Perbedaan

Perbedaan
Eps 8


__ADS_3

Erta memasuki kamarnya. Dia melemparkan tas keatas kasur, dengan sedikit menghela nafas. Dia duduk di bibir ranjang, menghapus peluh keringat yang membasahi dahinya.


Tak lama Erta bangkit dan berjalan memasuki kamar mandi. Membasuh tubuhnya dengan air. Sekedar untuk mengembalikan semangatnya yang telah habis karena lelah bekerja. Lalu dia sekedar Merapikan dirinya mengenakan pakaian sederhana dan berbaring di atas ranjang.


"Bosan juga sendiri terus. Tidak ada yang memperhatikan aku. Benar juga kata Arya, mau sampai kapan aku seperti ini terus. Apa aku terima saja tawaran Arya. Tapi aku masih takut terluka lagi. "Hah ..." ia menghela nafasnya. "Sudahlah, lupakan saja. Lebih baik sekarang aku tidur." sambungnya dan memejamkan matanya.


***


Hangatnya sinar matahari perlahan menyelimuti dinginnya pagi. kilauannya menyentuh hangat wajah Bobo dan menyadarkan dia dari tidurnya yang masih terbaring di atas rerumputan taman. Lalu ia duduk sesaat untuk menyadarkan diri dari pikirannya yang masih mengambang. Ada air bersih yang memancur menghiasi taman. Setelah sadar, ia bangun dan berjalan menghampiri air itu. Dia membasuh wajahnya, dan sedikit membersihkan pakaian yang di kenakan, sekedar merapikan penampilannya. Lalu dia berjalan pergi dari taman itu.


Hangatnya mentari pagi ini menyinari putaran ban mobil hitam Erta, melaju menembus padatnya kota menuju kota seberang. Belum terlalu jauh berjalan Ia memarkirkan mobilnya di area salah satu toko untuk membeli sesuatu.


"Hai." seseorang menyapa dari belakangnya saat dia turun dari mobil dan baru berjalan beberapa langkah. Lalu dia membalikan badannya dan menatap seseorang yang memanggilnya tadi. Seketika dia merasa gembira dan juga kaget.


"Kamu Erta, kan? apa kabar?"


"Iya, aku Erta. Kabar aku baik."


"Kamu masih ingat aku? kita pernah bertemu sebelumnya."


"Iya, aku masih ingat. Kamu Bobo kan?" ucap Erta sembari menyiratkan senyuman.


"Iya, aku Bobo. Syukurlah, ternyata kamu masih ingat denganku."


"Kamu sedang apa disini? apa kamu tinggal di kota ini?" ucap Erta.


"tidak, aku hanya tinggal sementara disini, karena pekerjaanku. Apa kamu ingin membeli sesuatu di toko itu. ucap Bobo menunjukkan satu jarinya kearah toko. "Aku temani, ya." sambungnya.


"Baiklah, kalau kamu ingin menemani."

__ADS_1


"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu hari ini. Beberapa hari yang lalu aku sempat melihatmu di taman. Aku memanggilmu, tapi kamu tidak mendengar. Sepertinya saat itu kamu sedang terburu-buru. Tapi aku yakin kalau kamu tinggal di kota ini. Karena itu, aku mencarimu setiap hari, dan akhirnya aku bertemu juga denganmu. ucap Bobo sambil menemani Erta di dalam toko.


Erta tertawa lebar mendengar perkataan Bobo dan menangkupkan tangannya menutup mulut. " Masak sih ... setiap hari kamu mencariku. jangan bilang kalau kamu suka padaku, ya." ucap Erta bercanda.


perkataan Erta membuat Bobo tersipu malu. "jangan memancingku untuk berkata modus. Saat ini aku sedang sulit mengendalikan diriku. Nanti kamu akan menyesal. Karena perkataan ku bisa membuatmu terbawa perasaan."


"Oya, aku tidak mau menelusuri kota ini untuk mencarimu lagi. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Agar aku mudah menemukanmu." sambung Bobo.


"Boleh. Tapi untuk apa kamu ingin mencariku lagi?"


"Akun ingin berteman denganmu lebih dekat lagi."


"Oh ... Aku pikir Karena kamu suka padaku" ucap Erta menggodanya sambil tertawa kecil. "Baiklah kalau begitu." sambungnya.


Segera Bobo mengambil gawai dari sakunya dan menyimpan nomor Erta sambil berjalan keluar toko.


"Aku mau pergi bekerja. Maaf ya, aku tidak bisa lama-lama mengobrol. Aku pergi dulu."


"Baiklah. Hati-hati, ya."


"Oke." Erta menunggangi mobilnya dan berlalu pergi.


'Akhirnya, aku bisa menemukanmu juga. Aku benar-benar bahagia hari ini.' lirih Bobo dalam hati. Sesaat pandangannya tak lepas menatap mobil Erta yang melaju semakin menjauh dari pandangannya.


Tiba-tiba ponsel Bobo berdering. Ia melihat layarnya, ada panggilan masuk Emon dari seberang. Segera ia mengangkatnya.


"Hallo Mon."


"Lo dimana? apa Lo gak kerja."

__ADS_1


"Gue lagi ada di luar Mon. Gue sangat bahagia hari ini. Gue sudah menemukannya Mon." ucap Bobo riang tersenyum lebar.


"Apa! ucap Emon kaget. "Sejak kapan Lo keluar dan melanjutkan pencarian. Kenapa gak bangunin gue."


"Semalam gue tertidur di taman, dan pagi ini aku tidak sengaja bertemu dengannya saat mau pulang."


"Wah ... Lo benar-benar sudah gila ya, Bo. Buat apa lo tidur di taman. Lo boleh jatuh cinta, tapi gak harus sampai segitunya juga."


"Sudahlah, gue gak kerja hari ini. Gue mau menikmati indahnya hari ini. Oke." ucap Bobo menghentikan pembicaraan.


Dia berjalan tanpa arah dengan langkahnya hari ini penuh gembira, di bawah hangatnya sinar mentari. Wajahnya memancarkan kebahagiaan, menyambut semangat dalam jiwanya. Sesaat dia menghentikan langkahnya dan menatap sesuatu yang jauh dari pandangannya. "Apakah itu pantai." dia mengernyitkan dahinya. Sesaat dia menarik nafasnya berat, dan melanjutkan langkahnya menghampiri pantai itu, sambil melemparkan senyuman di setiap langkahnya.


Dia menghentikan langkahnya di pinggiran bibir pantai. Memasuki kedua tangannya ke dalam saku. Meski Mulutnya tak melontarkan sepatah katapun. Namun alam semesta seakan mengerti, sebuah isyarat yang di sampaikan lewat tatap matanya yang begitu dalam. Memandang hamparan langit biru di atas laut terbentang luas. Dengan bibirnya yang manis tersenyum lebar.


***


Begitu juga dengan Erta. Pertemuannya yang kedua kali dengan Bobo membuat dia tak fokus bekerja. Hatinya yang selama ini terasa membeku, perlahan mencair kembali menyiratkan kebahagiaan menyelimuti jiwanya. Sepanjang waktu bekerja dia lebih banyak melamun Duduk di atas kursi kerjanya sambil memutar-mutarkan pulpen yang sedang di pegangnya. Sesekali Binar bening milik Bobo saat menatapnya tadi, terlintas membayang di pikirannya. Memaksa bibirnya terus-menerus tersenyum manis.


Lalu dia menepuk dahinya. "Ada apa ini, sadar Erta." ia menghela nafasnya. "Kenapa aku terlihat aneh hari ini." Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri jendela ruangan dan membukanya. Dia menghirup berat udara yang masuk dari jendela sekedar melepaskan gelisah yang menggangu pikirannya.


Namun bukan ketenangan yang dia rasakan, malah bayangan saat bertemu Bobo tadi semakin melekat di pikirannya. Dia kembali tak sadar. pandangannya kosong menatap hamparan di luar dari jendela ruangan kerja. Ingatannya kembali mengingat kebelakang saat beberapa jam yang lalu.


"Hai. Kamu Erta kan? apa kabar. Setiap hari aku mencarimu."


Hembusan angin yang kencang menendang wajahnya. Dia tersentak dari lamunannya. " aduh ... Erta. Kenapa sih, kamu masih memikirkannya." dia menepuk dahinya berkali-kali. Jadi salah tingkah sendiri.


"Sudah ah, dari pada aku melamun terus, lebih baik aku menghubungi dia saja." Erta berjalan kearah meja kerjanya dan mengambil gawainya di atas meja. Dia melihat sederet nomor yang tertera di gawainya untuk mencari nomor milik Bobo.


Sejenak dia berpikir. "Masak iya sih, aku yang harus menghubunginya terlebih dahulu." ucapnya sambil memutarkan bola mata. Erta menghela nafasnya, meletakkan kembali gawainya di atas meja dan membuang bokongnya di kursi kerjanya. "Lebih baik aku menunggu saja. Mana tahu dia menghubungiku." Ia menumpuhkan dagunya pada kedua telapak tangannya. Matanya tak lepas menatap layar gawai yang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2