
Arya berjalan keluar dari rumah menghampiri Erta, yang sedang duduk santai di kursi taman perkarangan rumahnya.
"Er ... nanti malam kamu keluar gak?"
"Gak Ar, aku di rumah saja, Kenapa?"
"Aku bosen, tiap malam di rumah terus. Nanti malam keluar yuk? mau kemana terserah deh, yang penting gak boring di rumah terus."
"Boleh juga, bagaimana kalau kita ke pasar malam saja. Gak terlalu jauh kok tempatnya dari sini."
"Oke ..." jawab Arya. "Nanti malam ya." sambungnya sambil berjalan mundur menuju ke dalam rumah.
***
Sore ini Feby tak seperti biasanya. Rencananya ingin pergi bersama Bobo, membuat degupan jantungnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Pandangan matanya tidak tenang setiap melayani pelanggan yang datang. Sesekali ia membuang tatapannya ke sisi jalanan yang biasa Bobo lintasi jika pulang bekerja.
Setelah beberapa menit ia menunggu kepulangan Bobo dari kerjanya. Akhirnya ia melihat langkahan Bobo berjalan.
"Bo ...!"
Bobo menolehkan pandangannya pada Feby dan menghampirinya.
"Ada apa Feb?"
"Jadi kan, nanti malam kita pergi?"
"Ya ... jadi kok." ucap Bobo sambil tersenyum tipis. "Sekarang aku pulang dulu ya?"
"Baiklah, aku tunggu nanti malam, ya?"
"Oke." ucap Bobo segera berjalan kembali pulang.
Malam.
Tok ... Tok ...
Arya mengetuk pintu kamar Erta.
"Er ... Sudah siap belum? kalau sudah ayo kita berangkat."
"Sebentar Ar ...!" jawab Erta dari dalam kamar yang sedang merapikan penampilannya."
"Yasudah, aku tunggu di mobil ya." ucap Arya meninggalkan kamar Erta berjalan keluar rumah.
Baru beberapa langkah Arya berjalan, Erta keluar dari kamarnya menyusul Arya. Mereka berjalan menuju mobilnya yang pakrir di samping rumah.
Arya menunggangi mobil dan menyalakan mobilnya setelah Erta masuk kedalam. Arya melajukan mobilnya dengan berjalan sedang. Suara musik dalam mobil yang menyala mengiringi perjalanan mereka.
"Oh iya, ngomong-ngomong cowok kamu mana? kenapa malam ini kalian gak bertemu?"
"Aduh ... Ar, lebih baik kita gak usah bahas dia ya. Aku baru saja bangkit dari kesedihanku. Jadi aku gak mau ingat-ingat lagi." jawab Erta dengan memegang dahinya, siku tangan kirinya di sandarkan pada jendela mobil.
"Ohh ... Kenapa? apa Kalian sudah putus?"
"Iya, sudah beberapa Minggu aku putus.Tapi aku sudah baik. Jadi aku gak mau mengingatnya lagi."
"Oh, maaf ya, aku tidak tahu."
"Tidak apa apa. Kamu sendiri apa gak kangen sama cewek kamu. Besok libur kenapa gak pulang?"
"Baru juga berapa hari, lagian aku malas kalau harus bolak balik. Libur juga cuma sehari." jawab Arya sekilas menatap kearah Erta.
***
Saat sampai di warung, Emon tersenyum lebar melihat Feby terlihat lebih cantik dari biasanya. "Malam Feby, wah ... wah ... Cantik banget kamu malam ini." ucapnya
"Ehh ... Sudah datang." Feby sembari menyiratkan senyuman. "Duduk dulu, aku akan menyiapkan makanan. Seperti biasa, kan?" sambung Feby.
"Lah ... Kok makan, kita kan mau pergi malam ini." ucap Emon
"Ohh ... Mau segera pergi? aku pikir mau makan dulu. Yasudah kalau begitu."
"Gak Feb, makan saja dulu." sambung Bobo yang sudah duduk di kursi salah satu meja.
pikiranan Bobo dan Emon memang sangat jarang bisa satu pendapat. Di tambah lagi tingkah Bobo yang terkadang suka menggodanya. Hal itu sesekali membuat Emon terkadang merasa kesal.
__ADS_1
"Duh ... ini yang benar mana sih?" tanya Feby sedikit bingung.
"Kalau makan dulu nanti kelaman. Gimana sih lo, Bo!" ucap Emon pada Bobo.
"Aku sudah lapar, makan saja dulu."
"Hah ..." menghela nafas berat. "Yasudah lah." ucap Emon kesal. berlalu duduk di kursi satu meja dengan Bobo
"Sebentar ya, aku siapkan makanannya."
Feby sudah tahu betul makanan apa yang mereka pesan. Setelah beberapa menit, Feby kembali dan meletakan makanannya di atas meja mereka.
"Kalian makan saja dulu. Aku tinggal sebentar, ya?"
"Iya Feb." jawab Bobo dan Emon.
Karena ketidak sabaran Emon ingin buru-buru pergi, ia tak selera menyantap makanannya. Dia mengerucutkan bibirnya.
"Gak nafsu gue." ucap Emon sambil memandangi makanannya.
"Lo suka sama orangnya tapi lo gak suka dengan makanannya." ucap Bobo menyindir.
"Kalau gue gak suka, tiap hari gue gak makan di sini." ucap Emon kesal menatap Bobo dan mengarahkan jari telunjuknya pada lantai.
"Kalau lo mau cepet. Lo makan terus. Jangan di pandangi saja. Kapan habis nya kalau cuma di pandangi. ucap Bobo sambil menyantap makanannya.
"Happ ... " Emon menyantap makanannya dengan kesal.
***
Suara decitan dari ban mobil terdengar, saat Arya menginjak pedal rem menghentikan mobilnya di area parkiran pasar malam. Berlalu mereka turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju area pasar malam.
Mereka berjalan-jalan memutari area pasar malam, sambil menikmati pemandangan di sekitarnya. Kemudian mereka melihat sebuah cafe kecil yang ada di area itu. Mereka menghampiri untuk duduk bersantai dengan memesan beberapa makanan sambil berbincang ringan.
"Oya, tadi kamu bilang kalau kamu sudah putus sama cowok kamu.
Lalu apa kamu sudah menemukan yang baru? kalau kamu mau, aku punya teman, mungkin kamu bisa berkenalan dengannya. Aku rasa kamu cocok kok, sama dia."
"Aduh Ar ... Kamu gak usah repot-repot. Bukannya aku gak mau ya. Tapi aku memang lagi pingin sendiri. Perasaan aku yang dulu masih membuat aku lelah. Untuk saat ini aku mau fokus saja dulu sama pekerjaanku."
"Terimakasih Ar ... Tapi nanti saja deh. Untuk saat ini aku memang lagi ingin
sendiri." tolak halus Erta.
Tak lama Erta berada di pasar malam, Bobo pun sampai di pasar malam itu. Menit demi menit sudah berlalu. Tak Terasa sudah lumayan lama Bobo berjalan bersama Feby dan Emon di sekitaran area pasar malam itu. Bobo sempat melintas melewati Erta yang sedang duduk membelakangi jalan. Karena itu Bobo tidak melihat adanya Erta.
Ada getaran dari perasaan Erta yang membuat ia tanpa sadar menoleh kebelakang. Dia tak melihat Bobo, karena orang-orang yang berjalan di belakangnya terlalu ramai. Hanya beberapa saat saja, Erta membalikkan pandangannya ke depan.
Setelah beberapa langkah Bobo berjalan melewati Erta, giliran Bobo yang perasaannya di getarkan, membuat ia tanpa sadar menoleh ke belakang. Namun ia tak melihat Erta karena pandangannya tertutup dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Rame ya disini." tanya Emon kepada Feby.
"Ya ... Namanya juga tempat hiburan. jawab Feby
"Itu sepertinya seru." ucap Emon sambil menunjuk pada salah satu permainan.
"Kamu mau gak naik itu?" sambung Emon.
"Nanti saja deh, aku masih ingin jalan-jalan dulu." Tolak Feby lembut.
"Kamu sering kemari."tanya Bobo kepada Feby.
"Jarang, karena aku harus membantu ibuku mengurus warung."
"Oya Bo, aku mau bertanya, boleh? ucap Feby sedikit malu.
"Kamu mau bertanya apa? katakan saja." ucap Bobo sambil menatap wajah Feby.
"Eem ... Aku mau ..." tatapan mata Bobo yang berbinar membuat Feby tersipu malu, dan membatalkan pertanyaannya.
"Nanti saja deh."
Feby mengalihkan perkataannya.
"Eh ... lihat itu. Sepertinya seru, ya? kita main itu, yuk?" sambung Feby menunjukkan jarinya kearah salah satu permainan.
__ADS_1
"Yasudah, ayo." jawab Bobo.
Sepanjang menikmati area pasar malam, Feby lebih nyaman berbicara sama Bobo. Emon merasakan kalau Feby sepertinya menyukai Bobo. dia sedikit kecewa, tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Karena itu masih dugaan perasaannya saja.
Setelah membeli tiket, tak lama menunggu mereka pun naik ke permainan itu.
***
"Ar, pulang yuk, kita sudah sangat lama di sini. Aku sudah lelah." ucap Erta sambil meletakan gelas yang di genggamnya.
"Kamu gak mau main dulu sebentar. Dari tadi kita cuma jalan-jalan dan duduk di sini saja."
"Gak lah, kita pulang saja. Aku sudah mengantuk. Aku ingin istirahat.
"Oke lah kalau begitu. Sebentar ya aku bayar dulu."
Setelah Arya membayar makanan yang di pasannya, mereka beralan meninggalkan cafe itu menuju parkiran untuk pulang.
Erta berjalan menuju parkiran melawati permainan yang sedang di mainkan Bobo saat ini. Tak lama dia melewatinya, Bobo pun turun dari permainan itu.
Tanpa terasa mereka sudah cukup lama berada di pasar malam.
"Pulang yuk?" ucap Emon, wajahnya terlihat bosan.
Karena yang terjadi saat ini Sama sekali tidak serupa dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya. Dia berharap malam ini bisa lebih dekat dengan Feby. Tapi Feby malah lebih dekat dengan Bobo.
"Sebenar lagi, ya? aku masih senang di sini." ucap Feby riang.
"Sudah terlalu malam Feb, lebih baik kita pulang sekarang. lain waktu kita pergi lagi."
"Yasudah deh." sahut
Bobo dan Erta keluar dari area pasar malam itu dengan arah yang sama. Hanya beberapa jarak saja Bobo berada
di belakang Erta.
Saat Erta sudah sampai di mobilnya dan mau membuka pintu, Bobo kembali melintas melewati Erta. Saat melintas sekilas Bobo sempat menolehkan pandangannya, melihat Erta yang sedang mau masuk mobil. Tapi ia tidak tahu bahwa itu wanita yang pernah ia temui di taman. Karena saat Bobo melihatnya bagian wajah Erta mengarah ke dalam mobil.
Segera Arya melajukan mobilnya saat Erta sudah standby dalam mobil. Lagi-lagi Bobo dan Erta berselisihan, saat keluar dari pagar area pasar malam. Mereka bersamaan sampai di pintu pagar. Bobo berjalan melangkah ke arah kiri. Sedangkan mobil Erta berbelok ke arah kanan. Tapi Erta sempat melihat Bobo, Namun karena sudah sama-sama berbelok, Erta tak begitu jelas melihat wajahnya.
Pandangan sekilas itu membuat Erta merasa bingung di dalam mobil.
'Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ...?' lirihnya dalam hati sambil melamun.
"Er, Erta ...!"
Erta tersentak dari lamunannya. "Ya." menatap pada Arya
"Kamu kenapa, aku panggil kamu gak dengar. Apa kamu sedang mengingat masa lalu kamu. Maaf kalau perkataan ku tadi membuatmu teringat lagi."
"Tidak! Itu tadi, aku seperti mengenalnya. Tapi siapa ya?" ucap Erta masih bingung. Erta sama sekali tidak terpikirkan bahwa itu Bobo. Karena menurutnya, mana mungkin Bobo ada disini.
"Mungkin teman kerja kamu."
"Bukan, aku hanya pernah melihatnya saja. Tapi sepertinya, aku tidak begitu mengenalnya."
"Oh ... Yasudah, buat apa di pikirkan kalau begitu." sahut Arya dengan ringan.
"Oya ... Besok kan libur, bagaimana kalau kita olahraga pagi?" sambung Arya.
"duh ... Males ahh! kamu sendiri saja." tolak Erta lembut.
"Ayo lah Er! Kalau sendirian aku gak semangat, gak ada teman ngobrolnya."
"Kamu mau olahraga atau mau mengobrol. Lagian di taman
tempat olahraga itu ramai orang. Kalau kamu mau ngobrol, kamu bisa mengobrol kan, sama mereka."
"Masa aku ngobrol sama orang gak kenal, aneh kamu."
"huhh ... Erta menghela nafasnya berat. ia menatap Arya dengan mengernyitkan dahinya. "Kamu tuh ribet ya!"
"Biasa kalau di sana aku olah raga pagi dengan pacarku. Di sini dia kan, tidak ada. Makanya, kalau sendiri aku merasa jenuh."
Iya deh iya ... Besok aku temani." jawab Erta sedikit kesal.
__ADS_1
"Nah gitu dong ..." ucap Arya riang.