
"Hem ..." Erta menghela nafasnya berat. "Aku tidak tahu, Cin. Aku bahagia bisa mengenalnya. Mungkin aku menyukainya. Tapi sepertinya, aku tidak akan pernah bisa bersamanya.
"Kalau kamu tidak pernah mencobanya, bagaimana kamu bisa tahu."
Erta melangkah Duduk di bibir ranjang, lagi-lagi ia menghela nafasnya. "Aku tidak akan mencobanya. Karena aku tahu, kalau cinta itu hanya akan menjadi malapetaka, yang bisa membuat Bobo dan aku menderita." ucapnya sendu.
"Kamu jangan berpikir yang macam-macam dulu. Jika kamu berpikir seperti itu terus. Kamu tidak akan bisa hidup bahagia bersama orang yang kamu cintai."
Erta hanya menjawab perkataan Cinte dengan senyuman sendunya saja.
'Kamu tidak tahu Cin. Aku dan Bobo itu berbeda.' gumamnya dalam hati.
***
Woi ...! Emon mengagetkan Bobo, sedang berbaring di kursi panjang ruang tamu. Lo udah gila ya Bo. Dari tadi gue perhatiin, lo senyum-senyum sendiri terus."
"Jangan menggangguku dulu. Aku sedang menghayal."
Emon tertawa getir sambil menyunggingkan bibirnya sebelah melihat kegilaan Bobo Karena cinta.
"Cinta itu dinyatakan, bukan di hanyalin. kalau lo terus menghayal, kapan lo bisa memilikinya. Sudahlah, lebih baik lo bangun dari mimpi lo, dan hubungi dia sekarang. Lo bilang, kalau lo menyukainya. Pasti kelar tuh, semua hayalan lo."
"Masih terlalu cepat jika gue menyatakannya sekarang Mon. Gue takut kalau dia tidak menyukaiku."
"Terserah lo deh. Yang penting jangan Sampek, lo gila karena cinta, ya. Nanti gue yang bingung kalau ibumu bertanya. ucap Emon tertawa lebar, puas menyindir Bobo sambil berjalan keluar rumah.
"Sembarangan lo kalau ngomong." ucap Bobo ketus.
Sesaat Bobo berpikir. "Bagaimana ya? agar aku bisa mengetahui isi hatinya. Apa aku coba terus menggodanya saja." Bobo bangkit dari kursi panjang itu meraih gawainya berlalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia melihat sederet angka yang tertera mencari angka milik Erta dan mengirim pesan.
sebuah notifikasi pesan masuk pada gawai Erta. Ia melihat dan membukanya.
(Malam. Apa kamu sudah tidur?) tanya Bobo lewat pesan.
Meski perasaan Erta masih mengambang karena cintanya pada Bobo. Namun kehadiran Bobo selalu membuat dia lupa hal itu. sekejap ia merasa senang.
(Belum. Kamu sendiri, kenapa belum tidur?)
(Aku tidak bisa tidur.)
__ADS_1
(Kenapa?)
(Karena kamu.)
(Kok karena aku? apa hubungannya?)
(Karena kamu, masih saja mengganggu pikiranku.)
(Ya Allah Bobo ... Jangan modus dong.)
(Aku gak modus, itu karena senyuman kamu yang indah, teringat terus di pikiran aku. Karena itu, aku gak bisa berhenti mikirin kamu.)
(Aku jadi mengantuk mendengar modus kamu.)
(Yasudah, jika kamu ingin tidur. Aku akan kirimkan cintaku untuk menyelimuti kamu di sana, agar kamu tidak kedinginan.)
(Terimakasih, tapi gak perlu. Karena aku akan mengunakan selimut yang tebal. Jadi aku gak akan kedingan, oke. hehehe.)
(Setebal apapun selimut yang kamu gunakan, tetap saja hangatnya tak sehangat cintaku. Aku akan menyelimuti kamu dengan cintaku, agar tidurmu bisa merasakan, hangatnya berada dalam pelukanku.)
(Ya Allah ... Iya Bobo ... Iya. Aku akan tidur dengan selimut cinta kamu. Biar kamu gak modus terus, dan kamu bisa tidur juga. Selamat tidur, ya. Besok kita sambung lagi.)
Oke, selamat tidur.)
Erta, Ia membuang nafasnya kasar. Menahan rasa sesak di dadanya karena kata-kata Bobo yang tajam menggodanya. Sepertinya Bobo benar-benar menyukai ku. Bagaimana ini? jika aku begini terus, perasaan ku akan selamanya mengambang, dan aku gak akan bisa memiliki orang yang aku sukai. Aku harus bisa mengambil keputusan. Lebih baik aku berhenti memikirkan perbedaan ini. Sepertinya apa yang di katakan Cinte benar. Aku harus mencobanya.
***
Pagi.
"Terimakasih ya, Cin. Aku pergi dulu." ucap Erta bersiap-siap pergi bekerja.
"Iya, kamu hati-hati ya. Dah ..." sahut Cinte melambaikan tangannya.
Erta menunggangi mobil hitamnya dan melajukannya menembus area jalanan yang padat menuju kantor.
Sebelum berangkat kerja, Bobo menyempatkan waktu untuk mengirim pesan emoji mawar dan beberapa kalimat ucapan selamat pagi pada Erta.
Ting.
__ADS_1
suara notifikasi pesan berbunyi dari gawai Erta. Ia segera mengambil gawainya dari dalam tas dan membuka.
(Ku kirimkan mawar ini untuk menyambut pagimu. Semoga kamu suka. Selamat beraktifitas dan jangan lupa untuk tersenyum hari ini, oke.)
Erta tersenyum manis membacanya. Ia merasa tersanjung karena Bobo begitu perhatian padanya.
(Terimakasih ya, Bo. Aku suka. Tapi aku lebih suka lagi, kalau mawar itu asli. Tidak hanya dalam pesan saja. Hehe) balas Erta bercanda.
(Nanti, suatu saat aku akan memberikannya yang asli.) Tanggapan Bobo sangat serius.
(Tidak perlu ... Aku hanya bercanda. kenapa kamu serius begitu.)
(Aku pikir kamu serius. Aku hanya ingin melakukan apa yang kamu mau. Agar aku bisa membuatmu selalu tersenyum.)
(Kamu tenang saja. Saat ini aku sedang tersenyum karena mu. Terimakasih ya.)
(Benarkah, aku sangat senang mendengarnya.)
(Sudah dulu ya, Bo. Aku sedang menyetir ini. Nanti jika sudah sampai, aku akan menghubungi kamu lagi, oke.)
(Baiklah, hati-hati ya.)
(Iya. Bye-bye.)
Dalam waktu bersamaan, Bobo dan Erta membuang nafasnya kasar. Dadanya terasa sangat lega. Seakan, pagi yang cerah terbentang langit biru, merangkul hati mereka dengan kebahagiaan.
Sesaat Bobo meresapi perasaannya. 'Masih dekat saja, aku sudah sangat bahagia seperti ini. Apa lagi jika aku bisa memilikinya. Mungkin aku tidak akan bisa menjelaskan pada dunia. Seperti apa kebahagiaan yang aku rasakan.' gumam Bobo dalam hati, duduk di bibir teras rumah. Bibirnya tersenyum manis, tatapannya dalam memandang langit biru di hiasi awan-awan cantik.
Emon keluar dari rumah dan menutup pintunya. "Ayo Bo." ajakan Emon berjalan melewati Bobo sambil menyenggol lembut bahu Bobo.
Bobo bangkit dari duduknya berlalu melangkahkan kakinya untuk pergi bekerja.
Erta membuka jendela kaca ruangan kerjanya. Kedua tangannya mencengkram bibir jendela. Sesaat Ia memejamkan matanya, kepalanya sedikit mendengak. "Hah ..." Ia menghirup berat udara pagi ini dan membuangnya kasar dengan senang. "Cerah sekali pagi ini. Oya, aku hampir lupa memberi tahunya, kalau aku sudah sampai. Cepat ia bergegas mengambil gawai dari tasnya, dan mencari angka milik Bobo dari sederet angka yang tertera.
Ting.
Baru sampai di lokasi kerja Bobo mengangkat gawainya yang berdering.
"Halo Bo. Aku sudah sampai, apa kamu sudah bekerja?"
__ADS_1
"Ini aku baru sampai di lokasi. Cepat juga kamu menyetir. Baru beberapa menit kamu sudah sampai."
"Tidak juga. Hanya saja, jaraknya memang sudah dekat. Oya, Nanti malam kamu ada waktu tidak? bagaimana kalau kita bertemu?"