Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 26


__ADS_3

๐˜ฝ๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™–๐™Ÿ๐™– ๐™ž๐™– ๐™จ๐™ค๐™จ๐™ค๐™  ๐˜ผ๐™ก๐™ซ๐™ž๐™ฃ ๐˜ฝ๐™–๐™œ๐™–๐™จ๐™ ๐™–๐™ง๐™– ๐™ฉ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ ๐™ข๐™š๐™ก๐™–๐™ข๐™ช๐™ฃ๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™ช๐™Ÿ๐™–๐™–๐™ฃ ๐™๐™–๐™ฉ๐™ž๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ฎ๐™–๐™ž๐™ฉ๐™ช ๐™„๐™ฃ๐™–๐™ง๐™– ๐™๐™–๐™ข๐™™๐™๐™–๐™ฃ๐™ž๐™–โ™ฅ๏ธŽ



Seorang pemuda berusia 18 tahun itu kini tengah merenung di kantin sekolah ia nampak layu dan tak bertenaga. setelah emosinya terkuras ia mendiamkan diri ditempat itu, ya ia Alvin Bagaskara.


Pikirannya terus melanglang buana kepada sang pujaan hati. Si bumil muda yang mencuri hatinya sejak ia pindah kesekolah tempat Alvin berada sekarang.


Ia sudah bertekad kepada dirinya sendiri bahwa ia akan terus mencintai dan menerima kekurangannya, karna rasa tak dicintai sudah dia lalui bersama sang mantan pacar. Bahwa di khianati itu tidak enak dan sangat sakit rasanya.


Dan sekarang ia jatuh cinta lagi akan selamanya ia genggam dan orang yang ia minati akan selalu ia kejar sampai mendapatkannya meski mempunyai kekurangan sekalipun akan Alvin lengkapi sepenuhnya.


Tiiiiing. Seketika lamunan Alvin buyar kala tanda notifikasi berdenting dari layar perseginya di atas meja, ia gagas mengambilnya dan membuka notifikasi itu.


๐‘๐ฒ๐š๐ง๐…


[Al lu kemana, pelajaran pertama udah di mulai. Perasaan gue liat lu tadi?!]


Isi pesan dari Riyan sahabat Inara, Alvin tak kunjung membalasnya. Ia menyimpannya kembali ke atas meja lalu ia menyandarkan kembali tubuhnya menghela nafas dengan kasar.


"Kenapa nggak masuk kelas nak Al, bell sudah bunyi dari tadi?!" tanya si mbok penjaga kantin dengan ramah.


"Ahh males Mbok" jawab Alvin singkat.


"Ngapain ke sekolah kalau males dirumah aja selonjoran sambil nonton TV" candaan si mbok dengan diselangi tawanya.


"Maunya sih gitu. Otaknya gak bisa dikompromi sama prasaan Mbok, jadi gak tenang walau dirumah sekalipun" Akhirnya Alvin menjawab kegundahannya kepada si Mbok.


"Kenapa gitu. Lagi marahan ya sama pacarnya" tanyanya lagi sambil duduk di sebrang Alvin.


"Hahahha.. Ya mungkin begitu mbok" Alvin menjawabnya sambil tertawa.


Akhinya ia berbincang membicarakan hal lainnya dengan seru. Sampai tak terasa obrolan mereka menghabiskan jam pelajaran pertama, Alvin sama sekali tak masuk kelas ia nyaman dikantin karna merasa terhibur oleh si Mbok kantin.


Di tempat lain tepatnya di kota bogor Inara tengah terduduk lesu di pantry karna mualnya menyerang lagi. Semenjak dinyatakan hamil dan tinggal di kota tersebut Inara banyak muntah semenjak masuk bekerja.


Mungkin ia tak terbiasa mencium yang tak terbiasa ia cium, stiap pekerja yang lewat Inara langsung mual dan ingin segera memuntahkan isi perutnya meskipun ia dinyatakan aneh oleh teman temannya karna memakai masker. Inara tak terusik sama sekali.


Ia berperang batin di dalam hatinya bahwa ia sangat merindukan sosok Alvin yang selalu perhatian kepadanya. Meskipun ia jauhi Alvin tak membalas benci kepadanya.

__ADS_1


'Kenapa Bunda merindukan om Alvin nak, padahal Ayahmu bukan dia' batin Inara sambil mengelus perutnya.


'Mungkin ia yang tulus menyayangi bunda, meski bunda sempat menjauhinya dan memarahinya dulu' ucapnya lagi.


"Woyyy lagi apa, ngelamun mulu ayok kerja bestie" ucap Maya mengagetkan Inara.


"Astagfi, kaget tau baca salam kalau kemari. untung aku gak punya penyakit jantung.


"Yaellah, ngelamunin apasi sampai kaget begitu?! emang kamu mau juga punya penyakit jantung?" Sela Lusi dengan melipat tangannya di dada dan menatap Inara dengan penasaran akan jawabannya.


"Kagak ngelamun! yeyy amit amit aku masih muda belum gaet om om, Hahahhh" Jawab Inara dengan candaan dan tawanya yang pecah.


"Sama kita juga pengen Om om" serempak keduanya.


Merekapun bubar mengerjakan bagian kerjaannya masing masing. tak mereka sadari bahwa dilorong sebelah kanan yang terhubung dengan pantry ada sosok yang memperhatikan Inara, Manusia pemilik bangunan mewah ini.


Alvino Bagaskara CEO perusahaan Bagaskara group. Ia memperhatikan Inara dengan detail kadang lewat CCTV atau scara langsung sperti sekarang ini, ia merindukan sosok lembut gadis yang diinginkan anaknya itu. sang anak ternyata tak salah memilih calon Istri, meskipun ia memiliki aib namun rasa kelembutan, kebaikan dan keramahan ada di dalam diri Inara.


Selain memiliki semua itu, Inara juga pintar memasak, rajin dan pekerja keras mangkanya dari itu Tuan Vino ingin melindunginya sampai menunggu anaknya dewasa dan menduduki jabatannya di CEO Bagaskara Group kota Bogor ini.


'Cepat dewasa anakku dan jemput menantuku bawa ia kerumah kita. Jangan lagi ia menyentuh barang barang itu lagi' batin Tuan Vino tak lepas dari pandangannya menatap Inara dengan sayang.


Tuan Vino akhirnya naik ke lantai atas menggunakan lift khusus CEO. Ia sudahi melihat lihat kegiatan inara karna sudah dipastikan ia ditunggu oleh surat surat yang menumpuk di atas meja untuk ia tanda tangani.


Selain kerepotan bekerja Tuan Vino juga kewalahan akan sikap sang Istri yang terus menerus merajuk ingin ke rumah Alvin, sudah banyak alasan dan kebohongan yang Tuan Vino katakan namun sang Istri Nyonya Alma tak mempercayainya.


Sampai sampai sang Istri pulang sendiri ke kota tempatnya tinggal tanpa mengajaknya pulang bersama, sperti anak muda saja.


Inara tengah membuatkan kopi untuk karyawan yang di lantai atas. Ia menyeduhnya perlahan dan menyimpannya hati hati.


Ia membawa beberapa kopi di atas nampan memasuki lift, Inara tersenyum ramah ke stiap pegawai atau karyawan wanita maupun pria. Ia tak bersikap sombong ia sadar bahwa ia hanya office girl dan gadis kampung yang tak berpengalaman.


Inara menyimpannya ke stiap meja karna yang meminta kopi atau teh diminta untuk memiliki no masing masing yang berbeda atau berurutan karna Inara belum hapal salah satunya dari banyaknya karyawan.


"Terimakasih Inara, teh dan kopi buatanmu selalu enak dan cocok di lidah saya" ucap salah satu karyawan laki laki yang mendapatkan lebih dulu kopinya.


Sang empu hanya menganggukan kepala tanda mengiakan, dan ia berlalu ketempat lainnya. dicangkir kap berwarna putih itu bertuliskan *Selamat Menikmati* dengan begitu karyawan menyukainya, itu hanya inisiatif seorang ibu hamil saja.


"Thank gadis manis" Ucap salah satu karyawan wanita dengan centilnya mengambil teh capnya dari tangan lembut Inara.

__ADS_1


"Sama sama kakak, selamat menikmati" Inara berucap dan tersenyum.


Selesai membagikan 15 biji kopi dan teh Inara bergegas turun ke lantai bawah ia tak sengaja menubruk bahu laki laki yang berjas hitam sedikit keras sampai ia terhuyung ke belakang.


Dengan sigap yang ditabrak menarik lengan Inara supaya tak terjatuh ke lantai keras itu, Inara berdiri dan menangkup dadanya lantaran kaget.


"Maaf, maaf sekali lagi pak! Saya tak sengaja" Inara memohon dan mengatupkan ke dua tangannya di atas kepala tanpa menoleh siapa yang ia tabrak tersebut.


"Iya tidak papa lagian saya tak melihat juga, apa kamu tidak apa apa nak?!" ucapan laki laki itu dengan lembut.


Inara merasa pamiliar dengan suara itu lantas ia memberanikian diri menatap orang tersebut. Degg dan ternyata orang yang membantunya selama ini membawanya dari kampung dan melepas kesedihannya.


"Kenapa menatap saya sperti itu? apa kabar mu Inara?" tanya laki laki itu lagi.


"Ahh tidak papa pak, kabar saya baik. gimana kabar bapak kenapa ada disini?! Apa bapak klien perusahaan ini" tanya balik Inara dengan beruntun.


Ya ia Tuan Vino tak sengaja ia turun dan mendapati Inara tengah membagikan kopi dilantai tersebut, ketika Inara turun Tuan Vino berjalan sperti tak melihat siapa siapa padahal ia sengaja menubrukan bahunya niatnya pelan namun Inara tak menyadarinya jadi cukup keras, ia hanya ingin bertegur sapa scara langsung saja bersama calon menantunya.


"Kabar saya baik, kamu bekerja disini juga. Ya sperti itu lah?" tanya Tuan Vino lagi pura pura tidak tahu, 'Ah ternyata ia tak mengetahui Ceo perusahaan saya, lugu sekali kamu sayang' diakhiri dengan kata tersebut tentu di dalam hati Tuan Vino.


"Allhamdulillah kalau begitu, saya ikut senang kalau pak bagas sehat. Emm bapak mau ketemu Bos saya kan! ya sudah ke atas saja lantainya paling atas maaf kalau saya tak bisa mengantar masih banyak pekerjaan lainnya yang menunggu" jelas Inara panjang lebar dengan senyum manisnya ia terbitkan.


"Ah iya kalau begitu saya ke atas dulu, kamu baik baik ya maaf saya tidak menjenguk kamu! jaga dengan baik cucu saya" ucap Tuan Vino dan menekankan kata Cucunya dengan lembut.


"Hemm Baik Kakek" jawab Inara menyerupai suara anak anak.


Tuan Vino berlalu dari tempat itu, Inara menatap punggung kokoh itu meski sudah tua dan seumuran bapaknya Pak Bagas tetap gagah dan berwibawa di mata Inara.


Tak trasa Inara perlahan meneteskan air matanyanya terharu akan ucapan Pak Bagas orang yang telah membantunya dari keterpurukan itu mau mengaku anak dalam kandungan Inara sebagai cucunya sendiri.


Padahal sebelumnya ia hanya orang lain yang tak saling kenal ia hanya tak sengaja bertemu distasiun dan menolongnya.


'Terima kasih tuhan masih ada orang baik seperti Pak Bagas semoga usahanya lancar dan makin jaya! Ia kakek baik sayang yang menolong kita'


Ucap Inara dalam hati dan mengelus perutnya sebentar dan beralih mengusap air matanya yang belum ia usap sejak tadi. Inara berlalu dari sana dengan kembali memancarkan senyumnya yang cerah seolah olah tidak memiliki kesedihan atau kesepian dalam dirinya.


.


.

__ADS_1


Maaf lama tidak up dan maaf kalau tidak nyambung๐Ÿ™


Next Part๐Ÿ’–


__ADS_2