bobo yang menyukai wanita lain. Erta menundukan pandangannya berusaha menahan agar cairan bening itu tidak dari matanya. Ia bangun dari duduknya, berjalan menuju pagar. Berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.


__ADS_2