Perfect Mom

Perfect Mom
MALU


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang gelap dan minim pencahayaan. Seorang pemuda duduk dengan kaki di silangkan serta dua jemari telunjuk dan tengah yang digunakan untuk mengampit rokok. Matanya yang berwarna hitam agak kecoklatan, menatap tajam dan penuh kebencian kearah sebuah bingkai foto milik keluarga Alexander.


Tiba-tiba saja rahangnya mengeras, saat menatap sosok pemuda yang ada di gambar. Hasrat balas dendamnya pun semakin meningkat. Tangannya membuang putung rokok yang masih tersisa setengah, lalu ia membuka laci meja miliknya yang hanya berisi benda-benda tajam. Dikeluarkannya sebuah pisau lipat yang masih baru, dan tentunya masih sangat tajam.


" SIALAN! MATI KAU! " ucapnya menggores-gores brutal foto itu hingga tak terbentuk. Setelah merasa puas, ia baru menyudahi aksinya.


" Wiliam, kau adalah pria paling brengsek! Tunggu saja pembalasanku." sosok misterius itu pun menyeringai, bak seorang pesikopat.


FLASHBACK


" Wiliam, aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau menjadi kekasihku." seorang gadis berjongkok di keramaian orang sambil menyodorkan setangkai bunga mawar ke hadapan sang pujaan hatinya. Namun pria itu hanya diam, menatap gadis di depannya dengan raut datar dan tanpa ekspresi.


Keberanian gadis itu pun banyak mengundang tawa para mahasiswa kampus. Pasalnya dia merupakan gadis cupu yang sering di jadikan bahan bully-an. Berbeda dengan Wiliam yang menjadi kebanggaan di kampusnya, serta fansnya yang bejibun.


" Terima! Terima! Terima! " sorakan mendukung dari mahasiswa kampus, menggema di lapangan itu. Mereka pun sudah siap-siap menyalakan kameranya masing-masing.


Di seberang sana, Wiliam merasa sangat tidak nyaman karena menjadi tonton gratis para mahasiswa di kampusnya.


" Maaf, saya tidak bisa menerimamu. Saya sudah memiliki wanita yang saya cintai. Lebih baik kau cari pria lain yang bisa menerimamu." tolak halus Wiliam. Ya, pada saat itu hatinya masih milik Brilian.


" Huhuuuu..." sorakan mengejek di tujukan untuk Nara.


" Dasar cupu! " ejek gadis dengan rambut bercat ungu sambil melemparinya dengan kertas.


" Sampah tetaplah sampah, " timpal temannya ikut-ikutan melempari Nara dengan botol.


" Hahahahaa." tawa mahasiswa itu pecah, mereka pun dengan semangat melempari Nara dengan batu-batu kecil atau kerikil.


Di seberang sana Nara sudah ingin menangis, ia sangat-sangat malu. Bahkan ia sudah menutupi wajahnya dengan buku.


" SEMUANYA STOP! " bentak Nara saat merasa sakit di sekujur tubuhnya.


" Woy cupu! Pergi sana, dan jangan pernah menginjakkan kaki di kampus ini lagi." salah satu dari mereka mengusir Nara.


Tanpa sepatah kata, Nara langsung berlari tak tentu arah menjauhi kerumunan itu. Hingga....


BRAKKK


Tubuhnya terpental jauh, saat sebuah truk besar tiba-tiba lewat, bertepatan dengan dirinya yang akan menyebrang.


" NARAAAA!!! "


Mengingat kejadian itu, emosi Valdes sudah tak terkontrol.


Bagh Bugh Bagh Bugh!


Valdes meninju keras tembok yang ada di sampingnya berulang-kali. Bahkan tangannya sekarang sudah sangat lecet dan memar. Namun ia tak mempedulikannya.

__ADS_1


Huh huh huh, nafasnya pun kian memburu. Tubuhnya kini sudah banjir keringat. Merasa lengket dan gerah, Valdes melepas bajunya dan melemparkannya asal. Dirinya kini sudah bertelanjang dada memamerkan perut sixpack nya. Mungkin jika para wanita di luaran sana melihatnya akan berteriak histeris.


" Jon! " panggil Valdes keras pada bawahannya. Jona yang asik menghisap putung rokok menghentikan acaranya, lalu berjalan ke arah bos besarnya itu.


" Ada apa tuan memanggil saya? " tanyanya setelah sampai di depan Valdes.


" Apa kau sudah menemukan informasi tentang keluarga Alexander? " Valdes menatap penuh harap pada Jona.


" Sudah tuan, apa perlu saya bawakan kesini berkasnya? " tanya polos Jona.


" Tentu saja Jona, kau itu bodoh atau bagaimana? " heran Valdes atas pertanyaan tak bermutu Jona.


" Sekarang tuan? " tanya Jona yang lagi-lagi memancing emosi Valdes.


" Nanti Jona, saat nyawamu sudah melayang." ucap Valdes geram sendiri pada Jona.


" Yasudah, baik tuan. Kalau begitu saya pamit undur diri." ucap Jona sudah berjalan satu langkah. Melihat itu, Valdes buru- buru menghentikan nya.


" Jonaaaaa...! cepat kau ambilkan berkas itu sekarang atau kepalamu ku tebas, hah! " ancam Valdes. Sedangkan Jona yang mendengar itu langsung berlari terbirit-birit segera mengambil berkas itu.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


" Lio, jangan-jangan lari-lari! " peringat Arisa pada ponakan satunya. Saat ini mereka berdua sedang berada di supermarket. Sedangkan Lio tak mempedulikan teriakan tantenya, ia terus berlari hingga....


BRUK!


" Huhuhuuuu.....ini sangat sakit Tante." rintih Lio memegangi lututnya yang berdarah.


" Makanya jangan bandel Lio, jadi begini kan? " omel Risa sambil mengelap lukanya dengan tisu. Sedangkan Ibu tadi yang di tabrak merasa tak enak.


" Aduh, maaf ya nak. Lain kali hati-hati. " ucapnya merasa bersalah.


" Ibu tidak salah, yang salah ponakan saya. Tolong di maafkan ya Bu." sahut Arisa saat melihat ibu itu yang ketakutan.


" Iya tidak apa mbak. Yasudah saya lanjut belanja ya mbak." ucap ibu itu lalu pergi mendorong trolly belanjanya.


Selesai memasangkan hansaplast di luka kecilnya. Arisa bangkit berdiri dan menggandeng tangan mungil Lio.


" Ayo! " ajaknya.


" Ayo Tante." sahut Axelio yang sudah siap menuju stand makanan.


" Ingat ya Lio, kamu harus tetap di belakang Tante, oke? " ucap Arisa memberi arahan.


" Iya Tante."


Mereka berdua kini pun berjalan beriringan mengelilingi supermarket yang cukup besar itu. Mata Arisa tiba-tiba menangkap benda yang sedari tadi ia cari. Tanpa sadar, ia melepas gandengan nya pada tangan Lio, lalu berjalan ke rak tempat penyimpanan benda sakral bagi para wanita.

__ADS_1


" Ayo semangat Risa...sedikit lagi. " gumamnya sambil berjinjit-jinjit untuk mengambil pembalut yang ada diatasnya. Karena letaknya cukup tinggi, membuat Arisa kesusahan mengambilnya. Namun karena ia yang terlalu memaksakan, membuat kakinya keseleo dan....


BRUK


Ia terjatuh, namun anehnya ia tidak merasakan apa-apa. Arisa yang tadinya menutup matanya, kini memberanikan diri untuk mendongak keatas. Dan yap, matanya langsung di suguhi wajah tampan milik pria jangkung yang sedang memeluknya.


" Kau tak apa? " tanya pria itu membuka suara baritonnya. Arisa yang masih linglung, menjadi gelagapan.


" H-hah? a-aku tak apa. " ucapnya gagap.


Mendengar itu, Kenzo langsung melepaskan pelukannya pada pinggang Arisa.


" Terimakasih, " ucap Arisa saat ia sudah bangkit berdiri.


" Hmm, " dehem Kenzo mengiyakan. Mereka berdua pun kini terdiam canggung, hingga Kenzo memulai percakapan.


" Kau tadi ingin mengambil apa? " tanya Kenzo penasaran.


" Ah, lupakan saja. Itu tidak penting." jawab Arisa.


" Apa kau ingin mengambil benda ini? " ujar Kenzo menyodorkan pembalut yang baru saja ia ambil ke depan Risa. Oh tidak, saat ini Arisa sungguh sangat malu, bahkan wajahnya kini sudah bersemu merah.


" Tolong siapapun bawa aku pergi dari tempat laknat ini." batin Arisa meronta-ronta.


" Kenapa diam? Kau tak ingin mengambilnya? " heran Kenzo menatap bingung pada gadis di depannya. Ia sangat tahu betul, jika gadis ini sedang membutuhkan sebuah pembalut. Mungkin malu, batin Kenzo.


" Eh iya, aku akan mengambilnya." Dengan yakin, Arisa mulai mengambil pembalut yang masih di tangan Kenzo.


" Kau kesini dengan siapa? " tanya Kenzo basa-basi.


" Aku bersama ponakanku, kak." jawab Arisa.


Mendengar itu Kenzo mengernyitkan dahi bingung, pasalnya ia tak mendapati seseorang di sampingnya.


" Kemana dia sekarang? Kenapa saya tak melihatnya? "


Pertanyaan itu sontak saja membuat Arisa menatap sekelilingnya, ia mencari-cari keberadaan Lio. Namun batang hitungnya tak kelihatan,


membuat Arisa panik bukan main.


" Astaga Lio!! " teriak Arisa langsung berlari meninggalkan Kenzo sendirian.


" Eh, tunggu! " teriak Kenzo berusaha mencegah Arisa yang sudah berlari menjauh. Arisa yang sebenarnya masih mendengar teriakan Kenzo, mengabaikannya.


" Sial, padahal aku ingin meminta nomor ponselnya." umpat Kenzo saat melihat tubuh gadis pujaannya sudah menghilang.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak..🙏


__ADS_2