
Andre melepaskan pelukan istri kecilnya. Masih dengan wajah datarnya, Anjani menjaga jarak duduk. Andre memandangi istrinya dengan tajam. Karena salah tingkah dengan pandangan itu, Anjani beranjak dari kasur dan mengambil kopi susu yang ia letakkan di meja dan membawanya, duduk di atas sofa.
Anjani melirik suaminya yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kamu betah banget di kamar ini," ucap Andre sembari memejamkan matanya.
Anjani tak membalas ucapan Andre.
"Kita menikah sudah berapa lama ya?" tanya Andre.
"Nggak tau," sahut Anjani kembali menyeruput kopi susu hangatnya.
Mendengarkan jawaban ketus dari mulut sang istri, Andre pun turun dari tempat tidur, menghampiri dan duduk di sofa bersebelahan dengan Anjani.
Karena jarak duduk Andre terlalu dekat dengan dirinya, Anjani berusaha menghindar. Namun, Andre tidak tinggal diam. Andre memutar posisinya miring dan mengunci kaki Anjani dengan kakinya.
"Apa-apaan sih, berat tau kaki Lo ini," terang Anjani yang berusaha mendorong kaki Andre, namun Andre semakin erat mengunci kakinya.
"Jangan galak-galak," ujar Andre yang senang melihat Anjani merajuk itu.
Anjani yang tak bisa berkutik akhirnya menyerah. Ia menyandarkan tubuhnya pada badan sofa.
"Sebenarnya kamu mau apa, Mas?" tanya Anjani dengan bahasa sopan.
Andre tersenyum tipis mendengar kalimat yang terlontar dari mulut istri kecilnya itu.
Andre memangku kepalanya dengan lengan kanannya yang bersenderkan badan sofa. Andre memandangi terus wajah istrinya.
__ADS_1
"Kenapa liatin aku terus sih, Mas?" tanya Anjani yang merasa risih dengan pandangan Andre.
"Nggak boleh apa ya, mandangin istrinya yang lagi ngambek?" goda Andre.
Anjani terdiam, hanya lirikan tajam ke arah Andre yang ia lakukan.
"There, memang wanita yang ku sukai sedari SMA. Setelah lulus SMA, aku berniat bertunangan dengannya, tapi There nggak mau dengan alasan ingin berkarir dulu," jelas Andre.
Mendengar penjelasan itu, wajah Anjani memerah kesal. Jelas sekali di mata Andre kalau istrinya sedang kesal.
"Tapi, sekarang aku tidak punya rasa apa-apa lagi, kok. Aku kan sudah menikah dengan pilihan Ayah," lanjut Andre.
"Terpaksa, kan?" tanya Anjani ketus.
"Apanya?" tanya balik Andre.
"Kamu menikahi ku karena terpaksa," jelas Anjani.
Sahutan Andre semakin membuat wajah Anjani kesal.
Andre tersenyum lebar melihat ekspresi istri kecilnya. Andre menarik tubuh kecil istrinya lebih dekat dalam dekapannya.
Anjani tak berani berkutik hanya desiran darah dalam tubuh menjadi lebih panas.
Andre memeluk tubuh Anjani dari arah samping.
Andre mencium kepala Anjani dan berkata.
__ADS_1
"Maafkan aku nggak bisa sempurna jadi suami yang baik buat kamu. Aku mau kita memulai rumah tangga ini dengan memahami kekurangan satu sama lain," ucap Andre yang membenamkan kepalanya di rambut Anjani.
Ada kedamaian yang Anjani rasakan. Rasa nyaman dalam pelukan seorang pria yang sekarang sudah menjadi suaminya. Anjani memejamkan matanya, menikmati kedamaian itu.
Lima menit, keheningan tercipta di dalam kamar tamu itu.
Tiba-tiba Andre mengecvp pipi kiri Anjani, dan membuat Anjani membuka matanya.
"Jangan marah lagi. Aku sayang kamu," bisik Andre di telinga kiri Anjani. Bisikan itu membuat pipi Anjani bersemu merah muda.
Andre mengubah posisinya tidur di sofa, dan menarik tubuh Anjani dalam pelukannya.
Kepala Anjani tepat di dada Andre yang kemudian di jadikan sandaran. Andre membelai rambut panjang Anjani.
"Aku akan ajukan cuti untuk bulan madu kita," ucap Andre.
"Memang kita mau kemana, Mas?" tanya Anjani.
"Kamu maunya kemana?" tanya balik Andre.
"Aku ikut aja," sahut Anjani.
Lagi-lagi Andre mencium rambut Anjani.
"Oiya, pernikahan kita belum sempat di resepsikan lho," ujar Andre.
"Aku nggak ngerti yang begituan, Mas," sambung Anjani.
__ADS_1
Andre tersenyum mendengar jawaban kepolosan istrinya itu.
Mereka larut dalam dekapan satu sama lain. Dekapan untuk pertama kalinya setelah hampir sebulan menikah.