
***
Pagi pagi sekali Inara terbangun dan menuju Wc dekat dapur ia memuntahkan semua isi perutnya, ia terduduk lemah didekat kloset perutnya serasa dikocok dan diaduk begitu mual dan pusing.
Ia merangkak dan memaksakan berdiri berpegangan kepada dinding kamar mandi seakan akan ia tak memiliki tulang lemas dan lentur yang inara rasakan saat akan berdiri
'Ada apa denganku, apa mabok perjalanan ya?! perasaan dari kemarin kemarin nggak gini deh. Meski sering pusing juga'
Inara bergumam pelan dengan tangan menyangga kepala karna begitu pusing dan tempat disana yang ia lihat serasa berputar dan ada dua.
Inara perlahan berdiri dan melangkah pelan keluar kamar mandi, ia melihat jam di dinding menunjukan masih jam 3 dini hari, Lantas Inara duduk dikursi makan dan mengambil satu gelas air untuk membasahi tenggorokannya.
Air digelas itupun kandas dalam satu kali tegukan 'Ahh segarnya' Inara menyentuh tenggorokannya yang sudah dibasahi dengan air putih itu.
Ia berdiri dan kembali ke kamar dengan menutup pintu perlahan takut orang tuanya terbangunkan, karna kamar mereka bersebelahan dengan kamar Inara.
'Dimana ya aku simpen hp?!' Inara mengutak ngatik tasnya, dan mengmbil benda pipih itu dan mencari charger untuk mengisi daya batrainya.
Setelah ditemukan ia berdiri lalu melangkahkan kaki berjalan ke arah meja tempat belajar dan duduk dikursi kayu yang sudah lapuk, ia mencolokan chargernya dan ia simpan gawainya di atas meja.
Inara menguap dan langsung berdiri kembali, ia berjalan menuju ranjangnya dan berbaring menyamping melipat kedua tangannya dibawah kepala.
Cahaya sinar matahari menyambut pagi yang cerah, dilingkungan yang masih sejuk dan asri kampung dukuh dibawah kaki gunung itu sangat nyaman dipandang.
Inara duduk melamun dikursi kayu dekat pagar diteras rumah melihat pemandangan yang dulunya tempat bermain dari pagi sampai sore.
"Pagi sayaaang" sapa Pak Somad duduk disamping Inara dengan membawa koran digenggamannya.
"Bapak" Inara menoleh ke arah Pak Somad "kemana orang orang biasanya slalu ramai kalau pagi pagi pak?!" tanya Inara.
"Sekarang kan sudah ada pasar baru diujung sana, sebagian ada yang berangkat bekerja sebagian lagi pasti berbelanja" jelas Pak Somad.
"Kalau mamah kemana pak, kok didapur nggak ada?!" tanya Inara kembali.
"Si mamah sama tadi pagi pagi sekali berangkat sama ibu ibu yang lain belanja" jawab Pak Somad pokus ke korannya.
"eem iya!" ucap Inara mengangguk nganggukan kepalanya tanda mengerti.
Inara berdiri dan beranjak dari kursi meninggalkan teras menuju kedalam, ia berbalik kala mendengar dring telpon dari dalam kamarnya.
'Siapa si, pagi pagi pula?!' gumam inara dengan cepat mengambil benda pipihnya yang tergeletak dimeja belajar.
Tertera nomor baru yang muncul, inara gagas mengambilnya dan menekan gambar telpon warna hijau kesamping ia mengangkatnya.
"Halo Assalamualiku, siapa ya?"
Tanya Inara. Namun, tak ada jawaban dari sana, Inara ingin mematikannya namun seseorang dibalik sana bersuara dan itu bisa dipastikan suara laki laki.
__ADS_1
"I-iya Waalaikumusalam, ini aku Alvin" jawabnya disebrang sana.
Gadis itu malah tersenyum, dikira stelah ia pulang ke kampung teman sekolahnya akan melupakannya dan tak mau mengabarinya, tetiba Inara malah melamun ketika sambungan telpon masih tersambung.
"Halo apa kamu ada disana Ara?!"
"Ah iya aku disini, Ini masih pagi ada apa menelpon Al?"
"Nggak, aku cuma ingin kabar kamu apa sudah sampai rumah dengan selamat Ra?"
"Emm baik, aku sampai rumah jam tujuh malam dengan selamat pula"
Inara sedikit berbohong, yang berharap menghubunginya sang mantan pacar malah Alvin yang dulunya ia mati matian Inara cuekin tapi sekarang orang itu malah bebas tatkala tak ada hubungan apa apa lagi anatra Inara dan Fahmi.
"Ya syukur deh kalau kamu selamat sampai rumah, aku tenang mendengarnya".
"Iya Al, sudah dulu ya aku dipanggil ibu" ucap Inara berbohong.
"Ya sudah aku juga mau olahraga, Assalamualaikum" salam Alvin berpamitan.
"Emm Waalikumusalam".
Inara menyimpan gawainya dikasur, ia menyugur rambutnya kebelakang dengan bergumam lirih didalam hatinya.
'lama lama aku stres memikirkan orang yang tak akan mengharapkan aku kembali, aku sudah tak suci. Aku kotor bahkan orang bekas spertiku tak akan ada yang mau'
Tok.. tok.. tok..
Ucap sang Ibu berteriak dari luar, Inara gagas bangkit menuju cermin dekat pintu dan menghapus air matanya.
Inara keluar langsung menuju dapur disamping ruang tamu "Wahh mamah tau aja yang Ara suka, kirain sudah lupa" kekehnya.
"Masa ia lupa, mamah tau semuanya makanan kesukaan kamu sayang. ngaco kalo mamah lupa, kalo gak pikun"
Mereka berdua asyik bercanda dan tertawa didapur itu sambil memotong motong sayuran yang akan mereka pasak dipagi ini. Inara melupakan kesedihannya yang menggunung itu.
Ia tertawa lepas tak ada gurat kesedihan diwajahnya, cuma ada wajah cantik dan ayu dan hidung bangirnya.
"Oh iya mah, apa susi diteruskn sekolahnya? atau nggak, soalnya Ara kangen banget sama tuh anak"
Tanya Inara dengan menatap sang Ibu tak berkedip, iya Susi itu adik kelasnya Inara sewaktu masih sekolah pendidikan dasar (SD) Susi teman dekatnya yang sering mandi disungai bersamanya waktu pulang sekolah dulu.
"Nggak, dia malah kerja bantuin mamaknya dipasar sayang. Kalau kamu ingin bertemu dengannya, temuin saja dia nanti kalau sudah sore ya"
Ucapan sang Ibu, Inara cuman menanggukan kepalanya tanda mengerti, ia tak menyadari kalau rambutan yang ia makan sambil ngobrol itu habis tak tersisa.
"Mah rambutannya Inara abisin, ada lagi gak Ara masih mau soalnya enak juga seger ditenggorokan!"
__ADS_1
"kamu abisin? kan belum makan sayang nanti sakit perut Ara"
Ucap sang Ibu sambil berbalik menatap anaknya tak percaya pagi pagi begini habisin rambutan dua kilo. Ibu Winda geleng geleng kepala tanda tak percaya anaknya serakus itu sekarang.
Inara menatap juga kepada sang Ibu yang ngerasa ada yang aneh apalagi geleng geleng kepala begitu.
"Mamah kenapa menatapku begitu?!" sungut sang anak cemberut.
"Kamu yang kenapa, pagi pagi habisin rambutan itu mamah belikan niatnya buat ngemil kamu siang nanti kenapa malah dihabisin semua kayak orang ngidam saja kamu, jadi rakus sekarang"
Deg.. Inara kaget atas ucapan mamahnya barusan, apa ia dia ngidam karna hari hari kemarin juga sama ingin memakan sesuatu yang diluar dugaan.
Inara langsung mengingat saat saat bersama Alvin pas pulang sekolah dihari sabtu kemarin, Ia makan ketoprak dengan lahapnya juga menginginkan manisan jajanan anak keci, warna kuning pula padahal Inara tak menyukai warna kuning
Inara bergeleng pelan mungkin kebetulan saja, masa iya dirinya ngidam kejadiannya juga sudah lama sebulan dua minggu lamanya, mungkin itu hormon stres saja.
"Mamah ada ada saja ngaco, masa anak gadis ngidam gak lucu tau"
"Haha abis kamu lucu, pagi pagi udah ngabisin rambutan dua kilo sayang. Mamah percaya kok anak gadis mamah pasti bisa menjaganya"
Ucapan sang Ibu mampu menyayat hati Inara 'Maafkan anakmu mah, ia tak bisa menjaganya dengan baik' dalam hatinya menjerit sakit.
"Mah bapak mana?!" Inara mengalihkan pembicaraannya supaya tak larut dalam kesedihan.
"Bapak mungkin sudah keladang sayang, nanti kamu anterin nasi ya. soalnya bapak belum makan"
"Ya siap mah, Inara mandi dulu kalau gitu"
"Iya sayang"
***
Sedangkan Alvin baru saja menyelesaikan olahraga paginya dirungan terbuka dekat kolam, Ia mengambil air mineral botol dimeja. Alvinpun duduk menyandarkan tubuhnya pada Kursi kayu.
"Inara.. Ahh aku lama lama gila beneran jika terus mengingat dia" gumam Alvin dan ia berteriak "Akhh mengapa wajahmu selalu terbayang sih".
Alvin malah melompat ke kolam menyeburkan dirinya dengan berenang cepat menuju ke tepian kolam, ia berhenti dan memunculkan kepala dipermukaan air.
Ia beranjak naik, menyudahi aktivitas berenang yang sekejap itu, ia berlalu dan masuk rumah dengan basah kuyup.
"Den kenapa basah basah emang diluar tidak ada handuk, nanti masuk angin".
Ucap sang bibi khawatir, Alvin tidak mengindahkan ucapan pembantu itu ia terus berlaju menuju kamarnya yang ada dilantai atas.
.
.
__ADS_1
Sudah dulu ya maaf kalau gaje🙏
Next Part💖