
Obat apa ini?
Andre duduk dikursi ruang makan dan terdiam, sambil mengamati botol yang ia pegang. Tapi memang benar-benar Andre tidak tau obat apa itu.
Andre mencoba mengingat-ingat sesuatu.
Flashback off
Ponsel milik Andre bergetar, menandakan ada pesan masuk. Karena kebetulan ada waktu senggang Andre membuka pesan ponselnya.
Ada pesan dari Pendekar, ya itu nama kontak Anjani yang Andre simpan di ponselnya.
Mas, aku ijin keluar sebentar. Pesan dari Anjani.
Tapi Andre tak membalas pesan dari Anjani, karena pintu ruangannya diketuk sekretarisnya.
Flashback on
Andre baru ingat soal pesan dari Anjani kemarin.
Andre berjalan menaiki anak tangga dan masuk kekamarnya, dicari-carinya ponsel milik Anjani tapi tidak ketemu.
Andre berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga dan menuju kamar di lantai bawah yang biasa Anjani tempati. Andre mengamati disekeliling kamar tersebut.
Dan akhirnya apa yang Andre cari ketemu juga yaitu ponsel Anjani sedang dicas.
Andre mencoba melihat panggilan dan pesan sebelum dan sesudah Anjani meminta ijin keluar rumah darinya.
Dilihatnya nama Sita dan Boy. Andre mencatat nomor mereka berdua dengan secarik kertas dan penasaran yang ia temukan di nakas kamar tersebut.
Setelah selesai mencatatnya Andre pun mengembalikan ponsel Anjani kembali dalam keadaan semula.
Andre masuk kembali ke dalam kamarnya, Andre berjalan menghampiri Anjani yang sedang tertidur dengan posisi diikat. Sesekali tubuh Anjani bergerak-gerak seperti bayi yang meminta lepas bedongannya. Andre menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memperhatikan Anjani .
__ADS_1
Ingin rasanya Andre membuka ikatan itu tapi ia mengurungkannya, karena takut sikap Anjani masih seperti itu. Andre bergidik bila mengingatnya lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, Andre pun mulai mengantuk mengingat besok ada beberapa file yang harus ia koreksi ulang. Andre menghela napas panjang.
Andre memilih tidur di sofa, walau tak seluas dengan tempat tidurnya, tapi Andre menikmatinya karena sudah tak kuat menahan kantuk. Dan ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Anjani dan memilih tidur dikamar yang sama.
*****
Sang surya belum mengeluarkan sinarnya begitu sempurna tetapi langit sudah tidak terlalu gelap warnanya.
Andre bangun dari tidurnya dan dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul lima pagi.
Andre berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Disaat Andre memakai baju kerjanya, dilihatnya Anjani yang masih tertidur pulas. Andre berjalan ke tempat tidurnya dan memberanikan diri melepas ikatan yang mengikat tubuh Anjani.
Anjani tidak bergerak sama sekali, Anjani seperti habis bekerja berat malam itu hingga tetap tertidur pulas dan tak menyadari kalau ikatannya sudah dilepas.
Kemudian Andre mencium dahi Anjani. Tiba-tiba terdengar bunyi bel rumah yang membuat Andre kaget. Andre mengerutkan dahinya. Dalam hati ia bertanya-tanya.
Siapa, pagi-pagi begini sudah bertamu?
Andre bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga
menghampiri pintu utama rumah.
Dibukanya pintu, terlihat wanita paruh baya dibalik pintu itu.
"Maaf Den, saya Inah adik sepupu pak Tono," jelas si wanita paruh baya itu.
Andre mengingat semalam ia menelpon Pak Tono.
"Oiya, silahkan masuk!" perintah Andre dengan sopan.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu masuk sesuai perintah Andre.
"Maaf, saya harus panggil Ibu apa?" tanya Andre.
"Panggil aja Bi Inah, Den," jawabnya dengan sopan.
"Baiklah!" jawab Andre sambil senyum ramah.
"Maaf Bi, saya mau buru-buru ke kantor, bi Inah bisa siapkan sarapan buat saya sekarang?" tanya Andre.
"Bisa Den!" jawab bi Inah sambil tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Kemudian Andre menaiki anak tangga dan berjalan ke kamarnya. Dilihatnya Anjani masih tertidur pulas. Andre mengambil tas ransel dan perlengkapan kerja lainnya.
Andre berjalan, menuruni anak tangga dan menuju meja makan. Andre memakan sarapan yang dibuat bi Inah. Bi Inah membuat sarapan nasi goreng.
Andre telah menyelesaikan sarapannya dan memanggil bi Inah.
"Bi, nanti kalau istri saya jam 7 belum bangun, tolong dibangunkan ya!" perintah Andre sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Baik, Den," sahut bi Inah yang sudah paham dengan perkataan Andre.
"Oiya bi, istri saya tidak pakai baju." jelas Andre.
Bi Inah sedikit terbelalak dengan kalimat yang barusan ia dengar dari mulut majikannya itu.
Andre pun bergegas ke garasi mobil dan langsung masuk kedalam mobil. Tak lupa ia memanaskan sebentar mesin mobil sambil mengecek ponselnya.
Andre merasa sudah pas dengan keadaan mesin mobilnya, segera ia mengendarai mobilnya dan meninggalkan rumah.
Bi Inah menutup pintu pagar halaman rumah yang tidak terlalu besar itu. Dan kembali masuk kedalam rumah.
Bi Inah teringat dengan pesan majikannya itu. Tapi dilihatnya jam masih menunjukkan pukul 06.30, ia mengurunkan niatnya untuk membangunkan istri majikannya itu dan memilih melanjutkan pekerjaannya di dapur.
__ADS_1