Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 19


__ADS_3

Disisi lain Fahmi tengah nongkrong di sebuah caffe bersama teman temannya, Andika, Hasbi teman wanita ikut serta, termasuk Yolanda.


Mereka sedang asyik ngobrol santai juga dimeriahkan dengan gelak tawa yang renyah, suasana siang itu terasa nyaman bagi mereka.


"Mi lo gak kasihan sama dia?!"


Suasana riuh menjadi hening tatkala Hasbi membuka percakapan melayangkan pertanyaan kepada sang sahabat yang sedang dilanda asmara itu.


"Ngapain kasian, dia juga udah dapet penggantinya yang lebih ganteng plus kaya dari gue" Sungutnya menjawab.


"Emang siapa mi?, om om bukan!" tanya salah satu teman Yolanda.


"Bukan lah dodol, ia masih disekolah kita, malah dia pendatang baru dan satu kelas sama gue" ucap Fahmi dengan bersandar dikursi.


"Ah ia mi, pasti si Alvin ya? dia kan anak Sultan itu yang perusahaannya dimana mana" Sahut Yolanda.


"Wishh tau aja kamu, anak pinterr" timpal Fahmi menatap sang gebetan dan mengusap kepalanya lembut.


"Aciee,, mesra mesraannya jangan disini lah kita kita pada iri tau" serobot anak anak cewek teman Yolanda.


Fahmi memang tidak merasa kasian kepada Inara, yang ia takutkan cuma satu hal takut sang mantan kekasih hamil dan meminta pertanggung jawabannya! Ia belum merasa siap menjadi orang tua diwaktu masih muda usia saja ia baru 18tahun. boro boro jadi ayah yang harus menafkahi anak dan Istri uang jajan saja masih meminta kepada orang tua.


'Mudah mudahan gak jadi lah bibit gue, ceroboh banget perasaan gue gak pernah buang sembarangan kalau maen' Fahmi melamun dan tak scara langsung memikirkan Inara.


"Kamu lamunin apa sihh, awas aja lamunin mantan pacar kamu yang kampungan itu" Serobot Yolanda kesal yang melihat sang calon pacar melamun.


"Kita pulang yu, aku anterin kamu pulang hari sudah sore ntar mami kamu nyariin" Ucap Fahmi mengalihkan pembicaraan.


Fahmi pamit ke teman teman lainnya moodnya sedang tak baik, ia menuntun Yolanda untuk pulang. Yolanda sepanjang jalan menuju parkiran terus cemberut menatap sinis kepada Fahmi, lantas Fahmi berhenti.


"Ada apa hmm, cemberut terus entar cantik plus imutnya ilang?!" ucap Fahmi merayu.


"ini juga gara gara kamu" jawab Yolanda masih dalam mode cemberutnya.


"lah kok gara gara aku, kenapa hmm?!"


Fahmi bertanya sambil berjalan menuju kendaraan beroda duanya, memakai helm dan naik ke atasnya.


"Kamu tadi kenapa malah mengalihkan pertanyaan aku, kamu tadi didalem lamunin siapa Fahmiii?"


Tanya Yolanda dengan gregetnya, ada ya orang calon pacarnya di depan masih saja mikirin cewek yang lain dasar cowok.


"Ahh itu cuma mikirin kamu aja, ntar cara apa yang pas nembak kamu"


Fahmi tersenyum ke arah Yolanda dengan semanis mungkin, mungkin senyuman itu tulus tapi tentang pernyataan Fahmi barusan hanya dusta saja supaya sang calon pacar percaya bahwa ia tak memikirkan perempuan manapun selain Yolanda.


Lantas Yolanda pun menjadi tersipu ditatap dengan senyuman manis yang Fahmi miliki, ia tak salah meski Fahmi hasil rampasan dari orang lain. Ia bahagia bahwa orang yang Yolanda idam idamkan secara diam diam ternyata sudah menjadi kenyataan bisa ia genggam, bisa ia tatap sepuasnya.


"Yasudah ayok naik, kamu mau aku tinggal disini" Fahmi bersuara kembali kala tatap tatapan itu terlepas.


"Ishh kamu dasar yaa" Yolanda mencabik dan duduk menyamping di jok belakang.


"Pakai dulu helmnya doong, ntar rambut kamu acak acakan kayak singa" tawa Fahmi pecah.


"Fahmiiii ish kamu nyebelin tau" Yolanda menepuk nepuk pundak Fahmi.

__ADS_1


"Iya yaudah pegangan kita pulaaang"


Suasana hening cuma suara kendaraan melaju yang terdengar, mereka pulang dengan hati yang berbeda, Yolanda dengan hati yang berbunga bunga sedangkan Fahmi dengan hati dan otak yang bertolak belakang.


***


Disebuah tempat yang nyaman bisa membuat seorang pemuda berusia 18tahun mampu tersenyum senyum dengan memandangi wajah wanitanya yang cantik nan ayu dilayar datar itu.


Ya dia sosok Alvin Bagaskara yang sedang merindukan Inara sang pujaan hati yang belum ia miliki sepenuhnya masih angan angan jauh yang ia genggam dan tatapan dari kejauhan yang ia dapatkan 'oh Inara kau wanita yang membuatku gila scara perlahan'.


Membayangkan wajahnya yang ayu tersenyum lembut padanya saja sudah membuat seorang Alvin melayang lupa kesadaran bahwa ia dialam nyata.


"Alviiiiin kenpa senyum senyum sendiri, liatin apa di hp hah?!"


Tanya sang bunda, sketika Alvin langsung menyembunyikan layar datarnya dan merubah senyumnya menjadi dingin kembali.


Sang bunda duduk disebelah Alvin "kamu liatin fhoto siapa Al? gadis mana yang kamu cintai sayang?!" tanyanya lagi.


"Bunda kepo banget sih, belum saatnya tau nanti aja Alvin bawa pas perusahaan yang dibogor Alvin duduki. Oke" sergah Alvin.


"Bunda cuma mau lihat fhotonya saja sama kayak kamu, kalau ia menurut mu baik bunda akan selalu mendukungmu"


Bunda menatap anaknya dengan tulus dan perhatian, ia juga mengelus punggung Alvin dengan sayang.


"Meski gadis itu sederhana dan berasal dari kampung?!" tanya Alvin serius.


"Bunda hanya ingin melihat anak bunda bahagia, meskipun dia siapa akan bunda dukung tapi bunda mau yang bisa masak supaya kamu gak kelaparan hidup bersamanya" Jawab bunda terkekeh.


"Yang terpenting sekarang kamu belajar dulu yang pinter, bener dan rajin. Bunda gak mau nanti menantu bunda kucel karna suaminya gak sanggup belikan peralatan wanita".


***


Sedangkan dikampung dukuh tengah riuh dengan orang orang yang mengusir wanita hamil tanpa suami dan diluar pernikahan status pelajar yang menggegerkan warga.


Wanita dengan balutan kaos berwarna hitam itu kotor dan bau busuk karna dilempari telur busuk dan tanah basah, orang tua mana yang tak tega melihat anaknya dikerumuni warga yang semena mena terhadap wanita rapuh seperti Inara.


Tapi orang tua Inara malah ikut menyaksikan sang anak yang menangis memeluk dirinya sendiri. ia tak ada niatan membantu darah dagingnya sendiri, dulu yang amat sayang kepada sang putri namun sekarang rasa sayang dan cinta itu ia gantikan dengan kecewa dan sakit hati yang sangat dalam bagi Pak Somad.


Yang ia urus dibesarkan dan di didik sedari kecil malah membuang kotoran kewajah orang tuanya, Pak Somad amat marah dan kecewa kepada putri satu satunya itu, Ia masuk ke dalam rumah mengambil dan mengemasi pakaian Inara dan membuangnya tepat didepan Inara.


"Pergi kau dari sini dan jangan lagi menampakan wajahmu disini, cepat pergi"


Pak Somad mampu membungkam ocehan warga dan semua wargapun bubar dari hadapan Inara. Isakan tangis itu terdengar memilukan, tangisan gadis kampung yang rapuh.


"Ayok pergi dan jangan pernah kembali, anda bukan anak saya lagi. Sungguh sangat memalukan".


Pak Somad berlalu masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu dengan kasar. Ia menangis dibalik pintu dengan memukul mukul dadanya begitu sakit yang ia rasakan. Ia membesarkan anak gadis satu satunya dengan penuh kasih sayang, juga perhatian dan apa yang sang anak inginkan ia kabulkan tapi kenapa setelah dewasa ia ditamparkan oleh sebuah kenyataan yang memalukan juga kotoran yang ia buang ke wajah wajah orang tuanya.


"Pak, bapak kenapa ayok ke kamar bapak istirahat saja, ayok mamah bantu" ucap sang Istri khawatir.


Ibu winda memapah sang suami masuk kedalam kamar, ia tak berhentinya mengeluarkan air mata. Air mata kesedihan bahwa ia khilangan sang anak yang begitu ia cintai. Ibu winda menidurkan sang suami dipembaringan dengan keadaan lemah ia bergegas keluar kamar dan menumpahkan tangisnya diruang tamu dengan menatap jendela melihat Inara yang pergi membawa pakaiannya.


Ibu winda tak dapat mencegah karna warga juga suaminya telah mengusir anaknya dari kampung dukuh tempat ia tinggalnya.


***

__ADS_1


Perlahan lintrik hujan mulai turun dan matahari akan pulang keperaduannya. seorang gadis dengan membawa seikat pakaian dan baju yang ia kenakan sangat kotor dan bau.


Semua orang memandangnya dengan tatapan aneh dan menutup hidungnya masing masing. Inara berjalan dengan tatapan kosong ia melangkah tak tentu arah.


Hujan mulai turun dengan deras, ia duduk di stasiun pulangpun ia kemana tak tau tujuan, ia mulai menangis.


"kamu mau kemana nak?! kenpa pakaian kamu kotor?"


Tanya seorang laki laki berperawakan perut buncit dan pakaian pormal membawa tas dokumen seperti orang kantoran.


"Saya tidak tau mau kemana pak, saya baru saja diusir dari kampung sana" ucap Inara lirih.


Inara menunjuk perkampungan yang ada diatas sana. Ia kembali meneteskan air matanya tanpa dikomando.


"Emm,, kamu mau ikut bapak ke kota M, jangan takut bapak punya keluarga punya anak serta Istri" ucapnya seakan tau gelagat sang gadis saat menatap dirinya.


"Perkenalkan nama saya Bagas, kamu bisa memanggil saya pak bagas" ucapnya lagi.


"Saya tidak mau ke kota M pak, bawa saja saya ke kota jauh dari lingkungan ini dan kota itu. saya ingin melupakan kejadian ini dan kejadian yang lainnya" ucap Inara menatap penuh harapan kepada pak Bagas.


"kamu maunya kemana akan saya antarkan?"


"Antarkan saya kemana saja, nanti ongkos pengantarannya saya ganti jika saya sudah punya uang" ucap Inara serius.


"Ah kebetualan sekali saya punya tempat kosong rumah kecil dikota bogor mau kah kamu menempatinya nak?! terus siapa nama mu"


"Nama saya Inara Ramdhania pak, jika bapak berkenan jadikan saja saya sebagai pembantu dan memperkerjakan saya sebagai pembalasan kebaikan bapak, tak usah digajipun tak apa anggap itu balas budi saya" ucap Inara kembali panjang lebar.


Pak bagas menangguk nganggukan kepalanya tanda mengerti, sebenarnya ia kasihan melihat gadis yang seumuran anaknya diusir dari kampungnya.


"Yasudah kamu ganti baju dulu saya tunggu disini" perintah pak Bagas.


'Untung anakku laki laki jadi tak serapuh anak ini, kasihan kamu nak masalah apa yang kamu hadapi sekarang. kenapa orang tuamu setega ini' batin Pak bagas sambil menatap punggung Inara yang menjauh.


Inara sampai didalam toilet dan melihat dirinya dipantulan cermin besar dihadapannya, ia meneteskan air matanya dan membatin.


'Terima kasih ya allah kau masih menolongku disaat orang orang tak menginginkan kehadiran diri ini, masih ada orang baik yang engkau kirimkan untuk membantu dan menolongku, terima kasih'


Inara mengusap air matanya dengan kasar 'aku tak boleh lemah ada seseorang yang bergantung padaku didalam sini, kita harus kuat nak tampa sosok yang menguatkan kita'


Inara tersenyum kuat karna mulai sekarang ia akan melupakan segalanya dan memulai hidup baru bersama janin yang ada dalam kandungannya, ia akan mengikuti orang yang akan menolongnya. Yang penting hidup dan jauh dari orang orang yang menyakiti dirinya.


Ia sudah tak menginginkan sekolahnya lagi impiannya lagi ia akan menguburnya dalam dalam, karna berharap lebihpun ia sudah diusir dan tak bisa memulihkan keadaan.


Ia tersenyum kecut menghadap cermin dan berpikir memiliki orang tua yang menyanginya sperti apapun tak menjamin menerima dirinya yang diketahui hamil dalam keadaan status pelajar, begitupun dengan siberengsek Fahmi tak ada harapan meminta pertanggung jawaban darinya.


Inara keluar toilet dengan wajah pucat namun tetap ayu dan manis, ia menuju tempat yang diduduki seorang laki laki seumuran bapaknya yang akan menolong dan membawanya pergi.


.


.


.


Next Part🙏

__ADS_1


__ADS_2