Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 25


__ADS_3

Jalanan pagi hari sudah mulai ramai oleh kendaraan beroda, Alvin menatap lurus ke jalananan dengan tatapan dingin dan mencekam.


"Kita ke alamat mana den?" tanya sang sopir.


"Nanti saya beri tahu kalau sudah sampai tujuan, lurus saja" jawab Alvin dingin.


"Ah iya, Den Al" sigap Mang sopir.


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Alvin memberhentikan mobil dipelataran Rumah seperti kerajaan yang cukup mewah.


Alvin keluar menutup mobil scara perlahan "Mang tunggu saja disini, aku tidak akan lama" ia berlalu masuk.


Pertama ia menekan bel dan berucap salam scara sopan, Alvin tahu bahwa Fahmi anak guru yang memiliki pendidikan bagus, jadi ia berkunjung pun ingin dengan cara halus dan sopan.


"Assalamualikum" salam Alvin lantang disertai dengan menekan bel terus menerus.


Pintu terbuka dari dalam seorang maid perempuan dengan seragam hitam berenda tersenyum ramah ke arah Alvin.


"Temannya den Fahmi ya. Mari masuk semua orang sedang sarapan" ucap Maid itu ramah dan mengajak Alvin untuk masuk.


"Ah iya terima kasih bibi" balas Alvin dengan sopan.


Mereka beriringan masuk dan maid itu lebih dulu ke ruang makan sedangkan Alvin menunggunya di ruang tamu duduk dikursi menyandarkan punggungnya dan melipat tangannya di dada.


"Ada perlu apa lo pagi pagi kemari?!"


Ucap Fahmi berjalan menuju kursi samping sebelah Alvin dan ia membawa segelas jus Alpukat digenggamannya.


Fahmi duduk bersebelahan dengan Alvin kedua matanya bertubrukan dan saling menatap begitu sengit, Fahmi segera memalingkan wajah ke arah lain.


"Ku tanya sekali lagi, ada hal apa yang membuat lo datang kemari pagi pagi begini Al? bukan kah masuk sekolah dua jam lagi"


Fahmi bertanya dengan nada mengejek, menatapnya sinis dan juga jangan lupakan jus yang digenggamannya ia teguk dengan tandas tak tersisa.


"Kau harus tanggung jawab dengan perbuatanmu yang menjijikan itu" ucap Alvin dingin tak lepas tatapannya dari arah Fahmi.


Fahmi malah cengo dan menatap Alvin yang to the point tak menjawab pertanyaan nya ia barusan, 'dasar bocah tengik' batin Fahmi.


Fahmi sketika gelagapan dan so tenang, ia mengerti maksud Alvin soal tanggung jawab ia orang yang peka tanpa diperjelas pun sudah mengerti.


"Maksud lo apa sih Al, kalo ngomong jangan bertele tele gua gak ngerti maksud lo" ucap Fahmi pura pura tak mengerti.


"Oh sekarang lo mau jadi pengecut gitu? Asal lo tahu biar lo tak bertanggung jawab pun aku siap menjadi ayah bagi anak yang dikandung Inara" ucapan Alvin tegas.


Lantas Fahmi pun berdiri dan disusul oleh Alvin ia langsung menarik kerah seragam Fahmi dengan kasar dan berkata.


"Lo gak pernah dengar omongan gue, ketika lo menyakiti Inara hidup lo gak bakalan tenang! dan sekarang lo dipuncak Finalnya lo melukai segalanya dan rasakan akibatnya"

__ADS_1


ucap Alvin dingin dan melepas kerah seragam milik Fahmi kembali, Fahmi merapikannya dengan cuek dan menatap Alvin datar.


"Coba kalau bisa! dan soal Inara itu hamil terserah lo saja, gue gak suka anak anak oke. Meskipun ia darah daging gue, gue gak sengaja menanamnya di rahim yang murahan"


Ucapnya tanpa dosa, ia duduk kembali menatap Alvin jengah ia yang membuat Inara hamil kenapa Alvin yang meminta dirinya untuk tanggung jawab.


"Kau Iblis munafik stelah lo merasakan apa yang ia jaga, lo pergi tanpa permisi. tunggu pembalsanku"


Ucap Alvin dengan nada marah matanya berkaca kaca Alvin menendang kursi sampai menggeser ke dekat meja ia berlalu dengan ke adaan tidak baik baik saja.


'Maafkan aku Inara, aku mengaku masih anak anak dan tak bisa apa apa' batin Alvin berlalu dari rumah itu dan menuju mobilnya iapun masuk.


"Kenapa den?!" tanya sang sopir.


"Tidak mang, kita ke restaurant dulu saya lapar" Alibi Alvin mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya siap den"


Mobil melaju cukup cepat meninggalkan halaman rumah yang elegand nan cukup megah itu. Alvin mengambil ponselnya dan gambar yang ia cari hanya fhoto cantik wajah Inara yang sedang memakan manisan gula kapas.


Berwarna kuning sperti keinginannya Alvin pun mendadak tersenyum mengingat kembali masa masa Inara meminta permen kapas malu malu kepada Alvin.


'Ah dimna kamu saat ini, kita sebentar lagi naik kelas dan kamu pasti juara umum no 1 lagi Inara' Alvin kembali membatin dan mengelus lembut layar persegi itu.


Tiing.


Rentetan pesan dari sang ibunda Alvin bacakan dari malam dan pagi ini alvin belum sempat membacanya, ia sibuk dengan pikirannya dipenuhi dengan nama Inara Ramdhania.


[kamu baik baik aja kan sayang?]


Alvin menghela nafas berat, ia membalas pesan Bunda Alma dengan singkat, karna moodnya yang kurang baik pagi ini.


"Sudah sampai den" ucap sang sopir.


"Ah iya" Alvin mematikan layar persegi itu dan menyimpannya dikursi mobil lantas ia membuka pintu mobil dan keluar menuju restaurant tersebut.


Alvin duduk dipojok kanan menghadap jalanan yang mulai padat ia melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 07:30 waktu begitu cepat berlalu ia menghela napas dengan berat.


"Mang saya gak mau masuk sekolah hari ini, saya ingin sendiri dulu" ucap Alvin lemah.


"Den Al tidak apa apa? apa ada masalah?" ucap sang sopir penasaran.


"Tidak mang, saya cuma ingin sendiri saja" jawab Alvin dengan senyuman paksanya ia terbitkan.


"Ya sudah tapi makan dulu ya den, dari kemarin belum makan takut maagnya kambuh lagi" ucap mang sopir perhatian.


Alvin mengangguk pasrah, ia memiliki riwayat sakit maag yang sering kambuh dikala telat makan atau sering meminum minuman berkafein sperti kopi tanpa gula.

__ADS_1


****


"Ayah ayok kita ke rumah Alvin dulu, sudah lama Bunda tak ke sana!"


Kini Ibu Alma tengah merajuk kepada sang suami karna ia sudah merindukan Rumah kecil milik putranya itu, dari ia tiba di perusahaan sampai sekarang ia belum kesana.


Tujuan Ibu Alma itu ingin ke rumah mungil yang di kota ini, namun sang Suami malah mengajaknya menginap di hotel dekat perusahaan, sang Suami tak membawa Ibu Alma ke rumah itu karna memiliki alasan yang logis.


"Iya nanti Bunda, Ayah sibuk ini tanda tangan berkas belum selesai selesai dari tadi" ucap Tuan Vino beralasan.


"kan bisa tanda tangannya sama asisten Ayah, kan dari dulu juga sama Kenzo" sergah Ibu Alma meyakinkan.


"Sudah deh Bunda duduk dulu, selesai makan siang kita kesana!" ucap Tuan Vino lagi.


"Hahahh.. Oke deh" Ibu Alma akhirnya pasrah.


Ditempat yang sama dengan Tuan Vino, Inara tengah membereskan gudang tempat berkas berkas yang sudah tak terpakai, ia merapihkannya ke tempat semula.


"Hah,, capeknya! gimana kalau kandungan aku sudah besar. kayaknya gak bakalan kuat angkat beban sebanyak ini lagi" ucap Inara lirik dengan menghela nafasnya berat.


Inara terduduk di dekat lemari besar yang menjulang tinggi sampai atap sana, ia mengelus perutnya yang mulai keroncongan sejak pagi ia hanya serapan roti selai mangga dan satu gelas susu hamil.


Ia melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 11 siang pantasan perutnya selalu berbunyi karna sudah hampir tengah hari.


Sekarang Inara sehari makannya sampai lima kali kadang lebih, mungkin faktor hamil jadi nafsu makannya meningkat juga sering mengantuk saat waktu bekerja.


"Hah sedikit lagi ayok semangat Bunda" Inara berucap pelan menyerupai suara anak kecil menyemangati dirinya sendiri.


Ia berdiri kembali dan menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal separuhnya lagi.


Tok.. tok.. tok..


Ketukan pintu begitu nyaring di telinga Inara, ia seketika berhenti menumpukan berkas itu dan berjalan menuju pintu, terpampang disana wajah temannya Lusi dan Maya yang tengah tersenyum ke arah Inara.


"Ayok waktunya makan siang cantiiik" seru Maya dengan riangnya.


"Ahh iya ayok, soalnya udah ribut dari tadi ini cacing" ucap Inara sama tak kalah riangnya.


Mereka bertiga akhirnya meluncur ke lantai utama, menuju ke kedai biasa supaya ramah dikantong makanan plus harganya.


Maya memesan mie ayam dengan satu jus kesukaannya sam sperti Lusi sedangkan Inara selalu berbeda ia menyukai Bakso tulang dengan jus alfukat sperti hari hari sebelumnya.


.


.


.

__ADS_1


Maaf kalau gak nyambung🙏


Next Part💖


__ADS_2