
Bobo berdiri di pekarangan rumah barunya. Menghirup berat udara pagi ini, dan melepaskan dari mulutnya legah. "Aaahh." Kedua tangannya terbentang lebar. Menikmati hangatnya mentari pagi.
"Ini hari pertama ku di sini, semoga saja tempat ini nyaman buatku." Sesaat ia bingung, mengelus dagunya. "Oya, Tapi aku belum paham tempat ini, Bagaimana, ya? Aku ingin tahu tempat ini. Lebih baik aku jalan-jalan sebentar."
"Mon ...!" teriak Bobo, memanggil teman kerjanya, yang tinggal satu rumah dengannya.
"Apa Bo." jalan keluar rumah menghampiri Bobo.
"Kita belum tau tempat ini. Pagi ini kita sarapan dimana? tanya Bobo,
"Kok tanya aku?" ledek Emon dengan memonyongkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya pada Bobo.
"Iya ... tapi gak gitu juga bibir lo." sambil memukul lembut kepala Emon.
"Yasudah ... Hari ini kita kan, libur. Lebih baik kita jalan, yuk. Mana tahu ada warung nasi di dekat sini, kita bisa sarapan dulu." ucap Bobo, segera melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah.
"Ayuk lah ... Kebetulan juga aku sudah lapar." sahut Emon sambil mengelus perut.
Emon berlari kecil menghampiri daun pintu rumah dan menutupnya. Mereka mulai berjalan pelan dan melihat-lihat di sekitarnya. Tidak terlalu jauh berjalan, mereka melihat ada sebuah warung nasi yang sederhana. Mereka mengarahkan langkahnya menuju warung itu.
"Mbak nasi dua ya" ucap Bobo duduk di kursi samping Emon, depan display tempat meletakan lauk makanan.
"Iya mas, mau makan pakai apa?" tanya Feby anak dari pemilik warung nasi. 'Wajahnya asing, sepertinya mereka bukan orang sini.' gumamnya dalam hati, saat menyiapkan sarapan mereka.
"Saya pakai ikan dngan sayur itu ya, mbak." ucap Emon sambil berdiri menunjuk kearah salah satu sayur yang ada di display.
"Aku juga ya, buat sama saja." ucap Bobo, menumpuhkan kedua siku tangan di atas meja dan telapak tangannya saling menggepal. dagunya di tumpuhkan pada gepalan tangan itu.
Feby hanya gadis rumahan yang tidak banyak memiliki kegiatan di luar. Karena itu ia sering membantu untuk mengembangkan warung nasi milik ibunya.
"Ini ya mas ... Silahkan di makan. minumnya apa?" tanya Feby sambil
meletakan makanannya.
"Air putih saja." ucap Bobo dengan senyum tipis.
Sambil menyantap makanan, Bobo dan Emon berbincang-bincang. Obrolan mereka penuh dengan kelucuan. Di tambah lagi dengan Emon yang punya jiwa humoris, membuat suasana di warung penuh kekocakan. Sehingga menarik Feby masuk kedalam suasana mereka.
"Mas, bukan orang sini ya?" tanya Feby pada Bobo dan Emon.
"Iya mbak, kami dari kota seberang. Kenapa, ya? sahut Emon memalingkan pandangannya pada Feby.
"Tidak apa-apa, aku hanya sekedar bertanya saja." jawab Feby saat mengurusi pembeli lainnya.
"Apa wajah kami terlihat asing." Bobo ikut bicara, sesaat melirikan bola matanya pada Feby.
"Iya sih, karena baru kali ini, aku melihat kalian ada di sini."
Emon seorang pemuda yang sangat percaya diri. Apa lagi jika berhadapan dengan seorang wanita. Kepedeannya pun meningkat seperti pangeran cinta yang merajai dunia. Khik...Khik...Khik.
"Sudah lama mbak, jualan di sini?" tanya Emon pada Feby.
"Sudah mas, sudah bertahun-tahun ibuku membuka warung ini." jawab Feby yang duduk di kursi sebelah meja mereka setelah melayani pembeli lainnya.
"Mbak kerja di sini, ya?"
__ADS_1
"Gak mas, aku disini cuma membantu ibuku."
"Ooh ... Aku kira mbak kerja di sini. Ternyata warung sendiri, ya?" ucap Emon sedikit sok dekat.
Ketetarikan Emon kepada Feby membuat dia ingin mendekati.
"Bo, cantik juga ini cewek, bisa ini kalau gue sikat." berbisik di telinga Bobo."
"Yasudah, lo sikat saja sana. Belum tentu juga cewek tuh mau sama lo." Bobo membalas bisikan Emon.
"Ohh ... Sepeleh lo sama gue. gimana kalau kita taruhan? berani gak lo!"
"Oke ...!" jawab Bobo balik menantang. "Jika dalam satu minggu lo gak berhasil meluluhkan tuh cewek. Lo bakal tanggung biaya hidup gue selama disini, gimana? setuju gak lo?"
"Siapa takut!" balas Emon dengan percaya diri. Sesaat dia terdiam, bola mata hitamnya mengarah ke atas, dan memikirkan sesuatu.
"Tapi jangan satu minggu dong, waktunya?" sambung Emon, wajahnya melas, meletakan satu tangannya di bahu Bobo.
Bobo meletakan alat makannya di piring, dan meminum seteguk air putih. "Terus maunya berapa lama, mau sampai kita pulang kampung." ucapnya sedikit kesal.
"Buat apa taruhan kalau begitu." sambung Bobo memukul lembut kepala bagian samping Emon.
"Kalau satu minggu terlalu cepat Bo. Gimana kalau 3 bulan." ucap Emon dengan senyum menggoda, sambil mengedip-ngedipkan matanya merayu Bobo.
"Huuhhh ... Dasar! Lo aja disini belum tentu 3 bulan. Gimana sih lo." ucap Bobo kesal dan melanjutkan makannya.
"He ... he ... he ..." balas Emon dengan tertawa kuda.
'Gimana kalau 1 ..." belum sempat Emon
meyelesaikan perkataannya, Bobo sudah memotongnya.
"He ... he ... he ... Emon kembali membalas dengan tertawa lebar.
Setelah mengobrol berbisik, mereka kembali menyantap makanannya sampai selesai.
"Sudah selesai? kalau sudah kita kembali yuk. Sudah lama juga kita di sini." tanya Bobo duduk bersandar di bangkunya.
Lalu mereka menyerahkan sejumlah uang untuk membayar makanannya, dan beranjak pergi dari warung nasi itu.
Baru bergegas dua langkah Emon berhenti. membalikan badannya menghampiri Feby dekat, dan menjulurkan tangannya.
"Oya, boleh tahu namanya mbak?" tanyanya.
"boleh."
Bobo sudah berjalan terlebih dahulu. Mendengar Emon ingin berkenalan, dia kembali cepat menghampiri Emon.
Terlintas di pikirannya ingin menggoda Emon.
Saat Feby menjulurkan tangannya ingin
bersalaman dengan Emon, dan memperkenalkan dirinya. Dengan cepat Bobo meletakkan kakinya, berdiri sedikit di depan Emon. Menyambar tangan Feby terlebih dahulu,
"Nama aku Bobo." Bobo tesenyum manis, dan membuang bola matanya melirik pada Emon.
__ADS_1
Sesaat Feby tertawa menutupi mulutnya dengan tangkupan tangan. Melihat tingkah Bobo seperti sedang menggoda Emon. "Namaku Feby." jawabnya sambil tersenyum tipis.
Giliran Emon yang berkenalan, lagi-lagi Bobo menggodanya. Saat Emon ingin meraih tangan Feby, Bobo menarik dan menahan tangan Emon.
"Ini teman ku, namanya Emon." ucap Bobo terseyum dan menepuk lembut bahu Emon.
"Ah ... lo!" berontak melepaskan pegangan Bobo dari tangannya.
"Usil banget sih lo! gue bisa kenalan sendiri, gak perlu lo kenali." sambung Emon sedikit kesal.
Emon berbisik di telinga Bobo.
"Tadi gue udah bilang sama lo, kan. Kalau gue mau dekati cewek ini. Kenapa lo ikut maju. Jangan-jangan lo juga mau dekati dia, ya?"
Bobo tak menghiraukan perkataan Emon padanya.
"Dia lagi haus sentuhan wanita, jika saja kamu sentuh, bisa-bisa dia bakal gak mandi hari ini." ucap Bobo pada Feby.
Kaget, bola matanya membulat sempurna. "Hahh! kok bisa begitu?" tanya Feby tersenyum lebar karena perkataan Bobo yang sedikit aneh.
Emon tidak terima mendengar celaan Bobo padanya. "Wey ..." dia memutuskan pembicararaan Bobo dan Feby.
"Asal aja lo kalau ngomong." sambung Emon mendorong sedikit bahu Bobo.
"Gue gak gitu ya, kamu jangan dengerin dia." ucap Emon kepada Feby wajahnya sedikit malu.
"Ha ... ha ... ha ..." Bobo tertawa lepas, merasa puas menggoda Emon.
"Yasudah kalau begitu, kami pulang dulu." pamit Bodo berlalu melangkah pulang.
"Bentar dulu Bo." ucap Emon menahan langkah Bobo.
"Mau apa lagi."
"Gue mau tanya sama Feby, warungnya buka sampai malam atau tidak. Kalau buka, kita gak perlu mutar-mutar lagi carik makan malam, kan?"
"Alasan aja lo, bilang aja kalau lo mau ketemu Feby lagi." ucap Bobo menyindir.
"Ha ... ha ... ha ... Kalian lucu ya." ujar Feby merasa terhibur.
"Tenang aja, kalian bisa datang lagi nanti malam kalau mau. Karena warung ku buka sampai malam."
"Nah ... denger tuh Bo, kita kan belum tahu tempat ini! kalau begini, urusan kita kan lebih mudah. Gak perlu lagi capek, mutarin kota cuma untuk carik
warung makan."
"Jadi orang tuh, jangan malu bertanya, asalkan jangan malu-malu'in." ujar Emon menasehati Bobo dengan rasa bangga.
"Lo tuh, yang malu-malu'in." ucap Bobo sambil menepuk bahu Emon, berlalu meninggalkan warung.
"Abang pulang dulu ya Feby." pamit Emon, berjalan melambaikan tangannya, dan tersenyum lebar.
Jarang-jarang untuk Feby bisa menikmati hiburan, layaknya duduk bersama teman. Karena harus membantu ibunya mengurusi warung, Feby tidak memiliki banyak waktu untuk berkumpul bersama temannya.
Tingkah mereka berdua yang lucu di mata Feby membuatnya terus-terusan tertawa.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya, kepada Bobo, Emon dan Feby. akankah ada cinta segitiga di antara mereka? Dan bagaimana dengan kisah Erta?
Semoga ceritanya bisa menghibur ...