
Pak somad malah menggelengkan kepalanya ia sungguh masih kecewa terhadap anaknya dan tak ingin membahasnya sekarang.
"Pak jelaskan saja biar pemuda ini mencari anak kita, siapa tau dia mau bertanggung jawab" ucap Ibu Winda memohon kepada sang suami.
"Pertanggung jawaban apa bu? saya tidak mengerti dan kemana anak Ibu dan Bapak?!" tanya Alvin dengan nada khawatir.
"Anda masih tidak mengerti juga ya! Anda yang telah merusak anak gadis kehilangan kesuciannya dan menghamilinya. laki laki macam apa Anda ini?" geram Pak Somad.
"Apaaaa.. Inara hamiiil?!" Alvin tertunduk lemas.
"Ya dan anda orang pertama yang mencari gadis yang bernama Inara, dia sudah tidak dikampung ini saya sudah mengusirnya tidak ada hak lagi dia dikampung ini bikin malu saja keluarga kami, jika anda ingin menemuinya cari saja sendiri, saya tidak tahu" ucap Pak Somad panjang lebar.
"Apa maksud Bapak mengusir anak sendiri dengan keadaan hamil, orang tua macam apa ini. Demi rasa malu kalian mengusirnya dimana rasa empeti kalian sebagai manusia?"
Alvin berapi api menatap Pak somad dengan wajah marah, Alvin tidak kaget mendengar kenyataan bahwa Inara hamil karna ia sempat curiga, bahkan sekarang kecurigaan itu menjadi nyata.
"Heyy jaga mulut anda, jika anda membutuhkannya pungut saja! kami sudah tidak menginginkannya dia sudah mencoreng nama baik kami" ucap Pak Somad tegas.
"Ya sudah saya permisi, saya akan mencari dia dan membawanya ke khidupan saya, bagi saya dia berlian bukan yang sperti kalian katakan!"
Alvin berdiri dan menatap Ibu Winda sekejap lalu ia keluar menuju pintu dengan sopirnya, Alvin merasa tak percaya masih ada orang tua di dunia ini mengusir darah dagingnya dengan alasan anaknya membuat kesalahan hamil malu akan tindakannya, bukan kah itu namanya korban.
'Dimana kamu Inara, aku yakin kamu tidak akan jauh dari sini. Kecurigaanku benar bahwa inara sperti orang ngidam itu benar adanya karna ia tengah mengandung. Akhh sial! laki laki berengsek itu merenggutnya tanpa bertanggung jawab'
Alvin berjalan sambil melamun ia tak tentu arah, sang sopirpun menatapnya iba mereka jauh jauh kemari untuk menjemput kebahagiaan dan melepas rindu malah yang ia dapatkan rasa sesak yang amat dalam.
"Den tidak apa apa kan?" tanya Mang sopir membuyarkan lamunan sang majikan muda.
"Ahh enggak mang, cuma kecewa saja orang yang aku jaga. Hamil anak orang bukan anak saya" jawaban Alvin membuat sang sopir tertawa.
"Den nyadar itu kecelakaan, Den Al belajar saja yang gigih supaya nona Inara dapat ditemukan biarpun ketemunya nanti setelah kalian dewasa" Sergah sang sopir.
"Tapi mang aku maunya sekarang ketemu Inara, ia pasti kesulitan terus hamilnya masih muda mang. meskipun yang Inara kandung bukan anak Alvin, aku akan tetap menyayanginya karna aku sangat mencintai ibunya mang" jawab Alvin prustasi.
__ADS_1
"ya terus kemauan den Al sekarang bagai mana?!" tanya sang sopir lagi.
"Kita cari Inara deh, serahkan semunya sama bodyguardnya Ayah" ucap Alvin pasrah.
Mang sopir hanya mengangguk saja mana mungkin ia membantah apa yang dikatakan majikan mudanya, kalau sang majikan yang mencarinya mana mungkin ia saja masih dalam status pelajar.
Mereka akhirnya pulang kekota tempat Alvin tinggal, ia terlihat sangat terpukul tak ada gurat bahagia atau wajah ceria. Ia kesana menjemput bahagia dan membuang rasa rindu malah mendapatkan apa yang alvin tidak ia harapkan sama sekali.
Ia masuk ke rumah tanpa salam atau jawaban yang sang bibi lontarkan, ia lurus menuju kamarnya yang dilantai atas, ia nembantingkan tubuhnya ke atas kasur dan menatap langit kamar.
'Aku harus kemana mencarimu ra, aku belum menyatakan cintaku padamu malah kamu lebih dulu meninggalkan ku, aku tau waktu itu kamu sering muntah jadi aku tidak kaget kalau kamu hamil aku tetap mencintaimu Inara Ramdhania'.
Alvin membatin sambil terus menatap ke atas, suara dring telpon sekalipun ia tak mendengarnya ia sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk memikirkan orang yang ia rindukan.
Mendapati perjalanan yang membutuhkan waktu berjam jam untuk menjumpai seseorang yang berharga, Alvin tak terasa tertidur begitu lelapnya.
***
Waktu pulang jam kerja akhirnya Inara pulang jam 7 malam, ia dipulangkan lebih awal oleh stapnya. Inara mungkin merasa aneh dan tak di ijinkan untuk lembur.
Ia menerka nerka mungkin Inara bisa berjumpa kapan kapan karna waktu masih banyak ia menyesal telah melewatkan hal spenting ini.
'Ah sudah kita pulang ya nak, Bunda udah capek banget pengen bobo peluk kamu, ehh kita mampir dulu yu beli cilok, seblak plus bakso ke sukaan kamu sama Bunda'
Inara mengusap perut yang sedikit menonjol itu dengan tangannya penuh kasih sayang. Ia berjalan kaki karna tempat ia bekerja dan rumahnya tak terlalu jauh ia bisa menjangkaunya lewat berjalan.
'Padahal aku cari kerja menjahit saja, cape juga kalau tiap hari naik turun tangga! kasian si kecil Bunda pasti ikutan lelah yaa?' Inara kembali membatin.
Ia akhirnya sampai di rumah Pak Bagas stelah ia membeli apa yang ia inginkan. Bakso dan jajanan lainnya juga yang ia idamkan sejak sepulang bekerja.
Ibu hamil yang masih muda itu duduk di ruang makan sendirian menyantap hidangan jajanan yang ia beli sewaktu pulang ke rumah.
Ia menatap satu persatu kursi yang kosong masih tersisa tiga kursi lagi untuk orang duduki, Inara seketika berhenti mengunyah dan matanya berubah menjadi sendu.
__ADS_1
'Senang ya nak jika kita memiliki keluarga yang utuh kamu punya Ayah dan Bunda memiliki suami. Kapan kebahagiaan itu ya Allah aku seakan ditugaskan untuk menjadi wanita pekerja saat mengandung dan tanpa seorang suami pula, sungguh memalukan diri ini'
Inara meneteskan air matanya ia menginginkan kebahagian dan keluarga yang layak. ia ingin sperti gadis gadis pada umumnya dinikahi karna cinta dan memiliki buah hati yang diinginkan oleh keluarganya.
Namun naas ia tak seberuntung gadis diluaran sana, ia dinodi sebelum sah dan direnggut sebelum di nikahi. Inara terus mengangan angan kapan kebahagiaan itu iya alami untuk waktu yang sudah terlewat.
Ia menangis seorang diri di malam yang sunyi hanya ditemani dengan jeritan dalam hati inara sungguh memilukan gadis berusia 18 tahun sudah mengandung buah cinta dari cinta pertamanya.
Bekerja, menafkahi diri sendiri ia lakukan diumur yang masih dibilang seorang pelajar.
***
Pagi menyapa Alvin sudah rapih dengan seragamnya duduk di meja makan dengan sang sopir karna orang tuanya belum pulang dari kota bogor itu.
"Masih pagi loh den, mamang belum siap siap panasin mesin sudah disuruh makan aja, mau kemana biasa juga kan masuk sekolah jam delapan"
Ucap sang sopir bertanya dengan keheran heranan tak biasanya si tuan muda minta berangkat pagi pagi sekali.
"Kita ke rumah seseorang dulu mang, ada sesuatu yang harus di luruskan" ucap Alvin dengan nada dingin.
"Ah iya kalau begitu ayok, kita serapan di jalan saja" ucap si mangnya.
Lantas Alvin pun berdiri dan menganggukan kepalanya tanda setuju, Si mang sopirpun membuntuti si majikan mudanya menuju ke depan dan memasuki wilayah gerbang dan tanpa babibu Alvin masuk dan duduk dibagian belakang mobil.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah kediaman Alvino Bagaskara, menuju jalanan raya yang mulai ramai dan padat oleh pengendara roda empat, tujuan utama seorang Alvin menemui Fahmi Priandika tersangka pertama yang Alvin nyatakan.
Alvin mengetahui rahasia Fahmi soal taruhan dan menginginkan kegadisan pacarnya, dan terbukti Inara tengah mengandung ia yakin yang Inara kandung saat ini ulah sosok manusia biadab yang bernama Fahmi Priandika.
.
.
Maaf kalau gak nyambung🙏
__ADS_1
Next Part💖