
Setelah selesai sarapan, Anjani dan bi Inah berbincang-bincang lagi.
"Bi inah, sudah berkeluarga?" tanya Anjani pada bisa Inah yang sedang membereskan cucian piring.
"Sudah, Non!" kata bi Inah sambil menoleh kearah Anjani.
"Bi Inah punya anak?" tanya Anjani kembali yang penasaran.
Bi Inah menghampiri Anjani dan duduk dikursi ruang makan itu lagi.
"Saya punya anak satu perempuan, Non!" kata bi Inah dengan menghela napas panjang.
"Tapi..Anak dan Suami saya sudah ga ada, satu tahun yang lalu mereka kecelakaan!" kata bi Inah yang tak terasa mengeluarkan air di ujung matanya.
Anjani megenggam tangan bi Inah dan berkata.
"Maaf bi, sudah membuka cerita sedih bibi!"
"Nggak apa-apa, Non!" kata bi Inah dengan tersenyum dan menyeka air diujung matanya.
"Oiya, Non! Keperluan di dapur sudah mulai kosong!" kata Bi Inah dengan jelas.
"Iya bi, memang saya belum sempat belanja." jawab Anjani dengan tersenyum tipis.
"Ya sudah, Bi! Saya keatas dulu, ya!" pamit Anjani.
"Iya, Non!" sahut bi Inah.
Anjani pun meninggalkan bi Inah.
__ADS_1
Ia berjalan menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar.
Anjani mencari ponselnya. Kemudian ia teringat kalau ponselnya sedang di cas dikamar bawah.
Ketika menuju anak tangga tiba-tiba langkah Anjani terhenti.
Apa aku bawa kembali barang-barangku kekamar bawah, ya? Gumam Anjani.
Anjani pun kembali masuk kedalam kamar dan membawa beberapa barang-barang miliknya.
Ketika menuruni anak tangga, bi Inah memperhatikan barang bawaan Anjani itu.
Bi Inah mencoba menawarkan diri untuk membantu Anjani.
"Bisa bi Inah bantu, Non?" kata bi Inah.
"Nggak usah bi, saya bisa sendiri." Tolak Anjani secara halus.
Anjani masuk kekamar tamu dan merapikan barang-barang miliknya itu.
"Emang ini kamar siapa, Non?" tanya bi Inah.
"E.. Kamar saya, Bi!" jawab Anjani.
"Lah, bukannya kamar Non diatas?" sahut kembali bi Inah yang nampak raut wajahnya kebingunan.
Lalu Anjani duduk dipinggir tempat tidur dan diikuti bi Inah.
Anjani menceritakan semua awal pernikahannya dan kejadian semalam.
__ADS_1
Bi Inah sedikit tersenyum dengan cerita Anjani.
"Bi Inah kenapa tersenyum gitu?" tanya Anjani yang mengerutkan dahinya.
"Maaf Non, bukan bi Inah ikut campur soal rumah tangga, Non! Tapi Non lebih baik tidur bersama dengan den Andre!" jawab bi Inah.
"Tapi, saya takut mas Andre nggak suka, Bi!" jelas Anjani.
"Non taunya dari mana kalau den Andre tidak suka, sementara kalian tidur satu kamar baru semalam!" sahut bi Inah.
Anjani terdiam mendengar kalimat bi Inah itu. Ia berpikir, sedikit tertunduk pandangannya ke bawah lantai.
Bi Inah mengelus pundak Anjani.
"Jangan terlalu dipikirin, Non! Percaya sama bi Inah! Sekarang Non bawa lagi barang-barang ini kekamar atas." Saran bi Inah.
"Iya, Bi!" sahut Anjani.
Tiba-tiba Anjani meneteskan air matanya.
"Non, kenapa? Maaf, bi Inah nggak bermaksud menyakiti Non!" jelas bi Inah yang sedikit gusar.
"Nggak kok, Bi! Saya teringat Ibu!" jelas Anjani.
"Memang ibu Non dimana sekarang?" tanya bi Inah yang penasaran.
"Ibu ada dirumah, sekarang mungkin lagi sibuk dengan jahitannya!" ujar Anjani.
"Oo.. Ibu Non bisa menjahit, ya?" tanya bi Inah kembali.
__ADS_1
"Iya Bi, semenjak Ayah meninggal, Ibu mulai aktif lagi menjahit untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari termasuk biaya saya sekolah." Jelas Anjani