Perjalanan Fira

Perjalanan Fira
musibah 2


__ADS_3

jangan lupa sebelum baca budayakan like, vote.


komentar, saran dan kritikan akan membatu author untuk memperbaiki tulisan author agar lebih baik..


terima kasih dan selamat membaca


\================================


"kenapa kamu memintanya pada ku? seharusnya kau memintanya pada ayah dari anak itu!" mendengar ucapan ardika yang sampai saat ini tidak mengakui anak nya membuat fira merasakan sakit hati.


" dengar sekarang farren benar benar membutuhkan dana yang tidak sedikit dan aku memberanikan diri kesini hanya karena kamu adalah ayah biologisnya, dan aku berharap kamu membantu ku dan berharap kamu bersedia melihatnya walau pun sekali, tapi sepertinya aku datang pada orang yang salah, maaf karena sudah mengganggu mu, aku permisi (saat fira membalikan badan) dan satu hal lagi ku harap kamu tidak menyesal dengan keputusan mu ini" fira pergi dengan air mata yang mengalir deras.


"mungkin aku sudah salah karena datang kesini, aku sungguh bodoh karena berharap ardika mau membantu ku, ternyata dia masih tidak mengakui anak nya sendiri" gumam fira dalam hati dengan curcuran air matanya.


sedangkan ardika hanya memandang kepergian fira. beberapa saat ponselnya berdering dan itu sebuah pesan.


"sayang aku harus pergi, barusan astiten ku menghubungi ku dan ada urusan yang harus ku urus" ardika.


"terus bagai mana rencana kita?"


"kita harus membatalkannya sayang, maafkan aku" tanpa menunggu persetujuan, ardika meninggalkan felisha. dan menuju ke luar namun di luar ardika sudah tidak melihat fira.


di dalam taksi fira masih teriang iang akan perkataan ardika yang membuat nya masih meneteskan air mata walau tidak begitu deras. usahanya yang datang jauh jauh ke indo sia sia tidak menghasilkan apapun padahal fira benar benar berharap pada mantan suaminya itu.


taksi yang membawa fira kini berhenti saat lampu merah menyala.


"fira" fira pun menoleh setelah ada yang memanggilnya sebelum fira meliht siapa orang itu, lampu hijau sudah menyala dan taksi pun melaju meninggalkan mobil yang di sampingnya.


"non sepertinya ada yang mengikuti kita dari belakang" supir taksi


"biarin aja pak, kalau bisa tolong percepat"


"baik non"


mobil pun melaju dengan cepat sehingga mobil yang mengikutinya tidak terlihat lagi dan tidak butuh waktu lama untuk sampai di bandara. ternyata waktu penerbangannya masih setengah jam lagi karena masih ada waktu fira pun duduk di kursi tunggu dengan beberapa roti di tangan nya setelah membelinya beberapa waktu yang lalu.


\========


tanpa pulang kerumah fira langsung ke rumah sakit karena selama di perjalanan fira dapat telvon dari pihak rumah sakit kalau keadaan farren semakin memburuk.


dengan tergesa gesa fira langsung ke ruangan farren di sana sudah ada sani yang memang menjaga farren selama fira pergi.


"bagai mana ke adaannya?" fira.


" keadannya semakin memburuk, walaupun di oprasi kami tidak yakin dapat menyelamatkannya, ibu harus mengikhlaskan nya, kasian dia harus bertahan menahan rasa sakitnya dan itu juga dengan bantuan alat medis " dokter.


bukan tidak tega namun fira berharap farren bisa sembuh dan sehat seperti sodara sodaranya yang lain, namun ternyata harapannya membuat farren semakit kesakitan dan bertahan hanya dengan di bantu oleh alat alat medis.

__ADS_1


haruskah fira mengikhlaskan farren? demi kebaikannya, agar farren tidak merasakan kesakitan? agar penderitaannya berakhir, harus kah fira kehilangan farren yang selama ini fira perjuangkan?


namun sebelum fira mengihlaskan kepergian farren, farren terlebih dahulu meninggalkan ibu dan sodara sodaranya. dokter sudah menyatan kepergian fareen.


fira melihat para suster nembuka satu persatu alat medis yang menempel pada tubuh bayi mungil itu, rasa sakit karena kehilangan haruslah di rasa kembali setelah suami yang begitu di cintainya meninggalkannya karena wanita lain, nenek fira yang meninggalkannya untuk selama lamanya dan kini tuhan mengambil buah hatinya.


"sungguh ironis sekali hidup ini, seakan akan tuhan tidak menyayangi ku, dengan gampangnya tuhan mengambil semua orang yang ku sayangi dalam waktu yang begitu dekat, apa salah ku tuhan? apa selama ini aku kurang baik? selama ini aku selalu bersabar dengan semua yang terjadi pada ku namun sepertinya itu tidak cukup,


maafkan mommy sayang karena mommy tidak dapat menjaga mu dengan baik, bahkan daddy mu masih tidak mengakui mu, ini semua salah mommy, sehingga kamu tidak bisa bertemu dengan daddy mu walau pun sekali, maaf kan mommy yang egois ini sayang,,, maaf" gumam fira pada bayi yang ada pada pangkuannya dengan bergelinang air mata.


"mbak harus kuat dan sabar!" seru sani sabil memeluk fira.


di sepanjang perjalanan bayi mungil itu masih ada pada pangkuan ibunya seakan akan segan untuk melepaskan bayi mungil itu bahkan sebentar lagi akan di makamkan namun dekapannya begitu erat.


\========


di sebuah kamar bernuansa warna bink perpaduan biru muda, dengan berbagai macam pajangan boneka dan mainan, di pojok kamar terdapat box bayi yang ukuran nya lumayan sedang, terlihat fira duduk di sebelah box bayi dengan terus memandanginya dengan buliran air mata yang membasahi pipinya dengan baju yang begitu lucu di tangannya. perasaan nya masih begitu kacau karena kehilangan bayinya.


bayi yang begitu di nanti nanti bahkan jauh sebelum kehamilan nya, namun tuhan berkehendak lain dan itu tidak bisa di ubah, ini sudah takdirnya.


terdengar kicauan finley adlan, fannan adlin, freya azhura di kamar sebelah yang membuat lamunan fira buyar. fira bangun dan menghampiri ke 3 bayi mungil itu yang ternyata sedang mengoceh tak jelas. di perhatikannya sungguh sungguh barulah fira tersadar bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya masih ada 3 bayi munyil yang harus di jaga dan di rawatnya. ke tiga bayi mungil itu akan menjadi tujuan hidupnya yang baru setelah kepergian farren.


\=========


di rumah sakit nampak fira ke sana kemari mengurus administrasi yang belum selesai. tiba tiba....


"sedang apa kau di sini?" fira.


"seharusnya aku yang bertanya begitu"


"you know him? (kau mengenalnya?)" dokter yang merawat farren.


" of course (tentu saja)"


"bisakah kita bicara?


sorry docter, I have to talk to him ( maaf dokter, saya harus bicara dengannya)"


" okay please ( oke silahkan)"


\========


kini mereka berdua sedang duduk di sebuah kaffe dekat rumah sakit.


"bagai mana kabar mu?" verry.


"baik"

__ADS_1


" jadi selama ini kamu tinggal di sini?" very.


" ya aku tinggal di sini"


" kenapa kamu tidak memberi tahu kami keberadaan mu,?" very.


" maaf kan aku"


" aku dengar beberapa hari yang lalu kamu menemu ardika" very.


" dia cerita pada mu"


" yah, dia menceritakan nya pada ku, maaf tapi bisakah kamu ceritakan pada ku! kenapa kamu sampai datang padanya dan minta uang?" very.


" aku butuh uang untuk biaya oprasi farren"


" fareen, sepertinya nama itu begitu pamiliar di telinga ku" very.


" farren pasien yang di tangani oleh fokter yang bersama mu tadi"


" oh pantesan, dia selalu membahas kondisi farren dengan ku"


" oyach?"


" iya.. aku bahkan kemari untuk melihat kondisi nya, namun aku terlambat datang, maafkan aku, aku tidak tau kalau farren ternyata anak mu, seharusnya aku cepat datang untuk melihat nya"


" tidak apa apa"


" apakah ardika tau?" very.


" untuk apa aku memberi tahukannya, toh selama ini dia tidak mengakui nya, bahkan saat aku memohon bantuannya dia tidak bergeming sedikit pun, andai saja dia bisa mengabulkan keinginan ku, mungkin...." kalimatnya terhenti saat air matanya mulai terjatuh.


" maafkan aku fir, aku tidak bermaksud..." very


" tidak apa apa, aku harap kamu tidak memberi tahukannya akan farren dan keberadaan ku di sini.


akh... aku begitu bodoh bagaimana mungkin dia akan bertanya akan keberadaan ku dan fareen, bahkan sejak awal kehamilan ku saja dia tidak perduli" fira


" terus di mana kamu tinggal?"


" aku tinggal di rumah milik teman ku, sekaligus pemilik butik tempat aku kerja" fira


" oke... oleh aku berkunjung kapan kapan? karena sekarang aku tidak bisa"


" ya tentu, oya kenapa kamu ada di sini?"


" aku di minta untuk kerja di rumh sakit itu untuk sementara waktu" very.

__ADS_1


mereka pun bicara panjang lebar...


__ADS_2