Perfect Mom

Perfect Mom
DI TABRAK


__ADS_3

Malam harinya pukul 21.00 malam, Wiliam dan Keyza baru tiba di kota Berlin. Mereka pun sekarang melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat penginapan sementara. Mobil BMW milik Wiliam pun melesat cepat melewati jalanan kota yang cukup ramai pengendara. Sedangkan sang istri sibuk melihat-lihat pemandangan kota Berlin yang sangat indah.


Sedangkan di sisi lain, Stevi mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dan ugal-ugalan. Stevi tidak mempedulikan umpatan dan makian para pengendara lain yang ditujukan untuknya. Sekarang yang ada di pikiran Stevi adalah kabur dari kota Berlin. Dirinya tidak mau di tangkap dan berujung di penjara, karena sudah terpergok telah melakukan aksi pembunuhan terhadap pelanggannya di klub.


Ya, tadi saat Stevi sedang memutilasi partner ranjangnya, tiba tiba seseorang datang memergokinya dan langsung menelepon pihak polisi. Sontak saja Stevi terkejut, dan langsung berlari keluar dari klub untuk kabur.


Karena sedang panik dan buru-buru, Stevi tidak melihat jika di depan sana terdapat tikungan. Ditambah jalanan kota malam hari yang nampak remang-remang, membuat ia gagal fokus dan hilang kendali. Stevi pun tak urung menurunkan kecepatan mobilnya.


" ARRRKHHHH! " jerit Stevi saat mendapati mobil di depan yang tiba-tiba lewat.


BRAKKK


Keyza dan Wiliam tersentak kaget, saat tiba-tiba mobil mereka di tabrak dari depan.


Huh...huh, nafas keduanya tidak beraturan.


" Kau tak apa? " tanya Wiliam masih memegangi kepala Keyza. Sedangkan Keyza menggeleng, ia masih menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Melihat itu Wiliam bernafas lega, syukurlah.


Wiliam pun kini beralih menatap sang supir yang sedang memegangi kepalanya.


" Bapak tidak apa? "


" Saya tidak apa tuan, hanya luka kecil." beritahu sang supir.


" Syukurlah jika begitu, " ucap Wiliam.


" Yasudah sekarang kita turun. Aku tidak sabar melihat rupa si ceroboh itu. Apa dia tidak bisa menyetir mobil, hah! " marah Wiliam menggebu-gebu.


" Sabar Mas, mungkin dia sedang tidak fokus." ucap Keyza mengelus lengan Wiliam guna menenangkannya.


SKIP


Tok...tok..tok.


Pintu kaca mobil itu pun di ketuk Wiliam dengan tak sabaran. Stevi yang masih di dalam mobil buru-buru memakai masker dan kacamatanya. Ia hanya tidak ingin seseorang mengenalinya, sebab sekarang statusnya adalah buronan. Dengan takut-takut, Stevi pun membuka kaca mobilnya.


" S-sorry, saya tidak sengaja tuan." ucap Stevi menunduk tidak mau menatap ke arah Wiliam. Sedangkan Wiliam yang melihat wanita di depannya mendengus kesal, ia paling tidak suka jika ada seseorang yang sedang berbicara dengannya tapi menunduk.


" Kau pikir dengan kata maaf semua akan selesai? Dan ya, jika sedang berbicara jangan menunduk." cibir Wiliam menatap wanita yang tak dikenalnya sinis.

__ADS_1


Stevi pun mendongakkan kepala keatas untuk menatap Wiliam. Sejenak Stevi tertenggun, namun saat tersadar akan situasi, Stevi kembali menormalkan dirinya.


" Apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya tuan? "


" Kau tidak perlu melakukan apa-apa, saya hanya ingin melihat rupa mu. Sekarang kau buka masker dan kacamatamu, cepat! " titah Wiliam memaksa, sebenarnya ia hanya penasaran dengan sosok wanita yang telah menabraknya tadi. Sekaligus, ia akan sedikit memberi pelajaran padanya.


Stevi pun buru-buru menggeleng cepat, ia takut jati dirinya di ketahui orang.


Ukhuk Ukhuk


" Maaf tuan, tapi saya sedang batuk parah. Saya tidak mau anda tertukar virus." ucap Stevi berakting bagai orang sakit.


" Apa susahnya kau membuk_____"


" Mas ayo! Jangan membuang waktumu, ini sudah malam! " teriak Keyza dari kaca mobilnya. Mendengar teriakan sang istri, membuat Wiliam menghela nafas kasar dan terpaksa mengurungkan niatnya. Kemudian ia menatap sejenak ke arah Stevi.


" Oke, kau selamat."


Setelah mengatakan itu, Wiliam meninggalkan Stevi yang sudah bernafas lega.


" Pak jalan! " titah Wiliam yang sudah masuk ke dalam mobil.


" Siap tuan, " ucap sang supir mulai menjalankan kembali mobilnya. Ya, mobil Wiliam tidak rusak parah, hanya lecet di bagian depan. Sehingga masih bisa di gunakan.


SKIP


Dan saat ini mereka berdua sudah sampai di depan hotel bintang lima. Tanpa memikirkan Brilian, Edgar langsung masuk duluan. Melihat itu, Brilian melototkan matanya kesal.


" Edgar tungguin! " teriak Brilian berlari mengejar Edgar dengan menenteng kopernya.


Hosh..hosh, nafas Brilian memburu saat berhasil mengimbangi langkah kaki Edgar.


" Edgar kamu tuli ya? Aku tadi sudah bilang tungguin, tapi kamu malah jalan terus." kesal Brilian.


Edgar yang tadinya menatap lurus ke depan, sekarang berganti menatap Brilian yang sudah ada di sampingnya.


" Kurang kerjaan, " ucapnya cuek.


" Yang ajak aku kesini siapa? " tanya Brilian merasa dongkol.

__ADS_1


" Saya, memangnya kenapa? " sahut Edgar spontan.


" Yaudah itu kamu tahu, jadi sekarang kamu harus tanggung jawab dong. Bawain nih koper! " suruh Brilian menyerahkan koper miliknya pada Edgar.


" Kau tak lihat, aku juga sedang membawa koper, hah? "


" Ishh, lagian 'kan bisa di tangan kiri. Pliss ya Edgar, ini koper berat banget, seberat dosa kamu." ujar Brilian greget.Tanpa memedulikan protesan dari Edgar, Brilian langsung berjalan meninggalkan Edgar yang terpaksa membawa dua koper sekaligus.


SKIP


Sesampainya di depan meja resepsionis, Edgar langsung menanyakan kamar yang sudah di pesan olehnya.


" Mbak, kamar atas nama Edgar Mattheow di mana ya? " tanyanya pada salah satu staf hotel.


" Sebentar, akan saya check." ucap staf hotel wanita berusia sekitar 25 tahun itu, mulai melihat data para pengunjung.


" Kamar bapak ada di nomor 201. Mari saya antar, " beritahu nya setelah selesai mengecek data para pengunjung. Sedangkan Edgar mengernyitkan dahi bingung, bukankah dirinya memesan dua kamar, lalu mengapa hanya satu kamar yang di beritahu nya? pikir Edgar bingung.


" Mbak, kenapa hanya satu? Bukannya saya memesan dua kamar? "


" Maaf Pak, kamarnya hanya tersisa satu, semuanya sudah penuh. " jawab staf hotel.


" Memangnya tidak ada lagi mbak? Saya janji akan membayar tiga kali lipat jika anda mau memberikan 1 kamar lagi." ucap Edgar sedikit memaksa. Bukan tanpa sebab ia begitu, pasalnya dia datang bersama Brilian.


Staf hotel itu pun menatap Edgar dan Brilian bergantian.


" Tidak bisa Pak, dan bukannya wanita di samping bapak itu istrinya. Mengapa tidak tidur sekamar saja? " usulnya.


Brilian yang tadinya fokus dengan ponsel, sekarang menatap Edgar dan staf hotel yang sedang berbincang.


" Ada masalah Gar? " bisik Brilian tepat di telinga Edgar.


" Hmm, " dehem Edgar malas.


" Yasudah, sekarang mbak tolong antarkan kami." putus Edgar terpaksa. Dirinya sudah sangat lelah, ingin cepat-cepat membaringkan tubuhnya di kasur empuk.


" Ayo pak ikuti saya." pandu staf hotel wanita itu berjalan lebih dulu.


Edgar pun menurut, ia berjalan di belakang mengikuti staf hotel itu. Sedangkan Brilian yang diacuhkan dan tidak tahu apa-apa, memilih mengikuti Edgar.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like+komen hehehe...


__ADS_2