Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 15


__ADS_3

Pagi yang cerah pun tiba, Inara dengan tergesa gesanya memakai sepatu Nike warna putih disenadakan dengan kaos oblong dan jaketnya berwarna Baby doll disertakan dengan celana jeans.


Dring telpon nyaring dari tas slempang mini miliknya, tertera dengan nama 'A Iky' ia menggeser tombol hijau kesamping, dan mengangkatnya.


"Ya Assalamualaikum A" salam Inara kala sambungan itu tersambung.


"Waalaikumusalam ra, kamu berangkat sekarang kan ke stasiun?!" Tanya A Iky di sebrang sana.


"Iya A, ini juga lagi siap siap" jawab Inara.


"Tunggu Aa kalau gituh, Aa pulang sekarang ya"


"Gak usah A, Ara diantar teman kok. Nggak gak usah pulang"


"Yakin diantar teman kamu?!"


"Iya Ara bener, ini juga lagi menunggunya"


"oh yaudah hati hati kalau gitu, maaf Aa semalam gak pulang ada pertemuan antar dosen soalnya dan kebetulan Aa panitianya, maaf banget ya" Ucapan A Iky panjang lebar.


"Iya gak papa A, sudah dulu ya teman Ara sudah datang. Nanti Ara telpon lagi kalau sudah nyampe rumah dikampung, daah A Assalamaulaikum"


"Iya Waalaikumusalam hati hati"


Sambunganpun terputus menyimpan kembali layar persegi panjang itu ke tas kecilnya, Inara melihat jam dipergelangan tangannya ternyata sudah jam tujuh lewat.


Gagas Inara berdiri dan mengangkat koper mini dibawah kakinya, lalu berjalan menuju pintu. Inara celingak celinguk mencari seseorang yang ia tunggu dari tadi.


Tiiiiin


Suara kelakson mobil lantas Inara menoleh ia melihat mobil berwarna putih megah.


Inara tak salah melhiat bahwa yang mengendarainya Alvin, dasar orang kaya beneran SULTAN mah bebas.


Alvin memakai Mobil yang harganya milyaran, kamu tahu itu Ferari mobil termewah di dunia ini. Inara sempat saja geleng geleng kepala dalam keterkejutannya.


Mobil itu bisa mendapatkan Rumah megah, Tanar berpuluh hektar, bahakan mobil motor ruko toko semuanya akan terbayar dengan mobil satu ini.


Mobil sport itu diciptakan oleh Christian Erland Herald Von Koenigsegg. Ia merupakan seorang mantan pengusaha ayam beku asal swedia yang pada tahun 1994 banting setir menjadi pembuat mobil sport.


Sekaya apa si Alvin ini? mengantarkan Inara ke beranda saja pakai begituan gak takut rusak apa mau pamer.


"Apa dia juga memiliki Mobil Rolls Royce atau satu lagi Porsche?!" gumam Inara pelan namun masih di dengar oleh Alvin.


Gadis yang berusia akan menginjak delapan belas tahun itu, bengong pokus ke depan menatap mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya yang orang sepertinya tak sanggup membeli.


Inara tak menyadari bahwa Alvin sudah disebelahnya dan membawakan koper mini miliknya dengan sigap.


"Itu mobil kesayanganku, kado ulang tahun dari kakek, kenapa kamu malah bengong sih Inara?!" Ucap Alvin mengagetkan Inara.


"H-hah" Inara terhenyak karna ketahuan bengong, ia menjadi gagap dan malu.


"Ayo sudah siang Inara, ke stasiun itu butuh satu jam dan kamu malah melamun disini kapan sampainya dong" sergah Alvin cepat.


"I-iya bentar, aku kunci pintu dulu" jawab Inara tergagap.


"Aku tunggu di mobil ya"


"Iya Al"

__ADS_1


Inara merogoh saku celana lalu mengeluarkan kunci dan menguncinya dari luar, ia simpan dibawah pot bunga yang gampang dicari saja, karna malam nanti akan ada yang pulang, siapa lagi kalau bukan A Iky.


Inara berjalan pelan menuju mobil Alvin, ia bingung duduk dimna? depan atau belakang Inara melamun kembali, dan dikagetkan oleh suara lembut Alvin.


"Kenapa berdiri disana ayok masuk" Inara membuka pintu belakang dan


"Di depan Cantik, aku bukan sopir"


"A-ah, I-iya aku didepan kalau begitu" Inara kembali menguasai kegugupannya.


Sekarang mereka dalam perjalanan menuju stasiun kereta api, yang ditargetkan berangkat jam 9 pagi, Inara banyak diam sejak masuk ke mobil mewah itu.


Iya teringat A Iky karna belum ngasih tau sesuatu Inara langsung merogoh tas slempang mininya dan mengambil layar persegi panjang lalu menyalakannya.


[A, Ara sudah diperjalanan dan kunci rumah biasa di bawah pot bunga ya]


Sand pesan terkirim. Namun, centang dua belum terbaca, Inara kembali menyimpan gawainya ditas.


"Ngabaran siapa?!" tanya Alvin dengan mode santainya menatap jalanan.


"Ngabarin A Iky ngasih tau, kalau aku sudah berangkat" jawab Inara jujur.


"Siapa Iky. Keluarga Pak Ahmad juga?!" Alvin balik bertanya kembali.


"He'em anak cikal Umi sama Abah" Inara tersenyum.


"Ohh kirain!"


"Kenapa?!"


"Ah nggak, kita hampir tiba ya sedikit lagi"


"Iya oke" Inara menjentikan tangannya dan tersenyum manis ke arah Alvin.


'Pengumuman! Kepada penumpang harap semuanya ke pengambilan tiket kereta akan berangkat dalam 15 menit dari sekarang'


Pemberitahuan di lodspeaker sudah di tetapkan bahwa pemberangkatan Inara terhitung 15 menit dari sekarang, Inara mengambil alih koper dari tangan Alvin.


"Al terima kasih, aku langsung berangkat ya" ucap Inara.


"Iya ra, aku antar kedalam ayok"


"Nggak usah kamu disini saja atau pulang saja, hari sudah menuju siang dan panas" tolak Inara halus.


"Ya sudah, hati hati" Alvin melambaikan tangannya.


"Ra tunggu" Alvin kembali berteriak karna Inara sudah menjauh, Alvin pun berlari mendekatinya.


"Ya Al?!"


"aku lupa minta no kamu" Alvin menyerahkan ponselnya.


"Ah iya aku juga lupa, minta no kamu"


Inara menerima handpon Alvin dan mengetikan nomernya satu persatu.


"dah Ini sudah, yasudah Al aku sudah telat 5 menit aku berangkat dulu, Assalamualaikum?!" Inara berpamitan.


"ya Waalaikumusalam" Alvin menatapnya sedih.

__ADS_1


Alvin belum beranjak sampai kereta itu berjalan ia hanya menatapnya dengan tatapan sedih, hatinya hampa mungkin terbawa Inara sebagian.


Dreet.. Dreet.. Dreet


Lamunannya buyar lantaran gawai milik Alvin bergetar, ia merogohnya dan mengangkatnya.


"Ya Hallo" ketus Alvin.


"Alviiiin jawab salam dulu, ihh dasar anak ini" teriak disebrang sana, dan Alvin reflek menjauhkan gawainya dari telinganya.


"Ahh lupa kirain siapa, maaf bundaaa" Alvin cengengesan.


"Cepat pulang, anterin bunda ke salon siang nanti ada arisan, cepat bunda tungguin 10menit dari sekarang"


Sambungan terputus 'wah gawat diomelin habis habisan gue' Alvin bergumam sambil menutup pintu mobil dengan kasar.


Wushh, Mobil Ferari itu melenceng dengan kecepatan tinggi, Alvin mengejar target dalam waktu 10 menit harus sampai di depan rumah.


Di dalam perjalanan Inara menyandarkan punggungnya ke kursi, ia melamunkan khidupannya yang tak mulus seperti gadis yang lainnya.


Ia menjatuhkan air matanya, merasakan sesak kala ia mengingat tanggal menstruasinya sudah terlewat empat minggu.


Begitu rapuh rasanya ia sekolah untuk mencari ilmu dan pengalaman namun malah mendapatkan luka hati yang mendalam bagi Inara.


Apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya jika dirinya bukan anak perawan lagi 'Maafkan Inara mah pak, Inara tak bisa menjaganya' jerit hatinya.


Ia tak sanggup menjalankan khidupannya sendiri dikala ia terpuruk selalu tangan sangibu yang menggenggamnya dan dukungan sosok ayah yang memperjuangkannya.


Namun sekarang apa ia bisa berkeluh kesah tentang keadaannya. bersedih dengan masalahnya, apa ia sanggup menceritakan segalanya kepada kedua orang tuannya.


'Ya Allah kuatkan hambamu, dari setiap masalah yang ku punya dan ku lalui, sabarkan dan lapangkan hati ini' Inara menatap pemandangan luar dengan tatapan kosong.


***


Kediaman Alvin


"Bi masakin telur urak arik sama nasi kuning ya" teriak Alvin dari ruang santai.


"Iya den siap, bibi buatin sekarang" si bibi itupun gagas pergi ke dapur membuat makanan kesukaan tuan mudanya.


Seorang pemuda berusia delapan belas tahun sedang bersantai dengan riangnya. Ia melihat lihat dan mensecrol aplikasi facebooknya dan mencari dipencarian paling atas dengan nama 'Inara Ramdhania' namun yang ia cari tidak ada.


Ia berulang kali mengetikan nama yang sama dan hasilnya tetap nihil, tak ada nama Inara Ramdhania di akun Facebooknya.


'Ah mungkin ia tak punya akun Facebook' gumam Alvin menyimpan gawainya ke atas meja dan ia duduk dari sandarannya.


Ting!.


Gagas Alvin mengambil gawainya kembali dan langsung membukanya ternyata nomer baru dan tak ia kenali.


[Vin ini gue Riyan, apa kamu kemarin mengantar sahabatku ke rumahnya]


Ternyata sahabat Inara yang menghubungi Alvin, gagas Alvin membalasnya dengan cepat.


[Sudah, malah gue anterin dia hari ini ke stasiun juga] terkirim.


[Oh ia, terima kasih Al]


Alvin tak membalasnya, Ia malah menyimpan kembali layar datarnya, menyandarkan kembali punggungnya dan melamunkan Inara, apa ia sudah sampai ya?

__ADS_1


Maaf kalau gak nyambung🙏


Next Part💖


__ADS_2