Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 18


__ADS_3

***


Kaki jenjangnya melewati jalan licin dan berbatu kecil namun ia tak kesulitan sama sekali, ya Inara sedang ditempat sang Bapak mengantar nasi.


Ia memandangi persawahan yang luas , daratan yang banyak tanaman sayur juga sungai yang airnya jernih, Inara duduk dikaki pohon yang rindang juga sejuk.


'Ah sejuknya juga nyaman coba kalau deket, setiap hari aku keseini' gumam Inara sambil merentangkan tangannya.


Inara mengambil gawainya ditas kecil yang ia bawa 'Ceklek' suara jepretan kamera terdengar nyaring juga sangpemilik pun riangnya ia bernyanyi nyanyi kecil.


Daun yang melambai lambai diterpa angin sejuk dipagi hari Inara mengambil fhoto sang Bapak yang berjalan menuju ke arahnya.


"kok sendiri nduk, mamah gak ngikut?!" tanya nya dengan duduk sejajar didekat sang anak


"Enggak pak, katanya cucian mamah numpuk" jawab sang anak masih pokus ke layar datarnya.


"Emm,, kirain too" Pak somad menganggukan kepalanya.


"Oh ia pak, itu nasinya. Inara bawaain tapi tetep mamah yang siapain, heheh"


Inara terkekeh sambil menyiapkan makan Pak Somad memindahkan nasi ke dalam piring serta lauk lauknya.


"Bapak mau ditambahim sambal juga?!" tanya Inara.


"boleh sayang"


Pak Somad makan dengan lahapnya ditemani sang anak disampingnya, yang terus pokus ke benda panjangnya.


***


Tak terasa sudah satu minggu Inara di tempat kelahirannya kampung dukuh dibawah kaki gunung yang rindang.


seorang gadis yang memakai kaos oblong berwarna hitam itu sedang bermain air dengan anak anak berusia enam tahunan, mereka sibuk disungai dengan menciprat cipratkan air ke wajah juga tubuhnya.


"sudah sudah adi, kakak sudah kedinginan" ucap ke salah satu anak laki laki yang bernama adi.


"Hahah.. kakak lucu kalau cemberut, ayo temen temen lebih kencang lagi"


Ucap sang bocah tak terbantahkan, seseorang yang duduk di batu itu sudah terlihat memeluk tubuhnya yang kedinginan. Inara merasakan pusing yang amat sakit, ia berteriak juga bocah itu tak mendengarnya saking senangnya main air.


"Sudah kakak bilang, kakak pusing" ucap Inara dengan lirih.


Bruuuk..


Inara tergeletak dibatu itu dengan lemasnya, sang bocah mengajak teman temannya beranjak melihat Inara yang tergeletak diatas sana.


"Kak, kak ara bangun kak, kakak kenapa kak" Bocah yang bernama adi itu menepuk nepuk pipi Inara dengan paniknya.


"Yoyo cepat cari pertolongan" perintah adi kepada anak yang namnya Yoyo.


"Siap, ayo Mira" ucap Yoyo lagi kepada teman wanitanya.


Anak yang berusia tak sama itu beriringan menuju sisi sungai dan berlalu meminta pertolongan.

__ADS_1


"Paman, paman tolong kakak kami ia terjatuh dibatu" ucap sang bocah.


"Dimana kakak kaliannya, ayo paman bantu"


Mereka berlalu dan sang anak menuntun paman yang ia temukan sedang mencangkul ladang itu ke tepi sungai, lantas mereka turun sama sama melihat Inara yang masih tergeletak di atas batu tak berdaya.


"Ayok paman kita bawa saja kak Inara ke puskesmas baru itu, karna ke Rumahnya jauh banget dipuncak sana" kata adi mengintrukasikan.


"Yasudah ayok".


***


Sesampainya Inara ditangani dokter wanita berjilbab merah muda dengan ramahnya menjelaskan kepada laki laki yang membawa Inara ke puskesmas.


"Tunggu sebentar dokter, jelasin yang mendetailnya kepada orang tuanya saja, ia sedang menuju kesini, saya cuman tetangga jauhnya saja" ucap si paman kepada dokter wanita Itu.


Dan dokter itu mengangguk tanda paham, lantas mereka berdiam diri menunggu kedatangan orang tua sang pasien dengan sabarnya.


"Kenapa Anak saya dokter?!"


Tanya Ibu winda menyerobot masuk dengan ibu ibu yang lain mengikutinya. 'ini perasaan rumah sakit bukan tempat arisan'.


"Kenapa dengan anak saya dokter?!" tanya nya sekali lagi.


"Ia ibu anaknya tidak kenapa napa cuma kecapean karna sedang hamil muda, usianya baru enam minggu dan janinnya kuat juga sehat" jelas sang dokter.


"APAAAAAAA, mana mungkin anakku hamil dokter, dokter salah mengecek pasti" Teriak ibu winda histeris.


"Tapi itu kenyataannya Ibu, kalau masih tidak percaya bawa saja anaknya ke rumah sakit besar disana peralatannya komplit dan coba periksa dengan USG pasti hasilnya sama" jelas sang dokter lagi.


"Ayok ibu ibu kita pulang saja, masa anak gadis hamil udah 6minggu lagi, nanti kita kebawa sialnya" ucap si ibu gendut berkerudung coklat itu mewakili hati yang lainnya.


Serombongan itu pulang dengan laki laki yang tadi mengantar Inara ke puskesmas, mereka tak berhenti membicarakan Inara dengan hinanya.


"tak menyangka ya bahwa anak Pak somad hamil diluar nikah, trus masih dijenjang pendidikan dia juga"


"Iya ibu ibu, gimana ya hancurnya kedua orang tua si Inara, tau tau anaknya berbadan dua"


"kita laporin ke pak RT saja, kampung kita telah dinodai sama tuh anak jangan sampai kita kena sialnya ibu ibu" ucap salah satu ibu ibu itu lagi.


Setelah itu mereka menyetujui usulan si ibu berkerudung biru muda itu, mereka berombongan menuju rumah Pak RT dengan terus mengoceh tak berhentinya.


Sesampainya dirumah Pak RT diteras rumah ibu ibu yang tadi menggedor pintu rumah itu, dan alhasil orang rumah membukanya dengan muka kaget lantaran banyak warga yang ngumpul diteras rumahnya.


"Bu RT kemana Pak RTnya, kami mau laporan hal yang penting" sela ibu ibu serempak.


"Pak Rt tadi keluar bersama Pak Somad tak tau kemana, hal penting apa ibu ibu kayaknya serius?!" tanya bu Rt serius.


Akhirnya serombongan ibu ibu itu menceritakan dari awal sampai akhir scara dtail tak ada yang dilebih lebihkan sama sekali dan ibu rt intens melotot tak percaya ia menganga dan menutup mulutnya oleh kedua tangannya.


Semua orang gaduh diteras rumah pak Rt dan semuanya tampak berdatangan berbondong bondong ke rumah pak Rt.


Akhirnya pak Rt pun datang bersama Pak Somad dengan kedua temannya dibelakang membawa sayuran.

__ADS_1


"Ada apa Ini kok ngerumpi di rumah saya ibu ibu, mana gaduh lagi kedengeran sampe pos sana?!"


Tanya pak Rt menunjuk pos yang dimaksudnya, Pak Rt menyuruh kedua orang yang membawa sayuran ke belakang, merekapun berlalu mengitari rumah dan menyimpannya dibelakang.


"Ini loh pak Rt kami mau melaporkan seorang warga sini sudah mencemari dan mengotori kampung kita dan tadi rojak membawanya ke puskesmas, eh ternyata hamil"


"Siapa yang hamil, kalau ngasih laporan yang jelas?!" tanya pak Rt lagi.


"Yang hamil itu anak nya Pak Somad, neng Inara ih gak tau ya kelakuannya dikota kayak apa. pulang pulang bawa janin dikandungnnya"


Pak Somad tampak marah, matanya berkaca kaca dan memerah, ia berdiri dan ingin melangkah ke luar. Namun suara lembut pak Rt menghentikannya.


"Mad, tenang siapa tahu ini gosip. kamu duduk dulu kita dengarkan dulu penjelasan para warga" ucap Pak Rt lembut.


Pak Somad berbalik "Puskesmas mana kamu membawanya" Pak Somad menatap Rojak.


"Pusekesmas yang buka minggu lalu pak" ucap Rojak menelan ludahya karna tatapan Pak Somad beda dari biasanya.


Pak somad tak bilang apa apa lagi ia berlalu berjalan dengan tergesa gesa dengan mengepalkan kedua tangannya, tanda dirinya sedang diliputi amarah.


***


Dirumah sakit Inara sudah sadar ia menangis di pelukan sang Ibu meminta maaf berulang kali supaya sang Ibu tidak marah dan memaafkannya.


"Maafkan Ara mah, Ara khilap tolong ampuni Ara" tangis pilu Inara dalam pelukan sang Ibu.


"Mamah hanya takut reaksi Bapak bakal kayak gimana, Mamah hanya kecewa saja padamu nak, Kamu tetap anak mamah anak darah daging mamah semisalnya kamu hamilpun kamu hanya korban" Ucap sang Ibunda dengan tangisan juga.


Ya Inara sudah menjelaskan semunya kepada Ibunya, kalau Inara pernah membantah perbuatan Itu namun mantan kekasihnya tak pernah mendengarkannya sekalipun sampai ia sekarang menanggung akibatnya mengandung anak diluar pernikahan dan korban kenakalan jaman sekarang.


Bagai mana nasib anak tak bersalah itu ia hadir saat Ibunya baru menginjak 18 tahun dan belun pasti menerima atau tidaknya Inara kepada anak itu.


Inara mengusap perutnya yang masih rata tapi cukup melembung 'kamu hadir di dalam tanpa ada seorang ayah yang memperjuangkanmu nak' Inara kembali deras menjatuhkan air matanya.


Braaak


Seketika pelukan Ibu dan anak itu terlepas menoleh ke arah pintu yang dibuka begitu kencang. Ada sosok bapak dengan tatapan marahnya sambil menuju pembaringan Inara berjalan begitu bengis dan Inara sangat ketakutan belum pernah ia melihat kemarahan Bapaknya.


"Bapak!" lirih Inara.


"Turun kamu dan pergi dari sini sekarang juga, Anda bukan Anak saya lagi pergiiiii" Marah Pak somad mengusir anaknya menggebu gebu.


"Pak dengerin dulu penjelasan Inara pak" Inara memeluk kaki Pak Somad dengan kencang.


"Lepas kan saya, cepat pergi sekarang juga saya muak melihat muka anda"


Pak Somad merangkul pundak sang Istri lalu pergi meninggalkan Inara yang sedang meraung memanggil dirinya.


'Pak ampuni Ara, Ara khilap pak! tolong jangan usir Inara, harus kemana Inara pergi hanya Ini tempat Inara tinggal disini ditempat Mamah dan Bapak' Inara menangis pilu dibawah tempat pembaringan pasien!


Ia berdiri menyusul orangtuanya yang sudah lebih dulu pergi, Inara berjalan sempoyongan dengan sisa tenaga yang ada karna ia belum pulih dan seharusnya tak dibolehkan pulang, Lantaran Inara kabur jadi ia bisa pulang.


.

__ADS_1


.


Maaf🙏


__ADS_2