Perfect Mom

Perfect Mom
Episode 32


__ADS_3

" IBUUU! " teriak Axelio yang baru bangun tidur langsung memeluknya. Keyza yang sedang memasak bersama Devi pun berjalan menggendongnya. Lalu mendudukan nya di kursi yang tersedia.


" Kenapa, hem? " tanya Keyza gemas mencubit pipi squishy milik sang anak yang sudah beada di pangkuannya.


" Bu, hari ini aku libur. Bolehkah aku meminta Ibu untuk menemaniku pergi liburan." cicitnya sambil memainkan kedua telunjuknya.


" Tentu saja, memangnya Axelio ingin pergi kemana? "


" Axelio ingin mengunjungi kebun binatang Bu, sudah lama sekali Lio tidak berkunjung ke sana." ucapnya sendu. Ya, dulu setiap Axelio ingin mengajak sang Ibu, dia tidak pernah mau. Jika Axelio akan ke sana, pasti selalu bersama pengasuhnya.


" Yasudah, Axelio mandi sekarang." suruh Keyza lembut.


" Baiklah, tapi Ibu yang memandikan ku." ucapnya patuh.


" Oke, tunggu sebentar. " ucap Keyza menurunkan Axelio dari pangkuannya. Lalu menghampiri Devi.


" Bu, maaf Keyza tidak bisa membantu Ibu memasak sampai selesai. Keyza harus memandikan Lio dulu."


Mendengar itu, Devi tersenyum maklum. " Yasudah tidak apa, mama bisa sendiri." sahut Devi lembut.


SKIP


Sekarang Keyza sudah berada di kamar mandi bersama Axelio. Dirinya lalu mengatur suhu air itu menjadi hangat agar Axelio tidak kedinginan. Karena udara pagi ini sangat dingin, ia takut anaknya masuk angin. Setelahnya ia menyalakan shower itu.


" Axelio, sini nak." suruh Keyza pada putranya yang sudah tidak memakai baju. Axelio pun dengan patuh menghampiri sang Ibu.


Byurrr


Dibawah percikan air shower, Keyza menggosok tubuh anaknya dengan lembut, ia juga tak lupa memakaikan sabun dan shampo padanya. Sedangkan Axelio sangat senang, ia terus memainkan busa-busa sabun itu, yang membuat Keyza seketika jengah.


" Axelio sudah, sekarang kau letakan botol sabun itu pada tempatnya. Lalu pakailah pakaianmu."


Mendengar itu, Axelio mengerucutkan bibirnya lucu. Dengan tak rela, ia menyudahi acara mainnya dan meletakkan botol sabun itu kembali. Keyza pun langsung menyambar handuk dan membopong tubuh ringan sang anak.


SKIP


Wiliam yang sudah rapih dengan setelan jas kantornya pun mengerutkan dahi bingung. Sedari tadi ia tak melihat istri ataupun sang anak.


" Yah, apa kau melihat istriku? " tanyanya pada Bagas yang juga sudah rapih dengan setelan jasnya sedang duduk di sofa.


" Aduh Wil, kau itu posesif sekali. Ayah yakin istrimu tidak akan kemana-mana. Tenanglah, palingan juga dia di dapur. " ucap Bagas yang melihat mantunya seperti reog. Mendengar perkataan sang Ayah, membuat Wiliam malu sendiri. Bagas yang paham, langsung menyuruh Wiliam untuk duduk di sampingnya


" Sini Wil duduk, minum kopi dulu." ucap Bagas menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


" Ah, terimakasih Yah." ucap Wiliam berjalan ke arah sang mertua.


" Bagaimana dengan hubunganmu? Apa kau sudah mencintai anakku? Ayah harap begitu, Ayah kasihan melihat Keyza yang dulu terus mengejar mu." ujar Bagas sambil menyeruput kopinya.


" Ekhem, untuk sekarang saya masih tidak tau Ayah. Tapi untuk rasa suka, sepertinya saya sudah menyukai Keyza." jawab jujur Wiliam. Bagas yang mendengar nya tersenyum maklum, dan menepuk punggung Wiliam.


" Saya sangat berterimakasih untuk itu Wil, kau sudah menyukai Keyza saja saya sudah sangat bersyukur. Sebab, kesalahan Keyza di masa lalu memang sudah sangat fatal." ujar Bagas.


Wiliam yang mendengar perkataan sang Ayah merasa tak suka.


" Lupakan yang sudah berlalu, saya yakin bisa mencintai Keyza. Lagian Keyza sudah berubah, ia tidak seburuk dahulu." ucap Wiliam.


" Hmm, kau benar Wil. Ayah juga merasa begitu. Menurut mu ada yang aneh tidak sih. Pasalnya Keyza berubah secara mendadak, Ayah merasa sifat Keyza sekarang sangat berbanding terbalik dengan yang dulu. " ujar Bagas yang merasa ganjal dengan Keyza.


" Wiliam juga sempat bingung Yah, Wiliam pikir awalnya dia sedang berdrama. Namun melihat dia yang bersikap natural. Sepertinya dia murni sudah berubah. " sahut Wiliam.


Tanpa mereka sadari, Keyza mendengar percakapan keduanya dari atas tangga.

__ADS_1


" Apa mereka mencurigaiku? Sepertinya dalam waktu dekat ini aku harus jujur pada mereka semua, aku tidak mungkin bermain rahasia-rahasian seperti ini." batin Keyza.


Setelah itu dia berjalan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah dua puluh menit, Keyza pun sudah selesai dengan ritualnya. Ia lalu segera memakai dress berwarna piece. Setelah nya pergi ke kamar Axelio.


Tap Tap Tap


Bunyi langkah kaki keduanya menuruni tangga untuk menuju meja makan. Semua orang yang ada di meja makan, memfokuskan pandanganya pada mereka berdua yang terlihat serasi. Tanpa sadar Wiliam melengkungkan senyum tipisnya.


" Pagi, semuanya! " sapa Keyza.


" Pagi, " jawab mereka kompak.


Keyza dan Axelio pun langsung mendudukan dirinya di kursi samping Wiliam.


" Yasudah, kita mulai makan." ucap Bagas tegas.


SKIP


Setelah tadi semuanya sudah berangkat ke kantor. Sekarang Keyza dan Axelio juga bersiap-siap untuk segera pergi ke kebun binatang.


" Pak tolong antar kami ke kebun binatang." suruh Keyza pada supir pribadi yang sedang menganggur.


" Baik non." ucap supir itu berjalan mengambil mobil di garasi.


BRAK


Keyza menutup pintu mobilnya. " Ayo pak jalan." perintahnya. Mobil kini melesat menuju tempat tujuan.


❄️❄️❄️❄️


Sesampainya di kebun binatang, Keyza dan Lio turun dari mobil dengan bergandengan. Banyak pasang mata yang menatap kagum pada sosok keduanya. Keyza yang sebenarnya risih, menutup kacamatanya yang masih bertengger di kepala. Dia juga memakai topi agar tidak terlalu menonjol dan menjadi pusat perhatian.


" Bu, aku ingin ke tempat jerapah." pinta Axelio menggandeng tangan Keyza untuk ikut dengan nya.


" Woah, Axelio ingin memberi makan jerapah itu. " pekiknya menunjuk jerapah itu.


" Yasudah berilah, " suruh Keyza. Setelah mendapat persetujuan Keyza, Axelio langsung mengambil rumput dan mendekatkannya pada hewan itu.


SKIP


Sekarang Wiliam sudah sampai di depan ruang bawah tanah, yang merupakan tempat penyiksaan khusus para pendosa. Ya, tadi Wiliam tidak kekantor, melainkan dirinya pergi ke sini. Ia hanya tak ingin rencananya gagal seperti semalam, itulah sebabnya Wiliam beralasan ke kantor.


Kini kaki Wiliam yang terbalut sepatu pantofel berjalan masuk ke dalam. Bau anyir darah dapat diciumnya di sepanjang jalan. Tulang-tulang manusia juga berserakan di lantai yang terlihat kotor itu.


Sampainya di depan pintu, Wiliam bisa mendengar suara jeritan dan rintihan kesakitan dari orang-orang yang sedang di siksa bawahan nya.


" Arrrkhhhh!!! A-ampun m-maafkan saya. "


" Shhhtttt Arrrkhhhh.....s-sakit."


Mendengar itu Wiliam tersenyum puas. Ia sangat suka mendengar jeritan histeris para pendosa itu. Bahkan tangannya sekarang sudah sangat gatal, ingin bermain- main dengan mereka.


BRAKKK


Dengan sekali tendangan, pintu berhasil lepas dari engselnya. Seluruh orang yang ada di dalam, sontak saja menatap ke arah Wiliam.


" T-tuan, ada apa anda kemari? " tanya salah satu bawahan memberanikan diri.


" Saya hanya ingin bermain," sahutnya.


" Silahkan tuan." ucap mereka kompak menunduk hormat.

__ADS_1


" Dimana orang yang sudah mencelakai istriku?" tanya Wiliam menghunus tajam pada para bawahannya.


" Ada di situ tuan, " tunjuk nya pada jeruji besi tepat di sampingnya. Mata Wiliam pun mengikuti arah pandang telunjuknya, lalu setelah itu menyeringai. Kakinya pun berjalan mendekati mereka.


" Ekhem, apa kalian sudah puas beristirahat? " ucap Wiliam setelah sampai di depan mereka. Sedangkan mereka semua masih linglung, tidak tau tujuan pria di depan membawanya kemari.


" M-maaf tuan, sebenarnya apa maksud anda membawa kami kemari? " tanya salah satu dari mereka sedikit takut.


" Iya benar tuan, kami merasa kami tidak membuat masalah dengan anda." ujar preman-preman itu.


Mendengar itu, Wiliam mengepalkan tangannya erat-erat. Lalu menatap mereka dengan tatapan mematikan, seolah ingin mencabik-cabik dagingnya.


" Kalian tidak tau kesalahan kalian rupanya heh? Apa perlu aku harus memberi tau kalian, " ujar Wiliam melayangkan tatapan bengisnya. Jari-jemari nya bergerak mencengkram dagu sang ketua dari kelompotan preman tersebut.


" Saya akan bertanya padamu, apa saja yang sudah kau lakukan pada wanita itu? "


Sang ketua yang ditanya kebingung, wanita mana yang dimaksudnya. Tiba-tiba saja terlintas bayangan wanita yang kemaren ia keroyok. Mungkin dia. Pikirnya.


" S-saya hanya memukulnya saja tuan, tolong lepaskan saya." mohon nya.


" Apa kau bilang, hanya? Sepertinya saya harus memberikan apresiasi untukmu. Tunggu sebentar, " ujar Wiliam lalu berjalan mengambil belati dan kapaknya. Ketua preman yang melihatnya ketar-ketir sendiri.


" Apa yang ingin kau lakukan tuan, " ucapnya sangat takut.


" Tentu saja memberimu apresiasi, sekarang kau lihat dan rasakan." ucap Wiliam tenang. Karena tangannya sudah gatal, ia menggores pipi milik sang preman itu perlahan.


" Akhhh! A-ampun tuan, " rintih nya yang tak di pedulikan Wiliam. Puas dengan pipi, Wiliam lanjut menusuk dalam perutnya, lalu ia mengoyak-oyaknya seperti adonan.


" ARRRKHHHH! Sakittttt..." jeritnya histeris, melihat ususnya yang keluar. Ia langsung tidak sadarkan diri dengan mulut terbuka.


Sekarang Wiliam berganti menatap anak buahnya yang sedang gemeteran.


" Cepat katakan! Siapa yang menyuruh kalian, " tekan Wiliam.


Semua preman diam, tidak ada yang mau menjawabnya. Seketika membuat Wiliam geram.


" Sepertinya kalian lebih memilih mati, dibandingkan membuka mulut." ujar Wiliam langsung mengambil kapaknya, lalu dengan sadis ia menebas kepalanya satu persatu. Bunyi percikan darah terdengar nyaring di ruangan itu.


" Kini tinggal kau sendiri, pertimbangkan nyawamu." saran Wiliam menatap preman itu sinis.


" S-saya mohon tuan, lepaskan saya. Saya sungguh menyesal tuan." ucapnya memohon-mohon.


" Saya tidak butuh permohonan mu, tetapi jawabanmu. " sarkas Wiliam.


" Baik saya akan jujur, s-sebenarnya kami di suruh oleh nona B-bri____"


Drettttt Drettttt


" ****! " umpat Wiliam saat ponselnya berdering.


" Hallo Mark, ada apa? " tanya Wiliam dingin.


" A-anu tuan, ada klien penting yang ingin bertemu anda." beritahu Mark dari seberang sana.


" Kamu urus saja, saya masih ada urusan." tolak Wiliam.


" Tidak bisa tuan, ini sangat penting. Anda harus segera kesini. Jika tidak, ia akan membatalkan kerjasamanya dengan anda. Dan bukan hanya itu saja tuan, tapi banyak berkas____"


" Oke, saya akan ke sana." putus Wiliam akhirnya.


" Tolong kamu urus dia. Jangan biarkan dia menghirup udara lebih lama." ucap Wiliam pada bawahnya. Kemudian melenggang pergi.

__ADS_1


Bersambung....


jangan lupa like🥰


__ADS_2