Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 23


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan jam satu siang, ini saatnya jam makan siang dan semua pekerja berhamburan mencari tempat makan, ada yang dikantor lalu memesan lewat COD ada yang keluar langsung mencari sendiri.


Inara dan teman teman barunya tengah mengobrol sambil makan di pantry dan yang lain menceritakan khidupannya dikota sedangkan Inara menceritakan dirinya juga selebihnya ia membuat kebohongan.


"Ah iya katanya akan ada pemilik perusahaan asli datang, tapi kok belum muncul udah siang loh ini" tanya Lusi masih sibuk dengan makanannya.


"Iya yaa! kalau gak salah mereka katanya dari kota M dan nama aslinya siapa lu? lupa lagi aku" Maya malah kebingungan.


"Emm,, itu apa? namanya Alvino Bagaskara dan Istrinya bernama Alma Naziya serta anaknya itu apa Alvin" jelas Lusi lagi.


"Ya itu ya kalau gak salah" ucap mereka serempak dan menganggukan kepalanya.


Degg... Inara memakan makanannya mendadak berhenti dan susah untuk ia telan, Inara melirik dan mengangkat kepalanya menatap Lusi dan Maya dengan mata tak percayanya.


"Kenapa kamu, kok belotot gitu ke kita" ucap Maya sambil menatao kembali wajah terkejut Inara.


"Ahh nggak, nggak. Aku merasa nggak asing saja dengan nama itu" jawab Inara dengan senyuman kikuknya.


"Ehh iya, katanya perusahaan ini akan menjadi milik anaknya suatu kelak, meski perusahaannya dimana mana Anak Pak Alvino kekeh ingin memimpin perusahaan Bagaskara Group ini" ucap Lusi panjang lebar.


Ia lebih tau seluk beluk perusahaan Bagaskara Group karna ia asli orang Bogor dan ia sudah lama bekerja disana menjadi Office girl.


"Waaah anaknya cowok kan? gantengnya pasti gak ketulungan Lusiii" gumam Maya menyela Lusi.


Inara hanya berdiam dengan makanannya sendiri, ia tampak mengingat kata Bagaskara group sperti tak asing dan pernah mendengarnya. Inara menerka mungkin Alvin anak pemilik perusahaan ini atau mungkin juga namanya sama dan kebetulan.


'Ah masa iya sih ini milik perusahaan keluarga si Alvin mungkin namanya kebetulan sama' lirih Inara didalam hatinya.


Sedangkan Tuan Alvino Bagaskara serta Istrinya Nyonya Alma Naziya sedang dalam perjalanan menuju kota bogor mungkin dalam beberapa menit lagi mereka sampai di kantor Bagaskara Group.


Sekertaris pribadi Tuan Alvino menelpon pada satu jam yang lalu bahwa ia menerima lamaran seorang gadis tanpa Surat lamaran ataupun ijazah, karna jasa Office girl sangat dibutuhkan juga waktunya kepepet.


"Siapa namanya dan asli orang mana ken?" tanya Tuan Alvino di sambungan telponnya.


[Ahh iya tuan namanya Inara Ramdhania ia baru berusia 18 tahun, ia rajin juga semangat bekerja, ia asli dari kampung] jawab sang sekertaris dari sebrang sana.


"Iyh gapapa juga, biar dia bekerja saja lagiankan pegawai makin banyak jadi pekerja office girl juga harus di tambah, oh iya saya dalam perjalanan menuju kantor" ucap Tuan Alvino lagi.


[siap tuan]


Sambungan telpon Tuan Alvino Bagaskara yang memutuskan scara sepihak.


Kenzo Arich nama lain dari skertaris pribadi Tuan Besar mereka Alvino Bagaskara, usianya sudah menginjak 30 tahun ia masih melajang dan tak mengenal sosok wanita ia hanya penggila kerja.


Meskipun orang mengira itu anak pemilik perusahaan karna memiliki wajah yang tampan juga berkarisma Kenzo hanyalah laki laki yang ditugaskan Tuan Alvino untuk menanggung jawab kan Bagaskara Group dan ditetapkan di kota ini.


Ia menemukan Kenzo dari kejaran segerombolan geng yang membawa senjata kebetulan Tuan Alvino sedang dinas dikota tersebut dan membawanya pulang ke kota bogor.


***

__ADS_1


Seorang remaja laki laki yang masih


bersetatus pelajar telah sampai di kampung dukuh dekat kaki gunung bersama sopirnya berjalan kaki menuju rumah orang tua Inara.


Karna menuju rumah orang tua Inara tak bisa masuk mobil, terpaksa Alvin berjalan kaki dengan Mang sopir. Di sepanjang perjalanan Alvin hanya bersenandung kecil menatap perbukitan nan persawahan yang luas dan membentang Indah.


"Mang, indah juga asri ya kampungnya pasti sering sering deh kita kesini nyaman" ucap Alvin mengajak ngobrol sopirnya.


"Iya den, saya bertanya tanya dalam hati dari kemarin! Den Al mau ngapain ke kampung ini?!" tanya balik sang sopir.


"Ada seseorang yang aku rindukan mang, jadi aku menemuinya" sergah Alvin tersenyum manis.


"Apa si neng yang waktu itu Den Al anterin ya" tanya balik mang sopir.


"Bener banget maang, jadi ini kampungnya. Ayok mang kita tanya sama orang orang disana yang sedang ngerumpi tuh"


Tunjuk Alvin ke arah ibu ibu yang sedang memilih milih pakayan, Alvin dan Mang sopir berjalan perlahan namun pasti mereka taunya sudah sampai didepan rumah tersebut.


"Ekhemm, Permisi ibu saya mau tanya"


Ucap Alvin memberhentikan aktivitas ibu ibu itu dan berbalik menatap Alvin dengan mata bulat semuanya.


"Ah boleh ganteng, dari mana dan mau nanya apa?" salah satu ibu ibu berjilbab menjawabnya dengan ramah.


"Wah kamu mirip Cha Eun Woo, dari mana ganteng?" heboh ibu ibu yang lain.


"Apa temannya atau teman kamarnya?" Ibu ibu malah ketawa kencangnya.


Seketika Alvin bingung ia menatap ibu ibu satu persatu dan membuka kecamatanya, sungguh aneh.


"Kenapa malah bengong nak, kamu mencari wanita pembawa sial ke kampung ini?" serebot ibu ibu lain juga.


"Begini saja, saya tidak mengerti ucapan ibu ibu disini tunjukan saja rumah orang tua teman saya dimana?"


Tanya Alvin dengan tegasnya membuat tawa ibu ibu itu seketika berhenti dan salah satu dari mereka menunjuk rumah yang paling atas bercat coklat.


"Tuh diatas, stelah kejadian anaknya kita jarang berkumpul lagi dek. jadi kamu pergi saja kesana sendiri dengan sopirmu itu" ucap ai ibu yang berjilbab.


Alvin mengangguk dan beranjak berpamitan kepada sekerumunan ibu ibu itu dan mengajak sopirnya berjalan ke atas sana.


Tok.. tok.. tok..


Sesampainya disana Alvin mengucapkan salam serta mengetuk pintu namun orang rumah tak kunjung ada tanda tanda membuka pintu.


"Assalamualikum??" salam Alvin lagi yang ke beberapa kalinya.


"Waalaikumusalam, sebentar" dijawab dan suaranya wanita.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu terbuka dari dalam menampilkan sosok wanita yang sudah tidak muda lagi tapi mirip dengan wajah yang Alvin rindukan.


"iya cari siapa nak, Ayok masuk dulu gak enak kalau berdiri di teras, maaf tadi kami di halaman belakang" ucap Ibu Winda menjelaskan.


"Ah iya bu, maaf merepotkan" ucap Alvin canggung.


Alvin pun masuk beserta sopirnya ia duduk di kursi bambu berwarna hitam, ia melihat wajah Inara dibantal yang dibelakangi sang sopir lantas Alvin menariknya dengan sedikit kasar.


"Kenpa den?" sang sopir bertanya dan sang empu malah diam dan menggelengkan kepalanya.


"Sebentar ya saya siapin minum di dapur" Ucap Ibu winda dan berlalu menuju ruangan belakang.


"Ada siapa mah?, uhuuk uhuuk" tanya Pak Somad dan disertai batuknya.


"Tamu gak tau dari mana, anak muda ganteng lagi" jawab sang Istri tanpa menatap suaminya.


Pak somad datang dan menghampiri remaja laki laki dan laki laki satunya mungkin seumuran dirinya, Pak somad lantas duduk di depan mereka.


"Kamu siapa dan mau mencari siapa? tanya Pak somad to the point.


"Ah iya. Apa bener ini rumahnya Inara Ramdhania dan saya teman sekolahnya" jawab Alvin dengan tenang.


"Saya tidak memiliki putri, sebulan yang lalu putri saya sudah meninggal" ucap Pak somad tegas.


"Bapakkk"... prang gelas berisi teh panas itu berjatuhan ke lantai dan pecah.


"Bapak kenpa bilang begitu anak kita masih hidup pak!" seru bu Winda dengan menahan tangisnya.


"Itu menurut mu bukan menurut saya" ucap Pak Somad tak terbantahkan.


"Ada apa ini apa Inara baik baik saja dimana dia saya ingin bertemu" ucap Alvin sambil berdiri.


Pak somad malah menatap sang tamu dengan tatapan dingin, sperti mengisyaratkan untuk segera duduk kembali. Alvinpun mengerti lantas ia duduk kembali.


"kamu kesini mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu begitu? atau sekedara mencari dan merusaknya lagi" Tanya Pak somad serius.


"Maksud Bapak bagaimana, saya tidak mengerti?!" tanya balik Alvin dengan bingungnya.


"jangan pura pura kamu! saya tahu pasti kau orang yang merusak anak gadis orang dan ingin merenggutnya lagi begitu. Hahh dasar anak zaman sekarang taunya scandal dan s*x saja" ucap Pak somad memalingkan wajah.


"Maksud bapak apa, sumpah saya tidak mengerti pak tolong jelaskan saja biar saya paham" ucap Alvin ngegas lantaran tak mengerti ucapan orang tua Inara.


.


.


Sudah ya maaf kalau tidak nyambung🙏


Next Part💖

__ADS_1


__ADS_2