Perbedaan

Perbedaan
Eps11


__ADS_3

Mata Bobo membulat sempurna, bibirnya sembari menyiratkan senyuman. "Kamu serius? kalau begitu kamu tahu taman kecil di pinggir jalan yang ada air memancur? kalau kamu tahu, aku akan menunggu kamu di sana. Bagaimana?" ucap Bobo riang.


"Iya aku tahu, taman itu tidak jauh dari rumahku."


"Oh ya, berarti jarak rumah kita tidak terlalu jauh. Karena rumahku juga dekat dari taman itu.


"Masak sih? yasudah kalau begitu. Aku mau berkerja dulu. Sampai bertemu nanti malam, ya."


"Baiklah, nanti malam aku akan menunggu mu."


"Oke, sudah ya, Bye-bye" ucap Erta dan menutup gawainya.


Emon meletakkan alat kerjanya di lantai dan berjalan menghampiri Bobo. "Siapa Bo? kelihatannya lo senang sekali." ucapnya perlahan membuang bokongnya di samping Bobo.


"Dia mengajak aku bertemu nanti malam." Bobo tersenyum manis. "Rasanya gue ingin cepat-cepat malam saja. Gue sudah tidak sabar ingin bertemunya."


Emon tertawa getir melihat Bobo. "Lo seperti anak ABG saja, yang baru mengenal cinta."


"Lo sendiri juga seperti anak ABG, saat lo baru pertama mengenal Feby."


"Beda dong, gue gak tergila-gila seperti lo."


"Hah ..." Bobo membuang nafasnya. "susah ya, bicara sama lo. Jangankan menang, seri pun tak mau." sambungnya ketus, bangkit dari duduknya berlalu melangkah ke lokasi yang ia kerjakan tadi.


Emon menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi ia tertawa geli, melihat tingkah Bobo yang lucu karena cinta.


"Bobo ... Bobo."


***


Bobo membasuhkan tubuhnya dengan air, di dalam kamar mandi setelah pulang bekerja. Membersihkan seluruh tubuhnya yang kotor karena seharian bergelut dengan besi bangunan. Setelah itu dia mengenakan kaos berlapis jaket dan celana jeans panjang. Ia Berdiri di depan cermin, merapikan rambut ikalnya yang lemas agar penampilannya terlihat keren meskipun sederhana.


Malam.


"Aku pergi dulu mon." menolehkan pandangannya kebelakang menatap Emon sedang bersantai duduk di atas kasur. Berlalu melangkah keluar rumah berjalan menuju taman.


"Kalau sudah selesai, pulang lah. Jangan lagi tidur di taman!" ucap Emon menggodanya sambil tertawa geli.


Cahaya bulan yang menerangi dirinya sepanjang perjalanan, menemani langkahnya perlahan. Jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya. Membuat tubuhnya sedikit gemetar. Ini malam pertama ia berdua dengan Erta.


Erta keluar dari kamarnya dengan penampilan yang lebih rapi dari sebelumnya. Melangkah sedikit cepat menuruni anak tangga seperti terburu-buru. Melewati Arya yang sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Mau kemana kamu Er?"


"Aku mau keluar sebentar." jawab Erta tanpa berhenti. Satu tangannya

__ADS_1


mengambil gawai dalam tasnya dan mencoba menghubungi Bobo.


"Hallo" sapa Bobo setelah panggilan masuk dari seberang.


"Iya hallo Bo. Kamu sudah sampai?"


Mendengar suara Erta jantung Bobo berdetak semakin cepat. bibirnya sedikit gemetar. "Iya, aku sudah di taman." suara Bobo sedikit gugup tak seperti biasanya.


"Tunggu ya, aku segera kesana." ucap Erta menggulum snyuman.


Ia tak menggunakan mobil hitamnya. Karena jarak taman itu dekat dari rumahnya, ia hanya berjalan kaki. 'Kok aku merasa gugup, ya. Ayo dong Erta tenang.' gumamnya dalam hati.


Ia membuang nafasnya panjang, sekedar melepaskan rasa gugupnya.


Bobo menunggu Erta duduk di atas rerumputan berbukit yang sedikit miring. Menekuk sebelah kakinya dan menumpuhkan kedua tangannya kebelakang. Tak lama menunggu, ia melihat Erta dari kejauhan berjalan perlahan menghampirinya.


Bobo melambaikan tangannya. Erta tersenyum dan tersipu malu. Terus ia langkahkan kakinya mendekati Bobo sambil mengaitkan jemari tangannya. Beberapa kali Erta menghela nafasnya, mengatur degup jantung yang bertaluh tak beraturan.


Saat sampai di hadapan Bobo, tanpa sadar mata mereka berdua saling bertemu dan bertautan. Sesaat Erta tersadar, ia terseyum simpul dan menundukan pandangannya. Perlahan rona kemerahan muncul di kedua pipinya, wajahnya menghangat saat ia menatap binar bening milik Bobo.


Sejenak suasana di antara mereka menjadi canggung. Masing-masing mereka tak mampu mengendalikan debaran jantung yang menendang dan ingin melompat keluar. Bobo menelan salivanya berat, bibirnya terasa keluh. Begitu juga dengan Erta.


"H-h-hai." ucap Bobo terbata. "Duduk lah." sambung Bobo, menggosokan


kedua telapak tangannya berusaha menghilangkan grogi dalam dirinya.


Mata Bobo memandang bentangan luas langit malam. "Indah ya, malam ini". ucap Bobo tersenyum tipis, memalingkan wajahnya menatap Erta.


"Iya."


"Kamu terlihat sangat cantik malam ini."


Erta tersipu malu mendengar perkataan Bobo memujinya.


"Kamu selalu modusin aku." Ia menundukan kepalanya dalam. Seakan tak mampu menatap wajah Bobo.


"Aku tidak modus, aku mengatakan apa adanya. Apa kamu tidak merasa kalau kamu cantik?"


"tidak, aku biasa saja." ucap Erta merendah, mendengakkan kepalanya ke langit. Kedua tangannya di tumpuhkan kebelakang dan kedua kakinya di lunjurkan."


Suasana perlahan menenang, mengurangi kecepatan degup jantung


mereka yang cepat seperti genderang mau perang. Bobo menjulurkan satu tangannya ke hadapan Erta dan menatapnya. "Aku bisa melihat hatimu dari telapak tanganku, kamu percaya tidak?"


Erta menekuk kedua lututnya dan merangkul dengan kedua tangannya. Menatap telapak tangan Bobo. "Memangnya kamu peramal, bagaimana caranya?" ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Bobo mengangkat tangan kanannya mengarah ke langit. "setengah hatimu sudah terlihat di telapak tangan ku. Kamu lihat, kan?"


"Mana?" dahinya sedikit mengernyit dan menatapkan pandangannya pada telapak tangan Bobo. "Gak lucu ah, mana mungkin bisa melihat hati dari telapak tangan. Aku gak percaya."


"Letakanlah kepalamu di bahuku, kamu akan melihatnya." ucap Bobo melirikkan matanya tajam menatap Erta.


"Oh ya? Apa benar? Atau kamu hanya ingin menggoda saja, agar aku bersandar di bahumu." ucap Erta, sembari menyiratkan senyuman.


"Aku tidak menggodamu, ini benar, Cobalah letakan kepalamu di bahuku."


Meskipun Erta tak percaya, tapi dia tetap melaukan apa yang di katakan


Bobo. "Baiklah." Ia meletakan sedikit kepalanya di bahu Bobo dan menghela


nafasnya berat. Merasakan kenyamanan begitu besar, dalam hatinya.


bibirnya tersenyum lebar saat menatap telapak tangan Bobo.


Bobo mengangkat satu tangannya lagi, dan menyatukan telapak tangan kirinya pada telapak tangan kanannya sedikit miring. Hingga berbentuk menjadi hati. (seperti gamar di cover ).


"Telapak tanganku sudah utuh berbentuk hatimu. Apa kamu melihatnya?"


Erta tersenyum lebar, menampilkan jejeran giginya yang tersusun rapi. Matanya menatap lekat pemandangan indah yang di tunjukan Bobo. Wajahnya menghangat. Sehangat momen romantis yang di ciptakan Bobo untuk nya. "Iya, aku melihatnya." lirih Erta lembut.


Erta sangat menikmati pemandangan hati dari telapak tangan Bobo, diahasi ribuan bintang yang bertaburan di langit.


Tak lama Bobo menurunkan kedua telapak tangannya. "Bagaimana kalau kita lakukan bersama" ucap Bobo, wajahnya sumbringah menggulum senyuman.


"Baiklah, ayo kita lakukan."


Dengan senang, segera Erta mengangkat telapak tangan kanannya ke arah langit, dan Bobo mengangkat tangan kirinya menyatukan pada telapak tangan Erta.


Meski hubungan mereka hanya sebatas teman. Malam ini lambang hati


yang mereka ciptakan membawa Erta dan Bobo terhanyut dalam lamunan asmara. Seakan mereka seperti sepasang kekasih.


Tak lepas pandangan Bobo dan Erta menatap telapak tangan itu. keindahannya menyentuh hatinya dalam.


"Malam ini benar-benar sangat indah, ya." ucap Bobo, memandang lambang hati itu lekat.


"Iya ... Sangat indah." lirih Erta lembut, bibirnya menyungging lebar.


Bobo memalingkan tatapannya pada Erta. "Apa kamu bahagia?"


Sesaat Erta membalas tatapan Bobo, kepalanya masih bersandar di bahunya. "Iya, Aku sangat bahagia." Tak lama ia tersadar dari lamunan asmaranya. Perlahan menurunkan tangannya dan membuang pandangannya ke sisi kosong. Wajahnya tersipu malu, tak sanggup melihat bola mata Bobo penuh harapan.

__ADS_1


"Aku sangat nyaman jika kamu bersandar di bahuku. Aku mohon, bersandar lah, lagi."


"Baiklah." sesaat Erta membuang nafasnya panjang, untuk mengatur degup jantungnya yang tak beraturan. Lalu ia menyandarkan kepalanya kembali di bahu Bobo. Salah satu tangan Bobo mencengkram bahu Erta dari belakang.


__ADS_2