
Kota M sekolah wargakusumah dikelas TKJ3 tengah di adakan pengumuman oleh Pak Ahmad wakil kepala sekolah.
"Assalamualikum semuanya, Bapak akan mengumumkan sesuatu pada murid muridku sekalian" salam sang wakil kepala itu.
"Waalikumusallam, pak" balas muridnya serempak.
"Bapak mau mengumumkan, Bahwasannya murid siswi yang bernama Inara Ramdhania telah keluar karna tidak dapat meneruskan pendidikannya disekolah ini, mohon ketidak nyamanannya kalian maklumi, Apakah ada pertanyaan?!" ia lontarkan panjang lebar dengan hati yang gundah.
Semua murid dikelas itu semuanya terkejut dan penuh tanda tanya terkecuali Fahmi ia merasa bebas juga senang ia berarti lepas tanggung jawab kepada Inara kalau terjadi apa apa, dan Fahmi malah senyum senyum sendiri beda dengan raut wajah Alvin yang memerah menahan sesak.
Alvin mengangkat tangan kanannya tinggi tinggi ia ingin melayangkan pertanyaan kepada guru yang didepannya itu.
"Kenapa Inara berhenti secara tiba tiba pak, apa ia baik baik saja?!" tanya Alvin dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Inara allhamdulillah baik baik saja, ini emang pilihannya katanya tidak mau jauh dengan orang tuanya" jelas pak Ahmad lagi.
"Ohh, terus gimana dengan pendidikannya pak kan ia cerdas pintar dan berpropesi" ungkap Dina orang yang sering julid kepada Inara.
"Mungkin ia disana diteruskan dengan paket C, ya sudah pertanyaannya sekian dan terima kasih bapak ke kantor dulu, Assalamualikum"
Balasan anak yang lain serempak kala Pak Ahmad berpamitan dan membuyarkan pikiran Alvin yang jauh melanglang buana kepada Inara, Ia beranjak saat Pak Ahmad sudah tak ada di tempatnya.
Alvin berjalan ke depan sisi kaca ia tak menghiraukan ucapan Riyan, Ia menarik kerah seragam Fahmi dengan marahnya.
Dari fisik Alvinlah yang dapat ia tinggi tegap berotot dan tenaga yang kuat maka saat Alvin mengangkatnya Fahmi terangkat dan mendongak dengan tatapan bingungnya.
"Kau apakan Inaraku, sampai ia tak kembali lagi kesini hah?!" tanya Alvin dengan suara seraknya menahan amarah.
"Heyy lu lepasin gue, gue tak pernah apa apain tuh cewek kampung" sergah Fahmi dengan mata garangnya.
"Jangan coba coba lu sakitin dia atau lu rasakan akibatnya" Alvin melepaskan cengkramannya.
Alvin sempat ingin berbalik namun suara dan ucapan Fahmi mampu membuat Alvin menjeda langkahnya.
"lu belain cewek sampah kayak si Inara, kalau lu tau belangnya lu juga bakalan kecewa Alvin, menjijikan" sungut Fahmi.
Buuuk,, tinjuan itu Alvin layangkan kepipi kanan Fahmi dan ujung mulutnya mengeluarkan darah segar.
"Sekali lagi lu berucap seperti itu, gue tekankan sekali lagi lu tak akan hidup bebas seperti sekarang, camkan ucapan itu" Alvin berlalu dan duduk kembali dikursinya.
***
Disisi lain si Ibu hamil yang masih muda tengah duduk dan melamunkan sosok yang telah menyakiti prasaan hati fisik serta pikirannya.
Ia membayangkan masa masa indahnya selama enam bulan berpacaran dengan sosok laki laki yang menitipkan sosok malaikat di rahimnya.
Inara sangat membenci sosok laki laki itu saat ia dinyatakan telah mengandung benihnya dan hidup sehat didalam kandungannya.
__ADS_1
'Maafkan bunda ya sayang, bunda sangat membenci Ayah kandungmu. karna ia sosok laki laki yang lepas tanggung jawab setelah ia menitipkanmu dirahim bunda ia memutuskan hubungannya. sehat sehat selalu ya nak cuma kamu satu satunya keluarga bunda sekarang'
Inara membatin meneteskan air matanya dan mengelus perutnya yang sedikit menonjol namun belum besar itu, usia kandungannya akan menginjak dua bulan jalan.
'kamu harus kuat meski tanpa sosok ayah, bundalah yang akan menjadi ayahmu sekaligus' ia mengelus perutnya dengan penuh sayang.
"Ahh ia aku besok harus ke kantor itu, biarpun jadi kang parkir atau ob pun tak masalah. yang penting aku dan anaku bisa makan dan memiliki biaya untuk lahiran nanti" ucap Inara.
"Do'akan bunda ya sayang"
Inara beranjak menuju kamarnya ia sudahi duduk santai di depan terasnya karna hari menuju terik dan tidak bagus untuk kesehatannya.
Saat Inara berbaring dan ingin memejamkan matanya sosok yang membelikan manisan kapas itu muncul dengan senyuman manisnya Inara refleks terbangun dan duduk bersila dikasur.
"Kenapa harus wajah kamu sih Al, heyy nak apa kamu ngidam bang Alvin yaa tau aja kamu yang ganteng ganteng" elusan tangan Inara pelan dan ia cemberut menatap kaca besar didepannya.
Inara beranjak dan mengambil tas besarnya dilemari ia membawanya ke atas kasur empuk itu.
"Aku belum cek tas yang aku bawa, mungkin Bapak masukin hp aku ke tas" monolog Inara pelan.
Namun nihil setelah Inara mengacak ngacak dan mengutak ngatik isi tas itu iya tak menemukan benda pipih itu, pantesan stelah seminggu ia berada disini tak pernah sekali mendengar suara gawai berdering atau bergetar.
Rupanya ia sudah tak memiliki benda persegi itu, Inara duduk di bibir ranjangnya dengan setetes dua tetes air bening itu berjatuhan dengan bebas.
Tak terasa ia menangis dengan sesenggukan dengan tubuh yang meringkuk di atas kasurnya dan dengan mata terpejam tangisan itu seketika berhenti dan sangempu pun tertidur.
***
Ia menemui wakil kepala sekolah yang sering Inara panggil dengan sebutan Abah kala dikediamnnya, Alvin berhadapan dengan Pak Ahmad dengan santai dan biasa tidak ada kata tegang atau takut.
"Ada apa Alvin kamu menemui Bapak?!" ucap Pak Ahmad membuka percakapan.
"Tidak ada pak, Saya cuma meminta Alamat Inara sedetail mungkin" jawab Alvin Santai.
"Buat apa?" tanya pak Ahmad lagi.
"Bukan saya yang minta, tapi Riyan sahabatnya ia menunggu diluar gerbang sana" alibi Alvin supaya tak curiga.
"Ohh ya sudah saya sharelok saja kalau gitu ke Riyan langsung" ucapnya.
Lantas Alvin juga mengangguk dan berpamitan ke luar, ia bingung cara apa yang akan ia jelaskan ke Riyan sedangkan orang yang ia sebut sebagai alasan sudah pulang lebih awal.
Tanpa pikir panjang Alvinpun menghubungi Riyan dari kontaknya, setelah tersambung ia tanpa basa basi lagi bertanya.
"Hallo yan, lokasi yang Pak Ahmad kirimkan udah ada belum?" tanya Alvin to the point.
"Apa lo yang minta lokasi Inara Al dan lo beralasan gue yang minta, julid banget lu dah" sungut Riyan disebrang sana.
__ADS_1
"Iya kalau gue jelasin gak enak dodol, ya sudah lu kirimin balik aja ke gue"
Alvin memutuskan sambungannya sepihak dengan rasa penasarannya ia berlalu menuju tempat biasa ia dan supirnya parkir.
"Mang jangan pulang dulu, kita jalan jalan dulu ya" ucap Alvin dengan membuka pintu belakangnya.
Tiiiiing
Pesan baru masuk ke gawainya dan ia tersenyum kala mendapatkan alamat sang wanita incarannya ada digenggaman.
"Kita ke kampung dukuh ya mang" senyum Alvin mengembang.
"Mau ngapain kesana den, itu jauh sekali dan membutuhkan waktu enam Jam" jelas sang sopir.
"Terus nyampenya bakalan nanti malam den, gak bakalan sempet kalau bulak balik" jelas sang sopir kembali.
"Emm gimana ya mang?" ujar Alvin bingung.
"Gimana kalau besok aja den, kan nyonya besok akan ke perusahaan yang dibogor" ucap sopir lagi.
"Ahh iya mang, Besok saja lah sekarang kita pulang saja aku lelah"
Alvin menyandarkan punggungnya kesandaran kursi ia membuka kembali gawainya melihat album fhoto di galery nya, ia melihat lihat fhoto Inara yang ia diam diam ambil saat Inara memakan permen kapas waktu itu.
'Apa kabarmu ara' gumam Alvin pelan dengan memejamkan matanya dalam 'aku merindukanmu' sambungnya lagi.
Perlahan Alvin terlelap dengan tangan masih menggenggam gawai miliknya terpampang fhoto Inara dengan senyum indahnya memakan permen kapas warna kuning yang ia pilihkan.
Sampai didepan rumah Alvin tersadar karna sang sopir membangunkannya.
"Den bangun kita sudah sampai rumah"
"Eughh ah iya mang, terima kasih telah membangunkan" ucap Alvin berlalu dan menutup pintu mobil scara perlahan.
Ia masuk kedalam rumah, melewati sang ibunda yang sedang membaca majalahnya dan naik ke atas tangga dan dipenghujung tangga paling atas berhenti.
"Kamu kebiasaan kalau masuk rumah tidak berucap salam, Alviiin" teriak sang bunda geram.
"Ahh maaf kirain tidak ada orang" seloroh Alvin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Oh jadi Bunda bukan orang gitu, dasar anak ini ya awas kamu"
Alvin seakan ditelan bumi dalam sekejap ia menghilang ke balik pintu, Ia membanting dirinya ke tempat tidur tanpa melepas seragam atau sepatunya.
.
.
__ADS_1
Next Part💖