
Menit demi menit berlalu. Perlahan sinar mentari menerangi dunia. Menyambut semangat Bobo dan Erta untuk melanjutkan tulisan cerita mereka di langit.
Setelah mandi dan sarapan, Erta bersantai sejenak di dalam kamarnya. Memikirkan tempat yang akan dia kunjungi nantinya. Ia duduk di bibir ranjang, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya. "Nanti aku akan memberi tahu dia tempat yang paling aku suka disini. Aku yakin, dia juga pasti akan suka tempat itu." ucapnya tersenyum.
sesaat ia menghayal dan mencoba membayangi suasana yang akan terjadi nantinya. Namun ia tersentak saat gawainya berdering. Segera ia mengambil gawainya di atas nakas dan menyambungkan panggilannya.
"Hallo Erta " sapa Bobo dari seberang.
"Hallo juga Bo." ucap Erta.
"Bagaimana? jadi kan, kita pergi hari ini?"
"Jadi Bo. Nanti aku menjemputmu ya."
"Kamu kan, belum tahu rumah aku. Jadi aku akan menunggu di taman saja."
"Baiklah."
"Yasudah, nanti kabari aku lagi ya. kalau kamu sudah bersiap-siap."
"Iya, nanti aku akan menghubungi kamu lagi."
Bobo menutup teleponnya.
Saat ini Bobo sedang duduk bersantai di kursi ruang tamu. Lalu Emon keluar dari kamar sudah bersiap untuk pergi bekerja.
"Ayo Bo, kita berangkat." ucap Emon sambil berjalan menuju keluar rumah.
"Hari ini gue gak kerja Mon."
Sejenak Emon menghentikan langkahnya dan menolehkan pandangannya kearah Bobo.
"kenapa lo gak kerja?"
"Gue mau pergi hari ini dengan Erta."
"Pergi kemana?"
"Ya ... Kemana saja. Sudah ... Lo pergi sana. Nanti lo telat."
"Hem ... Yasudah, gue pergi dulu, ya." ucap Emon melanjutkan langkahnya keluar rumah.
Sudah beberapa menit Bobo berdiam di dalam rumah. Dia merasa jenuh menunggu waktu yang menurutnya berdetak sangat lambat. Sesekali ia menatap jam ya menempel di dinding. "Hah ... ia membuang nafasnya. kenapa Erta belum menghubungiku juga. Lebih baik aku pergi ke taman saja. Bersantai di sana sambil menunggu." Dia bangkit dari duduknya berjalan memasuki kamar dan merapikan penampilannya agar terlihat keren di mata Erta.
***
Erta mengangkat kedua tangannya ke atas merenggangkan badannya, sedang duduk di kursi kerja dalam kamarnya. menyiapkan sedikit pekerjaan kantornya pagi ini di rumah. Ia melemparkan pandangannya pada jendela kamar.
"Sepertinya hari sudah mulai siang. Sebaiknya aku mandi dan bersiap-siap."
ucapnya bergegas menutup laptopnya dan bangkit berjalan menuju kamar mandi. Tanpa lama ia membasuhkan seluruh tubuhnya hingga bersih. sejenak ia memilih pakaiannya dalam lemari. "Duh ... Aku bingung harus pakai yang mana? hari ini aku harus terlihat cantik di depan Bobo. Agar Bobo bisa lebih menyukaiku." Ia membongkar semua pakaiannya. Akhirnya ia menemukan pakaian yang cocok untuknya hari ini. Segera ia mengenakannya.
__ADS_1
Lalu ia duduk di depan cermin dan menggunakan beberapa alat make up-nya. menghiasi wajahnya agar terlihat cantik. " Sepertinya sudah rapi." berlalu ia mengambil gawainya melihat sederet angka yang tertera dan mencari angka milik Bobo.
"Halo Erta " ucap Bobo dari seberang.
"Kamu dimana? aku sudah siap ini."
"Aku sudah di taman menunggumu."
"Apa aku membuatmu menunggu lama? maaf, ya."
"Tidak. Aku hanya bosan berdiam di dalam rumah terus. Karena itu aku pergi bersantai disini sambil menunggumu."
"Yasudah kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Aku segera kesana."
"Baiklah."
Erta menutup teleponnya, cepat ia mengambil tasnya yang tergantung di dinding. Berlalu melangkah keluar kamar menuju garasi dan menunggangi mobil hitamnya.
Langsung ia menyalakan mobilnya dan memijak pedal gas melaju dengan lihay menuju taman.
Tak butuh waktu lama, karena jaraknya dekat ia pun sampai di taman. Bobo melihat mobil Erta dari kejauhan saat Erta memarkirkan mobilnya di pinggir jalan samping taman.
Segera Bobo bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menghampiri Erta. Erta turun dari mobilnya, bibirnya tersenyum menatap Bobo sedang berjalan perlahan menghampirinya.
"Sesaat Bobo tersenyum lebar menatap dalam, wajah Erta. "Semakin hari kamu semangkin cantik saja." ucapnya berdiri di hadapan Erta.
"Erta tersipu malu dan melemparkan pandangannya ke sisi kosong. "Terimakasih Bo. yasudah, ayo kita berangkat." ucapnya sambil membalikan badannya masuk kedalam mobil.
Erta berlalu melajukan mobil hitamnya saat Bobo sudah duduk di sampingnya dalam mobil.
"Kita akan pergi ke suatu tempat yang paling aku suka dulu, waktu aku masih sekolah."
"Memangnya seperti apa tempatnya."
"Aku tidak bisa menjelaskan nya. Nanti kamu lihat saja sendiri."
"Aku jadi penasaran, apa tempatnya jauh?".
"Hem ... Mungkin kurang lebih satu jam gitu, deh."
"Apa kamu sering pergi ke sana?"
"Dulu sering, saat aku masih sekolah. Aku sering pergi dengan teman-teman ku. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak tahu tempat itu masih seperti dulu atau sudah berubah. Aku punya banyak kenangan di sana.
"Sepertinya masa-masa sekolahmu menyenangkan, ya?"
"Apa masa sekolahmu tidak menyenangkan?"
"Masa sekolahku biasa saja. Aku kurang suka berkumpul. Aku lebih suka menyendiri untuk mencari ketenangan. Agar aku lebih mudah bermimpi dalam hanyalan ku. Sampai sekarang aku masih seperti itu."
"Ha-ha-ha. Kamu itu aneh, ya. berarti hidupmu lebih banyak di dalam mimpi dari pada dunia nyatamu. Sudah seperti Sang pemimpi saja."
__ADS_1
"Ya, benar sekali, aku memang Sang pemimpi. Tapi Aneh bagaimana?"
"Hem, pokoknya aneh saja. Kamu itu lucu." ucap Erta tersenyum.
"ngomong-ngomong, Senyummu manis sekali. Aku sangat suka melihat senyummu."
"Ha-ha-ha, modus. Sudah ah, jangan menggodaku. Nanti aku tidak fokus menyetirnya."
"Kenapa kamu selalu bilang aku modus. Padahal aku bicara yang sebenarnya. Kamu mau tahu salah satu keinginanku?"
"Apa itu?"
"Aku ingin membuat mu selalu tersenyum. Aku bahagia jika bisa membuatmu tersenyum."
"Hem ...' sesaat Erta menghela nafasnya.
'Saat ini aku ingin mendengar ungkapan isi hati kamu Bo. Bukan rayuan yang hanya bisa membuat dadaku terasa sesak.' lirihnya dalam hati.
"Kamu kenapa? apa kamu lelah?" ucap Bobo sedikit panik mendengar helaan nafas Erta.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja kok."
"Kalau kamu lelah, kita berhenti saja dulu."
"Tidak usah, sudah tidak jauh lagi. sebentar lagi juga sampai."
"Sesaat suasana menjadi hening. Sesekali Bobo mencuri pandangannya melirik kearah Erta.
'Sepertinya dia sedikit tersinggung. Apa ada perkataan ku yang salah?' gumam Bobo dalam hati.
"Er."
"Ya."
"Kalau ada perkataan ku yang salah, aku minta maaf, ya."
"Hah." Erta mengernyitkan dahinya. "Kamu gak perlu minta maaf. Tidak ada perkataan mu yang salah."
"Mana tahu saja ada perkataan ku yang membuat kamu tersinggung."
"Tidak ada Bobo. sudahlah, kamu jangan berpikir yang berlebihan."
"Baiklah. Oya, apa kamu suka mendengar musik?"
"Suka."
"Apa lagu kesukaan mu?"
"Tidak ada. Aku hanya suka mendengar musik yang sesuai dengan hatiku. Jika hatiku sedang sedih, aku suka mendengar lagu-lagu yang sedih. Pokoknya yang sesuai dengan hatiku. Kalau kamu?"
"Aku juga sama sepertimu. Aku suka mendengar musik yang sesuai dengan hatiku.
__ADS_1
Perlahan mobil Erta berjalan pelan memasuki area parkiran tempat yang mereka tuju. Erta memijak pedal remnya menghentikan laju mobilnya.
"Kita sudah sampai." ucap Erta senang.