Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 13


__ADS_3

Setelah penjelasan itu, Fahmi dan Inara diam tak membahas atau membicarakan sesuatu apapun.


Fahmi terus saja membelai rambut Inara dengan perlahan lembut dan nyaman saat dirasakannya.


Inara menyandarkan kepalanya dibahu sang kekasih. Tak merasa diri mereka sudah semakin rapat dan intim.


Inara tersenyum lalu mendongak ke atas lantas Fahmi pun tersenyum membalasnya.


Cup


Fahmi mendaratkan kecu**n sekilas namun pasti, hujan malah lebat juga deras dan gemuruh angin semakin kencang, suasana didalam ruangan semakin dingin dan butuh kehangatan.


Lamat laun mereka terbawa susana dinginnya hujan, memeluk satu sama lain dengan mesra suasana membuktikan bahwa mereka butuh kehangatan.


"I Love You Sayang" bisik Fahmi kedaun telinga Inara.


"I Love You Too Fahmi Friandika" Balas Inara dengan berbisik kembali.


Cup


Kecu**n itu didaratkan lagi, seakan candu akan manisnya bib*r sang kekasih, lama lama kecu**n itu berubah menjadi ci***n, perlahan namun memanas.


Inara melepasnya sepihak ia terengah engah karna tak pintar mengambil nafas, Fahmi tersenyum dan malah mendaratkannya lagi.


Makin kesini makin panas, mereka tak menyadarinya sudah terjerumus ke hal yang anak sekolah tidak pantas melakukannya.


Inara sadar lalu mendorong sang kekasih. "Yang sadar, heey!".


Fahmi tak mengubrisnya karna rasa panas dan nafsu sudah menghampiri tubuhnya, Fahmi malah lebih mendekatkan dirinya dan menarik tengkuk Inara dan melahapnya kembali.


"Eem" Suara laknat itu Inara lepaskan meskipun ia sadar dan masih bisa mengendalikannya namun tubuhnya tetap tak bisa menolak.


Seragam dan rok Inara sudah tak terbentuk begitupun Fahmi. Tatapan keduanya mendamba satu sama lain.


Tatapan yang sulit diartikan, kembali berbelit dan merasakan nyamannya bersatu diatas tempat tidur berpelukan layaknya pasangan halal.


Akhirnya sampai di titik itu tiba Inara menggelengkan kepala sambil menutup mata pertanda tak sanggup dan takut sakit.


"Ah.. jangan sayang aku takut, tolong sudah" ucap Inara sambil memohon.


"Tak apa sayang, tak akan sakit cuma sebentar kok" bisik Fahmi.


Karna Fahmi sudah diliputi nafsu ia tak mengindahkan permohonan kekasihnya, ia sudah buta akan hal kesadaran.


Akhhhh. jerit Inara saat sesuatu yang tumpul itu menyeruak masuk ketubuhnya, Inara meneteskan air mata hari ini detik ini juga mahkotanya hilang.


Fahmi ambruk disamping Inara dengan cucuran keringat disekujur tubuhnya, Pelepasan terakhir ia benamkan dirahim Inara.


"Maafkan aku sayang, jika terjadi sesuatu aku akan tanggung jawab" cup Fahmi mengecup kening Inara dengan sangat lembut.


Hujan masih saja turun dengan derasnya, Inara menangis tanpa suara begitu sakit hatinya bahwasannya Fahmi sang kekasih tak bisa mengontrol nafsunya sendiri.


Dengkuran halus Fahmi begitu jelas ditelinga Inara, ia melepas perlahan lilitan tangan Fahmi diperutnya. Ia bangkit dan berdiri lalu mengambil seragamnya yang terongok dilantai.


"Aku takut mi, aku takut terjadi sesuatu pada diriku. Juga orang rumah yang mencintaiku" gugu Inara menangis pilu memeluk lututnya.


***


Flashback Off


Sebulan setelah kejadian memilukan bagi Inara itu, ia banyak melamun dan terdiam tak seperti hari hari sebelumnya.


Kekasih yang sangat ia cintai sudah tak memberinya kabar meski bertemu setiap hari sudah tak bertegur sapa sehangat dulu.


"Kenapa berubah drastis mi, apa aku tak menarik lagi sayang?!" batin Inara pilu. Ia belum bisa melupakan kejadian itu kejadian yang membuatnya lupa akan segalanya.


Dimalam yang sunyi ini Inara bukannya belajar untuk Ujian Akhir Semester(UAS) ia malah melamun.


tok.. tok.. tok..


Ketukan daun pintu dari luar, seketika membuyarkan lamunan Inara. Gagas menyusut air matanya yang berbekas lalu berdiri dan membuka pintu.


Pandangan pertama yang Inara lihat saat pintu dibuka, wajah kesal si bungsu Umi dan melayangkan pertanyaan yang menohok.

__ADS_1


"Kenapa dikunci teh? aku juga ingin tidur" Cemberut sambil sengaja menabrak dada Inara masuk dengan judesnya.


"Yaa maaf deh, teteh mau pokus belajar soalnya?!" jawab Inara dengan sok lesu


"ya gak perlu dikunci juga, kalau kelupaan gimna? aku tidur diluar gitu?!" sungut Ratu lagi.


"iya iya maafin teteh ya Ratuku yang cantik" Inara mengerlingkan matanya jengah.


"iya dimaafin dan jangan diulang lagi, oke" ucap Ratu sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Siap komandan" menyimpan telapak tangannya menghormat seperti kepada sang Ratu.


Seketika kesedihan Inara menghilang sekejap, ya saat berkumpul keluarga seakan tak punya luka atau beban. Inara berpura pura kuat dan ceria supaya orang yang menyayanginya tak ikut ikutan bersedih seperti yang ia alami.


Inara melanjutkan sesi belajarnya ia harus belajar menerima juga mengesampingkan masalahnya demi bisa melewati UAS. Ia harus bisa melewatinya meskipun sulit.


"Ayo Inara strong, kamu harus kuat lupakan semuanya" menyemangati dirinya.


Mungkin asmaranya tak semulus remaja seumurannya, tak seindah hubungan teman temannya, ia harus melupakannya karna ditangisipun tak akan kembali utuh lagi.


Meskipun Fahmi sudah menyimpan duka dan menghianatinya dengan berpaling pada orang ketiga, Inara tak bisa membencinya sekalipun.


***


Pagi tiba sinar matahari begitu cerah menyinari alam semesta, malam yang gelap kini berganti terang menyambut pagi yang asri.


"Aku harus kuat aku harus belajar cuek biar cepat melupakannya, ya harus sperti itu" semangat Inara dipagi harinya.


Inara kesekolah jalan Kaki karna masih terlalu pagi, Pak Ahmad dari semalam tidak pulang karna menjadi panitia disekolah.


Tiiitit


Inara menoleh kesamping dan melihat kendaraan beroda empat warna hitam mengkilat, kaca belakang terbuka dan seseorang muncul dari kaca penumpang tersenyum ke arah Inara.


"Kenapa jalan kaki Inara? Ayok masuk kita ke sekolah bareng" Ajak Alvin.


"Kamu duluan aja al, Aku Ingin jalan saja sambil olah raga pagi" Inara menolak secara halus dengan senyum manisnya.


"ya udah kalau gitu kita bareng aja jalan" Alvin turun dari mobil dan menghampiri Inara.


Supir itupun menangguk dan berlalu dengan kecepatan sedang.


Ya itu adalah Alvin laki laki yang selalu sabar menunggu Inara, secara terang terangan bahwa Alvin menyukai Inara bahkan sering membela tanpa sepengetahuan Fahmi.


Sayang seribu sayang isi hati Inara cuma nama Fahmi Friandika. Sosok yang begitu Inara idamkan sampai laki laki manapun Inara tak pernah ia respon terkecuali Alvin.


"Kamu kalau tak bersama Pak Ahmad suka jalan kaki ra?!"


Tanya Alvin membuka pembicaraan, Inara hanya mengangguk mengiakan saja tanpa ingin menjawabnya.


"Ohh kirain selalu diantar Fahmi"


"Eehh.." Inara menoleh dengan tatapan heran plus kagetnya.


"Jangan kaget gitulah, aku tau kok malah aku sempat mendengar ucapan teman temannya tentang.."


Alvin menjeda ucapannya diakhir kalimat dan reflek menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia bingung kasih tau kebenarannya atau tidak kepada Inara.


"Tentang apa Al?"


Akhirnya suara Inara keluar setelah mendengar ucapan Alvin yang terjeda, Inara menunggu kelanjutan obrolan Alvin selanjutnya dengan tak sabarannya.


"Itu tentang kamu dan Fahmi menjalin hubungan sudah 6bulan kan"


Inara menanggukan kepalanya, Ia tak mau menjelaskan bilamana Alvin terus bertanya gagas ia berjalan mendahului Alvin.


Alvin tertinggal di belakang sambil berkacak pinggang dan geleng geleng kepala.


"Memang pas kalau jadi mantu Bunda cocok banget kelakuannya kayak bunda, tunggu aku bunda aku akan membawakannya ke rumah setelah anakmu memimpin perusahaan cabang di bogor"


Gumam Alvin sambil berkacak pinggang tak lepas dari punggung Inara yang menjauh, ia menyusulnya dengan berlari.


***

__ADS_1


"Ahh baby kita seruangan lagi" ucap Riyan sahabat Inara sambil memeluk Inara dengan girangnya.


Ya mereka sudah dikelas. Namun, Fahmi tak terlihat mungkin ruangannya berbeda dengan Inara. Inara mendadak lesu kembali.


"kenapa kamu sering diam dan melamun sih sayang?! kamu berantem sama Fahmi?!" bisik Riyan.


"Nggak, aku sering gak enak badan baby jarang tidur karna ya sering lembur biar dapan cuan" ucap Inara berbohong dengan senyum palsunya.


"Pacar orang khaya mah gak usah cari cuan, mintak aja sama ayang" Bisik Riyan lagi.


"Kamu ada ada aja, udah ah sana duduk ke tempat mu" Inara mengusir Riyan dengan mengibas ngibaskan tangannya.


Treng.. Treng..Teng..


Bel berbunyi dan semua siswa masuk kedalam dengan hebohnya. Inara terkejut bahwa yang menduduki kursi belakangnya Yolanda. Orang ketiga dalam hubungannya dengan Fahmi.


"Hayy, kamu Inara ya mantan pacar Fahmi, aku Yolanda?!" ucapnya.


Deg.. ada yang berdenyut sakit didalam hati Inara, kata siapa?! kenapa Yolanda tahu akan hubungannya dengan Fahmi, dan kenapa juga menyebutkannya mantan pacar bahakn mereka belum berucap kata putus.


"A-ah Iya, ya salam kenal juga Yolanda" senyum keterpaksaan.


"Ola saja, semua orang juga memanggilku seperti itu. termasuk Fahmi" ucap Yolanda dengan senyuman mengejek.


"Ahh iya"


Inara terdiam, dan berbalik arah kedepan. Setelah berbalik Inara dikejutkan juga dengan seseorang yang menatapnya dengan intens.


"kamu kenapa juga berbalik kebelakang aku kaget kirain siapa?!" cerocos Inara dan mengela nafas berat karna kaget.


"Haahhahh, maaf ngagetin kamu! kita seruangan dasar jodoh ya ketemu mulu" Alvin tertawa dengan renyahnya.


"Biasa ae bambang" sungut Inara


Ya dia seorang Alvin Bagaskara, sebelumnya tidak seruangan ya dasar orang haya bisa lakuin apa saja demi dekat dengan yang ia cintai.


***


Ulangan Akhir semester(UAS) akhirnya berjalan dengan lancar, semua murid diliburkan selama dua minggu, dan Inara bahagia karna bakalan pulang kampung bertemu kedua orang tuanya.


"Aku bakalan kangen sama kamu baby"


"Aku juga yan, gak bakal denger suara kamu yang berisik lagi" ucap Inara membalas pelukan sang sahabat.


"kamu mau pamit dulu gak?! sama dia" tanya Riyan berbisik.


"Gak tau, anterin yuk keruangannya"


Riyan mengangguk mereka bergandengan menuju ruangan Fahmi di kelas TKJ2. Perasaan Inara bahagia saat melihat Fahmi berbincang dengan teman temannya.


Salah satu teman Fahmi memberi tahunya dan menunjuk ke arah Inara, Fahmi mengikuti arah telunjuk temannya dan reflek berdiri saat orang yang ia hindari muncul dihadapannya.


"Fahmi, Inara mau bicara sama kamu sebentar saja ikut kami ke belakang sekolah" ucap Riyan mewakili ucapan Inara.


"A-ah Iya, kamu duluan" Fahmi tergagap takut sesuatu hal buruk yang Fahmi dapatkan.


dibelakang sekolah


"Mi gimana kabar kamu?!" tanya Inara berbasa basi.


"To the point saja"


"aku mau pulang kampung mumpung libur sekolah tiba. Aku mau minta izin sama kamu" Inara berucap lirih tanpa menatap orang yang ia rindukan.


"Kenapa harus izin, kamu sekarang bukan siapa siapa aku kita PUTUS" ucap Fahmi dan berlalu tanpa rasa iba sekalipun.


Sreeet, perih rasanya kata itu lolos dari mulut orang yang begitu Inara cintai, hancur sudah hidup Inara ia luruh ketanah tergugu menangis begitu sesak hatinya.


Riyan menghampiri dan memeluk Inara dengan sayang, Ya Inara tahu karna mengintip pembicaraannya dari dinding samping.


.


.

__ADS_1


Tolong dimaklumi kalau gaje dan gak nyambung🙏 baru permulaan mohon dukungannya.


Next Part💖


__ADS_2