Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 28


__ADS_3

Setelah enam bulan perjalanan mengandung, Inara sudah tak merasakan lagi mual apalagi muntah ia sudah tak mengalaminya. Yang ia alami sekarang ini menjadi sering lapar dan banyak tidur.


Inara sudah dilarang oleh Pak Bagas untuk bekerja lagi sebagai Office girl, sampai saat ini Inara masih belum mengetahui sosok Ceo perusahaan tempatnya bekerja yang ia tahu sosok Pak Bagas saja klien Perusahaan Bagaskara Group.


Sejuknya angin disore hari membuat Inara bersantai didepan teras menatap jalanan yang lumayan asri, Pepohonan yang hijau serta perumahan yang sederhana membuat Inara terbiasa akan khidupan yang serba cukup ini.


Ia duduk santai dengan kaki diselonjorkan perut yang buncit malah memperlihatkan tubuh sexy dan sintalnya. Semenjak kandungannya bertambah tubuh dan panggul Inarapun membesar dengan sendirinya. Kulit mulus dan putihnya begitu terawat dan menambah kesan cantiknya berkali lipat.


Ia sibuk dengan gawai yang sederhananya sibuk berselancar di dunia maya yang penuh tipu tipu, Inara merasa senang meskipun teman temannya baru semua. ia sempat mengklik nama sang sahabat namun ia urungkan kembali sebelum ia menjadi wanita sukses ia tak akan menghubungi teman, sahabat atau kawan yang lainnya.


'Betapa senang hari ini' status Inara distory nya, pemandangan di depan rumah dan sedikit tangannya menyentuh lutut mulusnya. Banyak komentar komentar halus dan memuji khidupan Inara.


[Kakak, pasti orangnya cantik lihat tangan plus kakinya saja ngebikin saya merinding! dengan kemulusannya]


[Hyy! salam kenal saya daren karyawan tempat kamu bekerja]


[Kak! tips mulus dan putihnya dong??]


[Kak, Asli mana?]


[Ciee bumil yang lagi nyantuy! sepi tau kalau gak ada lu ra, kapan kapan gue maen ya ke rumah lu] @Maya.


Serembetan komentar yang Inara baca, banyak anak anak cowok dan mungkin om om yang mengomentari status Inara! ia hanya tersenyum tanpa membalas mereka, lebih ke bawah lagi dihadiahkan oleh komentar Maya yang menyebutnya ibu hamil.


'Sungguh jahil anak ini, gak bisa banget jaga rahasia' batin Inara dengan mengklik nama @Maya tersebut dan membalas komentarnya.


[Iyaa dong bumil gak boleh lelah lelah nanti anaknya kayak kamu musingin๐Ÿคฃ]


Balas komentar Inara dengan diakhiri emoji ngakak. ia tertawa sendiri sampai yang di dalam perut menendang ibunya.


"Aww.. aduhh sayang kok nendangnya kenceng sih gak suka ya bunda ngetawaain mbak Maya?!" tanya Inara kepada si jabang bayi dengan suara pelan.


Hari mulai redup Inara beranjak mengambil gelas serta gawainya yang tergeletak diatas meja. ia menutup nutupi gorden dan jendela serta pintu karna ibu hamil ditidak bolehkan sore menuju maghrib masih diluar rumah.


Ia terduduk kembali stelah mengambil cemilan di dalam lemari nakas, ia menghidupkan Tv dengan chanel lantunan ayat suci Al-Qur'an dengan volume yang cukup terdengar olehnya dan mungkin untuk bayinya juga.


Tiiiing


Notifikasi baru masuk lewat massanger Inara gagas mengambil gawainya dan buru buru menghidupinya, akun yang tak ia kenali bernama.


Al-Kara[Hyy] Inara cukup menjentikan alisnya menurutnya ia orang iseng dan malah mengabaikannya.

__ADS_1


Tangan jentiknya memulai kembali mengscroll statusnya yang sejak satu jam lalu itu ia lihat kembali, tak asing bagi nama akun Al-Kara.


[Berasa tak asing dengan meja antik itu!] @Al-Kara


Inara malah menyunggingkan senyumnya sesaat "ada ada saja ini orang meja antik kan lagi bumingnya dasar manusia tak ada kerjaan" gumamnya pelan.


[Iya meja sperti itu banyak, mungkin sperti meja meja lainnya] Inara membalas komentar bernama Al-Kara tersebut, ia menggelengkan kepala lagi tanda heran.


Adzan maghrib berkumandang dan sesegera mungkin si bumil muda itu beranjak meninggalkan ruang tv menuju wc di belakang bersebelahan dengan dapur.


Sholat yang lima waktu sekarang Inara tekuni tak ada lagi kata bolong bolong apalagi malas malasan, ia menginginkan dan sering memanjatkan do'anya kepada sang pencipta untuk mendatangkan kebahagiaan di masa depan kelak ketika anaknya melihat dunia nyata ini dunia luar yang akan penuh dengan drama khidupan.


****


Beda halnya dengan Alvin Bagaskara yang tengah disibukan oleh rasa bahagia dari sang sahabat Johan Davidsen, Awalnya Johan hanya mengirimkan fhoto tak bermutu sebuah tangan wanita bertumpu pada atas lututnya.


Johan๐Ÿ“ฉ [Al suka yang bening beningkan, nih muncul dibranda gue pasti cantik bro]


[Ahh terserah lu saja. Gua gak doyan] balas Alvin cuek


Johan๐Ÿ“ฉ [Ya ellah elu stia banget sama satu wanita bunting juga trus pacar bukan, merjuangin apa sih luu??]


[Aishh terserah gue lah๐Ÿ˜ก] balas Alvin lagi dengan diakhiri emoji marah.


[Mungkin kebetulan sama bego] balas Alvin lagi.


Johan๐Ÿ“ฉ [Yaa terserah lo aja deh, cape ngomong sama lu๐Ÿ˜”]


[๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ]


Alvin hanya membalasnya dengan emoji tertawa mewakili dirinya menertawakan sang sahabat dengan kerasnya, seorang Alvin juga akan penasaran tentang fhoto tersebut ia kembali lagi meneliti.


"Bener juga ucapan si Jojo, ini juga meja persis meja kesayangan bunda kan itu meja Limited Edition gak ada duanya" gumam Alvin pelan.


Alvin kembali melihat fhoto tersebut sangat kebetulan sekali si Jojo sang Johan Davidson itu mengscreen shoot fhoto tersebut jadi nama sang pengunggah tertera diatasnya 'Cahaya Kecil'


"Mari kita berkenalan manis siapakah seseorang yang menempati rumah sang Pangeran ini" Gumam Alvin sambil sibuk mengetikan nama sangpengunggah meja antiknya.


Pencarian paling atas ia dapatkan namun ada yang ganjal kala melihat fhoto sampulnya sebuah kalung berhuruf IR ia semakin penasaran dan kembali ke postingan yang Jojo perlihatkan kepada dirinya.


Ia melihat lihat isi komentar tersebut dan melihat komentaran @Maya paling bawah ia masuk dalam balasan tersebut dan membacanya.

__ADS_1


"Sungguh mudah menemukan kamu baby" gumam Alvin tersenyum lebar. Alvin sangat yakin akun tersebut milik seseorang yang ia cari juga ia rindukan, karna kalung itu menandakan kepemilikannya.


Dirinya tahu saat itu ketika bertemu sering melihat kalung tersebut didada Inara dan saat ini ia kembali melihatnya, Alvin mendadak berdebar ia tersenyum tanda bahagia bahwa orang yang terkasih sudah ia temukan.


Alvin sesaat berpikir ia bimbang masalahnya Inara sudah melupakannya bahkan nomer yang dulu pun sudah tak aktif lagi, ia berinisiatif sendiri membuat akun baru bernama kan dirinya cuman di singkat diambil dari nama depan dan nama belakangnya Al-Kara.



๐Š๐ข๐ซ๐š ๐ค๐ข๐ซ๐š ๐ฌ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐ข ๐ข๐ญ๐ฎ ๐ฌ๐ฎ๐š๐ฌ๐š๐ง๐š ๐ก๐š๐ญ๐ข ๐€๐ฅ๐ฏ๐ข๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฌ๐š๐š๐ญ ๐ข๐ง๐ข. ๐Ÿ˜


****


Inara tengah menyibukan diri dengan memasak untuk makan malam dirinya juga sang anak dalam kandungan, Perasaan hatinya kali ini mendadak berubah menjadi baik dan nyaman.


Bulan lalu yang Inara rasakan banyak kesedihan, kegelisahan, ketakutan bahkan menangis semalaman pun pernah ia lalui. Namun berbeda dengan sekarang rasa itu sudah tak ia dapatkan setelah si jabang bayi menginjakan usia ke 6bulannya lebih.


Teng.. tong..


Suara bel dari luar, Inara mematikan kompor dan gagas menuju pintu depan ia membuka scara perlahan dan orang yang menurutnya berisik datang berjumpa ke rumahnya.


"Taraaaaaa.. Malam bumilkuu" teriak Maya dan Lusi mengagetkan seseorang di dalam sana merespon cepat dengan menendang keras.


"Kenapa harus berisik sih? sudah malem tahu ayok masuk" ucap Inara sambil mengelus perutnya yang tanpa hentinya bergerak itu.


Mereka bertiga akhirnya makan diruang Tv, mungkin bukan bertiga tapi berempat bersama si bayi dalam kandungan Inara! Lahap makan dengan diselangi candaan dan kekehan ketiganya rumah yang biasanya Inara rasakan sepi kini terasa berisik dan hangat.


Ia diam diam mengulas senyum penuh gembira, akhirnya ia memiliki teman yang menerima kekurangan dirinya. Meski kenalnya belum lama namun mereka tetap stia kawan dan selalu membantu Inara dengan Ikhlas.


"Makasih May, Cii udah mau dateng jauh jauh kesini, kirain tadi di komenan boongan" ucap Inara membuka percakapan karna mereka sedang selonjoran disofa dengan tv yang menyala.


"Iya sama sama bumiil, aku kangen soalnya sama ini pengen ngelus gemesh pula kalau ia bergerak" timpal Lusi sambik mengelus perut buncit Inara.


"Iya ra, kamu jangan sungkan sungkan deh sama kita! kita kan temen yang sudah aku anggap kamu dan Maya sebagai keluarga" ucap Maya menimpali Lusi.


Inara meneteskan air matanya tanda terharu akan ucapan ucapan teman seprofesinya itu. "Sudah deh jangan nangis, cengeng banget dahh ibu kamu baby" Sela Lusi menghapus jejak air mata di pipi Inara dengan sayang.


.


.


Sudah dulu yaa, maaf kalau gak nyambung๐Ÿ™

__ADS_1


Next Part๐Ÿ’–


__ADS_2