Perebutan Harta Warisan

Perebutan Harta Warisan
bab 19


__ADS_3

menjelang malam hari Eka masih belum pulang selain ingin bertemu nek Saroh Eka juga belum puas mengejek Siti yang terus menerus meledeknya apalagi wajahnya terlihat tidak ada beban saat mentertawakan dirinya seperti sekarang ini Siti masih ingin membuat Eka kesal


" Eka tau ga bedanya kamu sama lampu " menaikan kedua alisnya


" ga tau lik emang apa " berbalik tanya penasaran


" kalo lampu bisa terang kalo kamu petang " ujar Siti sambil menjulurkan lidah karna senang berhasil mengerjai Eka lagi


sedangkan Eka semakin kesal karena lagi lagi dan lagi dirinya dikerjai Eka pun kembali menyusun rencana untuk balik mengerjai dan kebetulan ia mendapat ide dengan cepat.


" Lik, Eka mau nanya nih bahasa jawanya aku jelek apa " Siti yang mendengar itu langsung menjawab tidak berfikir itu jebakan atau semacamnya


" aku elek lah masa ga tau " sambil tersenyum dengan bangga Eka pun memperjelas sekali lagi


" emang iya yah " berpura pura tidak tau padahal sebetulnya dirinya tau


" ya iya lah aku elek kalo bukan apa coba " masih belum paham dan malah berbalik tanya

__ADS_1


Eka yang sudah menahan tawanya dari tadi pun terlepas begitu saja, Eka sudah tidak kuat lagi untuk menahannya hingga membuat Siti heran apa yang membuatnya tertawa?? apakah ada yang lucu? lalu Siti mencoba memahami pertanyaan Eka tadi tak lama Siti pun paham kenapa Eka sampai tertawa terbahak bahak ternyata secara tidak langsung dirinya mengakui bahwa dirinya jelek.


sedangkan Eka yang sadar bahwa sepupunya sudah tau arti pertanyaan yang diajukan olehnya Eka pun segera berdiri namun kalah cepat dengan Siti yang sudah memegang tangan Eka hingga pada akhirnya di suruh duduk di pangkuan Siti Siti langsung saja mengelitik badan Eka hingga mereka berdua tertawa bersama


" a...ampun lik becanda kok " mohon Eka yang masih di gelitiki oleh Siti permintaan Eka tak lantas dituruti Siti namun saat melihat wajah yang sudah merah Siti pun melepaskannya.


"makanya kalo...." belum selesai Siti berbicara terdengar pintu diketuk Siti pun bangkit berdiri lalu membuka pintu ternyata Saroh bersama bejo


" eh ibu, gimana " tanya Siti penasaran lancar kan, Saroh hanya tersenyum Siti yang memperhatikan gerak gerik ibunya pun paham tanpa perlu dijelaskan secara detail.


" lancar dong " singkat Saroh ketika menoleh Saroh terkejut ternyata Eka sedang ada disini sambil menyunggingkan senyum termanis ke pada dirinya.


" iya nek soalnya tadi aku sedang ke toilet makanya nenek ga tau " jujur Eka memang benar tadi Eka ke toilet karna merasa perutnya tidak enak akibat terus terus tertawa, Saroh hanya mengangguk mendengar penjelasan Eka.


sampai rumah Tuti membanting semua barang yang ada disekitarnya untuk melampiaskan kekesalan nya terhadap ibu yang melahirkan nya, putra yang sedang berada di kamar dan mendengar suara barang yang seperti dibanting pun segera mencari tau penyebab nya.


saat mengetahui Tuti membanting barang dan terlihat kesal jadi nya putra mendekat berusaha menenangkan Tuti, kadang putra sendiri merasa heran dengan tingkah Tuti yang mirip Somad jika sedang marah akan melampiaskan nya dengan membanting benda. nanti ujung ujung nya mereka akan menyesal sendiri karena sudah membanting nya seperti saat ini Tuti sedang mengobrak ngabrik isi di ruang tamu.

__ADS_1


sebenarnya putra sudah lelah dengan tingkah mau pun kelakuan kedua orang tuanya yang menurutnya masih kekanak-kanakan apakah mereka tidak malu bila didengar oleh telinga tetangga? apakah tidak malu sering di bicara kan oleh orang orang di sekeliling? atau urat malunya sudah putus? terlintas dibenak putra ingin menanyakan namun putra tidak ingin memperkeruh suasana yang sudah keruh.


akhirnya mau tidak mau putra mendekat agar Tuti berhenti membanting barang dengan mengelus pundak sambil membantu mengucap istighfar namun Tuti bukan menjadi lebih tenang melainkan semakin menjadi jadi


" putraaa " teriak Tuti "ga udah ikut campur bisa ga!!! kamu itu ga tau apa apa...lagi pula ngapain kamu nyuruh ibu buat istighfar emang ibu kerasukan" bantah Tuti dirinya tidak terima putra menceramahi nya seakan akan menginjak harga dirinya yang sudah Tuti junjung tinggi serta kata istighfar membuat Tuti muak mendengar nya emang dengan istighfar apa yang dia mau akan menjadi miliknya?? tentu tidak Tuti menganggap semua itu tidak ada gunanya jika ia mengucap istighfar.


niat baik putra ternyata tidak membuat Tuti paham akan maksud dibalik perkataan nya putra pun memilih kembali ke kamar dari pada disini tak ada gunanya dan ingin sekali membantah penuturan Tuti namun putra masih menghargai sebagai ibu nya perkataan Tuti seperti sebuah lagu yang berputar putar di benaknya. apakah hanya orang yang kesetanan dan kerasukan yang boleh mengucapkan istighfar? tentu saja tidak sepengetahuan putra orang membaca istighfar bukan hanya untuk itu tapi juga menenangkan hati dan pikiran atau pun yang sedang gundah gulana.


walaupun putra jarang sholat tapi dia sedikit tau tentang maknanya ingin sekali putra melihat seluruh keluarganya utuh seperti dulu tentram, tenang, tidak ada pertikaian yang terjadi tidak seperti kali ini.namun putra sadar bahwa hal itu mustahil untuk dilakukan mengingat Tuti telah melakukan yang begitu fatal hingga sanak saudaranya banyak yang tidak suka dengan Tuti tapi putra akan berusaha untuk menyatukan kembali apapun caranya_ tekad putra


sedangkan Sumi yang sedang berusaha untuk menerima keputusan setelah sidang tadi pun Sumi tidak merasa marah sedikit pun tidak seperti Tuti yang masih belum menerima. saat di pikir pikir kembali jika saja Sumi tidak serakah semua ini tidak akan seperti sekarang ini Sumi juga merasa dirinya sudah keterlaluan terhadap Salamah terutama Bejo yang pernah Sumi maki maki hanya karena ingin keadilan.


ingin sekali Sumi meminta maaf atas perbuatan dirinya dulu namun apakah mereka mau memaafkan nya? setelah kesalahan yang dilakukan sudah sangat fatal? dan mau menerima ia kembali? tidak mungkin semudah itu mereka mau memaafkan orang yang sudah membuat kesalahan yang fatal.


Arip yang sejak tadi sudah memperhatikan gerak gerik Sumi pun merasa aneh tidak biasanya Sumi melamun dan tidak banyak bicara, Arip pun berjalan menghampiri Sumi dengan menepuk pundak ibunya membuat Sumi terkejut karna tiba tiba ada yang menepuk nya.


" bu dari tadi Arip perhatiin kok ibu melamun kenapa" tanya Arip pertanyaan Arip memang terdengar simpel namun Sumi bingung harus bicara jujur atau sebalik nya.

__ADS_1


" e_ enggak papa Arip, ibu itu lagi ngumpulin tenaga untuk berdiri karna kepala ibu sedikit pusing makanya dari tadi ibu keliatan seperti melamun" bohong Sumi yah pada akhirnya Sumi memilih menutupi yang sedang difikirkan nya, penjelasan Sumi tak membuat Arip percaya begitu saja namun apa boleh buat Arip juga tidak bisa memaksa Sumi agar bercerita kepada nya, akan tetapi Arip akan mencari tau dengan cara nya sendiri


__ADS_2