
Kediaman Fahmi, Laki laki dengan kemeja hitam itu tengah menatap dirinya di depan cermin. Melihat lihat dirinya sendiri apakah penampilannya sudah bagus, rapi atau ganteng ia terus menelisir setiap jengkal tubuhnya didepan cermin tersebut takut ada yang terliwat.
Ya hari ini tepatnya sabtu sore jam lima ia sudah rapi dan wangi untuk menjemput sang kekasih mengajaknya keluar lebih tepatnya kencan pertama pada malam hari ya! karna baru pertama kalinya Yolanda di ajak keluar ia kali ini mau, entah angin dari mana biasanya sang kekasih selalu menolak dirinya ketika diajak keluar malam alasannya hanya satu yaitu belajar.
Meskipun Fahmi sering mengajak teman lainnya untuk bergabung sang kekasih masih saja menolak karna alasan satu itu, Namun saat ini sang dewa sedang mendukung keinginan Fahmi tak susah payah ia memohon lagi atau beralasan apa apa lagi.
Triiiiiing!
Nada panggilan masuk ke layar datar milik Fahmi, ia seketika sadar dari lamunannya dan mengambil benda pipih tersebut dan mengangkatnya.
"Emm.. Ya hallo baby, sudah siap belum?" tanya Fahmi dengan senyuman termanisnya.
[...........]
"Yaudah aku OTW kesana. tunggu aku oke!" sela Fahmi lagi mengiyakan.
Ia bergegas dan mengambil kunci motornya di atas meja nakas di samping tempat tidur. Fahmi berlalu keluar kamar dengan penampilan yang cukup menawan juga keren dan wangi tentunya.
Kendaraan beroda dua itu sudah stanbay di garasi rumah Sport bike! ia adalah kendaraan yang lazim digunakan untuk balapan, Fahmi kembali memiliki motor barunya stelah kendaraan yang dulu ia gantikan dengan yang sekarang.
ππ©π¨π«π ππ’π€π.
Jalanan sore lumayan cukup padat dikarnakan hari sabtu sore lebih tepatnya malam minggu, kendaraan yang berlalu - lalang semakin sore semakin sibuk.
Fahmi mengendarai kuda besinya cukup kencang karna tak ingin sang kekasih menunggu dirinya lebih lama lagi, suasana hatinya yang bahagia tak dapat ia sembunyikan dengan apapun senyuman manisnya ia terbitkan begitu indah.
Fahmi sadar akan kesalahannya dulu yang sering merusak anak gadis orang dengan lepas tanggung jawab. Sekarang ia sudah tak ingin melakukannya stelah mendengar Inara mengandung benihnya karna kecerobohannya sendiri, meskipun begitu Fahmi tak ingin anaknya kelak mengalami atau melakukan perbuatan seperti dirinya.
Mulai sekarang dan sterusnya Fahmi bertekad dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi melakukan hal bejad itu lagi, Ia akan belajar mencintai dan menjaga sang kekasih yaitu Yolanda Martha gadis incaran para kaum adam.
Tak terasa sampai ke tempat tujuan tepat diluar gerbang, Fahmi turun dari kuda besi miliknya dan melangkahkan kaki menuju dalam ia bermaksud meminta ijin terlebih dahulu kepada kedua orang tua kekasihnya.Ia ingin belajar dan ingin mengakrabkan diri dengan keluarga wanitanya, siapa tahu Yolanda pacar terakhir Fahmi atau bisa disebut jodohnya.
Namun, sesaat Fahmi mematung kala mendapati Yolanda sudah siap diteras rumah dan menanti kedatangan Fahmi. Yolanda melambaikan tangannya dan berjalan menuju orang tercintanya.
"Sudah sampai ayo!" Yolanda menyapa sambil bergelayut manja dilengan Fahmi.
"Baru tiba baby! Kemana orang tua kamu kok sepi" tanya Fahmi penasaran lantaran rumahnya tampak sepi.
"Mamah sama papa aku ke luar kota sayang. jadi aku bisa bebas malam ini, aku bahagia bangeeeet" jawab Yolanda girangnya.
__ADS_1
"Kamu udah minta ijin belum? kalo belum aku pulang lagi deh ya" tanya Fahmi balik.
"Udah dong, bi Asih juga tahu" Yolanda cemberut oleh ucapan Fahmi barusan karna berkata ingin pulang kembali kalau tak dapat ijin.
"Ya udah ayook! keburu malem banget mii" Yolanda menarik lengan Fahmi keluar gerbang menuju tempat motor Fahmi terparkir.
'Hahh, untung gak nanya apa apa lagi. Bisa berabe kalau papa tahu aku keluar dan bohong sama dia! perjuangannya juga pengen malmingan sama kamu itu dari minggu kemarin' batin Yolanda menatap punggung Fahmi.
"Kenapa bengong baby, ayok pegangan" ucap Fahmi memberitahu.
"Ishh iya iya bawel" dengan menurutinya berpegangan.
Akhirnya mereka melaju ke tempat tujuan yang sudah disepakati mereka berdua, Jalanan pada malam hari cukup padat dan macet. Yolanda bersabar dan menahan dinginnya cuaca pada malam ini, ia cuma mengenakan celana jeans kulot dan atasan hanya dibaluti cardigan tipis saja, ia sesekali menggosokan telapak tangannya supaya meredakan rasa dingin yang masuk menghunus kulitnya.
***
Sedangkan ditempat lain tepatnya dikota bogor dirumah kecil namun sangat nyaman itu, terdapat wanita hamil yang tengah menonton tv sambil selonjoran. Ia wanita kuat meski orang tuanya mengusirnya ia tak bisa selamanya menangisi semua itu lebih baik melupakannya dan membuka lembaran baru bersama buah hatinya kelak.
Ya dia Inara Ramdhania wanita yang tangguh dan lemah lembut itu tengah menonton acara comedy dichanel tv kesukaannya. Ia terkikik sendiri menatap layar datar didepan sana dengan tawa yang tak berhenti sampai ia memegang perutnya yang buncit itu.
"Aww.. sayang kenapa menendang bunda begitu keras! apa kamu juga ikut tertawa?" tanya Inara kepada perutnya yang terus bergerak.
"Emm kayakknya anak bunda ini nguping yaa?" tanyanya lagi dan mengelusnya dengan pelan.
Tiiing!
Satu notif masuk ke gaway Inara, ia menoleh pada sofa yang terdapat suara itu dari sana. Ia mengambilnya lalu membuka ternyata massager dari akun yang bernama Al-Kara.
Al-Karaπ© [Malam, apakah kamu sudah tidur?]
Isi pesan tersebut niatnya Inara ingin membalas namun ia urungkan, ia berpikir kembali kalau ia berteman lagi dengan namanya laki laki atau berhubungan apapun ia takut masalalunya terulang kembali. sudah cukup ia dijadikan sperti sekarang oleh orang yang menurut Inara akan menjaganya namun naas, ucapan hanya ucapan tidak dengan janjinya.
Layar persegi panjang tersebut Inara letakan kembali ke tempat semula ia tidak ingin berhubungan lagi meskipun itu hanya berteman biasa. Ia sekarang sadar kebahagiaannya tak cukup memiliki pendamping hidup saja khadiran anak yang ia kandung saja sudah merasa cukup dari kata bahagia meskipun ia tak sengaja hadir dan tumbuh sehat sampai sekarang ini dan kandungannya sudah memasuki tahap trimester ketiga.
Suatu saat juga ia akan mendapatkan jodohnya, karna sudah pasti jodohnya sudah Allah atur. karna dunia ini tempatnya berpasang pasangan tidak ada yang sendiri kecuali ia yang menolak jodohnya sendiri. Inara tak menampik orang sperti apa kelak yang menerima dirinya dengan tulus ia akan menerimanya juga dengan rasa bahagia. Tetapi untuk sekarang ia tak ingin membuka hati atau berteman dengan siapapun karna ia memiliki teman nyata yang sungguh menyanyanginya dengan tulus.
"Emm,, kita telpon kakek bagas saja ya nak! kita tanya kabarnya bagaimana?" seru Inara dengan kembali mengambil gaway nya. Karna nomor kontaknya paling atas Inara langsung mengkliknya ke panggilan.
Tut... Tut... Tut...
[Hallo... Siapa?]
__ADS_1
Panggilan terhubung namun itu bukan suara pak Bagas melainkan suara wanita mungkin umurnya setara dengan ibu Inara, Apakah ia istrinya Pak Bagas?
[Hallo... Apakah ada orang?]
"I-iya hallo, Maaf mengganggu" jawab Inara ragu dan terbata takut ia mengganggu karna malam malam menelpon.
Klik..
Sambungan terputus dari sebelah pihak tentunya dari sana, Inara merasa malu dan rasa khawtir takut istri Pak Bagas mengira dirinya selingkuhannya. "Apa pak Bagas belum menceritakan tentang diriku pada istrinya mungkin, Ah pembohong besar kakekmu ini nak?!" ia sedikit mengelus perutnya dan menghela nafas.
"Ayaaaaah,, Ayaaaah, Ayaaaaah! Kemari" Teriaj ibu Alma kepada sang suami.
Tuan Vino tergesa gesa masuk kedalam kamar menemui istrinya yang tengah berteriak memanggil dirinya dengan sangat kencang dan menggelegar itu.
"Iyaa Bunda, kenapa ayah dengar kok" ucap sang suami lalu duduk dikasur menghadao Istrinya tersebut.
Ibu Alma menatap suaminya dengan tatapan marah dan kilatan rasa kecewa entah apa yang membuat suaminya lupa daratan sudah tua masih saja gatal, menyimpan nomer wanita diluaran sana. Ibau Alma marah stelah menganggkat panggilan masuk pada gawai suaminya barusan.
"Coba ini jelaskan yaah" ucapnya dingin sambil melempar gawai tersebut ke hadapan sang suami.
"Ahh Bunda kirain apa" Tuan Vino celingak celinguk ia berjalan ke arah pintu lalu menutup juga menguncinya dan ia duduk kembali di hadapan sang istri menghadapnya.
"Cepat katakan dia siapa? malam begini nelpon ganggu saja" selanya lagi dengan bersedekap dada.
"Apa Bunda tidak akan kecewa stelah mendengarnya, Ayah juga sejak dulu ingin memberi tahu Bunda! Emm---"
"Cepat katakan saja, tidak perlu risau tentang saya!" ucap Istrinya lagi dingin.
"Ishh dengarkan dulu, ini bukan selingkuhan atau apapun ia hanya wanita yang ayah tolong" ia berhenti terjeda dan menghela nafas "stop jangan dulu menyela ayah belum selesai mengatakannya. Oke!"
Ibu Alma menurut dan mendengarkannya dengan seksama karna ia bukan wanita atau istri yang bar bar setiap ada masalah selalu diselesaikan dengan kepala dingin dan berunding sperti sekarang ini.
Sang suami menceritakan masalah Inara dari A sampai Z tak ada yang ia tambah tambahkan atau ia tutup tutupi ia gambalang menceritakan sampai selesai.
.
.
.
Sudah dulu maaf kalau gajeπ bantu dukungannya.
__ADS_1
Next Partπ