Perbedaan

Perbedaan
Eps12


__ADS_3

"Saat ini aku sangat takut, jika pagi datang." ucap Bobo lembut.


"Kenapa takut?"


"Karena dia akan mengambil semua kebahagiaan ku malam ini. Rasanya aku sangat tidak rela."


"Kamu ada-ada saja. Walaupun pagi menghapus semua cerita kita malam ini. Kamu masih bisa menyimpannya dalam ingatanmu."


"Tapi aku benar-benar tidak ingin jika malam ini berakhir."


Erta menegakan kepalanya dari bahu Bobo. "Kamu jangan paranoid gitu. Seakan kamu tidak akan bertemu aku lagi. Biarkan hari-hari yang lain memberikan langit nya, bagaikan kertas polos yang akan kita tulis nanti. Justru aku tidak ingin hanya malam ini saja menulis cerita bersamamu."


"Kamu benar. Kalau begitu aku ingin cepat-cepat pagi. Agar aku bisa menulis banyak cerita bersamamu."


"Ha-ha-ha, kamu itu aneh. Tadi kamu tidak ingin pagi datang. Sekarang kamu ingin cepat-cepat pagi. Bagaimana sih." ucap Erta menggelengkan kepalanya.


"Iya ya. Kenapa aku jadi aneh begini." ucap Bobo tersenyum, satu tangannya mengacak-acak rambut belakangnya.


Sesaat Erta menyilangkan kedua tangannya dan mengelus-elus lengannya, bibirnya bergetar menahan dingin.


"Kamu kedinginan, ya."


Segera Bobo melepaskan jaketnya. "Pakai lah ini." ucap Bobo sambil meletakkan jaketnya pada badan bagian belakang Erta.


"Tidak usah Bo. Nanti kamu yang akan kedinginan." ucap Erta menahan tangan Bobo.


"Fisikku lebih kuat darimu, dan aku sudah sering sepanjang malam di luar. Jadi Aku tidak akan kedinginan. Sudah, kamu pakai saja."


"Yasudah, kalau kamu memaksa." ucap Erta pasrah.


Perlahan Bobo kembali memakaikan jaketnya pada badan Erta. Tanpa sadar mata mereka kembali saling bertemu dan bertautan.


'Aku sangat mencintaimu, Erta. Tapi rasanya terlalu cepat, jika aku mengatakannya sekarang. Lebih baik aku menunggu waktu yang tepat.' gumam Bobo dalam hatinya.


"Haci ..." Tiba-tiba Erta bersin. "Maaf, ya. Sepertinya aku flu." ucapnya membuyarkan tatapan mereka yang bertautan.


"Tidak apa-apa, sebaiknya kita pulang saja sekarang. Aku takut nanti kamu sakit."


Bobo bangkit dari duduknya dan menjulurkan satu tangannya. "Ayo, aku akan mengantarmu."


"Baiklah" ucap Erta sambil mencengkram telapak tangan Bobo bangkit dari duduknya.


"Apa kamu sanggup berjalan? kalau tidak, aku akan menggendongmu."


"Tidak perlu, aku tidak apa-apa."

__ADS_1


"Yasudah, tapi jika nanti kamu lelah, katakan, ya."


"Iya. terimakasih ya Bo. Sudah menemaniku malam ini." ucap Erta sambil berjalan.


"Iya, sama-sama. Jika kamu butuh teman, hubungi saja aku. Aku akan selalu ada untukmu."


Ya, pasti akan aku hubungi. Besok kamu bekerja?" tanya Erta.


"Kenapa?"


"Aku mau mengajakmu pergi, ke semua tempat yang aku suka di kota ini. Bagaimana? apa kamu ada waktu?"


"Baiklah, Besok aku akan menemanimu pergi."


"Kamu serius? kalau begitu aku akan menjemputmu besok."


"Ya, aku akan menunggumu."


Sepanjang berjalan mereka terus mengobrol. Tak Terasa mereka sudah sampai di depan pintu pagar rumah Erta.


"Kita sudah sampai. Ini rumahku."


"Jadi ini rumahmu. Besar sekali, ya." ucap Bobo menatap heran.


"Terimakasih ya, Bo. Sudah mengantar aku pulang. Sampai ketemu besok. Aku masuk dulu, ya." ucap Erta tersenyum lebar.


"Iya, terimakasih juga, untuk ceritanya malam ini."


Erta melepaskan jaket Bobo yang dikenakannya. "ini jaket mu. pakailah, Jangan sampai kamu kedinginan."


Sejenak Bobo menatap Erta yang berjalan memasuki rumahnya. Lalu, saat dia baru mau melangkahkan kakinya pergi dari depan pintu pagar. Notifikasi pesan berbunyi dari gawainya. Cepat ia mengambil gawainya dari dalam sakunya.


(Jangan pergi dulu.) ucap Erta lewat pesan.


Bobo baru membacanya, Gawainya berdering. Segera ia menyambungkannya.


"Lihatlah aku sebentar." ucap Erta.


Bobo mendengak, menolehkan pandangannya kearah jendela kamar Erta. Ia melihat Erta berdiri di balik jendela sedang mengangkat tangan kirinya kearah langit. Bibirnya tersenyum manis. Ia berlalu melakukannya juga. Ia mengangkat tangannya ke arah Erta berada sedikit jauh dan lebih tinggi darinya.


'Aku sangat menyukaimu. lirih mereka bersamaan terucap dalam hati. Sesaat ada bintang jatuh melintas di langit.


"Ada bintang jatuh." ucap Erta sambil menutup matanya, perlahan menurunkan tangannya.


"Ya, aku melihatnya." ucap Bobo.

__ADS_1


"Apa kamu meminta sesuatu." ucap Erta lewat telepon mengarahkan pandangannya Pada Bobo berada di bawah, yang masih berdiri di depan pintu pagar.


"Tidak, aku tidak percaya dengan bintang jatuh. Jika aku ingin meminta sesuatu, aku akan bersujud. Aku akan memohon pada Tuhan."


Tanpa sadar batin Erta tersentak. Sesaat ia memikirkan sesuatu. Ia menghela nafasnya. 'Sudahlah, aku tidak perlu memikirkannya. Yang penting aku sangat bahagia bersamanya.' lirihnya dalam hati.


"Kamu kenapa?" ucap Bobo mendengar helaan nafas Erta.


"Tidak apa-apa Bo. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kamu pulang. Sepertinya malam sudah semakin larut."


"Baiklah, Aku pulang dulu, ya."


Iya, selamat malam Bobo."


"Selamat malam juga Erta. Jangan lupa, ya. Jika tidur nanti, gunakan cintaku untuk menyelimuti tidurmu. He-he-he."


"Tenang saja, aku pasti akan menggunakannya. Sudah ya, aku tutup. Bye-bye."


Perlahan Erta menutup daun jendela dan gordennya. Ia merebahkan tubuhnya dan memadamkan lampu kamarnya yang terletak di atas nakas.


Berlalu Bobo melangkahkan kakinya pelan setelah melihat lampu kamar Erta sudah padam. Sambil berjalan, Sesekali ia menghela nafasnya saat membayangi rumah Erta yang besar.


"Bagaimana ini? Aku jadi semakin ragu untuk menyatakan perasaanku." Ia membuang nafasnya panjang, menenangkan pikirannya.


"Sudahlah, aku tidak perlu memikirkannya. Cinta itu sederhana. Jika aku bisa membuatnya tersenyum. Pasti dia akan bahagia. Aku akan berjuang untuknya. Akan aku lakukan dengan caraku sendiri." sambungnya, dengan wajah penuh keyakinan.


Setelah berjalan beberapa menit, Bobo sampai di rumahnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menekukkan kedua tangannya dan menumpuhkan kepalanya di atas telapak tangannya. Sesekali Ia terbayang indahnya suasana di taman tadi bersama Erta. Memaksa bibirnya terus-menerus tersenyum tipis. Perlahan matanya terpejam dan ia pun terlelap tidur.


Saat matahari mulai terbit, jiwanya sempat terbawa ke alam mimpi. Dia bertemu dengan Erta dan menyatakan perasaannya di dalam mimpi.


"Aku mencintaimu Erta. Aku sangat mencintaimu. Apa kamu juga mencintai ku?"


"Aku juga mencintaimu Bo. Tapi maaf, aku tidak bisa hidup bersamamu."


"Kenapa? apa karena kasta kita jauh berbeda?"


"Tidak. Bukan itu."


"Lalu apa?"


Bobo tersadar dari tidurnya, perlahan membuka matanya. Saat sinar mentari menembus jendela kaca kamarnya. Menyentuh hangat wajahnya.


Dia menarik selimut yang membungkus tubuhnya, dan berlalu duduk di bibir ranjang sambil menyisir rambut ikalnya dengan jemarinya.


"Ternyata hanya mimpi. Tapi apa maksud dari mimpi itu?" Sejenak ia bingung dan memikirkan maksud dari mimpi itu. "Sudahlah, itu hanya bunga tidur. Tidak mungkin ada artinya. Lebih baik sekarang aku mandi, biar pikiranku segar." ucapnya bangun dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2