
Eps15
"Sekarang aku yang akan bertanya. Kamu sendiri, apa sudah punya pacar?" ucap Bobo melangkah mendekati Erta.
"Sekarang aku lagi sendiri. Aku baru putus beberapa minggu yang lalu." ucap Erta, pandangannya membelakangi Bobo. suaranya sedikit bergetar.
Bobo mendengar suara Erta tiba-tiba berubah. Ia mengernyitkan dahinya dan mencoba mencuri pandangan dari belakang, matanya melirik ke arah wajah Erta, lehernya sedikit memanjang.
"Kamu menangis?" tanya Bobo heran.
"Tidak, aku tidak menangis kok." ucap Erta, kedua tangannya mengipas-ngipas matanya. "Baru saja seperti ada binatang kecil masuk ke mata ku. mataku jadi terasa perih." sambungnya menghapus air yang berusaha keluar dari matanya.
Sesaat Bobo diam. Mencoba memanfaatkan pikirannya yang tajam.
"Aku ingin menikmati taman, ayo kita jalan-jalan sebentar." ucap Erta sambil menarik pergelangan tangan Bobo.
"Bobo, coba kamu lihat pohon besar yang di sana." ucap Erta sambil melangkah pelan di samping Bobo, menunjukan satu jarinya. "Dulu, setiap aku datang kemari. Aku selalu duduk di sana bersama teman-teman ku. Aku ingin mengingat kembali suasana dulu. Ayo kita ke sana." sambungnya melangkah sedikit cepat.
'Apa iya, di tempat yang tinggi dan bersih seperti ini ada binatang kecil. Aku rasa sangat tidak masuk akal.' lirih Bobo dalam hatinya sambil memutarkan bola matanya. masih memikirkan alasan Erta.
Erta menghentikan langkahnya dan membalikan badannya ke arah Bobo yang tertinggal di belakangnya.
"Bo, Bobo!" bentak Erta.
"Ya, ada apa?" ucap Bobo kaget, cepat menghampiri Erta.
"Aku bicara denganmu Bo, kenapa kamu tidak mendengar ku. Apa kamu sedang memikirkan wanita itu? Jika saat ini kamu tidak bisa jauh darinya, seharusnya kamu menolak saat aku mengajakmu. Buat apa kamu pergi dengan ku, tapi pikiran mu tidak ada di sini." ucap Erta tegas, cairan bening mulai menghiasi matanya kembali.
"Bukan begitu Erta. Aku bisa menjelaskannya."
"Sudahlah, aku tidak butuh penjelasan mu. Aku ingin pulang saja sekarang."
__ADS_1
Erta berjalan berbalik arah, dan melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Tunggu Erta." Bobo menarik pergelangan tangan Erta. Berusaha menahan langkahnya.
Erta menghempaskan cengkraman tangan Bobo. "Lepaskan tanganku. Kamu sudah membuat ku tidak nyaman saat ini. Biarkan aku pulang." Perlahan cairan bening itu mulai menetes dari matanya membasahi pipi cabynya. Kali ini dia punya alasan untuk menangis lepas dari rasa cemburunya. Ia terus berjalan dengan cepat sambil menangis menuruni bukit itu menuju area parkiran.
Bobo terus mengejarnya dan berusaha untuk menenangkannya. Namun Erta sudah tidak mau lagi mendengarkan apapun dari perkataan Bobo. Sampai di area parkiran, dengan cepat ia memasuki mobil dan melajukannya, meninggalkan Bobo begitu saja di tempat itu.
"Erta tunggu!!!" teriak Bobo, wajahnya sangat kacau, berdiri di tengah area parkiran. Sesekali dia menyisir rambutnya kebelakang dengan jemarinya. Dia kebingungan, tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Kenapa tiba-tiba dia berubah seperti ini." ucap Bobo pandangannya berubah-ubah tanpa arah. Sesaat dia membalikan pikirannya kebelakang.
"Hem ... Sebenarnya, saat ini aku punya teman wanita. Jujur, aku sangat menyukainya."
"Apa jangan-jangan.!" sambungnya saat pikirannya menangkap sebuah jawaban. "Aku harus mengejarnya, dan mengatakan yang sebenarnya."
Segera Bobo melangkah cepat ke tepi jalan dan menghentikan bus yang lewat.
"Aku memang sangat Bodoh. Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. Dia sama sekali tidak mencintaimu Erta ...! kamu memang bodoh, bodoh, bodoh ...!" Erta kesal dan menepuk-nepuk setir mobilnya. "Kenapa? Kenapa aku bisa menyukainya. Padahal aku baru saja mengenalnya."
Lalu dia pun Sampai di rumah setelah satu jam lebih mengendarai mobil hitamnya. Sebelum turun dari mobil, ia berusaha menghapus air matanya yang penuh membasahi wajahnya, dan sedikit merapikan rambutnya agar terlihat baik-baik saja. Ia melemparkan tasnya ke atas kasur setelah memasuki kamar. Hatinya masih terasa sakit, ia belum bisa menenangkan dirinya. Perlahan ia duduk di lantai bersandar di permukaan kasur. Menekukkan kedua kakinya dan merangkul lututnya dengan kedua tangannya. dia menangis kembali, seakan dia belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi.
"Kenapa aku bisa berpikir kalau dia menyukaiku. Aku sudah tertipu dengan kenyamanan nya." ucapnya sesekali tertawa bodoh dalam tangisannya.
"Hah ..." Bobo membuang nafasnya panjang, sedang duduk di dalam bus menatap keluar dari balik kaca jendela bus.
'Kalau tau begini, seharusnya aku mengatakan yang sebenarnya saja tadi. Meskipun saat ini hatiku merasa lega, karena aku sudah tahu kalau dia juga menyukaiku. Tapi aku belum bisa tenang. Karena saat ini aku sudah menyakitinya.' gumamnya dalam hati.
Dengan tergesa-gesa. Bobo berlari secepat kilat menuju rumah Erta. Setelah bus yang dia tumpangi berhenti di area terminal.
Nafasnya terengah-engah saat sampai di depan pintu pagar rumah Erta. Dia membuang nafasnya sejenak, membungkuk sambil meremas kedua lututnya erat. Setelah jantungnya berdetak kembali normal. Dia mengambil gawainya dalam saku untuk menghubungi Erta.
__ADS_1
Sementara Erta tak menghiraukan gawainya saat ia melihat gawainya berdering karena panggilan masuk dari Bobo. Bobo terus berusaha menghubunginya. Lama kelamaan Erta tak tahan mendengar gawainya terus berdering. Dia menyambungkan panggilan itu.
"Halo Erta."
Saat ini Erta sedang malas bicara dengan Bobo. Dia hanya diam mendengarkannya saja.
"Kamu mendengarkan ku, kan. Aku ada di depan pintu pagar mu. Aku ingin bicara denganmu Sebentar. aku mohon turunlah." ucap Bobo melas.
Erta bangkit dari duduknya, dan melangkahkan kakinya menuju jendela kamar yang ada di lantai atas. Melemparkan pandangannya pada Bobo dengan wajah datar.
"Aku sangat lelah. Saat ini aku hanya ingin istirahat. Lain kali saja kita bertemu lagi. Ucapnya sendu, menutup teleponnya dan beranjak meninggalkan jendela kamar itu.
"Tapi aku ingin Bicara sekarang. Halo! Halo Erta!" Sesaat ia melihat layar ponselnya. Ternyata panggilannya sudah terputus. Beberapa kali ia berusaha menghubunginya kembali. Namun sudah tidak ada jawaban. Dengan langkah gontai ia melangkahkan kakinya pasrah perlahan menjauh dari pintu pagar itu.
Ting ...
Sebuah notifikasi pesan masuk pada ponsel Erta. Perlahan Ia membuka dan membacanya dengan malas.
(Aku akan menunggumu di taman. Aku tidak akan pergi sampai kamu datang.)
Rasa kecawa yang menyelimuti hatinya. Membuat dia saat ini tak mau memperdulikan Bobo lagi .
Sampai di taman, Bobo membuang bokongnya di tempat yang sama, saat dia duduk bersama Erta malam itu.
"Kenapa bisa jadi begini. Baru saja aku dekat dengannya, Belum apa-apa sudah ada masalah. Hah ..." ia membuang nafasnya kasar dan merebahkan badannya di atas rerumputan hijau.
Sementara Erta, sepanjang Waktu masih mengurung dirinya dalam kamar. Rasa penyesalan karena sempat menyukai Bobo, membuat dia malas bergerak dan melakukan sesuatu.
Hingga sampai malam menjelang. Dia masih berbaring di atas kasur sambil memeluk guling. Wajahnya terlihat datar, pikirannya seperti kosong.
Ting...
__ADS_1
Dia menolehkan pandangannya pada ponselnya yang terletak di sampingnya, saat ada notifikasi pesan yang masuk. Perlahan dia meraih ponselnya dan membuka pesannya.
(Apa kamu benar-benar tidak ingin menemui ku. Aku masih di taman menunggumu. Aku ingin menjelaskan yang sebenarnya. Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Aku mohon, datanglah sebentar saja.) ucap Bobo lewat pesan.