
Sambil menyisir rambutnya yang lurus sedikit panjang, Emon bersiul bahagia menyambut malam. Sebahagia hatinya yang ingin bertemu Feby malam ini.
"Bo, makan yuk, gue udah lapar ini." sambil menyentuh lembut bahu Bobo, sedang membaringkan badannya di kursi panjang ruang tamu, memainkan gawainya.
"Lu lapar atau lapar." jawab Bobo menyindir.
"Ahh lo ... makan gak?, gue pergi sendiri, ya." berlalu berjalan meninggalkan Bobo.
Bobo bangun dari tidurnya, berjalan menutup pintu dan menyusul Emon. Tak lama berjalan mereka sampai di warung Feby. Suasana di warung tidak begitu ramai. Karena kebanyakan pelanggan yang datang lebih memilih membungkus pesanan mereka.
"Malam Feby." sapa Emon menghampirinya, sedang duduk di kursi pengunjung.
"Malam Feby." sapa Bobo juga. berlalu duduk di salah satu kursi yang ada di warung itu.
"Malam juga." sahut Feby. berdiri dari duduknya.
"Makan mas?" tanya Feby
"Hemm... Sebentar, aku." belum sempat Emon menyelesaikan kalimatnya.
"Iya Feb." potong Bobo.
Emon mengarahkan pandangannya kepada Bobo dengan menggelengkan kepalanya kesal. Sementar Bobo hanya membalas pandangannya dengan wajah polos seakan tak bersalah. menaiki sebelah alis matanya dan mengerdikan bahunya pasrah.
"Yasudah, Tunggu Sebentar, ya." Feby beranjak untuk menyiapkan makanan mereka.
Setelah beberapa menit, Feby mengantar makannya dan meletakan di atas meja mereka.
"Silahkan."
"Terimakasih." sahut Bobo dan Emon.
Emon menahan langkah Feby saat ia ingin duduk di kursi sebelah, dan mengajaknya duduk bersama.
"Feb."
"Ya." jawab Feby, membalikan badannya.
"Duduknya di sini saja temani kita ngobrol, mau kan?"
"Iya, baiklah." Feby duduk di kursi yang ada di depan Bobo dan Emon.
"Malam ini aku sangat bahagia. Kamu bisa lihat kan, dari wajahku?" ucap Emon pada Feby.
"Iya, aku lihat."
"kamu tau, kenapa malam ini aku bahagia?"
"kenapa?"
Emon meletakan alat makannya di piring, dan menatap tajam pada Feby.
"Karena malam ini, aku melihat ada bidadari di hadapan aku." ucapnya, tersenyum lebar.
Ternyata benar apa yang di katakan orang, kalau bidadari itu tidak ada sayapnya." sambung Emon.
Feby tertawa lebar dan menutup mulut dengan menangkupkan tangannya. Saat mendengar perkataan Emon yang menggodanya. Bobo pun tertawa kecil dan membuang pandangannya pada sisi kosong.
"Oh iya, kalian jauh-jauh datang kemari untuk apa? tanya Feby.
__ADS_1
"Kami kemari bekerja di proyek bangunan yang ada di sebelah sana." jawab Bobo sambil menunjuk kearah lokasi proyek yang tidak jauh dari mereka.
"Ohhh ... Jadi kalian bekerja di sana."
"Kamu berjualan sampai malam apa tidak lelah." tanya Bobo sambil menyantap makanannya.
"Tidak, aku berjualannya tidak sepanjang waktu."
"tidak sepanjang waktu! maksudnya? bukannya kamu berjualan dari pagi sampai malam, ya?" Tanya Bobo heran, mengernyitkan dahinya.
"Kalau pagi, aku berjualan hanya beberapa jam saja." tidak terus-menerus buka sampai malam."
"Lalu kamu tinggalnya dimana? apa tinggal di warung ini juga? sambung Emon ikut bicara.
"Kalau tinggal sih ... Aku tinggalnya di rumah. Masuk saja lorong itu, gak jauh kok." jawab Feby, menunjuk ke arah lorong. Hanya selang 1 rumah dari warungnya.
Panjang lebar mereka mengobrol, hingga sampai larut malam, dan Feby menutup warungnya. Karena keseruan obrolan mereka malam ini, membuat pertemanan mereka pun menjadi lebih dekat.
***
Ada pekerjaan tambahan yang di kerjakan di rumah. Membuat Erta berkerja sampai larut malam, dan membuat ia tertidur sangat pulas. Deringan alarm pun tak mampu membangunkannya.
Sinar matahari yang menembus
kaca jendela kamarnya, menerangi wajahnya. Memberikan kilauan yang membangunkan tidurnya. Ia tersentak dan panik, melihat langit pagi sudah terang.
"Ahh ... Aku kesiangan." Erta terlompat dari tempat tidurnya, dan berlari menuju kamar mandi segera menyegarkan dirinya. Cepat ia mengenakan pakaian kerja dan merapikan wajahnya dengan beberapa alat make up yang ada di atas buffet.
Dengan terburu-buru ia berlari keluar rumah menuju garasi mobil. Berlalu melajukan mobilnya cepat menuju tempat kerjanya.
Setelah lebih dari 1 jam, akhirnya dia sampai di kantor. Ia berjalan menuju ruangan kerjanya dan bekerja seperti biasa. Sampai waktu jam pulang tiba. Pekerjaannya semalam membuat ia merasa sangat lelah.
"Lelah banget rasanya hari ini. Sepertinya aku gak sanggup kalau harus pulang kerumah. Dari pada kenapa-kenapa, lebih baik aku menginap saja di rumah Cinte."
Saat di dalam mobil, salah satu tangannya mengambil ponsel dalam tasnya dan menelpon Cinte.
ting ...
"Hallo ..." jawab Cinte setelah panggilan masuk dari seberang.
"Hallo, Cin. Aku mau kerumah. Kamu ada gak?" tanya Erta.
"Ya aku ada, datang saja. Aku tunggu ya."
"Oke." Erta menutup ponsel dan melajukan mobil hitamnya melintasi indahnya kota siang hari ini.
Tidak terlalu lama Cinte menunggu, suara klakson mobil Erta berbunyi dari depan pagar rumahnya. Ia beranjak bagun dari duduk, melangkahkan kakinya menuju pintu pagar dan membukanya. Cinte mengajak Erta masuk dan mereka berbincang di dalam kamar Cinte.
"Aku sangat lelah Cinte. Belakangan ini banyak pekerjaan yang menyita waktu ku. Malam ini aku menginap di sini, ya." ucap Erta lemas, duduk di bibir ranjang.
"Yasudah, kalau begitu istirahat saja dulu, kalau kamu lelah. Lagian aku senang jika kamu menginap di sini. Kita bisa berbincang-bincang nanti malam sambil tidur.
Ini bukan pertama kali Erta menginap di rumah Cinte. Sebelumnya Erta sudah sering menginap. Mereka sudah bersahabat lumayan lama. Perkenalan mereka di mulai dari dunia maya, dan mereka sering berkomunikasi lewat whatsapp. berhubungan karena rumah Cinte di kota tempat Erta berkerja, Erta pun mencoba untuk menemui Cinte. Mulai saat itu Erta dan Cinte sering bertemu, membuat mereka menjadi sahabat.
Indahnya ribuan bintang menghiasi langit malam, menemani Erta dan Cinte berbincang-bincang dalam kamar.
"Kemarin bagaimana Er? kamu kan belum cerita. Ada bertemu gak, sama Bobo?" tanya Cinte duduk di bibir ranjang samping Erta.
Erta beranjak dari duduknya, "Hah." menghela nafas, berjalan kearah jendela kamar dan menyandarkan bokongnya.
__ADS_1
"Aku tidak bertemu dengannya. Mungkin dia hanya teman sesaat. Tuhan tahu, saat itu aku belum bisa melupakan kesedihanku. Karena itu, mungkin dia di kirimkan tuhan untuk menghibur ku. Setelah hari itu, alhamdulillah, sekarang aku sudah baik-baik saja." Ucap Erta terseyum senang.
"Syukurlah ... Kalau kamu sudah baik."
"Tapi, ada gak sih? harapan kamu ingin bertemu lagi. Karena kemarin aku melihat, seperti ada benih-benih cinta di wajah kamu. Meskipun baru pertama kali bertemu." ucap Cinte menggoda Erta, tersenyum manis sambil memainkan kedua alisnya.
"Hahh ..." sedikit terkejut. "Gak mungkin lah! baru juga kenal, mana mungkin aku jatuh cinta. Ngawur kamu." jawab Erta mengeles.
"Memang sih, kemarin aku sempat berharap bisa bertemu lagi. Tapi bukan berarti aku suka. Aku hanya ingin berteman, karena aku lagi butuh hiburan. Bukannya itu ide kamu ya, kemarin." sambung Erta.
Cinte tertawa sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. "Iya, itu ide aku. Lagian aku cuma mau menggoda kamu saja kok."
"Tapi menurutku, Bobo itu pria yang tampan loh. Rambutnya sedikit ikal dan berwarna coklat. hidungnya mancung dan bibir nya kecil tipis seperti bibir wanita. Masa sih ... kamu sama sekali tidak menyukainya? pasti kamu sedikit menyukainya, iya kan?"
Erta melangkahkan kakinya menuju ranjang dan merebahkan badannya. "Aduh Cinte ... sudahlah, jangan menggodaku terus. Pekerjaan ku belakangan ini sangat banyak. Aku gak mau tambah pusing, karena memikirkan hal yang lain."
"Justru itu, kamu harus memikirkan yang lain, agar kamu tidak terlalu pusing memikirkan pekerjaanmu."
"Oya ...! aku ingat." ucap Cinte matanya membulat sempurna.
"Ingat apa?" tanya Erta heran.
"Sepertinya Bobo menyukaimu. Aku sempat memperhatikan wajah Bobo, saat dia menatapmu. Dia tersenyum manis seperti memikirkan sesuatu."
"Sudah ah ... Aku tahu kamu hanya menggodaku saja. ucap Erta, memiringkan tubuhnya ke sisi kosong.
"Aku serius Erta!" ucap Cinte sambil menggoyang-goyangkan lembut lengan Erta.
Sesaat Erta tak menghiraukannya. Ia merebahkan badannya di samping Erta.
Erta tersenyum simpul, rona kemerahan perlahan terlihat di wajahnya. 'Apa iya, Bobo menyukaiku? gumamnya dalam hati.
Sambil berbaring mereka masih meneruskan perbincangan ringannya. Hingga sampai mata terlelap mebawa mereka kedalam tidur yang pulas. menghentikan obrolan mereka malam ini.
***
Waktu yang terus berjalan, mengiringi perjalanan hidup Bobo yang bekerja di kota tempat ia tinggal sekarang. Hari demi hari sudah di lewati. Bobo dan Emon Yang setiap pagi bahkan malam selalu bertemu Feby membuat mereka menjadi dekat. Bisa di bilang mereka sudah bersahabat.
Emon yang terlalu bersemangat untuk mendekati Feby, justru tingkahnya malah membuat Feby lebih dekat pada Bobo. Karena Feby lebih suka pada cowok yang sedikit santai dari pada cowok yang terlalu bersemangat. Bobo yang penampilannya apa adanya dan sedikit santai, menarik perhatian Feby.
Pagi ini sebelum berangkat bekerja, Bobo dan Emon salalu sarapan di warung Feby. Setelah selesai sarapan dan berbincang sedikit, mereka beranjak melangkahkan kakinya menuju lokasi kerja.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, Feby memanggil. "Bo ...! teriak Feby dari dalam warungnya berjalan menghampirinya.
"Ya ... jawab Bobo menghentikan langkahnya dan membalikan badannya.
"Selama disini kamu belum pernah jalan-jalan, kan? bagaimana jika nanti malam kita pergi? ada pasar malam di dekat sini."
Baru mau menggerakan mulutnya untuk bicara, Emon memotong. "Boleh juga tuh, soalnya bosen juga, kan? tiap malam cuma ngobrol saja di warung. Sesekali kita jalan dong." ucapnya, memainkan kedua alis matanya dan tersenyum lebar.
Sesaat Bobo mengarahkan pandangannya pada wajah Emon dengan tatapan aneh. Dan kembali mengarahkan pandangannya pada Feby.
"Tapi apa nanti malam kamu tidak berjualan." tanya Bobo santai.
"Jualan sih ... Tapi kan, masih ada ibu aku."
"Ohh ... Baiklah kalau begitu." ucap Bobo mengakhiri pembicaraan, dan melanjutkan langkahnya.
Ternyata kota tempat Bobo bekerja, adalah kota dimana Erta tinggal. Ada sepupuh laki-laki Erta dari kota seberang, sudah beberapa hari menginap di rumahnya untuk sementara waktu. Mengajak Erta malam ini pergi untuk mencari hiburan di pasar malam. Lokasi pasar malam yang akan di kunjungi Erta dan Bobo itu sama.
__ADS_1
Terimakasih untuk yang sudah membaca. Semoga ceritanya bisa terhibur ...