
6 Jam berlalu Inara sudah sampai dikampung halamannya, Ia berdiri di sisi jalan dengan melihat jam dipergelangan tangannya.
Hari mulai sore, dan malam akan merangkak menuju gelap Inara masih diluar dan menuju rumah butuh beberapa kilo lagi.
Ia menatap gawainya yang mati, jalanan yang sepi dan tetes air hujan terasa dingin menyentuh kepalanya meskipun baru setetes dua tetes.
Ia melihat pangkalan ojeg di depan gang pasar, ia buru buru berjalan dengan cepatnya takut orang lain mendapatkannya lebih dulu, dan benar saja ibu ibu berhijab itulah yang mendapatkannya lebih dulu.
Inara duduk ditempat si mang ojek semula. 'Ya tuhan bantu aku menuju pulang ke rumah Mamah, aku takut' batin Inara pedih dan meminta pertolongan kepada yang maha kuasa.
Inara melihat sebuah mobil pickup terbuka melintas dan melewati tempat Inara duduk, lantas Inara sadar mobil itu menuju keperjalanan tempat Inara pulang.
Inara berlari mengejar mobil itu dan berteriak sekencang kencangnya.
"Berheni, berhenti hey tolong aku berhentiiiii" jerit Inara serasa tenggorokannya ingin putus.
Seketika mobil itu berhenti disisi jalan dekat pohon besar dan sepi, perlahan Inara berjalan dengan terengah engah.
"Ada apa neng?!" tanya si mang emangnya dari dalam mobil.
Inara belum menjawab pertanyaan sang sopir karna sedang menormalkan detak jantungnya karna berlari lari mengejar mobil ini.
"I-ini mang mau ikut boleh, nanti saya bayar kok" jelas Inara dengan nafas yang masih belum normal.
"Boleh boleh aja neng, tapi di depan penuh ada anak anak juga sedang tertidur, bagai mana kalau dibelakang gak papa kan?!" jelas si emangnya.
"Iya terima kasih banyak ya mang. Gapapa dibelakang juga yang penting sampai rumah" ucap Inara sambil berterima kasih.
"Emangnya mau ke kampung mana neng" Tanyanya lagi.
"Ke kampung dukuh di bawah kaki gunung mang" jawab Inara detail.
"Oh ia silahkan naik, kita searah cuman gak sampai dalam saja neng, gak papa kan?!"
"Ah iya gak papa mang"
Inarapun naik dan duduk bersandar dibak terbuka itu dengan gerimis yang kerap menyentuh rambut hitamnya.
Inara terpejam tak terasa ia tertidur dengan berbantalkan tangannya memeluk koper mininya.
***
Di tempat lain seroang anak pemuda berusia 18 tahun sedang menyandarkan tubuhnya dibahu ranjang, ia menggeser geserkan layar canggihnya ke atas dengan ketawa cekikikan.
Ya dia Fahmi Friandika sedang berada dalam dunia hiburan Aplikasi biru berlogo F, tangan kekar itu seketika berhenti tatkala ia melihat nama akun yang mencolok, yang membuat ia dulu selalu cemburu olehnya.
'Alvin BK'
Selamat sampai tujuan cantik, sampai ketemu kembali di 2 minggu ke depan.
6 jam lalu tertera status Alvin dengan sebuah Fhoto koper mini berwarna abu abu di genggam oleh tangan wanita, yang membuat hawa Fahmi panas dingin.
"Sialan tuh cewek baru juga diputusin sudah dapet penggantinya, dasar murahan emang ayalnya cewek murah, barang bekas cocoknya juga sama cowok playboy kayak si Alvin, rasain noh udah bolong juga"
Fahmi menggebu gebu meski ia sudah berputus hubungan dengan Inara, ia masih merasakan cemburu meski sedikit karna Inara pernah singgah dihatinya walau sebentar.
Fahmi orangnya tak setia, dulu juga sebelum kenal Inara pernah meniduri wanita yang digosipkan si bohay itu fakta adanya Fahmi memiliki kekasih itu nyata dan gosip itu benar.
Ia tak merasa kasihan atau menyesali perbuatannya merenggut kegadisan mantan pacarnya, justru ia merasa puas diluar dugaan akan mendapatkan 'perawan' memang dia sempat mencintainya namun cinta itu menghilang stelah ia bertemu dengan gadis lainnya.
Ia mengetikan nama dipencarian tapi ia tak menemukannya, ia masuk ke pesan di aplikasi itu, ternyata sudah diblokir.
__ADS_1
"Ahh sial kalah tembak gue, keduluan tuh cewek. Ternyata dia blokir gue duluan, baguslah biar gue bebas disosmed" .
"Nggak terjadi apa apa ya sama tuh cewek, padahal gue ngebuangnya di dalam" Fahmi berbicara sendiri dengan santainya sambil selonjoran.
Ia sudahi berbicara sendirinya dan berbaring ditempat tidur, menyimpan gawainya di meja nakas dekat ranjang, perlahan ia menaikan selimutnya karna malam sudah larut waktunya istirahat Fahmipun tertidur dengan lelapnya.
'Buatlah itu pembelajaran bagi kalian bahwa seorang pelajar tidak diharuskan atau diwajibkan memiliki pasangan. Simpanlah dulu perasaan kalian untuknya, Jemputlah ia saat dirimu mendapatakn pekerjaan dan sukses. Karna laki laki sejati tidak akan menyentuh pasangannya sebelum halal'
***
Malam larut dalam sepi Inara berjalan gontay. mengitari jalan berbatu, terkadang ia terjatuh kala menginjak kerikil yang kecil dan licin, ya ia sudah di kaki gunung kampung dukuh tempat orang tuanya.
Namun, menuju rumahnya masih membutuhkan satu kilo perjalanan, diterangi cahaya lampu remang remang Inara berjalan perlahan karna lelah juga haus mengendara ditenggorokannya perutnya pun berbunyi dan sesegera mungkin minta diisi.
'Aku harus cepat sampai ke rumah aku lelah, aku capek perutku pun dari tadi berteriak lapar banget ya allah'
Inara berbicara sambil berjalan kembali dengan langkah yang lumayan dipercepat. Karna Inara ketakutan malam sudah larut dan ia masih belum sampai.
Dari kejauhan ia melihat lampu kedap kedip berwarna kuning dan mendekat, juga suara bising yang cukup kencang. Ternyata motor butut dengan dikendarai bapak bapak memakai cupluk berwarna hitam dan sarung yang di slempangkan.
"Mau kemana neng, kok bawa bawa koper?!" tanya si Emangnya dengan sopan dan ramahnya.
Ya motor butut itu berhenti di depan Inara. Tanpa mematikan lampunya.
"Saya mau pulang kerumah mang, tapi dari jalan ujung sana sudah tidak ada kendaraan yang mangkal jadi saya jalan kaki saja" jawab Inara tak kalah ramah juga.
"mau pulang ke rumah siapa neng?! biar saya antarkan kebetulan saya juga warga baru dikampung ini jadi tidak tahu enengnya anak siapa. Mari naik"
Ucap si Emangnya ramah dan menjelaskan bahwa ia warga baru dikampung yang sama dengan Inara.
"Ah iya terima kasih mang, maaf merepotkan" ucap Inara tersenyum ramah.
"Tidak merepotkan sama sekali neng, kebetulan saya sedang kebagian ronda malam Ini" balasnya.
"Maaf sekali lagi merepotkan mang" Inara meminta maaf lagi sambil naik ke motor butut itu.
'terima kasih ya allah kau mendengar dan melihat kesulitanku mendatangkan seseorang untuk menolongku' batin Inara.
Motor butut itupun berlalu pergi meninggalkan tempat gelap dan sunyi membawa Inara pulang ke tujuannya.
***
Sesampainya di depan rumah tampak sepi dan lampu diteras tak menyala Inarapun turun dari motor butut itu.
"Terima kasih mang, itu rumah orang tua saya" tunjuk Inara kedepn.
"Oh neng anaknya Pak Somad to, kirain siapa" ucap nya sambil menurunkan koper mini Inara.
"Iya mang" ia menanggukan kepalanya.
"Ya sudah neng masuk saja, saya mau lanjut ronda" ramahnya.
"Ah iya tak mau mampir dulu mang?!"
"Iya terima kasih lain kali saja neng"
Si Emang itupun kembali dengan motor bututnya, Inara bergegas mendorong koper miliknya masuk ke dalam halaman, dan mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok..
"Assalamualikum mah, Ini Inara" Salam Inara sambil mengetuk ngetuk pintu.
__ADS_1
Tak ada jawaban mungkin orang rumah sudah pada tidur, malam sudah larut Inara melihat jam dipergelangan tangannya dan ternyata sudah jam sebelas malam, Inara lesu dan duduk di kursi teras depan pintu.
Sayup sayup terdengar suara langkah kaki mendekat, "Waalaikumusalam, sebentar" .
Ceklek
Pintu terbuka dari dalam Ibunya Inara keluar dan celingak celinguk, "Siapa?" Inara malah terdiam dibelakang ibunya ingin sekali menangis dan merangkul orang yang dirindukan.
"Mamah" Inara berucap lirih.
Ibu winda berbalik, Ia terkejut dan reflek menutup mulutnya dan matanya berkaca kaca melihat sang anak ada dihadapannya dengan nyata.
"Sayang, Inara anakku ini kamu nak?!" Ia memeluk anaknya dengan erat.
Hik.. hik.. hik..
Tangis Inara tersedu sedu dipelukan Ibunya "Ara kangen mamah" Tangis sangibu pun terdengar samapi kedalam.
"Ada apa mah, ko__" Pak somad muncul dan ucapannya terputus kala melihat gadis kesayangannya ada dipelukan sang Istri.
"Ara sayang, kau kapan datang sayang. Bersama siapa kau kesini nak?!"
Serentetan pertanyaan Pak Somad kepada anak semata wayangnya, ia lantas mendekat dan memeluk anak serta istrinya di teras rumah.
Inara menangis diam dalam dekapan kedua orang tuanya dan berucap pedih.
'mereka sangat menyayangiku ya allah, bagai mana perasaannya bahwa anaknya sudah berbuat dosa dan menyakiti hati kedua orang tuaku'
Air mata Inara luruh dengan derasnya ia semakin mengencangkan pelukannya kepada sang ibu, ia sangat merindukan pelukan ini tenang dan nyaman.
"Ayok nak kita kedalam, kebetulan ibu masak makanan kesukaan kamu! pasti kamu laparkan sayang?!"
Ibu winda menuntun anaknya ke dalam, dan Pak Somad menggiringnya dari belakang dengan membawa koper sang anak.
"Kamu duduk disini ya, mamah angetin dulu makanan nya ya, atau ara ganti baju dulu di dalam"
Ucap sang Ibu kepada anak semata wayangnya, dan sang anak gadis itu menganggukan kepalanya tanda setuju dan berlalu ke kamarnya.
***
Sedangkan dikediaman Alvin sekarang sedang ramai karna ada syukuran kecil kecilan ulang tahun sang bunda, cuma mengundang tetangga terdekat dan kerabat keluarga sang papa.
Alvin melamun dipinggiran kaca dekat kolam, Ia gelisah setiap kali Menghubungi Inara pasti tidak aktif. Ia ketakutan dan perasangkanya buruk terus sampai tepukan tangan di bahunya menyadarkan lamunan Alvin.
"Lamunin apa bro serius amat?!" tanya Sahabat Alvin.
"Ah nggak, gue cuma lagi mikirin seorang teman yang pulang kampung apa dia sudah sampai rumahnya apa belum karna nomernya belum aktif juga" Sela Alvin.
"Temen apa demen, kelihatannya lu khawatir banget bro"
"bukan khawatir aja, gue juga udah kangen gak lihat dia, sampai minggu depan pula"
Akhirnya keceplosan juga atau tanpa sadar, Sahabat Alvin malah senyum senyum dan geleng geleng.
Ya Alvin memiliki sahabat, namanya Johan Davidsen anak dari sahabat papanya. Johan tak satu sekolah dengan Alvin, karna Alvin selalu pindah pindah sekolah karna bosan.
Sultan mah bebas ya bebs. sekolah saja bisa pindah pindah gitu aja.
.
.
__ADS_1
sudah dulu ya maaf kalo banyak typo dan gak nyambung🙏
Next part💖