Perbedaan

Perbedaan
Episode 26 # Pengakuan


__ADS_3

Hari telah malam, tepatnya pukul delapan malam. Andre telah tiba di rumah. Sementara Anjani tidak di temui di dalam kamar atas. Barang-barang milik Anjani pun tak ada di nakas.


Bi Inah yang mengerti dengan keadaan Andre yang tengah mencari keberadaan istrinya pun angkat bicara.


"Non Anjani, ada di kamar tamu, Den." ucap Bi Inah sambil memberi simbol jari jempolnya ke arah kamar tamu.


Andre hanya mendengerkan Bi Inah, tak ada kalimat yang terucap untuk balasan Bi Inah.


Andre menghampiri pintu kamar tamu yang terletak di lantai bawah, namun ada keraguan saat memegang gagang pintu. Suara hening nampak dari dalam kamar.


"Apa Anjani sudah tidur?" gumam Andre yang mematung di depan pintu kamar itu.


"Lebih baik besok saja aku temui dia," lanjut gumamnya.


Saat menaiki anak tangga, Bi Inah menghampirinya.


"Den, mau makan malam dulu nggak?"


"Aku sudah makan, Bi. Oiya, istriku sudah makan belum?" tanya balik Andre.


"Belum, Den. Sehabis dari supermarket, Non masuk ke dalam kamar dan mengunci diri," jelas Bi Inah.


Deg, penjelasan Bi Inah membuat jantung Andre berdetak kencang, terdiam, entah apa yang harus ia lakukan. Kemudian anggukan kepala ia berikan pada Bi Inah di lanjut dengan langkah menaiki anak tangga.


Di dalam kamar tamu, Anjani nampak sedang pulang tertidur. Dengan kedua telinganya terpasang earphone dengan lagu kesayangannya Don't Cry milik Guns N'Roses, mampu menghilangkan beban pikiran yang Anjani alami.


Sementara Andre nampak gelisah, ia membalikkan badannya ke kiri ke kanan berusaha untuk memejamkan matanya. Namun nihil hasilnya. Lalu ia mengambil ponselnya yang ia letakkan di nakas. Ia melihat kapan terakhir istrinya aktif di pesan.


Pukul lima sore, itu jawaban sementara untuk rasa penasaran Andre.


Rasa bersalah mulai menggelayuti pikiran Andre. Ia menghela napas panjang dan bangun dari tempat tidurnya.


Andre duduk di sofa yang ada dalam kamarnya itu dan mengambil laptop dari dalam tasnya.


Tepat pukul jam duabelas malam, rasa kantuk sudah mulai dari raut wajah Andre. Pikiran tentang istrinya mulai terlupakan oleh laporan-laporan perusahaan dari beberapa pegawainya.


Andre memutuskan untuk beristirahat dan siap menghadapi hari esok.


Hari telah pagi, tepatnya pukul delapan. Terdengar bunyi ketukan dari luar pintu.


"Den, sarapan sudah siap," ujar Bi Inah.


"Terima kasih, Bi," jawab Andre.

__ADS_1


Andre melihat jam beker yang biasa setia membangunkannya.


"Sudah siang, kenapa tidak bunyi?" gerutu Andre.


Namun saat di perhatikan nama hari di jam itu--Sabtu--ya hari Sabtu, Andre menepuk dahinya.


Ia tak menyangka sampai lupa dengan hari ini. Ia bergegas bangun dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia punya kejutan untuk istrinya, yang ia anggap sedang ngambek.


Anjani telah tiba duluan di meja makan mempersiapkan sarapan. Dan Andre pun telah datang.


Bi Inah yang melihat keadaan seperti itu pergi meninggalkan mereka berdua.


Anjani telah duduk di meja makan tanpa kalimat yang terlontar dan dengan raut wajah datar.


Andre hanya mematung melihat istrinya itu. Ia memperhatikan pakaikan yang di kenakan istrinya. Baju tank top dan hot pants, yang membuat saliva Andre bergerak.


Nampak jelas, kulit putih membalut lekuk tubuh Anjani terlihat.


Andre membuyarkan lamunannya dan menarik kursi untuk ia duduki. Sesekali ia menoleh ke Anjani, namun tak ada balasan pandangan sedikit pun dari istrinya itu.


"Pernikahan macam apa ini," batin Andre mulai meronta.


Anjani dan Andre telah selesai dengan sarapannya. Anjani bangkit dan membuat kopi susu untuk dirinya. Lalu ia berjalan menuju kamar tamu. Andre yang melihat istrinya meninggalkan meja makan bergegas mengekori Anjani sampai kamar.


"Ngapain ngikutin gue sampe sini?" ujar Anjani dengan pedes, sepedas cabe setan yang sedang naik daun harganya.


"Ini kan rumahku," jawab Andre dengan entengnya sambil mengunci kamar.


"Iya tau, kalau gue numpang," sahut Anjani yang lalu menaruh kopi susunya di atas meja tak jauh dari tempat tidur.


Karena kesal dengan jawaban Andre, Anjani berniat keluar kamar namun tangan Anjani di tarik Andre. Dan Andre memaksa Anjani mengikutinya duduk di atas tempat tidur karena tak jauh dari pintu.


"Mau apa sih, Lo?!" tanya lantang Anjani.


"Kenapa sih, kamu ngomong pake teriak-teriak. Nggak bisa pelan dikit? Pengen bi Inah denger? Ga malu apa?" rentetan tanya Andre membuat Anjani terdiam. Anjani mencoba membenarkan ikatan rambutnya yang membelakangi Andre.


Terlihat jelas ada sebuah tato pundak Anjani. Tato bergambarkan wajah pria berambut gondong dengan ikat kepala.


Andre yang penasaran, mencoba mendekati dan menyentuh pundak Anjani.


Sontak Anjani kaget dengan sentuhan itu.


"Mau ngapain sih, Lo?" tanya Anjani memincingkan matanya ke arah Andre.

__ADS_1


"Sejak kapan, kamu punya tato?" tanya Andre.


"Bukan urusan Lo," jawaban yang keluar dari mulut Anjani membuat Andre harus lebih sabar menghadapinya.


Anjani yang masih membelakangi Andre hanya terdiam. Andre perlahan-lahan memeluk tubuh Anjani dari belakang. Anjani mematung dengan perlakuan Andre itu.


Jantung Anjani berdetak kencang, entah kalimat apa yang sekarang ia harus keluarkan.


"Jangan marah-marah lagi," ucap Andre yang meniduri kepalanya di pundak belakang Anjani dan mencium gambar tatonya.


"Ada apa dengan Lo? Kenapa mendadak manja?" tanya Anjani masih dengan nada ketusnya.


"Emang nggak boleh manja dengan istri sendiri?" jawab Andre yang masih memeluk Anjani dari belakang.


"Yang kemarin di supermarket itu, apa?" tanya Anjani langsung ke inti permasalahan.


"Dia--Theresia--teman sekelas waktu SMA," jawab Andre.


"Kenapa sampe harus pake jas Lo?" tanya lanjut Anjani.


"Kemarin dia itu dapat tamu bulanan. Kami ke supermarket mau beli roti bulanan," sahut Andre.


"Wow, romantis banget. Sampe yang begituan kamu temenin," sambung Anjani yang mulai kesal dengan jawaban Andre.


"Mau tau alesannya nggak?" tanya Andre.


Anjani terdiam, ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah lemari.


"There kemarin baru datang dari Inggris. Kemungkinan akan mulai menatap lagi di Indonesia. Dari bandara, There langsung menengok dan meminta untuk di temani keluar kantor. Katanya suntuk, ya mungkin dia capek dari perjalanannya. Inggris-Indonesia," jelas Andre masih memeluki Anjani dari belakang.


"Kenapa harus ke kantor, Lo?" tanya kembali Anjani penasaran.


"Kamu penasaran ya?" jawab Andre sedikit menggoda Anjani.


"Apaan sih. Lepasin nggak?" pinta Anjani agar Andre melepaskan pelukannya.


"Nggak mau," jawab Andre manja mempererat pelukannya.


"Ih Lo ya, bikin gue bener-bener kesel," sahut Anjani.


"Tapi janji dulu, jangan ngusir aku dari kamar ini?" pinta Andre dengan manja.


"Iya, gue janji," jawab Anjani datar.

__ADS_1


Andre melepaskan pelukannya tapi sebelum melepas pelukannya itu, Andre mencium kepala Anjani. Hingga membuat bulu kuduk Anjani berdiri.


__ADS_2