
Hari ini, hari ke dua usia pernikahan Anjani dan Andre. Baik Andre dan Anjani masih belum tau hak dan kewajiban mereka. Mereka masih seperti hari-hari biasa dimana mereka belum menikah.
"Anjani. Aku minta tolong ubah gaya bicaramu ya," ucap Andre yang memulai pembicaraan.
"Em...." Jawab Anjani.
Anjani bersiap-siap menuju rumah sakit dengan diantar Andre. Anjani ingin menggantikan posisi pak Tono.
Didalam perjalanan ponsel Anjani berbunyi. Andre fokus dengan stir mobilnya.
Drtt.... Drtt.... Drtt....
Dilihatnya Ibu memanggil.
"Iya, bu!" jawab Anjani.
"Ibu mau kerumah besan, Nak," kata Ibu.
"Kapan, Bu?" tanya Anjani lagi.
" Nanti sore!" jawab Ibu.
Anjani bingung sementara giliran ia menjaga tuan Anggoro hari ini dirumah sakit.
"Ya udah Bu, nanti Anjani telpon lagi, Ya," jelas Anjani.
"Iya, Nak!" sahut Ibu disana.
Terdengar suara telpon dimatikan.
Kemudian Anjani memulai pembicaraannya dengan Andre.
"Ndre eh Mas Andre, Ibu mau main kerumahmu!" kata Anjani sambil belajar merubah gaya bicaranya.
"Kapan?" tanya Andre dengan tersenyum.
"Nanti sore," sahut Anjani dan memasukkan ponselnya kedalam tas.
Andre tersenyum dengan gaya bicara Anjani sekarang, sedikit lucu tapi memang harus dirubah.
"Ya sudah nanti aku pulang kerja setengah hari jemput Ibu terus aku jemput kamu skalian pulang," solusi Andre.
"Oke deh," jawab Anjani sambil tersenyum sehingga lesung pipinya terlihat.
Akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Mereka berjalan menuju ruang tuan Anggoro.
Tuan Anggoro terlihat lebih baik dari hari-hari kemarin. Sekarang tuan Anggoro bisa duduk di bednya.
Nampak sekali pak Tono begitu cekatan melayani tuan Anggoro.
Anjani dan Andre masuk kedalam ruangan. Mereka mencium tengkuk tangan tuan Anggoro.
"Bagaimana perkembangan Ayah hari ini?" tanya Andre.
"Seperti yang kalian lihat sekarang," jawab tuan Anggoro sambil tersenyum.
__ADS_1
Anjani dan Andre saling lempar senyum.
"Ya sudah Yah, Andre permisi dulu mau kekantor," ucap Andre.
Pamit Andre dan mencium tengkuk tangan Ayahnya dan berpamitan dengan Anjani.
Memang mereka terlihat sangat canggung. Gumam tuan Anggoro.
Dalam perjalanan menuju kantor, ponsel Andre berbunyi.
Drtt... Drtt...
Dilihat panggilan dari Tere.
"Ada apa, Tere?"tanya Andre.
Suara Tere terdengar putus-putus karena jaringan tidak mendukung.
Akhirnya Andre tiba di kantor Makmur Sentosa. Andre memasuki ruangannya diikuti sekertarisnya Rani.
"Ran, tolong batalkan untuk rapat yang jadwalnya setelah makan siang, ya!" Perintah Andre.
"Baik, Pak!" Jawab Rani.
Tiba-tiba Andre menayakan hubungan sekretarisnya dengan tunangannya.
"Ran, gimana hubungan kamu dengan tunanganmu?" tanya Andre.
"Baik-baik aja, Pak!" jawab Rani dengan sedikit terheran dengan pertanyaan atasannya itu.
"Dia, sesuai tipemu, ya?" tanya Andre.
"Kenapa? kan kalian sudah bertunangan bahkan ingin menikah?" tanya Andre.
Kenapa Pak Andre tanya soal pribadiku sih! Gumam Rani dalam hati.
"Kan kami perlu mengenal lebih jauh untuk saling menerima kekurangan masing-masing sambil menunggu acara pernikahan kami, Pak," jelas Rani.
"Contohnya, Ran!" tanya Andre kembali.
"Contohnya, menasehati dia jangan suka makanan yang terlalu pedas, Pak! "jawab Rani.
"Ooo!" kalimat itu yang keluar dari mulut Andre.
Entah paham atau tidak tapi yang didengar oleh Andre seperti itu.
Jam kantor menunjukkan waktunya makan siang. Andre mengambil ponselnya dan mencoba mengirim pesan kepada Anjani.
"Kamu udah makan siang belum?" tanya Andre.
"Belum Mas, lagi ada dokter visit keruang Ayah mas," balas Anjani.
Andre tidak membalasnya, hanya membaca pesan Anjani.
Kemudian Anjani mencoba mengirim pesan kepada Andre.
__ADS_1
"Mas, jadi nggak jemput Ibu?" tanya Anjani.
"Iya, sebentar lagi aku OTW ," balas Andre.
"Oya sudah, kamu hati-hati dijalan, ya!" kata Anjani.
"Baik, istriku!" balas Andre.
Anjani tersenyum melihat balasan terakhir dari Andre.
Tapi emang sekarang aku istrinya kan. Gumam Anjani.
*****
Ibu Anjani sampai dirumah tuan Anggoro bersama Andre dan Anjani.
Anjani membawa Ibunya kedalam kamar tamu untuk beristirahat.
Ibu memperhatikan sekeliling kamar dan dilihatnya barang-barang milik Anjani.
Ibu mendekati buku-buku yang terdiam dan membawanya.
"Bukannya ini semua milikmu, Nak?" tanya ibu pada Anjani yang sedang memegang buku.
"Iya, Bu!" Jawab Anjani dengan jelas.
"Bukannya, kamar suamimu diatas?" tanya Ibu yang menoleh kearah Anjani.
"I-iya, Bu!" jawab Anjani.
Ibu menarik napasnya dengan kasar, dan mendekati Anjani yang sedang duduk di sofa kamar itu.
"Kamu sudah jadi istrinya Andre!" kata Ibu.
"Seharusnya kamu tidur dikamar atas, bukan disini!" kata Ibu kembali dengan nada sedikit tugas.
Anjani tidak mau berkata-kata, karena ia tau kalau ia salah tidur terpisah dengan suaminya itu.
Ibu membelai rambut Anjani dan berkata.
"Belajarlah menjadi istri yang baik, yang tau hak dan kewajibannya, Nak!"
"Ingat! Kamu sekarang seorang istri!" Jelas Ibu.
Kalimat itu serasa menusuk kedarah daging Anjani. Ya sekarang Anjani seorang istri.
"Anjani, alangkah baiknya besok kamu dan Andre harus lebih mengenal satu sama lain!" Kata Ibu.
"Maksud Ibu?" tanya Anjani.
"Ibu dengar, Andre sudah punya rumah. Kenapa kalian tidak pindah saja!" sahut Ibu.
"Ibu tau dari mana?" Tanya Anjani terheran.
Kemudian ibu Anjani menatap mata Anjani dengan seksama dan tidak menjawab pertanyaan Anjani.
__ADS_1
"Dengar Anjani, sekarang kamu seorang istri. Turuti semua perkataan suami-mu, karena ia imam-mu, kepala rumah tangga-mu!" Kata ibu Anjani dengan jelas.
Anjani menganggukan kepalanya.