
Pukul 3 pagi, Keyza sudah terbangun dan beres-beres. Ia memasukan baju-baju miliknya dan Wiliam ke dalam koper berukuran sedang. Karena nanti pukul setengah enam pagi, ia dan sang suami akan melakukan penerbangan menuju Jerman.
Selesai dengan beres-beres nya, Keyza segera mandi duluan. Setelahnya, nanti ia akan membangunkan suami dan anaknya.
" Eunghhh," lenguh Wiliam mulai terusik dari tidurnya. Perlahan tapi pasti, matanya terbuka lebar.
CEKLEK
Pintu di buka Keyza dengan hanya memakai handuk sepaha. Pemandangan itu pun tak luput dari mata Wiliam.
" ****! baru bangun tidur sudah di suguhi beginian, " umpat Wiliam saat jiwa lelaki nya berkeliaran kemana-mana.
Keyza yang tidak sadar jika sedang di tatap intens oleh suaminya, berjalan dengan slow motion kearah lemari. Dia memilih-milih baju yang pas untuk di gunakan. Sedangkan Wiliam yang terus menatap Keyza mulai kesal, ia mengumpati Keyza yang lama dalam memilih baju.
" Key, kau sengaja ingin membuatku tegang! " marah Wiliam tidak jelas. Keyza yang tidak tahu apa-apa sontak terkejut, saat mendapati suaminya sudah bangun.
" Apa maksudmu? "
Mendengar itu, Wiliam hanya mampu mendengus.
" Itu, " tunjuk Wiliam tepat pada tubuhnya.
Sontak saja Keyza mengikuti arah telunjuk Wiliam. Deg, Keyza sangat malu saat tersadar hanya memakai handuk sepaha, yang membuat lekukan tubuhnya tercetak jelas. Dengan buru-buru, Keyza menyambar bajunya asal.
BRAKKK
Keyza membanting pintu dengan keras, yang menciptakan bunyi nyaring memenuhi kamar itu. Wiliam pun menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat kelakuan bar-bar Keyza.
********
" Key, tolong kau ambilkan ponsel milikku yang ada di ruang kerja. Aku lupa mengambilnya." titah Wiliam. Pasalnya sekarang dirinya sedang sibuk memasukan laptop dan berkas lain nya ke dalam tas.
" Iya sebentar, aku akan ambilkan." sahut Keyza berjalan menuju ruang kerja milik suaminya yang sebenarnya milik Bagas.
Tanpa mengetuk, Keyza langsung masuk.Dan ternyata di dalam sudah ada Bagas dengan laptop yang masih menyala.
" Ada apa nak, tumben kau kemari." heran Bagas yang mendapati Keyza sudah berdiri di ambang pintu.
" Aku hanya ingin mengambil ponsel milik Wiliam, apa ayah melihatnya? "
Bagas yang mendengar itu mengangguk saja dan ber-oh ria.
__ADS_1
" Ayah tidak melihatnya Key, coba kau cari di sekitar situ." tunjuk bagas pada meja di sampingnya yang terdapat tumpukan berkas. Keyza pun langsung berjalan menghampiri meja suaminya. Dicarinya ponsel itu, hingga pandanganya menemukan benda pipih kotak berlogo apel digigit tikus. Tak ingin membuang waktu, Keyza langsung mengambilnya.
" Ayah, terimakasih." ucap Keyza dan berjalan keluar meninggalkan ruang kerjanya.
SKIP
Pukul 5 pagi, mereka bertiga sudah siap dengan pakaian rapih dan koper. Mereka bertiga pun berjalan menuruni tangga, dengan Keyza yang menggandeng tangan kecil Lio. Yah, sebelum berangkat ke bandara, Wiliam dan Keyza harus mengantarkan Lio dahulu ke mansion milik Rose.
Tap Tap Tap
bunyi kaki mereka yang sedang menuruni tangga mampu menyita atensi seluruh orang yang ada di bawah.
" Kalian ingin kemana? " bingung Devi melihat mantu, anak, serta cucunya sudah rapih dengan koper.
" Ibu, kita akan pergi ke Jerman untuk menghadiri pernikahan anak dari klien Wiliam." beritahu Keyza.
" Oh gitu, terus Lio ikut? " tanya Rose menatap cucunya yang sudah rapih.
" Tidak, dia akan kami titipkan ke Ayah dan Ibuku." sahut Wiliam.
" Kenapa tidak di sini saja Wil, mama juga masih ingin melepas rindu dengan sang cucu." ucap Devi sedikit tak rela.
" Hey, Ibu tenanglah. Cucumu itu tidak akan pergi jauh, dia hanya tinggal di rumah Ibu Rose. Lagian ibu bisa kapan pun mengunjungi Axelio. " ucap Keyza memberi pengertian.
SKIP
Setelah berpamitan dengan seluruh keluarganya, sekarang Keyza sudah berada di dalam mobil milik Wiliam menuju kediaman Alexander. Di sepanjang perjalanan, hanya terisi keheningan. Keyza yang memilih memejamkan mata, dan William yang fokus menyetir. Sedangkan Axelio sibuk sendiri di belakang dengan tablet di tangannya.
Setelah 15 menit, akhirnya mobil sampai di depan gerbang mansion Alexander. Satpam yang bertugas langsung berlari membukakan pintu gerbang. William pun memakirkan mobilnya di depan teras rumah. Setelahnya berjalan keluar membukakan pintu mobil Keyza dan Lio.
Mereka pun berjalan beriringan memasuki mansion mewah itu.
Ting... tong...ting.. tong
Bel di pencet berulangkali oleh Wiliam.
CEKLEK
Pintu itu pun terbuka, menampakkan sosok gadis yang sepertinya baru bangun tidur.
" Eh, ternyata kakak dan kakak ipar." ujar Arisa yang masih kaget.
__ADS_1
" Ayo masuk, nggak usah sungkan." ucap Arisa tersenyum ramah, seolah mempersilahkan tamu. Sedangkan Wiliam memutar bola matanya malas.
" Tidak usah, kami langsung pergi saja. Oh ya, kakak titip Lio, dan sampaikan pamit kita pada Ayah- Ibu. " titah Wiliam memberikan Axelio pada Arisa.
" Mampir dulu sebentar kak, buru-buru banget."
" Kita memang sedang buru-buru, jet pribadi kakak sudah sampai di bandara." beritahu Wiliam.
" Oh yasudah, "
Sebelum Keyza meninggalkan Lio, Keyza mencium kening anaknya lama dan memeluknya sebentar.
" Lio baik-baik disini, jangan bandel." peringat Keyza.
" Oke siap! jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak." pinta Lio.
" Tentu saja, kau ingin apa? Nanti ayah akan belikan." sahut Wiliam enteng.
" Terserah, yang penting mainannya bagus." ucap Lio.
" Hmm, " dehem Wiliam.
" Ayo Key." ajak Wiliam menggandeng tangan milik Keyza.
SKIP
Mereka berdua kini telah sampai di bandara. William pun mengedarkan pandangannya guna mencari jet pribadi miliknya. Saat melihat sekumpulan pria berpakaian hitam yang di ketahui bodyguardnya. Wiliam langsung menggandeng tangan Keyza untuk menghampiri. Sesampainya di depan jet miliknya, William langsung masuk. Sedangkan Keyza masih terdiam ragu, ia masih ingat jelas kejadian di saat tubuhnya hancur tertimpa badan pesawat. Memikirkan itu, membuat dirinya gelisah dan panik.
" Kau kenapa? " bingung Wiliam saat mendapati Keyza yang hanya terdiam bagai orang linglung.
" Ah tidak, aku hanya memikirkan sesuatu."
" Yasudah, cepat kau masuk. Sebentar lagi kita akan terbang." suruh Wiliam.
Pelan tapi pasti, Keyza melangkahkan kakinya memasuki jet itu. Setelah di pastikan semua sudah masuk, jet itu pun lepas landas.
Di tengah perjalanan, Keyza merasa kedinginan. Berulang kali ia menggesekkan kedua telapak tangannya untuk di tempelkan pada lehernya.Ia juga semakin mengeratkan pegangannya pada jaket miliknya. Wiliam yang melihat itu, menggeser duduknya agar lebih mepet ke arah Keyza.lalu memeluk tubuhnya yang mungil, membiarkan pundaknya menjadi sandaran.
" Tidurlah, kau pasti mengantuk." suruh Wiliam sembari mengeratkan pelukannya, guna memberikan sensasi hangat.
" Hmm, " sahut keyza patuh, karena menurutnya perjalanan ini masih sangat lama.
__ADS_1
Bersambung.....