
jangan lupa sebelum baca budayakan like, vote, komentar, saran dan kritikan akan membatu author untuk memperbaiki tulisan author agar lebih baik..
terima kasih dan selamat membaca.
-------------------------------------------------------
" nunggu apa lagi? cepat keluar dari sini!" fira.
" kenapa apa aku tidak boleh di sini?" ardika.
" ya tidak boleh, cepat keluar" ucap fira. hanya senyuman menggoda yang yang terukir di sudut bibir ardika dengan tangan menyisikan anak rambut fira ke belakang telinga fira.
" apa yang kau lakukan" ucap fira dengan menyibakan tangan ardika. namun ardika malah mendekatkan wajahnya ke wajah fira.
" kamu terlihat cantik dan menggoda sayang" bisikan ardika di telinga fira dengan di sertai gigitan kecil di telinga. terasa hembusan napas yang panas di sekitar pundak fira. sebelum ardika bertindak lebih jauh fira menjauhkan ardika dengan mendorong dada bidang ardika.
" kenapa? kamu tidak mau di sentuh oleh ku?" tanya ardika yang tidak menerima perlakuan fira yang mendorongnya.
" yah aku sudah tidak sudi di sentuh lagi oleh mu. cepatlah pergi dari sini, kalau tidak aku yang akan pergi dari sini" namun sebelum fira melangkah kan kakinya ardik terlebih dahulu menarik fira sehingga fira terduduk di atas pangkuan ardika.
" mau ke mana sayang? bukan kah kamu harus bertanggung jawab karena telah membangunkan adik kecil ku" kini bibir ardika sudah berada bi area leher jengjang fira dengan kecupan kecupan lembut.
" aku tidak menyuruh mu masuk kesini, dan tidak menyuruh mu untuk melihat ku dengan keadaan seperti ini, jadi kenapa aku harus bertanggung jawab?" fira berusaha melepaskan diri dari ardika namun ardika memeluk nya dengan kuat sehingga usaha fira sia sia. kini bibir ardika berada tepat di atas bibir mungil fira dengan rakusnya ardika mencium, menghisap dan menggigit kecil agar mulut fira terbuka namun usaha itu gagal, dengan kencang fira menggigit bibir arrdika sehingga berdarah. " aowhhh" terdengar rintihan ardika secara repleks ardika melepaskan pelukannya terhadap fira, ardika langsung memegang bibirnya dan ternyata di tangannya terdapat darah segar yang keluar dari bibir yang di gigit fira . merasa ini kesempatan yang bagus akhirnya fira bisa terlepas dari ardika, dengan cepat fira membersihkan dirinya dengan air shower. fira terbirit birit keluar hanya menggunakan handuk sebatas lutut.
kini fira berada di deretan lemari miliknya terasa sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang.
" ternyata istri ku sekarang tidak jinak lagi rupanya" ucap ardika dengan suara lirih
"jinak? kamu pikir aku ini apa, setelah kamu bilang kalau aku jalang, sekarang apa lagi?" ucap fira dengan ketusnya.
" aku tidak bilang begitu sayang" ucap ardika mengelak.
__ADS_1
" tidak bilang? sudah lah aku malas bicara dengan mu"
" lepaskan tangan mu dari tubuh ku, bukankah kau jijik terhadap ku karena aku kotor" sambung fira dengan suara nada tinggi.
" berhentilah bicara seperti itu" ardika
"kenapa bukankah kau yang bilang begitu? cepat lapaskan". bukannya melepaskan ardika malah membalikan tubuh fira sehingga mereka berhadapan. ardika memegang dagu fira dan langsung mencium bibir fira dengan rakus dan kasarnya. tanpa memperdulikan rontaan fira. karena tidak tahan dengan perlakuan arrdika yang semakin kasar akhirnya fira menampar ardika.
" kau berani menampar ku" kata ardika dengan tatapan tajamnya.
" kau pikir aku tidak berani?" fira
" bukan kah aku suami mu, sudah sewajarnya kau melayani kutapi kau malah menamaor ku. di lihat dari perlakuan mu yang menolak ku separtinya kau memang lebih suka menjadi jalang dan melayani selingkuhan mu itu" kata ardika sambil mencengkram tangan fira dengan penuh emosi.
" yah, setidak nya dia selalu ada di saat aku membutuhkan nya, dia juga tidak pernah meninggalkan ku, bahkan dialah yang telah merawat ku dan menyiapkan semua keperluan ku selama aku di rawat di rumah sakit, walau pun dia membuat kesalahan besar tapi dia masih bisa bersikap baik" kata fira membuat ardika tak berkutik pasalnya ardika memang selalu meninggalkan fira sendirian bahkan ardika sama sekali tidak tau kalau fira sempat di rawat di rumah sakit.
" maaf kan aku sayang" ucap lirih ardika.
malam pun tiba kini fira dan ardika sudah berada di ruang makan dengan di susul oleh felisaha.
" bi inah" ucap fira dengan wajah datar.
"masakan nya tidak seenak masakan kamu sayang" ucap ardika, namun tidak di hiraukan oleh fira.
" kenapa bukan kamu yang masak" tanya ardika, karena selama ini fira lah yang selalu masak sedangkan maid hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang lain.
" buat apa capek cape masak lagian kamu jarang pulang dan jarang makan di rumah" ucap fira tanpa memandang ardika, ardika hanya menatap dalam fira seakan akan ada sesuatu yang berbeda pada diri fira tapi entah apa.
makan malam pun selesai. fira langsung pergi ke dalam kamarnya tanpa berkata apa apa dan ardika sudah berada di ruang kerjanya.
tok tok tok
__ADS_1
terdengar suara ketukan pintu.
" masuklah !" perintah ardika.
" ini aku buatkan kamu kopi panas" ucap felisa serya menyodorkan segelas kopi pada ardika. namun ardika tidak mengubris felisha matanya hanya tertuju pada leptopnya. merasa tidak di hiraukan felisha mendekatkan dirinya pada ardika bahkan tanpa segan felisha duduk di atas pangkuan felisha.
" kenapa kamu duduk di pangkuan ku? kamu tidak lihat aku sedang kerja?" ucap ardika.
" siapa suruh mengabaikan ku" ucap felisha dengan senyum menggoda dengan tangan mengelus ngelus dada bidang ardika. merasa terpancing ardika langsung melahap bibir felisha dengan begitu bergairahnya. ciuman yang saling bertukar selvina dan saling mengsisap seakan candu merek, begitu lama mereka berciuman namun belum terlepas juga bahkan kini tangan ardika sudah berada di salah satu gundukan kenyal milik felisha. sedangkan tangan felisha berusaha melepas kancing kemeja ardika satu persatu.
tiba tiba ceklek suara handel pintu terbuka ternyata itu fira, karena terkejut ardika langsung mendorong felisha, sepontan felisha langsung berdiri dengan kikuknya.
" ada apa sayang?" tanya ardika dengan gugupnya.
" sayang aku mau tidur di temani kamu, tapi kayanya kamu masih banyak pekarjaan" ucap fira yang tidak menghiraukan keberadan felisha dengan berjalan mendekati ardika dan memeluknya dari belakang.
" sebentar lagi selesai sayang" ucap ardika dengan raut wajah yang terlihat bahagia, mengingat tadi siang fira menolaknya mentah mentah. padahal fira sengaja bersikap seperti itu agar felisha sadar siapa istri ardika sebenernya. dalam hati fira sama sekali tidak sudi bersikap seperti itu.
"felisha sedang apa kamu di sini?" ucap fira, tiba tiba pandangannya tertuju pada felisha begitu tajam seakan-akan akan membunuh.
" ta tadi aku mengantarkan kopi untuk ka ardika" ucap felisha ragu.
" kenapa repot repot di sinikan ada bi inah" ucap fira tanpa ekspresi.
" gak apa apa ko ka, lagian aku gak enak kalau hanya diam saja" ucap felisha.
" oh, ya sudah sana kamu istirahat" ucap fira, felisa pun langsung keluar dari ruangan ardika.
" ada apa sayang?" tanya ardika merasa heran yang melihat sikap fira berubah menjadi dingin.
" bukan apa apa nanti saja" ucap fira sambil melangkahkan kakinya keluar menuju kamar, mata fira nampak berkaca kaca menahan rasa sakit hati. melihat adegan ardika dan felisha di ruang kerja yang begitu mesra. pada hal mereka tau, fira ada di rumah tapi sikap mereka seakan-akan tidak menganggap keberadan fira.
__ADS_1
----------------------------------------------------------
see you.....