Perbedaan

Perbedaan
Eps 9


__ADS_3

Sepanjang sisa waktu kerjanya Erta hanya terduduk diam. Sesekali menatap layar gawainya berharap ada panggilan masuk dari Bobo. Sampai waktu jam kerjanya habis, gawainya pun tak kunjung berdering. Ia menghela nafasnya. "Sudahlah, buat apa aku menunggu. Jika dia ingin bertemu denganku, dia pasti menghubungiku."


"Lebih baik sekarang aku main kerumah Cinte." ucapnya sambil mengenakan tas kerjanya dan berlalu berjalan keluar meninggalkan ruangan kantornya.


Bobo dari pagi sampai tengah hari siang berada di pantai, tidak melakukan apa-apa. Dia hanya menatap nomor Erta yang ada dalam gawainya. Sesekali ia menolehkan pandangannya pada hamparan pantai dan menyisir rambut ikalnya yang lemas kebelakang dengan jemarinya. Sangat ingin dia menghubungi Erta, namun ia masih ragu. "Hah ..." ia menghela nafas, melepaskan rasa sesak di dadanya. "Erta sedang apa sekarang, ya? jika aku menghubungi nya, mungkin gak ya, dia mengangkatnya." Sesaat dia berpikir untuk mempertimbangkannya.


Dia bangkit dari duduknya di atas pasir pantai bawah pohon yang rindang. Lalu ia berjalan pelan tanpa arah, dengan gayanya seperti biasa, kedua tangannya di masukkan dalam sakunya. "Aku belum puas mengobrol dengannya tadi. Aku masih ingin mendengar suaranya. Apa aku hubungi saja. Tapi tidak enak, jika aku hubungi mengganggu pekerjaannya. "lagi-lagi ia menghela nafasnya, serba salah karena perasaannya.


Erta memasuki kamar Cinte, membuang bokongnya pada bibir ranjang. "Hari ini aku sangat senang sekali." ucapnya riang.


"Senang kenapa? apa kamu baru dapat gaji?"


"Bukan ... Aku bertemu dengan Bobo hari ini. Terus dia mengatakan, kalau setiap hari dia mencari aku."


"Wah .... itu artinya, Bobo memang menyukaimu. Dugaan aku benar, kan. Berarti gak lama lagi, teman aku yang satu ini akan mengakhiri masa jomblonya dong. ucap Cinte menggoda.


Perkataan Cinte membuat wajah Erta merah merona. "Apaan sih ... Jangan menggodaku dong. Belum tentu dia suka padaku. Buktinya saja dia sudah meminta nomor aku. Tapi aku tungguin dari tadi, dia belum juga menghubungiku." ucap Erta keceplosan.


"Cie ... Kamu menyukainya, ya? kalau tidak, untuk apa kamu menunggu telfon darinya." Cinte tertawa lebar menggodanya.


"Sudah dong Cinte, berhenti menggodaku terus. Kamu membuat aku malu."


"Kenapa harus malu. Wajar saja jika kamu menyukainya. Aku yakin Bobo juga sangat menyukaimu. Jadi cinta kalian itu tidak bertepuk sebelah tangan. Bobo itu orangnya sangat menghibur dan juga baik. Kamu pasti bahagia jika bersamanya."


Erta merebahkan tubuhnya di ranjang. "Kita lihat saja nanti. Aku gak mau terlalu berharap. Yang ada nanti aku terluka lagi." lirih Erta sesaat meresapi perasaannya.


"Keluar yuk Cin. kita jalan-jalan sebentar." sambungnya.


"Baiklah, aku ganti pakaian dulu, ya."


Erta bangkit dari tidurnya berlalu melangkah keluar dari kamar. "Cepat ya, aku tunggu di mobil."


Bobo melihat ada sebuah cafe di pinggir jalan. Dia menghampiri untuk beristirahat sejenak, setelah sepanjang waktu dia berjalan tanpa arah melewati deretan pertokoan. Dia memanggil pelayan cafe dan memesan secangkir kopi, untuk menemaninya duduk bersantai menyambut sore ini. Sesekali ia melemparkan tatapannya pada gawainya yang terletak di atas meja. "Sudah sore, sepertinya dia sudah selesai bekerja. Aku sudah tidak sabar ingin mendengar suaranya." ucapnya segera meraih gawainya di atas meja untuk menghubungi Erta.


"Kamu bertemu Bobo di mana tadi?" ucap Cinte pada Erta duduk di kursi cafe dalam Mall sambil menyantap makanan.

__ADS_1


"Tadi, waktu aku pergi kerja, aku mampir sebentar di sebuah toko. Lalu dia menyapaku. Aku sangat kaget saat aku melihat, ternyata itu Bobo."


"Kenapa dia ada di sana. Apa dia tinggal di kota itu?"


"Tidak, dia hanya sementara tinggal di sana karena pekerjaannya. Oya, Kamu tahu Cinte, tadi waktu dia menyapaku, tatapannya itu sangat dalam. Seakan aku melihat ada kebahagiaan dalam bola matanya. ucap Erta meresapi perasaannya dan menumpuhkan dagunya pada salah satu telapak tangannya. "Tubuhku seperti di rangkul dengan kehangatan dari tatapannya itu. Jantungku berdegup dengan sangat nyaman. Dalam sekejap aku merasakan ketenangan saat melihat dia ada di hadapanku." sambungnya lembut.


Cinte tersenyum-senyum menatap wajah Erta yang sedang hanyut dalam lamunan asmara cintanya. Tak lama Erta tersadar dari lamunannya. dia tersipu malu melihat Cinte sedang menatapnya. "Kenapa kamu melihat aku seperti itu." ucap Erta.


"Aku hanya merasa senang saja, melihat kamu bahagia seperti ini."


***


Ting.


Suara notifikasi berbunyi dari gawai Erta. dia membuka dan membacanya.


(Hai, apa kamu masih bekerja. Bolehkah aku menghubungimu.) ucap Bobo lewat pesan.


"Bobo mengirim pesan padaku, Cin. Katanya dia ingin menghubungiku. Bagaimana ini?"


"Tapi aku gugup." ucap Erta riang jadi salah tingkah.


"Sudah, tenangkanlah dirimu. Jangan seperti itu."


"Baiklah." Erta menarik nafasnya berat untuk menenangkan dirinya.


"tidak ada balasan. Apa dia masih bekerja? sudahlah, lebih baik nanti malam aku coba lagi." Bobo bergegas segera ingin pulang, karena hari pun sudah menjelang sore.


Ting.


Gawainya berbunyi saat Bobo mau bangkit dari duduknya. Segera ia menyambungkan panggilan masuk itu.


"Hallo." lirih Bobo lembut.


"Hallo juga Bo." balas Erta.

__ADS_1


"Kamu sudah selesai bekerja?"


"Sudah, tapi aku belum pulang. Aku masih main ke rumah Cinte."


"Cinte? oh ... Teman kamu yang aku kenalin di taman waktu itu juga, ya?"


"Iya. Kamu sedang apa Bo?"


"Aku sedang bersantai sambil memikirkan kamu." ucap Bobo menggoda Erta


Erta tertawa lebar mendengar perkataan Bobo. "Kamu bisa saja. Jangan menggodaku. Saat ini hatiku sedang lemah."


Perlahan peluh keringat di dahi Erta mulai bermunculan.


"Maaf, aku bercanda" ucap Bobo. "Aku ingin bertemu lagi dan mengobrol denganmu. Apa malam ini kita bisa bertemu?"


"Maaf Bo, sepertinya malam ini aku menginap di rumah Cinte. Mungkin lain waktu kita bisa bertemu." gak apa-apa, kan?"


"Oh yasudah, tidak apa-apa."


"Yasudah, aku tutup ya. aku mau jalan dulu. Nanti malam, kalau kamu ada waktu kita sambung lagi."


"Baiklah, terimakasih sudah menghubungi ku, ya. Aku sangat senang bisa mendengar suaramu sore ini."


"Sama-sama Bo. Aku tutup ya. Bye-bye." Sesaat Erta menghela nafasnya berat. Menahan rasa sesak dalam dadanya.


Saat ini Kelemahan Erta adalah hatinya. dia mudah terbawa perasaan jika mendengar perkataan yang menggodanya. Namun di satu sisi, rasa luka karena cinta masih membuat dia trauma. Membuat dia jadi dilema.


Ingin memiliki. Namun takut untuk menjalaninya.


Perasaan Bobo yang menggebu-gebu terhadap cintanya pada Erta. kali ini membuat dia benar-benar tak bisa mengontrol dirinya. cinta itu merubah dia menjadi seorang pria penggoda. Tapi, itu hanya terjadi jika dia bersama Erta saja.


***


Malam ini Erta sedang berdiri bersandar di jendela kamar Cinte. Pandangannya kosong menatap hamparan langit malam yang berkilauan cahaya ribuan bintang. dia masih bingung dengan perasaannya saat ini.

__ADS_1


Cinte memasuki kamarnya. Sejenak dia berdiri setelah membuka pintu kamar, melihat Erta sedang melamun. Berlalu ia berjalan menghampiri dan menyentuh lembut bahu Erta. "Kamu kenapa Er? setelah mengobrol dengan Bobo tadi, kamu jadi lebih diam sekarang."


__ADS_2