Perfect Mom

Perfect Mom
Episode 21


__ADS_3

Keyza sekarang sedang terbaring di brankar sendirian. Semua keluarganya tadi sudah pamit pulang. Sedangkan Wiliam dan Axelio pergi untuk membeli makan di kantin. Keyza pun sekarang hanya terbengong, menatap langit- langit ruangannya.


" Robecca, " panggil nya pelan, seperti berbisik.


Keyza sontak saja menatap kearah sosok yang memanggilnya. Matanya langsung terpaku oleh sosok perempuan cantik dengan wajah pucat pasi, di tambah dia yang memakai baju putih bersih dengan panjang semata kaki. Sekujur tubuh Keyza pun langsung menegang, pasalnya sosok tak kasat mata itu mirip dengannya.


" K- kamu siapa? " tanya Keyza sedikit takut. Auranya sosok itu sangat kuat, membuat Keyza merinding.


Hahahaha


Sosok itu pun tertawa nyaring, ia lalu memandang kembali Keyza.


" Aku pemilik asli tubuh yang kau tempati itu, Keyza. " jelasnya.


" J-jadi kamu Keyza? "


" Iya, Robecca. "


" Lalu apa tujuanmu menemuiku? " heran Becca yang menempati raga Keyza.


" Aku ingin minta tolong padamu Becca, "


" Minta tolong apa? "


" Tolong kamu jaga Axelio anakku, dan sampaikanlah maaf ku padanya. Aku tau, aku bukan Ibu yang baik untuk Lio. Bahkan aku dengan kejamnya hampir membunuh nya, " ucap sesal Keyza asli, tanpa saat pipinya sudah banjir air mata.


" Kalau itu pasti, karena aku menyayanginya. " jawab sanggup Keyza.


Keyza asli pun menatap Robecca dengan senyum yang sangat manis dan tulus. Seumur hidupnya baru sekarang ia menunjukannya pada Robecca.


" Makasih, Becca. " ucap Keyza senang. Akhirnya ia bisa tenang juga. Di alam sana, ia selalu memikirkan putranya, membuat dirinya sangat tersiksa.


" Dan satu lagi, aku ingin kamu buat Wiliam jatuh cinta. Aku tak ikhlas jika tubuh Wiliam di miliki wanita lain, selain ragaku yang sekarang kamu tempati. " ucapnya dengan nada menuntut.


" Aku tak bisa, lagian aku nanti akan bercerai dengan Wiliam, " tolak Becca.


Keyza yang mendengarnya pun sangat marah. Ia lalu menatap tajam Robecca.


" Kamu harus bisa! Wiliam itu hanya milikku, aku tak akan membiarkannya untuk wanita lain, kecuali kamu, Becca. Kamu tau kan, seberapa gilanya aku dulu buat dapetin Wiliam? Tapi apa? Aku selalu gagal, dan satu- satunya harapanku itu cuma kamu, Becca! " ucapnya memaksa.


" Kenapa harus aku? Kenapa tidak kamu saja? " bingung Robecca pada Keyza asli.


" Aku nggak bisa Becca! Jiwaku sudah musnah, dan aku tak bisa masuk ke dalam ragaku sendiri. Itulah sebabnya aku memintamu, " jelas Keyza.


" Tapi aku tak janji, karena cinta itu tak bisa di paksa. " ucap Becca.


" Terserah kamu saja! Pokoknya aku percaya sama kamu Becca. Awas saja kalau gagal, aku bakal gentayangin kamu terus, sampai kamu dapat cinta dari Wiliam. " ancam Keyza dan menghilang pergi. Dirinya tadi merasakan seseorang yang ingin masuk. Itulah sebabnya ia buru- buru menghilang, sebelum ada orang yang melihatnya.


CEKLEK


Pintu pun di buka oleh Wiliam, dengan Axelio yang berada di belakangnya. Mereka berdua pun berjalan ke arahnya sambil membawa kantong kresek berisi makanan.


" Maaf aku lama, " ucap Wiliam sembari menaruh kantong kresek itu ke atas nakas.


" Hmm, "


" Yasudah, sekarang mending kamu makan. " suruh Wiliam tak terbantahkan.

__ADS_1


" Oke, " jawab Keyza mengambil kantong kresek itu.


" Biar aku saja yang menyuapi mu, " ucap Wiliam mengambil alih kantong kresek itu, lalu ia memindahkan makananan nya ke piring.


" Buka mulutmu, " suruh Wiliam yang sudah siap dengan nasi di sendok nya. Dengan kaku, Keyza mulai membuka mulutnya. Satu suap nasi pun berhasil ia kunyah dan di telan olehnya. Wiliam yang melihatnya samar- samar mengembangkan senyumnya. Ia senang melihat Keyza yang menurut.


" Ayo habiskan, dikit lagi. " ujar Wiliam.


Keyza menggeleng, ia sudah sangat kenyang.


" Ayah! Sisanya biar buat Axelio aja. Axelio masih lapar, " pintanya.


" Bukannya kau tadi sudah makan banyak? " heran Wiliam. Porsi makan anaknya sangat banyak, bahkan dirinya saja kalah.


" Ishh, cuma makan dua piring itu masih belum kenyang, " sahut Axelio kesal.


Wiliam yang mendengar itu ingin menjatuhkan rahangnya kebawah. Dua piring besar lho ya, masa masih kurang. Padahal tubuh Axelio kecil, tak sebesar dirinya. Pikirnya.


" Ayah! Ayo buruan suapin Lio, kok malah bengong. " kesal Lio yang melihat keterdiaman Ayahnya.


" Udah sana, Mas. Nanti anakmu ngambek lagi, " perintah Keyza.


" Anakmu juga, " sahut Wiliam cepat. Enak saja hanya anaknya, buatnya juga berdua.


" Iyah, udah sana! " ucap Keyza mendorong pelan tubuh Wiliam.


Wiliam pun menurut, ia berjalan menghampiri sang anak.


" Aaaaaaaa, " ucap Lio membuka mulutnya lebar- lebar.


Brilian yang baru pulang langsung membuang asal tasnya kearah sofa. Setelahnya, ia mendudukan diri dengan kasar diatas sofa empuk itu. Lalu, ia mulai mencopot hinghels sialannya yang membuat kakinya lecet.


Brilian pun menghela nafas panjang. Ia teringat dengan kejadian tadi bersama Edgar. Brilian pun meraup kasar bibirnya itu, seolah jijik.


Flashback on


" Angkot! " teriak Edgar memberhentikan angkot yang lewat itu.


" Edgar! kamu gila ya, masa kita naik angkot sih kaya orang susah, " protes Brilian tak mau.


" Jika kamu tak mau ya terserah, saya nggak peduli. Ini sudah sore, saya nggak mau jalan kaki sampai rumah, " jelas Edgar tak menggubris protesan Brilian.


" Yaudah, aku jalan aja! " ujar Brilian turun dari gendongan Edgar.


" Yakin? Disini rawan preman lho, " ujar Edgar menakut- nakuti Brilian.


" Aku nggak takut, tuh. " jawab Brilian yakin.


" Mas, jadi naik nggak? " tanya supir angkot yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.


" Jadi, pak. " ucap Edgar langsung naik meninggalkan Brilian. Sedangkan Brilian pun sudah melototkan matanya sempurna, ia tadi cuma bercanda. Ia pikir Edgar tak akan mungkin meninggalkannya.


" Pak, Berhenti! Saya ketinggalan! " teriak Brilian keras, membuat tenggorokannya sakit.


" Biarkan saja pak, dia itu wanita gila, " ucap Edgar menyuruh supir agar tak berhenti.


" Tapi kasihan pak, saya berhenti sajalah, " jawab supir itu langsung mengerem mobilnya. Semua penumpang pun marah-marah.

__ADS_1


" Gimana sih tuh orang, tadi nggak sekalian, " ucap kesal Ibu- ibu dan di setujui semua penumpang. Sedangkan Edgar mendengus kesal, karena harus satu mobil dengan Brilian lagi.


Brilian yang melihat angkot sudah berhenti, langsung berlari kecil menghampiri nya. Brilian pun langsung masuk mendudukan dirinya di samping Edgar.


" Ayo pak, jalan! " ucap semua penumpang.


Di tengah jalan Brilian terus mendumel, dan menyalahkan supir dan penumpang lain.


" Edgar, kamu geseran dong! Aku sempit nih, " pinta Brilian.


" Kamu pikir saya nggak sempit? " tanya kesal Edgar.


" Alah, bilang aja mau modus! " tuding Brilian menatap sengit Edgar.


" Najis! " sahut Edgar cepat.


" Panas Edgar, kamu ngalah dong. " paksa Brilian. Edgar pun tak peduli, ia justru memejamkan matanya untuk tidur. Brilian pun menjadi kesal sendiri.


" Pak, mobilnya di kasih AC dong! Nggak modal banget sih. Saya kan jadi kepanasan gini, " marah Brilian. Sedangkan penumpang lain di buat geram sendiri, terutama kaum Ibu- Ibu.


" Eh neng, kalo nggak bisa naik angkot ya nggak usah naik, ngerepotin orang aja! " ucap Ibu yang memakai make- up menor membela supir.


" Eh, muka tembok! lain kali kalau bawa belanjaan jangan banyak-banyak, bikin sumpek aja! " balas Brilian sengit.


" Nggak sopan! " cibir Ibu itu sinis. Brilian pun tak peduli lagi.


Beberapa menit mobil pun berhenti lagi dan memasukkan ibu- ibu dengan tubuh gempal.


" Mas, Istrinya di pangku dong! Saya juga mau duduk, " ucap Ibu itu menyuruh Edgar.


" Enak aja Ibu, duduk ya tinggal duduk. Pake acara nyingkirin orang, " kesal Brilian menolak.


" Mbak nggak liat? Tubuh saya gede gini, mana muat. " ucap Ibu itu.


" Makanya punya tubuh jangan ged__"


Edgar yang jengah langsung membekap mulut Brilian dengan telapak nya.


" Silahkan Bu, duduk. " ucap Edgar sambil memangku Brilian.


Ibu itu pun duduk. Sedangkan Brilian mengumpat kesal di dalam hati, ia mengutuk Edgar.


Awalnya mobil berjalan santai, namun saat ada undakan membuat mobil oleng kesana- kemari.


GRUBAK!


CUP!


Bibir Brilian tak sengaja mencium bibir Edgar. Brilian yang hendak menariknya, justru kalah cepat dengan Edgar yang menarik tengkuk Brilian, dan menyesap bibirnya itu.


" Edgar, sialan! " teriak Brilian, setelah mengingat kejadian itu.


Bersambung.....


Maaf author up nya lama. soalnya Author hanya bisa up sore, belum lagi nunggu review.


Jangan lupa kasih dukungan ya... supaya Author semangat up terus.🤗🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2