
Jam menunjukkan pukul 07.00, bi Inah berniat membangunkan Anjani. Bi Inah berjalan menaiki anak tangga.
Sampailah bi Inah di depan pintu kamar majikannya itu. Ketika hendak diketuk ternyata pintu tertutup tidak rapat.
Bi Inah masuk kekamar dan dilihatnya Anjani tertidur pulas.
Bi Inah menggelengkan-gelengkan kepalanya. Dan bi Inah tak sengaja melihat jenjang kaki mulus putih Anjani.
Bi Inah menghampiri Anjani dan mencoba membangunkannya.
"Non, bangun!" kata bi Inah.
Namun tak ada sahutan apapun dari Anjani.
Bi Inah mencoba membangunkan Anjani dengan menepuk tangan Anjani.
"Non, bangun!" kata bi Inah lagi.
Anjani menggeliatkan badannya dan menguap. Dalam keadaan setengah sadar dari tidurnya, Anjani melihat bi Inah berdiri di sebelah kanan Anjani.
Kemudian Anjani membuka matanya dan berkata.
"Ibu, siapa?" tanya Anjani
"Saya bi Inah, non!" jawab bi Inah dengan sopan.
Anjani mencoba duduk dari tempat tidurnya tapi selimut yang ia gunakan melorot sampai dadanya. Buru-buru Anjani memegang selimut itu dan menarik sampai lehernya.
Bi Inah tersenyum melihat Anjani, ia teringat dengan pesan Andre yang ia dengar dari pagi.
__ADS_1
"Non, bi Inah kebawah dulu ya!" pamit bi Inah dengan istri majikannya itu.
Anjani menganggukan kepalanya. Bi Inah pun meninggalkan Anjani seorang diri.
Apa yang terjadi semalam? Gumam Anjani.
Anjani mencoba mengingat-ingatnya. Anjani merebahkan kembali tubuhnya. Ada sedikit tidak percaya dengan apa yang ia ingat, sehingga tak terasa ujung matanya mengeluarkan air.
Mengapa, aku melakukan hal bodoh. Semua sangat memalukan. Gumam Anjani sambil terisak-isak.
Akhirnya Anjani pergi ke kamar mandi. Kran shower dinyalakan. Air mengguyur kepala Anjani, Anjani kembali menangis. Beberapa menit kemudian Anjani selesai membersihkan badannya.
Anjani berjalan dan duduk dipinggir tempat tidur. Masih dengan menggunakan handuk.
Kenapa aku bo*** sekali, sih! Gumam Anjani kembali.
Anjani menghapus air matanya dan beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan menghampiri lemari Andre. Anjani memakai pakaiannya yang ia letakkan di lemari Andre.
Anjani menghampiri bi Inah dan berkata.
"Sedang apa, Bi?" tanya Anjani yang memulai pembicaraan.
"Bibi lagi beres-beres, Non?" jawab bi Inah dengan sopan.
"Boleh saya bantu, Bi?" tanya Anjani yang mencoba menawarkan diri.
"Sudah selesai kok, Non!" sahut bi Inah.
"Maaf ya, saya jadi merepotkan bi Inah!" kata Anjani yang kemudian duduk dikursi ruang makan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa non! ini kan sudah tugas saya," jawab bi Inah.
"Oiya, bi Inah asal dari mana?" tanya Anjani kembali.
"Saya dari kampung, Non! saya adik sepupu pak Tono!" jelas buat Inah yang kemudian menghampiri Anjani tapi bi Inah tetap berdiri.
"Duduk, bi!" perintah Anjani.
"Terimakasih, Non!" jawab bi Inah sambil menarik kursi ruang makan yang tak jauh dari sisinya.
"Mas Andre yang menyuruh bi Inah kesini, ya?" tanya Anjani yang penasaran.
"Den Andre menghubungi pak Tono, Non! Den Andre bilang perlu bantuan untuk mengurus rumah ini," jawab bi Inah dengan jelas.
Anjani menganggukan kepalanya tanda ia sudah paham.
"Non, saya siapin sarapan ya!" ujar bi Inah dan bergegas bangun dari duduknya.
Bi Inah menyiapkan piring untuk sarapan Anjani.
"Biar saya aja, Bi!" kata Anjani yang mencegah bi Inah yang ingin menuangkan nasi kepiringnya.
Bi Inah hanya tersenyum.
"Kita makan bareng ya, Bi!" pinta Anjani.
"Nggak usah, Non!" tolak bi Inah dengan sopan.
"Nggak apa-apa bi, temani saya sarapan!" ajak Anjani.
__ADS_1
Akhirnya bi Inah menuruti istri majikannya itu. Mereka pun sarapan bersama.