
jangan lupa sebelum baca budayakan like, vote, komentar, saran dan kritikan akan membatu author untuk memperbaiki tulisan author agar lebih baik..
terima kasih dan selamat membaca
perempuan tersebut semakin lancang dengan membuka kncing kemeja ardika, namun ardika langsung mendorong nya sehingga terjatuh ke lantai.
" cepat katakan berapa yang kamu mau?" tanya ardika tanpa basa basi seakan tau apa tujuan prempuan itu. tanpa menunggu lama ardika langsung mengambil cek di atas mejanya dan langsung memberikan cek yang sudah di isinya. perempuan tersebut terlihat senang dengan apa yang di dapat nya.
" terima kasih sayang" ucap perempuan tersebut.
prempuan yang bernama linda pun pergi meninggalkan kantor ardika karena apa yang di inginkannya sudah ada di tangannya. sedang kan ardika tanpak kesal dan emosi karena kedatangan linda yang tiba tiba.
di tempat lain.....
terlihat fira yang baru datang di butiknya, para karyawanpun menyapa fira dengan ramahnya begitu pula sebaliknya. fira terheran ternyata felisha tidak ada di butik, entah kemana dia pergi, tapi fira tidak mau ambil pusing tentang keberadaan adiknya itu.
beberapa jam kemudian terlihat fira sedang sibuk dengan laptopnya. setelah selesai dengan laptopnya tiba tiba sani datang
" mba, bisakan saya ikut mba?" tanya sani
" tapikan kamu kuliah"
" iya gak apa apa mba, soal kuliah gampang" seru sani
" ya udah, aku gak akan ngelarang kamu, untuk ikut bersama ku" karena fira sudah menganggap sani sama hal nya felisha sebagai adiknya sendiri.
fira dan sani pun turun ke bawah berkeliling melihat pekerjaan para karyawannya. tak lama kemudian felisha datang.
" kamu dari mana saja fel?" tanya fira.
" dari rumah sakit"
__ADS_1
" rumah sakit? ngapain?" tanya fira penasaran.
" meriksa kandungan ku" jawab felisha tanpa malu. seketika para karyawan berhenti dari aktipitasnya karena penasaran dengan apa yang mereka dengar. setau mereka felisha belum menikah.
apakah benar felisha hamil?,
bukankah felisha belum menikah?
lantas siapa ayah dari anak yang di kandung felisha saat ini?, begitulah yang ada di pikiran para karyawan. termasuk sani, sani tau kalau fira sedang ada masalah dengn suaminya tapi sani tidak menyangka kalau felisha di balik semua masalah fira.
" ini hasil kesehatan kehamilan ku dan satunya lagi tes DNA di sana ada nama ayah dati anak ku. kaka juga kenal siapa orang nya" kandungan feliha betusia 13 bulan lebih tua dari kandungan felisha yang masih 10 bulan. felisha langsung menyodorkan ke dua hasilny.
felisha memang sengaja memberikan hasil tes DNA itu pada fira krena itu usaha terakhirnya untuk memisahkan fira dan ardika. felisha terheran melihat fira dengan wajah yang datar dan dingin, apalagi tidak ada satu pun pertanyaan yang di lontarkan fira pada felisha malah tanpa ragunya fira mengambil hasil tes itu.
saat fira membuka sedikit demi sedikit sebuah kertas yang terlipat yang bersisi tentang hasil tes DNA fira nampak ragu dan takut, walaupun fira tau siapa ayah dari anak yang di kandung adiknya itu.
setelah membaca hasil tes DNAnya mata fira nampak terlihat berkaca kaca, rasanya ingin menangis sekencang kencangnya namun fira harus menahannya agar orang orang tidak tau bahwa dirinya begitu rapuh dan lemah. namun....
" sekarang kaka tau siapa ayah dari anak yang aku kandung, jadi tolong lepaskan dia!" setu felisha tanpa malunya.
" jelas, karena dia ayah dari anak ku"
" kalau aku tidak memberikannya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya fira. felisha hanya tercengang mendengar perkatan fira itu, felsha tidak menyangka kalau fira bersikap seperti itu.
"mau tidak mau kaka harus melepaskan suami mu, karena ardika ayah dari anak ku, aku tidak mau punya anak yang tidak mempunyai seorang ayah" seru felisa
yang membuat para karyawan yang mendengarnya terkejut,
bukannya ardika itu suami dari fira atasannya yang berarti kaka ipar dari felisha, tapi bagaimana bisa felisha hamil dari anak kaka iparnya sendiri, itulah yang ada di benak para karyawan.
" kalau tidak mau punya anak yang tidak punya seorang ayah, kenapa kamu mau di hamili oleh seorang laki laki yang sudah memiliki istri?" pertanya fira membuat felisha tercengang tak berkutik, seakan itu adalah hinaan untuknya. namun bukan felisha kalau tidak bisa menjawabnya.
"karena aku mencintainya, agar aku bisa mendapatkanya bukankah aku harus punya anak darinya, agar ka ardika dan aku punya ikatan yang kuat yang akan mempersatukan kita" ucap felisha dengan nada menantang.
__ADS_1
" entah kesalahan apa yang aku perbuat sehingga kamu tega menghianati ku dengan berselingkuh dengan sumi ku sendiri, yang tak lain kaka ipar mu sendiri, tidak kah kamu memikirkan perasaan ku walau sedikit?, bagai mana pun aku kaka mu yang menjagamu, yang merawat mu di kala kamu sakit, yang menyayangi mu, aku bahkan bekerja keras agar kamu tidak kekurang sedikit pun, tapi apa yang aku dapatkan? penghianatan dan penghinaan yang begitu besar,
apa pun yang kamu mau akan ku berikan walau pun aku tidak punya apa apa lagi, tapi kenapa kamu harus merebut suami ku? sumi yang aku cintai, bukan hanya sebagai suami tapi aku menganggapnya sebagai seorang ayah, seorang kaka, seorang sahabat, ardika adalah segalanya bagi ku, tapi dengan mudahnya kamu merebutnya dari ku, saruskah aku memberikannya pada mu??!" gumam fira dalam hati sampai tak sadar matanya mengeluarkan buliran air yang begitu deras, namun fira mengendalikannya walau pun rasa sakitnya tidak terkendalikan.
" bukan kah, ayah dari anak yang kamu kandung bukanlah ka ardika?" ucap felisha.
" apa makdud mu?" fira.
" bukan kah zafran ayah kandung dari anak mu?"
" apa???" fira.
" ya, aku tau itu dari ka ardika, karena setelah memergoki mu di hotel waktu itu, ka ardika tinggal denggan ku di apartemen ku, bahkan kami bercinta tapa mengenal waktu" ucap felisha memancing fira.
" zafran atau ardika itu tidak ada urusannya dengan mu, yang kamu harus tau adalah ardika suami ku" ucap fira tegas.
" ya aku tau itu, tapi tidak sebentar lagi, krena ka ardika sudah menyiapkan surat cerai untuk mu" ucap felisha dengan tangannya mengambil berkas dalam tasnya dan memberikanya pada fira.
tertulis surat perceraian, walau pun fira tau kalau dirinya dengan ardika akan berpisah, namun tidak menyangka akan caranya yang seperti ini, bahkan surat perceraian itu sudah di tanda tangani oleh ardika, namun ardika tidak pernah membicarakannya. tanpa menungu lama fira langsung menanda tanganinya walau pun dengan berat hati.
fira tidak mau rasa sakitnya semakin dalam maka dari itu mungkin ini waktunya untuk melepaskan lelaki yang begitu di cintainya. walau pun butuh waktu seumur hidup untuk bisa mekupakannya. kalau memang perpisahan adalah jalan keluar agar permasalahan tidak menjadi lebih rumit dan tidak tersakiti lagi maka itulah jalan satu satunya.
terlihat ukiran di bibir felisha yang melengkung, melihat fira menanda tangani surat peceraiannya. setelah mendapatkan apa yang felisha mau felisha pun mengambil surat perceraian itu dan langsung meninggalkan fira yang masih berdiri mematung.
setelah semuanya usai fira baru tersadar ternyata para karyawannya memperhatikan fira dan felisha dari tadi. karena semua karyawan sedang memperhatikanya maka fira pun menyuruh semua karyawan mendekat. maka para karyawan pun mendekati fira, dan mengelilinginya.
" saya bingung mau mulai dari mana, tapi sebelumnya saya minta maaf atas kejadian barusan, yang tidak seharusnya di perdebatkan di sini karena bagai mana pun itu adalah masalah pribadi,( dengan mata berkaca kaca) saya hanya mau memberi tau kan bahwa mulai sekarang saya bukanlah pemilik dari butik ini, karena saya sudah menjual nya dan pemilik yang baru akan datang besok pagi, namanya ambar, (orang yang bertemu waktu di restoran) kalian pasti sudah kenal bukan ambar adalah seorang patner sekaligus teman saya. jdi saya harap kalian tidak sungkan terhadap ambar, perlakukan dia seperti kalian memperlakuan ku selama ini, dan yang terakhir sani juga akan ikut dengan saya" ucap fira panjang lebar, seketika para karyawan silih bertanya, dan tanpa segan langsung bertanya pada fira dan fira pun menjawabnya dengan jujur.
setelah selesai fira dan sani kembali ke atas mengambil barang barangnya yang sudah tersusun rapi di dalam kardus. beberapa karyawan membatu fira dan sani membawa barang barannya, ke dalam mobil.
mereka pun saling berpamitan bahkan beberapa karyawan pada menangis karena harus berpisah dengan atasan yang begitu mereka kagumi dan hormati. namun mereka tidak bisa berbuat apa apa karena itu keputas fira, mereka yakin kalau itu keputusan yang benar.
__ADS_1
see you...