
Hari beranjak larut malam, seorang wanita dengan balutan kemeja kotak kotak tengah tertidur dikursi penumpang dengan tenangnya.
Wajah ayu dan mulusnya terpancar tatkala tengah terlelap, dengan laki laki disebelahnya yang tak lain sosok penolong Inara yaitu Pak Bagas.
Ya mereka sedang dalam perjalanan menuju kota bogor tempat yang akan Inara tempati bersama anak dan khidupan barunya.
Inara sudah menceritakan dirinya yang diusir serta sedang mengandung anak mantan pacarnya, Pak Bagas hanya bisa menolong memberi tempat tinggal.
"Nak bangun, kita sudah dekat dan akan sampai" gumam Pak Bagas pelan membangunkannya!
"Euggh,, Ahh iya Pak maaf tidurnya pules banget, Ara soalnya tak dapat tidur senyenyak ini dari kemarin" ucapnya serak.
"Ahh iya mulai sekarang dan seterusnya kamu tidur yang nyenyak ditempat itu" senyum Pak Bagas.
"Iya sekali lagi terima kasih banyak Bapak sudah sudi mau menolong saya, saya tidak tau balas budi apa yang saya berikan kepada Bapak?!" tatapan Inara lebih serius.
"Kamu tak perlu berbalas budi, kamu cukup jadi diri kamu sendiri dan jaga anakmu sebaik mungkin. Oke!"
"Ayok turun, kita sudah sampai" Ajak Pak Bagas.
Rumah kecil dan sederhana bersih juga rapi, letak dipinggir jalan berjarak satu meteran lebih dengan rumah lainnya. Satu kata yang Inara ucapkan saat masuk kedalamnya 'Nyaman'.
Inara melihat lihat isinya, kamar utama dan kamar tamu dapur yang rapi dan tempat makan didekatnya, mata Inara seketika berkaca kaca impian sederhananya ternyata orang lain yang mewujudkan bukan orang yang Inara sayangi apalagi sosok suami.
"Apa kamu suka tempatnya nak?!" Tanya Pak Bagas.
"Ini sanagat nyaman dan saya sangat suka, Apa ini asli rumah Bapak?" tanya balik Inara.
"Sebenernya ini rumah milik anak saya, dia yang merekomendasikannya seperti ini. Semenjak dia saya ajak pindah tempat dan sekolah ia jarang kesini, mungkin disana ada mawar yang menarik perhatiannya"
Senyum Pak Bagas terbit begitu manis dan lembutnya, ia menatap sekeliling ruangan untung tak ada fhoto keluarganya atau anaknya, bisa ketahuan ia berbuat baik ada maksudnya.
'Untung tak ada Fhoto anak bandel itu, ternyata orang yang dicintai anaku jadi korban keberingasan mantan pacarnya, aku akan menjagamu mulai sekarang karna kau anaku ingin belajar dengan keras supaya ia mendapatkan kedudukan yang layak untuk meminangmu' ucap Pak Bagas menatap iba wajah Inara.
Ya iya Alvino Bagaskara kerap dipanggil Pak Bagas karna ia tak suka menonjolkan diri dimata mereka yang serakah dan haus akan kedudukan, Pak Bagas mengetahui siapa Inara? Orang yang membuat anaknya jadi banyak berbicara terbuka dengan dirinya, karna sosok ayah ingin melihat anaknya bahagia maka Pak Bagas mencari tahu identitas Inara.
Ternyata berasal dari kampung yang Pak Bagas tempati dinas dalam seminggu ini, ia mendapat informasi dari kaki tangannya bahwa Inara diusir warga karna hamil diluar pernikahan.
Pak Bagas sempat terpukul dan kecewa. Namun perjalanan pulang kembali kekotanya ia urungkan karna ingin mendengarkan pernyataan anak itu langsung dan akan pura pura membantunya
Namun siapa sangka Inara membutuhkan pertolongan orang itu dan stelah penjelasan itu didengar dari orangnya langsung Pak Bagas menjadi ingin menjaganya sampai anak itu lahir dan mempertemukan Alvin anaknya bersama Inara.
***
Sedang disisi lain seorang ibu tengah berbaring dengan gelisahnya ditempat tidur 'kamu dimana sayang' batin sang ibu yang menghawatirkan anaknya.
Karna kebisingan yang sebelahnya mata yang tadinya terlelap kini terbuka dan beralih menghadap samping.
"kenapa belum tidur dan terus saja mengeluarkan kebisingan Bapak terganggu, cepat tidur ini sudah jam 2 pagi"
Pak somad menyentak Istrinya meskipun suara itu lemah namun ia dapat melukai hati sang istri, Ibu Winda menurut lantas ia berbalik menyeka air matanya dan menutup mata.
'Semoga kamu tidak kenapa napa anak ku, semoga malaikat penolong ada untuk mu'
__ADS_1
Pagi menyingsing kicau burung yang berisik mampu membuat sosok ibu itu lupa akan kejadian seminggu yang lalu, ia asyik berkutat didapur tempatnya meracik makanan.
"Mah ada telpon, angkat dulu bapak lagi cukuran" Teriak sang suami dari teras depan.
"Iya" Ibu winda bergegas dan mematikan kompor terlebih dahulu, ia menuju ke meja ruang tamu dan melihat benda jadulnya berdering dan bergetar ditempatnya.
Ia tak langsung mengangkatnya malah mematung melihat nama yang tertera 'Bah Ahmad' dengan santainya Pak Somad mengambil hp digenggaman Istrinya mengangkatnya dengan suara ramah seperti yang tak terjadi apa apa.
"Hallo, Assalamualikum?!" terdengar salam dari sebrang sana.
"Ya Waalikumusalam" jawab Pak Somad mengelegar.
"Gimana kabarnya dikampung?"
"Allhamdulillah sangat baik, gimna kebalikannya disana?"
"Allhamdulillah baik juga, oh ia Mad kenpa Inara belum kesini sekolah sudah masuk apa ia sehat?" Tanya Abah dengan nada khawatirnya.
"emm maaf belum ngasih tau ya dari kemarin soalnya saya sibuk sekali diladang, Inara katanya tidak betah disana bah ia ingin tinggal disini lagi bersama saya dan mamahnya" ucap Pak Somad setenang mungkin.
"Bagaimana dengan sekolahnya tanggung dong, teman teman nya juga banyak yang merindukannya" sela Pak Ahmad.
"Keluarkan saja bikin alasan yang masuk akal, karna saya juga tidak mau berjauhan dengan putri kami satu satunya. Itu terserah abah yang penting Inara tak ingin kembali lagi kesana" jawab Pak somad panjang lebar.
"mana Aranya biar saya yang bicara"
"Kebetulan Ara sedang keluar pagi ini kepasar dengan Mamahnya" jelas Pak somad lagi.
"Iya iya Waalaikumusalam"
Pak Ahmad membanting hp jadulnya dengan keras ke dinding dan rusak terpecah belah menjadi dua, ia mengumpat dengan teriakan yang menggema diruangan yang cukup lebar itu.
"Sudah pak, mamah takut"
ucap sang istri lirih dan menangis sesegukan dipojok dekat kursi dengan memeluk lututnya.
"Apa kita tak berdosa berbohong seperti Ini pak, bapaaaak" Teriak Ibu Winda dengan mata yang merah menatap suaminya dengan benci.
"Mah, mamah sadar kita bilangin apa lagi sama mereka, kalau kita ucapin yang sebenarnya juga akan membuat mereka malu dan marah, siapa yang akan lebih tersakiti?"
Tanya Pak Somad dengan merangkul sang istri dibaluti dengan kesedihannya yang sama. Pak Somad tak punya pilihan lain, ia membohongi Pak Ahmad dengan alasan lain.
"Trus bagaimana dengan anak kita pak, mamah gak bisa tidur setiap malam ingat terus"
"jangan diingat terus kita akan terbiasa tak ada dia, biarlah ini pelajaran untuknya"
"Tapi pak, kita mana mungkin menelantarkan anak yang sedang mengandung. Mamah merasa dosa sekali"
Pak Somad tak membalas atau menyahut perkataan sang Istri, ia hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia langsung membelakangi sang istri dan berlalu keluar rumah tak tahu pergi kemana.
Ibu Winda tak ingat masakannya yang belum selesai ia malah menangisi sang anak yang pergi dari rumah dan khidupannya. 'Cepat kembali nak' satu kata kala beranjak ia dentumkan dan berlalu masuk kamarnya.
***
__ADS_1
Disisi lain kota M sekolah wargakusumah tengah diadakan syukuran penyambutan guru baru.
Seorang pemuda berusia 18tahun melamun tak mendengarkan ucapan pidato didepan sana, ia melamunkan gadisnya yang tak kunjung masuk sekolah sudah hari keempat tepatnya hari kamis ini ia tak melihat orang yang ia rindukan.
Seminggu lebih tak ada kabar darinya dichat tak ia balas apalagi ditelpon sudah tidak aktif 'kemana kamu Inara, kerumah Pak Ahmad tidak ada apa aku harus ke kampung mu' gumam kecil seorang Alvin Bagaskara.
"Al lo udah ke rumah Pak Ahmad belum?" Tanya Riyan mengagetkan Alvin yang tengah melamun.
"Ahh, sudah tadi pagi. Cuma nggak ada dia katanya nanti dikelas ada pengumuman tentang Inara" ucap Alvin dengan tatapan sendunya.
"Kira kira apa ya? jangan bilang sahabat gue pindah sekolah Al, ntar gue gak punya temen!" serobot Riyan dengan muka marahnya.
"Elo kehilangan temen, gue khilangan hati gue separuh. Gini caranya gue pindah lagi sekolah ke bogor atau kekampungnya Inara sekalian" ucap Alvin seserius mungkin.
Mereka berbincang tanpa mendengarkan guru didepan sedang berpidato. Alvin dengan pikirannya sedang Riyan sama dalam pikirannya yang kalut.
***
Dikota bogor seorang wanita tengah memilah milih sayuran yang segar di depan rumahnya, berbarengan bersama ibu ibu yang lain berkenalan dengan ramah juga sopan.
"Iya bu saya pendatang baru dikota ini, itu rumah saya yang bercat coklat, si mbanya pendatang baru juga?!"
Tanya si ibu yang berdaster biru gambar laut itu memperkenalkan diri kepada yang lain termasuk Inara.
"Iya saya sudah seminggu lebih disini" ucap Inara sopan.
"Bersama suami atau orang tua mba?"
Inara tak langsung menjawab lantaran bingung jawaban apa yang pas untuk ia ucapkan kepada ibu ibu yang lain.
"Emm bersama paman saya, cuman paman saya punya keluarga jadi tak tinggal bareng saya disini" ucap Inara sesopan mungkin.
"Kalau tak salah itu rumah Pak Bagas ya! berarti kamu keponakannya ya?" ucap salah satu ibu berkerudung navy.
"Iya betul dulu kalau dinas dikota ini, anak istri serta anaknya yang ganteng kayak opa opa itu sering menempati rumah itu" balas yang lain menganggukan kepakanya serempak.
Inara tak menanggapinya dengan serius ia cuma menganggukan kepala dan tersenyum manis, supaya tak terpikirkan terus ia mengalihkan topik.
"Ibu maaf apa ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja disini, seperti beberes rumah?!" tanya Inara ramah.
"Emm gak ada mba, kami semua ibu rumah tangga bukan kantoran. ada sih didepan sepanduk yang membutuhkan tenaga sebagai OB dikantor besar depan sana" ucap salah satu ibu berbadan gemuk.
"kamu ngapain kerja kan paman kamu kaya raya pak bagas itu" ucap ibu ibu lainnya lagi.
"Gak enak ngerepotin terus bu, ya kesal saja dirumah sendirian kan yang beberes rumah juga suka datang pagi dan stelah beres pulang lagi" ucap Inara jujur.
Ya memang Pak Bagas menugaskan wanita paruh baya membereskan tempat itu cuman pagi saja karna Inara menolak keras karna ia masih mampu mengerjakan yang lainnya sendiri.
Inara dibekali uang kes oleh Pak Bagas untuk kebutuhan sehari hari, karna Pak Bagas akan ketempatnya lagi satu bulan sekali. Inara tak curiga atau apapun masih ada orang baik dizaman sekarang yang mampu mengurusi khidupannya tampa embel embel syarat jadi apa.
Inara bertekad dan berjanji suatu saat anaknya lahir ia akan membalas budi kepada orang yang telah menolongnya, dan akan giat mencari uang untuk mengembalikan apa yang Pak Bagas berikan kepadanya.
Maaf kalau gak nyambung🙏
__ADS_1