Perjalanan Fira

Perjalanan Fira
melepaskan


__ADS_3

jangan lupa sebelum baca budayakan like, vote, komentar, saran dan kritikan akan membatu author untuk memperbaiki tulisan author agar lebih baik..


terima kasih dan selamat membaca.


 


satu minggu pun telah berlalu kini fira berada di bandung, di rumah sang nenek, saat ini fira sudah memberitahukan neneknya kalau fira dan ardika sudah bercerai, namun sampai saat ini fira tidak menceritakan alasan perceraiannya itu karena tidak mau membuat neneknya shok.


kalau kalau neneknya tau penyebab percerainnya itu adalah cucu kesayangannya itu. maka fira tidak akan memafkan dirinya sendiri. fira menyembunyikan sebaik baik nya karena tidak mau membuat penyakit jantung neneknya kambuh lagi.


kini fira sedang berada di sebuah rumah yang nampak mewah dan nyaman, terlihat fira yang sedang duduk bersama nina sang pemilik rumah.


"apa nenek belum tau alasan perceraian mu fir?" tanya nina.


" belum nin, aku takut penyakit jantung nenek kambuh lagi"


"terus kenapa kamu menjual semua butik? itukan hasil jeri payah kamu selama bertahun tahun" tanya nina heran.


" entah lah mungkin karena waktu itu pikiran ku sedang buntu" ucap fira lirih


" terus apa rencana mu selanjutnya?" nina.


" entah lah yang pasti aku mau pergi ke tempat yang begitu jauh dan tidak ada seorang pun yang kenal aku"


" kenapa kamu tidak tinggal di sini aja fir?"


"mungkin aku akan tinggal di sini sampai aku melahirkan"


tidak lama kemudian terdengar suara bel pintu dan nina pun membukakan pintu.


" ayo masuk!" seru nina.


"terima kasih" very dan mia.


" fira" teriakan mia yang langsung memeluk fira.


" kamu jahat fir, kenapa kamu gak cerita sama aku?'' tanya mia yang tampak kesal.


" maafkan aku"


" kalau very tidak memberi tahu ku, aku pasti gak bakalan tau"


" maaf" hanya kata itu yang di lontarkan fira.

__ADS_1


" bagai mana kabar mu fir?" tanya very.


" seperti yang kamu lihat begini lah" fira.


" terus bagai mana ramdan apa dia jadi menikah?" tanya fira.


" ya jadi tapi kami tidak tau waktunya kapan" very.


merekapun mengobrol banyak hal, sampai terdengar nada dering pesan milik fira. setelah membaca isi pesannya fira nampak panik dan cemas, tanpa memberitaukan pada teman temannya, fira berlalu begitu saja.


" fira ada apa?" mia dengan teriakan nya.


" nenek masuk rumah satit" jawab fira sambil berlalu. fira pun bergi bersama nina yang berhasil menyusul fira, sedangkan mia dan very mengikutinya dari belakang dengan satu mobil.


membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai di rumah sakit mengingat waktu yang sudah sore. sesampainya di rumah sakit fira langsung menuju ruangan nenek nya yang sudah di beritahu oleh bi ani sewaktu di perjalanan tadi.


setelah masuk keruangan yang di tuju, fira langsung menghampiri neneknya yang sedang tidak sadarkan diri.


" nenek ini fira" ucap fira dengan pelannya sambil memegang tangan neneknya.


" nenek tidak apa apa dia hanya shok" mendengar suara yang tak asing baginya, fira langsung mengalihkan pandangannya pada sumber suara tersebut. ternyata benar suara itu milik felisha, tanpa ragu fira menarik felisha yang di susul oleh ardika yang keberadaan nya tak jauh dari felisha.


" apa yang kamu bicarakan sama nenek? kenapa sampai jantung nenek kambuh? padahal tadi baik baik saja" sederetan pertanyaan fira penuh emosi.


" kenapa kamu begitu bodoh?" ucap fira dengan sinis.


" selama ini aku menutupinya dari nenek, tapi kamu malah dengan gampang nya memberi tahu nenek, di mana otak mu itu?" ucap fira dengan tatapan tajamnya.


" kenapa dia bicara seperti itu? kenapa dia tidak terkejut dengan apa yang di katakan felisha? apa mungkin fira sudah tau soal hubungan ku dengan felisha?" sederetan pertanyaan ardika dalam benaknya.


" aku hanya mengatakan yang sebenarnya, apa aku salah? lagian nenek emang suka sakit sakitan dan...."


sebelum felisha melanjutkan kata katanya, fira terlebih dahulu menampar felisha.


" aowhhh" suara rintihan felisha.


" fira apa yang kamu lakukan" ucap ardika yang tidak terima felisha di tampar oleh fira dengan mencekal tangan mantan istrinya itu.


" lepaskan tangan ku, lebih baik kamu dan istri mu itu pergi dari sini!" mendengar perkatan mantan istrinya itu, ardika benar benar tak menyangka kalau fira bisa berkata seperti itu. tanpa berpikir ardika pun membawa felisha keluar agar tidak ada keributan lagi.


" fir sudah, kamu jangan emosi, ingat kamu sedang hamil" ucap nina menenangkan fira. sedangkan mia dan very hanya bingung tidak tau apa yang terjadi karena baru datang setelah tetpisah di jalanan karena macet.


nina, mia dan very sudah pulang setelah menemani fira beberapa waktu yang lalu. kini fira hanya berdua di ruangan itu. sedangkan ardika dan felisha tidak kembali lagi.

__ADS_1


" nek, maaf kan fira, karena fira tidak menceritakannya dari awal, fira takun nenek kenepa napa nek, nenek bangun dan cepat sembuh" uca fira lirih namun tidak ad jawaban yang ada hanya lah ke heningan.


tiba-tiba...


tiiiittttt tiiiiiittttt tiiiiit


terdengan suara alat EKG, fira pun cemas dan langsung menekan tombol darurat untuk memanggil dokter. sehingga dokter pun tiba dalam waktu yang singkat. namun sebelum pemeriksaan dokter sudah menyatakan bahwa nenek fira sudah tidak bisa di selamatkan lagi. karena shok fira pun tidak sadarkan diri.


setelah tidak sadarkan diri kini fira sudah berada di tempat pemakaman nenek fira. walaupun fira tidak di perbolehkan ikut karena kondisi fira yang seperti ini, namun fira begitu keras kepala memaksakan firinya.


terlihat fira, mia, very, nina, ferdy, felisha, ardika, beserta bi ani yang masih berda di tempat peristirahatan terakhir nenek fira. masih terdengar isakan tangis firayang di tinggalkan sang nenek.


" udah fir yang sabar ya" ucap mia sambil menggandeng fira,


" ya fir, kamu jangan terrarut dalam kesedihan, kasihan nenek nanti tidak tenang di akhirat sana" nina.


" ayo kita pulang, sebentar lagi sepertinya akan hujan" seru ferdy. karena cuaca yang mendung seakan tau akan kesedihan fira.


mereka pun berlaku meninggalkan pemakaman nenek fira. fira dan bi ani kini sudah berada di dalam mobil ardika. sepanjang perjalanan ardika selalu melirik kaca spion nya yang secara tidak langsung melihat ke arah fira.


rasanya begitu sakit melihat mantan istrinya yang begitu terlihat sedih karena kehilangan neneknya. ada perasaan ingin memeluk dan menghiburnya walau pun ardika sadar kalau sekarang mereka tidak terikat lagi dalam hubungan suami istri. ardika hanya bisa memandanginya tidak bisa berbuat apa apa.


setelah sampai rumah fira langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya.


begitu pula ardika dan felisha, beberapa waktu kemudian terdengar suara pertengkaran di dalam kamar felisha dan ardika.


" kenapa kamu terus melihat ka fira?" bentak felisha pada ardika


" kenapa emangnya?" tanya balik ardika tanpa mengelak.


" aku gak suka yach kamu lihatin terus dia"


" aku hanya kasihan pada nya, apa aku salah?"


"Salah karena aku gak suka itu, atau kamu jangan jangan masih mencintai dia?"


" hentikan omong kosong mu itu! apa tidak cukup kalau aku sekarang sudah jadi suami mu?"


" tidak, selama kamu masih mencintainnya"


karena kesal ardika pergi meninggalkan felisha sendirian. di saat ardika melewati kamar fira terdengar suara tangisan di dalam sana, rasanya ardika ingin mendobrak dan masuk ke dalam sana. namun niat nya di urungkan karena ada felisha yang mengikutinya.


 

__ADS_1


__ADS_2