
Tiiiiing
Lamunan Inara buyar seketika kala mendengar notif pesan masuk ke hpnya.
[Kenapa gak dibales sayang?] Wah ini orang suka banget bikin jantung aku berdisko.
[Ih apa sih sayang sayang gak enak didengernya] Aku balas kebalikannya, padahal aku bacanya senyum senyum sambil guling guling saking senengnya.
[Emang gak boleh aku panggil sayang.. hmm?] Balasannya.
[Bukan gak boleh, ya gak enak saja gak biasa] Sumpah aku gerogi banget kayak aku yang minta hubungan ini di jelasin.
[Emm.. Makanya kalau ditembak tuh langsung terima, ini dikasih waktu seminggu malah lewat satu hari niat diterima nih atau enggak biar aku gak panggil kamu sayang lagi] Balasannya lagi panjang lebar.
Salah siapa Inara tungguin depan gerbang sekolah malah sok gak lihat. Begitulah kalau digedein cemburu suka seenak jidat kalau mikir, Inara kebingungan harus bagaimana? Benar juga apa yang dikatakan Fahmi barusan harusnya Inara terima langsung karna benih benih cinta sudah iya rasakan setelah Fahmi menunjukan perhatian perhatian kecilnya.
[Emm itu gimana ya susah jelasinnya yang ditembak tuh aku, kamu gak tau perasaannya saat itu bagaimana Fahmiiiiiiii] Ngerti gak sih ih kesal banget aku.
centang dua abu abu, Hih kemana lagi? biasanya kalau chatan bareng aku centang dua biru langsung, dasar dasar fahmiiii.
Inara bergerutu sambil tonjok tonjok bantal ia lampiaskan kekesalannya pada benda yang tak tahu apapun dan tak bersalah sekalipun.
Seketika Inara mendengar kegaduhan dari ruang keluarga ketawa yang menggelegar, meskipun dikamar Inara TV menyala dan suaranya cukup kencang tak mengalahkan suara gaduh dari luar kamar.
Inara berdiri dan berjalan menuju pintu lalu berjongkok mengintip tiga manusia dari lubang kunci yang sedang bercanda dengan asyiknya.
Peria berkemeja hitam itu membelakangi kamar pintu Inara sedangkan A Iky dan temannya menghadap pintu.
Inara kesal dan mencabik, inara tak kehabisan akalnya supaya melihat pria yang membelakanginya karna penasaran ia menggedor gedor pintu dengan kencangnya supaya semua orang yang asyik bercanda menoleh ke arah pintu Inara.
Duk. Duk. Duk.
Alhasil semuanya menoleh, Inara menganga sambil menutup mulut. Pantesan Fahmi bilang cantik pake mukenah rupanya tahu langsung pas masuk rumah, haissh dasar ya.
"Ada apa ra?" A Iky bertanya, sambil melangkah mendekati pintuku diikuti kedua pria berbeda usia itu.
Inara beranjak dari sana dan kembali duduk di tepi ranjang sambil berpikir jawaban apa yang akan ia katakan pada A Iky.
Tok... Tok... Tok...
"Ra ada apa? Ini Aa di depan pintu" tanya A Iky lagi, sambil ketuk pintu.
Ah Inara ayo jawab malah bengong kamu.
"Nggak, gak ada apa apa itu tadi ada kecoa Inara takut dan lompat lompat" Jawabku agak berteriak.
"Sekarang gimana, kecoanya masih ada gak? Aa masuk ya" tanya A Iky lagi diluar sana.
Yah Inara tak keluar apalagi membuka pintu, Mangkanya ia menjawab sambil teriak karna ranjang dan pintu lumayan agak jauhan.
"Kecoanya udah pergi kok. Nggak, gak usah Ara mau tidur Ara juga gak papa " Jawabku.
Lenyap tak ada suara lagi cuma derap langkah kaki menjauh yang Inara dengar, Sudah dipastikan komplotan A Iky duduk kembali ketempatnya.
Inara merasa lega lantas komplotan A Iky gagal masuk kamar gara gara ulah inara juga tentunya.
Tiiiiing
[Ternyata takut kecoa juga]
[Bodo amat] aku sok judes karna masih kesal.
__ADS_1
[Keluar sebentar, aku tunggu depan pintu kamar mu]
[Mau ngapain? jangan aneh aneh kamu] Ish berarti dia gak pergi.
[Mau dengerin jawaban seminggu lalu yang kamu janjikan]
[gak mau, besok aja disekolah] aku masih ketus.
[Buruan Inara atau aku masuk aja langsung ke kamar]
Ish nyebelin banget ni orang Akhirnya aku berdiri dan menyambar switer dan memakainya karna aku pake t*ngt*p.
[Iya iya aku keluar] terkirim centang biru.
Inara perlahan berjalan pelan menuju pintu, Memegang kenop pintu dengan ragu karna rasa was was juga gerogi. sudah dipastikan inara panik takutnya Fahmi beneran depan pintu atau malah membohonginya.
Ceklek
Akhirnya Inara berani membuka pintu pemandangan pertama yang ia lihat Senyuman manis Fahmi. Ahh inara sudah dipastikan wajahmu merona dipandang sehangat itu apalagi sambil tersenyum.
"Emm kirain boong kalo kamu didepan pintu" Inara berucap duluan.
"Aku tak pernah bohong inara, ayo" Fahmi menuntun Inara duduk.
Kemana A Iky sama temennya pada ngilang batin inara.
"Kemana yang lainnya kok sepi mi?" aku bertanya karna penasaran.
"Diatas, Tenang jangan gelisah aku gak apa apain kamu kok, udah dapet izin pula dari A Iky" Fahmi tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya terhadapku.
"Emm I-iya" Aku gagap. karna tak biasa sedekat ini.
"Kenapa kok gitu ngomongnya?"
"Ah ada ada aja, dari kemarin kemana aja hmm?" Fahmi mencolek pipiku.
Ih dasar anak orang disentuh sentuh. Aku terdiam tanpa harus menjawabnya orang kita ketemu setiap hari di sekolah, satu kelas lagi.
"Emm.. iya apa jawabannya, aku mau dengar langsung?" Fahmi bertanya ke intinya.
Ya emangkan tadi ngechat inara cuma mau mendengarkan jawaban seminggu lalu, Inara mengangguk ia merasakan menyesal karna waktu itu tak mengiakan dan menerima perasaan cinta seorang Fahmi Friandika.
Karna benih benih cinta sudah tumbuh tanpa pikir panjang Inara menganggukan kepalanya dengan berkata.
"Iya aku mau menerima cintamu mi" Inara terus menatap pinggiran meja tak iya alihkan sedikitpun pandangannya ke arah Fahmi lantaran tak berani.
"Akhirnya, Natap aku dong masa bicara sama meja aku kan disini sayang" Fahmi menyentuh bahu Inara supaya menatapnya.
Dan Inarapun menatap Fahmi dengan rasa sayangnya mereka sama sama tersenyum karna bahagia, akhirnya masa jomblo mereka telah berakhir malam ini.
Inara merasakan kelegaan dihatinya setelah seminggu lalu ia menyimpan perasaan nya dengan penuh sesal karna tak langsung menerima Fahmi kala itu, Mungkin kalau ia terima langsung sudah pasti merasakan manisnya masa masa pacaran.
Walaupun bigitu tetap merasakan bahagia meski sudah berlalu seminggu pun, kadang ada banyak rasanya terhadap Fahmi. Kesal, Marah dan kecewa.
"Terima kasih Sayang" Ucap Fahmi Sambil mendekat.
"Ih ngapain" Inara kaget langsung menahan dada bidang Fahmi, takutnya kelepasan.
Fahmi diam tanpa menghiraukan ucapan Inara, Fahmi lebih maju mendekat ke wajah Inara. Cup Satu kecupan lolos dapat Fahmi Rasakan manisnya b*b*r sang kekasih.
Inara melotot tidak menyangka ciuman pertamanya Fahmi ambil.
__ADS_1
"Manis" Ucap Fahmi sambil menjauhkan wajahnya kembali dari wajah Inara.
Pipi Inara merona kala Fahmi menatapnya terus menerus tanpa beralih ataupun berpaling.
"Sudah Tidur gih sudah malam, besok sekolah ntar kesianngan lagi" ucap Fahmi.
"Iya Aku ke kamar dulu ya" Inara berdiri dan segera melangkah.
Sampai pintu Inara menoleh kebelakang, tanpa disadari Fahmi mengikuti Inara menuju pintu alhasil Inara berbalik pas di dada bidang Fahmi otomatis membentur dadanya.
"Mau kemana hmm? kan disuruh masuk kenapa berbalik, udah kangen lagi" Fahmi melayangkan pertanyaan sambil tersenyum.
"Nggak tadinya mau dadah aja, hehe" Jawab Inara kikuk.
Fahmi mendekat otomatis Inara mundur dan mentok di bibir pintu, Semakin dekat dekat lagi Cup Fahmi mengecup kembali b*b*r sexy Inara dia menggigit b*b*r bawah Inara supaya terbuka dan menerima sentuhan darinya.
Inara perlahan membuka mulutnya dan lamat laun menjadi lum*tan, Inara memejamkan matanya karna merasakan benda kenyal menekannya dengan pelan namun pasti.
Sepersekian detik Fahmi melepaskan ciumannya ia menyentuh sudut bib*r Inara dengan Ibu jarinya.
"Sudah Malam ayo masuk, I Love You Inara Ramdhania" Fahmi berbisik.
Inara buru buru masuk sebelum pintu di tutup Inara menjawab ucapan Fahmi "I Love You Too Fahmi Friandika" Inara menutup dan langsung menguncinya.
Inara sangat bahagia Ia bersandar dibalik pintu, menormalkan detak jantungnya yang tak karuan sebab mendapakan ciuman dadakan dari seorang Fahmi Friandika sang pujaan hati.
Inara lantas menuju ranjang dan duduk, tak iya terbayangkan akan secepat ini Fahmi persunting dirinya jadi tambatan hatinya, pemilik penuh relung hatinya. Ah rasanya Inara sangat bahagia hari ini dan seterusnya.
Rumah umi menjadi saksi menyatunya perasaan yang seminggu lalu Fahmi ucapkan, begitu juga saksi pertama dan ciuman pertama Inara ia lepaskan Untuk Fahmi malam ini juga.
***
Pagi Tiba
Jam 5 lewat Inara bangun, Ia mengucek mata sambil mengecek hp. Ada dua notifikasi pesan masuk dari Fahmi.
[Yang aku pulang dulu, Takut telat jemput kamu]
[Oia kakak aku diatas gak usah dibangunin bilangin ke A Iky dari kemarin kurang tidur kasian]
Dasar ayang aku, wahh ciee jadi ayang aku sekarang mah yaa... 🤣
Inara beranjak menyimpan kembali hpnya tanpa membalas Fahmi, Ia membuka kunci pintu lalu keluar menuju kamar mandi.
Jam berlalu kini sudah menunjukan jam 6 pagi, Inara sedang asik di dapur masak tumis buncis dicampur tahu dengan ceplok telur. Disajikannya di meja dengan di tata rapi.
Selesai masak Inara membereskannya, setelah beres Inara menutupi masakan tadi dengan tudung saji lalu Inara beranjak menuju kamar mengganti bajunya dengan seragam hitam polet keemasan bertuliskan TKJ3.
Jam menunjukan pukul 07:00, Tak ada pertanda A Iky bangun. ya sudah biarlah ntar bangun sendiri paling siang gumam inara sambil berjalan menuju rak sepatu.
Inara keluar berjalan menuju jalan raya dikagetkan dengan suara semalam yang menjadikan ia kurang nyenyak tidur "Selamat pagi tuan putri"
"Iya pagi juga kang bucin" Inara tersenyum sambil menatap balik lawan bicara.
"ya udah ayok naik sudah siang" Aku naik duduk menyamping karna aku pake rok.
Inara tersenyum baru kali ini Iya merasakan kalau Indahnya pacaran seperti ini, Bahagianya dicintai cinta pertama itu seperti ini, Inara beruntung tak seperti teman temannya dikampung bahwa cinta pertama selalu ditolak dan dilupakannya susah.
.
.
__ADS_1
Dukungannya kawan🙏
Next Part💖