Perebutan Harta Warisan

Perebutan Harta Warisan
bab 14


__ADS_3

saat Saroh menawarkan dirinya yang membeli makanan ia pun mencari kantin yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit, saat akan kembali Saroh melihat ibu hamil yang seperti pernah ditemuinya, dirinya pun mengingat ingat dimana ia pernah bertemu sambil mendekatkan diri ke sana agar dirinya bisa mengingatnya.


" eh Bu Saroh kan " sapa ibu hamil yang merasa senang bertemu orang yang pernah menolongnya tanpa ingin diberi imbalan.


" iya kok ibu tau nama saya, apa sebelumnya kita pernah bertemu" tanya Saroh sambil memperhatikan penampilan ibu hamil didepannya dari atas sampai bawah.


" ibu Saroh lupa sama saya, ini saya Suti yang ibu tolong waktu ditempat mendaki" ucapnya tersenyum


" oh ya, saya baru ingat ternyata ibu Suti toh " Saroh baru mengingat setelah Suti mengingatkan dirinya. ia tak menyangka bakal bertemu lagi dengan Suti ternyata dunia ini sempit sekali. mereka pun akhirnya mengobrol dan Saroh menjadi tidak ingat akan tujuannya kemari sedangkan Suti kesini karena sedang menunggu antrian untuk melakukan pemeriksaan terhadap kandungan yang sudah delapan bulan.


di depan ruang rawat Salamah sedang duduk seraya menunggu Saroh yang terlalu lama membeli makanan ia khawatir terjadi sesuatu terhadap Saroh, Bejo pun berinisiatif untuk mulai mencari keberadaan istrinya kenapa bisa membeli makanan hampir satu jam belum pula kembali. setelah mencari ke sana kemari ia melihat dari kejauhan ternyata istrinya itu sedang mengobrol bersama ibu Suti kalo tidak salah dari tekstur wajahnya. Bejo pun berjalan menuju dimana istrinya itu berada setelah sampai dibelakangnya ia pun memanggil agar dia menoleh.


" bu, dicariin kesana kemari eh pas ketemu malah sedang asik ngobrol disini " sindir Bejo dirinya tidak habis fikir kenapa bisa istrinya menjadi seorang pelupa.


" eh iya pa keasikan ngobrol jadi lupa mau anterin ini " sambil mengangkat makanan yang tadi dibeli, Saroh merasa cuek akan sindiran halus yang diberikan Bejo untuk dirinya. Saroh hanya bisa diam karena ia tau bahwa disini dirinya lah yang salah.

__ADS_1


" ya udah bu Suti... saya mau nganterin makanan dulu yah, udah ditungguin nih" ucapnya sambil meringis malu karena lupa, dari tadi ia mengobrol hingga tak ingat waktu akan pesanan makanan kakak iparnya.


" mangga atuh, suti juga mau masuk karena sekarang giliran saya untuk diperiksa " ucap Suti ia sebenarnya orang desa cuma dibesarkan di daerah Sunda oleh orang tua angkat yang mau membesarkan dirinya selama ini.


Saroh pun berlenggang pergi bersama Bejo ia terburu buru takut mereka khawatir akan keadaan dirinya yang sudah pergi keluar terlalu lama tapi ia malah asik mengobrol. didepan ruangan Salamah pun reflek berdiri melihat Saroh dan dirinya merasa lega atas kehadirannya.


" syukur deh kamu udah balik aku takut kamu


kenapa-kenapa dijalan Saroh " menunjukkan raut muka cemas. Salamah memang cemas dari tadi saja ia sampai tak sadar telah berjalan mondar-mandir di depan ruang tunggu sambil menggigit jari telunjuk.


" iya ga papa lagipula kan sekarang udah balik" ia tahu Saroh pasti merasa bersalah kepada dirinya makanya ia memberi penjelasan.


" ya udah sekarang kita masuk pasti ibu sudah nungguin nih" mereka pun masuk kedalam ruangan nek Ipeh secara bersamaan meskipun waktu itu di larang keras untuk tidak lebih dari tiga orang akan tetapi sekarang keadaan nek Ipeh sudah mulai membaik untuk itulah kenapa mereka bertiga masuk kedalam secara bersamaan. nek Ipeh yang melihat orang yang dirinya sayangi pun merasa senang karena masih ada yang peduli terhadapnya.


nek Ipeh pun sudah meruntuki dirinya kenapa dulu ia begitu peduli terhadap Tuti dan Sumi yah meskipun anaknya?? tapi apakah Tuti dan Sumi peduli dengan keadaannya sekarang yang sedang sakit?? mereka saja belum sama sekali membesuk dirinya sampai saat ini. apakah dulu dirinya terlalu memanjakan mereka??? nek Ipeh menyesal karena setelah fikir memang ia terlalu memanjakan mereka berdua dan mengabaikan Bejo yang bahkan sudah mau mengurus sapi miliknya_ banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya.

__ADS_1


dirinya sebenarnya ingin sekali meminta maaf langsung terhadap Saroh akan tetapi ia takut Saroh akan marah karena dulu dirinya pernah berpura pura jatuh agar Saroh tetap berada disisinya namun rencana itu malah gagal dan Bejo yang menggantikan untuk menjaga dirinya. nek Ipeh pun bangga dengan Bejo yang mau mengurus dirinya padahal dari dulu ia tidak pernah mengajarkan bejo agar peduli terhadap orang yang sedang sakit.


sekarang ia sadar bahwa Saroh tidak seperti apa yang dikatakan Sumi dan Tuti. mereka berdua sering memprovokasi dirinya bahwa Saroh itu orangnya pelit, kikir, selalu ingin menang sendiri dan selalu menindas orang yang lemah lalu dengan bodohnya dirinya pun percaya akan hal itu nek Ipeh tidak sekalipun menyangkal ataupun bertanya dari mana mereka tau tentang apa yang dikatakannya bahkan sebelumnya saja Sumi atau pun Tuti tidak saling kenal mengenal dengan Saroh_ suara hati nek Ipeh.


dan dirinya berjanji akan percaya apapun yang dikatakan Saroh terhadap dirinya ia tau bahwa Saroh tidak akan mungkin berbohong terhadapnya kecuali kalo tidak dalam keadaan terpaksa. nek Ipeh pun berusaha agar tidak lagi terprovokasi omongan Sumi ataupun Tuti_ sambung suara hati nek Ipeh.


" maaf nek sudah membuat nenek menunggu lama tadi Saroh keasikan mengobrol dengan Suti. nenek ingat ga sama ibu hamil yang waktu itu bertemu di tempat mendaki dan pada akhirnya lahan yang kita tempati dibagi menjadi dua bagian karena Saroh merasa kasihan terhadapnya lalu setengahnya untuk ibu hamil itu agar ada tempat bersemayam" penjelasan panjang Saroh supaya nek Ipeh bisa memaklumi dirinya yang lupa.


mendengar penuturan Saroh.. nek Ipeh tak merasa keberatan justru ia paham atas apa yang dilakukannya. kalo dirinya menjadi Saroh pada saat itu ia akan memarahi atau bahkan adu mulut tanpa memberi kesempatan untuk berbicara karena orang itu hampir saja merebut tempat bersemayam.


" iya ga papa nenek paham" masih dengan suara serak


" sekali lagi Saroh minta maaf ya, nek" Saroh masih merasa sungkan atas keteledoran dirinya yang membuat semuanya menunggu lama, nek Ipeh hanya tersenyum mendengar penuturan menantunya.


di rumah Ima....Siti sedang membantu kakaknya mencuci piring meskipun dirinya harus buru buru ke sekolah dan kak Ima sudah melarang agar tidak usah ikut membantu tapi Siti merasa sungkan karena sudah numpang makan disini lagipula tidak mungkin ia pergi begitu saja setelah selesai makan_ batin Siti

__ADS_1


__ADS_2