
Sesampainya di rumah, Keyza langsung memakirkan motornya asal. Ia langsung berjalan menuju kamar suaminya.
CEKLEK
Pintu di buka Keyza, dapat dilihat Wiliam sekarang sedang terbaring lemah diatas kasur. Perlahan kaki jenjang Keyza pun berjalan mendekat kearahnya.
" Hey, bangun." ucap Keyza menepuk pelan pipi tirus sedikit berisi milik suaminya.
" Kau sudah pulang, dari mana? " tanya Wiliam penasaran.
" Aku dari luar, membeli bubur untukmu."
" Yasudah sekarang kau makan." Suruh Keyza sambil membantu Wiliam duduk.
" Suapin," Perintah manja Wiliam pada Keyza.
" Ck, kau ini sudah besar bukan bayi lagi. " Cibir Keyza kesal.
Wiliam pun mengerucutkan bibirnya lucu. " Kau tidak lihat aku masih sakit? Sebagai istri yang baik seharusnya kau mau menyuapi suamimu ini."
" Oke...oke...Bayi besar ku." Ucap Keyza menyuapkan buburnya ke mulut Wiliam. " Sedangkan Wiliam dengan riang dan gembira langsung menerima suapan itu sambil memerhatikan wajah cantik Keyza. Namun mata nya tak sengaja mendapati luka lebam di sudut bibirnya.
" Ini kenapa? " Tanya Wiliam menyentuh luka lebam itu yang tertutup make-up. Keyza pun menjadi gelagapan sendiri, ia bingung harus mencari alasan apa yang tepat.
" Tadi aku naik motor besar milik Kenzo, karena aku tidak pandai menaikinya aku terjatuh." bohongnya.
Wiliam yang mendengar itu hanya mengangguk paham. Sebenarnya dia sangat tau penyebab luka itu. Namun dirinya ingin mendengar langsung dari mulut istrinya. Dan sepertinya Keyza sedang membohonginya.
" Aku bersumpah! Siapapun orang yang sudah menyakiti istriku, dia kan menerima balasan yang setimpal." Batin Wiliam emosi. Bahkan tanpa sepengetahuan Keyza, dirinya sudah mengepalkan tangannya erat.
" Aku sudah kenyang, Kau boleh pergi." Usir
Wiliam dingin.
" Kau mengusirku? " heran Keyza dengan perubahan sikap Wiliam yang tiba-tiba
Wiliam yang tadinya mengalihkan pandangan dari Keyza, sekarang menatap lekat wajahnya. Lalu membuang nafas kasar untuk meredakan amarahnya.
" Tolong kau pergi, aku sedang tidak ingin di ganggu. " Ucap Wiliam tak terbantahkan.
" Baik, aku akan pergi. Jika kau butuh sesuatu, panggil saja aku."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Keyza membereskan piring bekas makan nya lalu berjalan keluar menutup pintu.
Kini tinggalah Wiliam sediri di kamar bernuansa putih itu. Tangan nya yang berotot kini menyambar handphone yang terletak di meja di sampingnya. Lalu dirinya menekan tombol panggil pada orang suruhannya.
" Hallo James." ucap Wiliam dengan suara bass nya.
" Iya tuan, Apakah anda sedang membutuhkan bantuan? " tanya James seolah sudah tau tujuan tuan nya menelepon.
" Saya mau kamu cari orang yang sudah mencelakai istri saya sampai dapat, lalu kamu bawa ke ruang bawah tanah. " suruh Wiliam tegas.
" Baik tuan,"
Panggilan pun kini diakhiri oleh keduanya. Memikirkan tentang Keyza, seperti nya Wiliam harus terus memantau Keyza lebih ketat. Ia tidak mau kejadian ini terulang lagi.
SKIP
Brilian sekarang sudah sampai di gedung bertingkat yang cukup besar dari kantor milik Wiliam. Ya, sebelum Brilian melakukan pemotretan, dirinya harus menemui CEO nya dahulu untuk seleksi.
Kini kaki Brilian yang terbalut high heels setinggi 15 cm berjalan memasuki kantor itu untuk bertemu sang CEO/ Pemilik perusahaan.
" Ruang CEO di mana ya? " tanya Brilian saat sampai di depan resepsionis.
Mendengar itu Brilian langsung melenggang pergi dan mengabaikan pertanyaan resepsionis. Sedangkan Resepsionis itu mendengus kesal, dan mengumpati Brilian.
Sesampainya di depan pintu yang tertera ruang CEO, Brilian langsung mengetuknya.
Tok Tok Tok
" Masuk, " sahut orang dari dalam. Brilian yang sudah mendapat ijin langsung masuk.
" Permisi, kedatangan saya kesini untuk mengikuti seleksi pemilihan model. Apakah bapak ada waktu? " tanya Brilian hati-hati dan se sopan mungkin.
Sedangkan seorang pria gagah yang sedari tadi membelakanginya, sekarang memutar kursi kebesaran nya 180° untuk menghadap ke arah Brilian.
" EDGAR!! " kaget Brilian memelototkan mata sempurna. Ia tidak menyangka ternyata CEO nya adalah orang yang selama ini ia hindari. Edgar juga sama kagetnya, tadi ia pikir yang datang adalah seorang wanita yang ingin melamar menjadi model di perusahaan nya. Namun tanpa ia duga, ternyata sosok itu adalah Brilian. Orang yang selalu mengganggu pikirannya belakangan ini.
Ya, semenjak kejadian berciuman di Angkot bersama Brilian, Edga tidak ingin bertemu Brilian lagi. Jujur saja dirinya masih sangat malu karena telah menyosor nya duluan. Edgar akui dirinya reflek. Entah mengapa bibir Brilian kala itu sangat menggodanya.
" Edgar, sekarang kamu panggilkan CEO nya kesini. Aku yakin kamu hanya karyawan disini bukan CEO kan? Ya iyalah bukan, mana mungkin CEO nya kamu ya kan? " Ucap Brilian terkekeh garing dan hambar.
Karena suara cempreng wanita di depannya, lamunan Edgar seketika buyar. Edgar pun kini menatap ke arah Brilian, lalu menelisik penampilannya dari atas sampai bawah seolah menilai.
__ADS_1
" Heh Medusa! Kalau saya CEO nya disini memangnya kenapa? "
Mendengar fakta itu rasanya tubuh Brilian menjadi sangat lemas. Sial, mengapa harus Edgar sih CEO nya. Padahal dirinya sudah sangat tertarik dengan pekerjaan model di perusahaan ini. Pikir Brilian. Tersadar dengan pikirannya, Brilian kini berganti menatap Edgar.
" Yasudah, Aku nggak jadi ngelamar model disini." Ucap Brilian berbalik badan berjalan pergi
Melihat itu Edgar buru-buru mencegahnya. " Eh, mau kemana kamu? Katanya tadi ingin jadi model saya. " ucap Edgar yang sudah berhasil mencengkal tangannya.
" Ishh, lepas! Aku tadi kan sudah bilang kalau aku nggak jadi, kamu tuli ya? " kesal Brilian.
" Saya sudah terlanjur cocok denganmu medusa, jadi kamu harus tanggung jawab."
" Apa-apaan kamu, ya nggak bisa gitu dong! Orang aku nggak mau kok kamu maksa sih." sahut Brilian menolak.
" Saya tidak terima penolakan, pokoknya saya mau kamu, titik! " ucap Edgar tegas.
" Lepas nggak? Atau aku teriak nih? " ancam Brilian tidak main-main.
" Ya sudah teriak saja, " sahut Edgar santai. Sedangkan sekarang Brilian benar-benar berteriak.
" Siapa pun diluar tolong saya!!! Saya ingin di perkosa!! " teriak Brilian keras.
Mendengar itu Edgar melototkan mata tajam ke arah Brilian.
" Heh Medusa! Kamu denger ya, saya nggak mungkin nafsu memperkosa dirimu." ucap Edgar blak-blakan.
Brilian pun mengabaikan Edgar, dirinya terus teriak-teriak tak jelas.
" Tolong!! Saya ingin di bunuh oleh orang gila ini!! "
" Percuma kamu teriak, ruangan saya kedap suara. Mereka tidak akan dengar." beritahu Edgar.
Brilian yang tadinya teriak langsung terdiam. Ia melototkan mata tajam ke arah Edgar.
" Lepas, lepas, lepas! " ucap Brilian sambil memukul-mukul lengan Edgar dan mendorong nya. Sedangkan Edgar masih diam tak bergerak di kursinya. Brilian pun semakin gencar mendorong Edgar keras. Karena merasa dorongan Brilian semakin kencang, Edgar pun melepaskan cekalan nya. Brilian yang terkejut langsung terhuyung ke depan dan jatuh di pelukan Edgar. Bahkan bukan itu saja, muka mereka berdua sudah sangat menempel.
Jadi posisi nya Edgar masih duduk di kursi kebesaran nya dengan Brilian berada diatas tubuhnya sedang memeluk dirinya.
Bersambung....
Jangan lupa like+komen
__ADS_1