
"Erta." sapa mantan pacarnya.
"Epai!" sahut Erta kaget.
"Apa kabar." ucap Epai sambil tersenyum.
Erta tak menghiraukan perkataan Epai. wajahnya kesal saat menatapnya. Dia segera beranjak pergi menarik Arya dengan cepat meninggalkan tempat jajanan itu. Epai berusaha mengejar dan menghentikan langkahnya.
Ia menarik tangan Erta. "Erta tunggu ..." tahan Epai.
"Tolang ya, jangan ganggu aku lagi! Sekarang aku sudah baik-baik saja. lain kali jika kamu melihatku, anggap saja kita tidak saling mengenal. jangan pernah muncul di depanku lagi." ucap Erta tegas.
Erta melanjutkan langkahnya kembali dengan cepat menuju parkiran mobil. Untuk segera meninggalkan taman.
"Erta!" teriakkan dari belakangnya saat Erta masuk ke dalam mobil.
Pandangan Erta hanya fokus ke kedepan sedikit menunduk saat di dalam mobil karena ia tak ingin sekilas pun melihat Epai.
"Cepat Ar jalannya, aku gak mau melihat dia lagi." ucap Erta terburu-buru.
"Iya sabar, tenang saja dia gak bakal mengejar." jawab Arya sambil menyetir.
'Apa benar itu Erta? kenapa dia tidak melihat saat ku panggil. Apa mungkin
hanya mirip. Tapi aku masih sangat ingat wajahnya. itu memang Erta.'
lirih Bobo dalam hati sambil menatap mobil Erta yang melaju cepat.
Sesaat Erta melihat kearah belakang dari kaca spion. Namun ia tak melihat Bobo karena jaraknya yang sudah jauh.
"Jika memang Erta, itu artinya dia tinggal di kota ini. Semoga saja aku bisa menemukannya lagi di lain waktu." ucap Bobo melanjutkan langkahnya untuk menikmati suasana di sekitar kota.
Benih-benih cinta pandangan pertama yang sudah lama bersembunyi di balik hati kecilnya, tanpa di sadari kini tumbuh kembali, dan mengganggu pikirannya.
Bobo menghentikan langkahnya dan membuang bokongnya di sebuah kursi pinggir jalan. Dia mengingat kembali saat-saat pertama kali bertemu dengan Erta. Bibirnya tersenyum lebar saat membayangkan senyuman manis yang pernah terukir indah dari bibir Erta. 'Aku pernah jatuh cinta, tapi perasaan yang kurasakan tidak seperti ini. Kenapa kali ini berbeda. biasanya aku selalu ragu dan berusaha menghindar. Tapi kali ini, aku sangat ingin memilikinya.' lirihnya dalam hati.
Bobo berdiri dari duduknya dan melanjutkan perjalanan. 'Aku akan mencari nya dan aku yakin, aku pasti bisa menemukannya. sambung lirihnya dalam hati.
***
Pertemuan Erta kepada Epai membuat ia merasa sangat kesal hari ini.
"Kenapa sih ... harus ketemu dia lagi. Bikin kesal saja. Seharusnya tadi aku tidak pergi kesana."
ucapnya duduk di bibir ranjang sambil menepuk-nepuk permukaan ranjangnya.
"Hahh ..." ia menghela nafasnya. "Lebih baik aku telpon Cinte saja. Mudah-mudahan pikiranku bisa sedikit tentang."
Ia segera mengambil ponselnya di atas meja nakas.
"Hallo ... jawab Cinte setelah panggilan masuk dari ponsel Erta.
"Hallo Cinte, kamu lagi ngapain? tanya Erta lemas.
"Aku lagi membereskan kamar ku, Kenapa? kamu mau datang ke tempat ku?"
"Gak cinte, aku cuma lagi kesal saja hari ini. Aku ingin mengobrol-ngobrol sebenar. denganmu."
"kesal kenapa?" Tanya Cinte, berhenti membereskan kamarnya.
"Tadi pagi aku bertemu sama Epai, aku jadi sedih lagi. Kenapa coba
harus bertemu." jawab Erta melas.
"kalian bertemu di mana? apa Epai datang ke rumah kamu?"
"Tidak, tadi aku olahraga di taman. Gak sengaja kami bertemu. Aku jadi kesal banget sekarang."
__ADS_1
"Sudah gak usah di pikirkan. Kamu kan sudah baik-baik saja, jangan sedih lagi dong. Lebih baik kamu datang dan menginap saja di rumahku malam ini. Nanti kita jalan-jalan dan aku akan menghiburmu. Biar pikiranmu bisa tenang. ucap Cinte memberi semangat.
"Yasudah deh, nanti aku kesana ya." ucap Erta menghentikan pembicaraan.
***
Ting.
Suara pesan dari ponsel Bobo.
(LO dimana Bo.) tanya Emon lewat pesan.
(Aku lagi jalan-jalan sebentar.) balas Bobo.
(Kenapa lo gak ngajak-ngajak gue.)
(Bentar lagi gue balik kok.) balas Bobo mengakhiri chat.
Emon tertawa getir setelah membaca pesan dari Bobo. "gue tau, lo pergi pasti untuk menghindar dari Feby. Bobo ... Bobo ..." ucapnya.
Malam.
"Bobo mana? apa dia belum kembali? tanya Feby pada Emon.
"Sudah lah, biarkan saja dia. Dia memang seperti itu. Kalau sudah Lelah dia pasti akan pulang." jawab Emon menemani Feby di warungnya.
"Kira-kira dia pergi kemana, ya? aku takut dia tersesat." ucap Feby cemas menumpuhkan dagunya di atas kedua telapak tangan.
Emon tertawa mendengar ucapan Feby yang sedang mencemaskan keadaan Bobo.
Feby mengernyitkan dahinya saat Emon menertawakannya. "Kenapa kamu tertawa?"
"Bobo itu sudah dewasa, mana mungkin dia tersesat. Kamu itu terlalu berlebihan."
"Apa kamu benar-benar sangat menyukainya? sampai segitunya kamu mencemaskan." sambung Emon.
"Yasudah, kamu gak usah cemas. Aku akan bantu kamu untuk cari tahu. Apakah Bobo menyukaimu atau tidak."
"Benarkah?" Feby meraih salah satu pergelangan tangan Emon. "Terimakasih ya bang Emon." ucapnya riang.
"Oya ...! Tapi Bobo jangan sampai tau kalau aku menyukainya. Aku malu." sambung Feby.
"Kamu tenang saja. Aku akan interogasi dia seperti detektif. pertanyaan-pertanyaanku pasti akan menjebaknya dan membuat dia mengaku. ucap Emon, tersenyum kecil dan membayangkan seolah menjadi detektif paling hebat."
"bugh!" Feby dan Emon sangat kaget saat Bobo datang dari sisi samping mereka. Tiba-tiba memukul meja yang ada di depan mereka. Lalu Bobo tertawa lebar melihat ekspresi Feby dan Emon yang sangat terkejut karena ulahnya.
"Siapa yang akan mengaku?" ucap Bobo ikut bicara sambil menumpuhkan kedua telapak tangannya di meja.
"Ah ... Lo, ngagetin saja. Dari mana saja Lo baru pulang?" ucap Emon
seketika Feby langsung terdiam dan jantungnya berdegup kencang, melihat Bobo yang tiba-tiba datang.
"Gue habis menelusuri isi kota ini" ucap Bobo
"Gaya Lo ..."
Bobo membuang bokongnya pada salah satu kursi kosong yang ada di meja Emon.
"Feb, aku lapar, buatkan aku makanan seperti biasa, ya?" ucap Bobo pada Feby.
"Iya Bo, sebentar ya?" ucap Feby gugup.
"sebenarnya Lo kemana sih? dari pagi pergi sekarang baru pulang." ucap Emon.
"Nanti saja aku ceritakan kalau sudah di rumah."
Emon mendekatkan bibirnya pada telinga Bobo.
__ADS_1
"Gue tahu, Lo pasti sedang menghindar dari Feby kan?" ucap Emon berbisik.
"Sok tahu Lo ..."
tak lama Feby kembali menghampiri meja Bobo dan Emon, dan meletakkan makanan buat Bobo.
"Ini Bo, silahkan." ucapnya dan segera berjalan pergi.
"Terimakasih ya Feb."
"Feby!" teriakkan Emon. "Kenapa pergi." sambungnya.
Feby membalikkan badannya dan menolehkan pandangannya pada Emon . "Sebentar bang. Aku mau membereskan barang-barang yang kotor di dalam." sahutnya segera melanjutkan langkahnya.
Emon bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Feby.
"Kamu bagaimana sih. Seharian kamu menunggu Bobo. Sekarang dia sudah datang kamu malah menghindar."
"Aku tidak bisa menenangkan diriku kalau dekat dengannya. Aku takut dia curiga dan mengetahui tentang perasaanku." ucap Feby, rona kemerahan perlahan muncul di wajahnya.
"Kamu harus bisa mengendalikan dirimu. Agar terlihat biasa-biasa saja di matanya. Tapi kalau seperti ini, malah dia bisa curiga dan mengetahui perasaanmu. Pikirannya itu sangat tajam. Susah kalau menyembunyikan sesuatu darinya."
"Sekarang, coba kamu tarik nafas dalam-dalam. Lalu lepaskan perlahan. Lakukan berkali-kali sampai kamu bisa tenang. sambung Emon.
Feby menarik nafasnya dalam. dan perlahan melepaskan dari mulutnya. "Huhh ..."
"Nah ... Gitu. lakukan lagi." ucap Emon. "Yasudah, aku tinggal ya." sambungnya.
Emon kembali beranjak ke kursi nya. berbicara sekedar basa basi. "Sudah selesai Lo makannya? cepat sekali." Ucap Emon melihat Bobo sedang menyandarkan badannya di kursi.
"Lo gak pulang Mon? gue duluan ya, soalnya gue udah lelah banget."
"Tunggu Bo!" ucap Emon menahan. "Buru-buru banget sih lo. Sebentar lagi kenapa?" sambungnya.
"Bobo tak menghiraukan perkataan Emon. Segera dia mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan meletakkan di atas meja.
"Feb! ini uangnya, aku letakkan di mejanya." ucap Bobo segera melangkah beranjak pergi meninggalkan warung.
"Iya Bo ... Terimakasih ya." sahut Feby
Feby tak melepaskan pandangannya sesaat menatap Bobo perlahan menjauh dari warungnya. Karena sikap Bobo yang begitu acuh padanya. Wajahnya terlihat sedih, dan Bibirnya tersenyum sendu seakan ada rasa kecewa yang menggores dalam hatinya.
Tak lama Emon pun beranjak pulang menyusul Bobo.
***
"Ahh ..." Erta meletakkan beberapa barang belanjaannya di atas ranjang dan merebahkan tubuhnya.
"Seru banget ya hari ini jalan-jalannya." ucapnya Erta pada Cinte. "lainnya kali kita pergi lagi ya ketempat permainan itu. Aku suka sekali tempatnya." sambungnya.
"Iya, jika nanti kamu ingin pergi lagi, katakan saja. Aku pasti akan menemanimu." ucap Cinte sambil menjajal pakaian baru yang ia beli saat berjalan-jalan tadi.
"lihat, cocok tidak?" tanya Cinte setelah mengenakan pakaian barunya.
"Cocok, kamu terlihat seperti princess memakai pakaian itu."
Cinte tertawa lebar mendengarnya. "Kamu bisa saja. Kamu tidak menjajal pakaianmu?"
"Tidak, aku rasa pakaian itu sudah Cocok buatku. Aku lelah Cinte. Aku istirahat duluan, ya." ucap Erta sambil memejamkan matanya.
***
"Tadi katanya kamu ingin cerita, memangnya kamu ingin cerita apa?" tanya Emon pada Bobo.
"Aku bertemu dia lagi. Aku rasa dia wanita yang beda. Entah kenapa, setiap melihatnya aku punya keyakinan untuk mendekatinya." ucap Bobo sambil berbaring di ranjang menumpuhkan kepalanya di kedua telapak tangannya.
"Dia siapa?" tanya Emon bingung mendengar cerita Bobo.
__ADS_1