Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 14


__ADS_3

Selain Riyan yang mengintip dua insan yang sedang beragumen itu, ada Alvin didekat WC melihat orang yang disayangnya disakiti tanpa dirasa ia mengepalkan tangannya sampai memerah.


"Sabar Inara aku akan balaskan rasa sakitmu untuk pria bajingan itu"


Alvin bergegas kembali ke kelasnya dengan terges gesa dan mata berkaca kaca.


***


Pintu gerbang


"Ra aku antar yah?!" ucap Riyan perhatian.


"Tidak usah baby, aku jalan kaki saja aku gak mau ngerepotin kamu terus, lagian aku ingin sendiri dulu yan" kekeh Inara lemah tak mau diantar pulang oleh Riyan.


"Ya udah kamu biasa nolak ajakan baik sahabatmu ini, Aku udah biasa juga dicampakan olehmu" gumam Riyan lirih tak bersemangat.


"bukan gitu by, aku ingin sendiri" kambali Inara berucap demikian.


"ya udah deh kali ini aku ngertiin kamu, aku pulang duluan ya ra. sampai jumpa 2minggu kedepan"


Riyan bergegas menuju parkiran mengambil kendaraannya si kuda besi beroda dua, Ia diparkiran melihat Alvin berjalan menuju ke arahnya.


"Inara baik baik aja yan? kenapa tak bareng denganmu dimana dia?!"


Rentetan pertanyaan Alvin tanpa jeda dilayangkan ke Riyan dengan tatapan yang sulit diartikan, mungkin tatapan kahwatir.


"Emang Inara kenapa Al?" tanya Riyan balik pura pura tidak tahu.


"kamu jangan pura puraa gitu deh, aku tahu masalah Inara dan Fahmi, mereka pacaran sudah 6 bulan kan, dan aku tahu juga tujuan Fahmi mempacari Inara untuk apa" sungut Alvin panjang lebar.


"Kamu tahu darimana Al?!"


"kamu tak perlu tahu aku tahu dari mana, yang penting aku ingin melindungainya mulai saat ini detik ini juga" Ucap Alvin berlalu.


"heyy.. Alvin tunggu" teriak Riyan.


Dan alhasil Alvin pun berhenti masih di area parkiran, Alvin berbalik menaikan alis tebalnya dengan tatapan bingung.


"Tunggu Alvin, jika kamu ingin melindungi Inara lindungilah, ia sudah pulang dari tadi dan tak mau aku antar, temanilah dan antarlah Inara pulang sampai depan rumahnya dengan selamat, aku tak mau dia kenapa napa"


Ucap Riyan panjang lebar dan dianggukan oleh Alvin, Riyan pun kembali pokus ke kuda besinya.


"Oke baiklah, thank"


Alvin berlari bergegas ke luar gerbang, Ia tersenyum kala orang yang dicari masih disekitaran tempat jualan ketoprak si mang mang gerobak.


Ia menuju ke tempat Inara duduk, ternyata Inara sedang memakan ketoprak begitu lahap dan Alvin sangat menyukainya.


Alvin duduk dibangku plastik disamping Inara, Inara tak menyadari kedatangan Alvin ia pokus ke makanannya.


"Lahap banget, lapar apa doyan?!" tanya Alvin sambil melihat Inara tanpa berkedip.


"gak tau, pokonya enak banget ini"


Jawab Inara tanpa melihat orang yang ngomong disampingnya. Alvin menunggu Inara dengan sabar. Tak lama kemudian Inara pun selesai memakan makanannya.


"Ahh kenyangnya, begah banget perutku" Inara bergumam pelan sambil menghadap samping ke tempat duduk Alvin.


Inara reflek menutup mulutnya karna kaget. dan melayangkan pertanyaan dengan suara cemprengnya.


"Sejak kapan kamu duduk disitu?!"

__ADS_1


"sejak kamu makan itu" jawab Alvin sambil menunjuj mangkuk yang sudah ludes dilahap Inara.


"Ngapain kamu disini, ini tempat kotor bukan tempat orang kaya sepertu kamu Alvin" serobot Inara.


"Memangnya kalau orang kaya gak boleh gitu duduk ditempat gini, orang kaya juga manusia Inara" balas Alvin dengan tersenyum manisnya.


Inara jadi malu dan terdiam, Karna ketopraknya sudah dibayar tadi Inarapun berdiri dari duduknya dan bergegas melangkah meninggalkan Alvin yang sedang senyum senyum.


"heyy tunggu kamu mau kemana Inara, pulang bareng Aku yuk?!" Pertanyaan dan ajakan Alvin lontarkan.


Inarapun mendadak berhenti dab berbalik "gak usah aku punya kaki kok" judesnya.


Alvin malah tersenyum dan mengejarnya kembali, dan berjalan pelan dibelakang Inara dengan tangan yang dimasukan ke saku depan.


"Kamu kok ngikutin aku Alvin, stop gak aku mau sendiri pliss" mohon Inara.


"Iya iya, tapi kamu mau kemana dulu ini bukan arah jalan pulang ke rumah mu Inara" sela Alvin lagi.


"suka suka aku dong mau kemana juga, gak usah ikut campur ya" sewot Inara sambil duduk dibangku taman dekat jalan raya.


Ya mereka sedang duduk dibangku panjang di taman dekat jalan raya melihat kendaraan yang berlalu lalang dengan sibuknya.


Inara dan Alvin hanyut dalam pikirannya masing masing, terdiam satu sama lain. Tatapan Inara teralihkan oleh penjual manisan di ujung jalan.


Tetiba air liur Inara ingin menetes, saking tergoda oleh jajanan anak anak itu 'pantes manis banget dimulut' gumam Inara di dalam hatinya.


Namun ia cemberut karna sudah tak memiliki uang sepeserpun, seketika Inara ingat kalau Alvin orang kaya lantas ia berbalik menghadap Alvin.


"Al kamu punya uang gak, aku mau itu" to the point dan Inara langsung menunjukinya.


Alvin mengkuti jari telunjuk Inara yang menunjukan tempat pedagang itu.


"yakin kamu mau itu, itukan makanan anak anak" tanya Alvin kembali menghadap Inara.


Alvin malah tersenyum melihat Inara dengan lucunya cemberut seperti anak gadis yang minta jajan ke ayahnya.


"emm ya udah kamu tunggu disini, aku kesana sekarang" ucap Alvin dan berlalu.


"Tunggu!" Inara berdiri.


"Ada apa lagi?!" tanya Alvin menaikan sebelah alisnya.


"Aku mau yang warna kuning ya" cicit Inara dengan tersenyum senangnya.


Alvin menganggukan kepala dan bergegas dari sana menuju penjual manisan warna warni.


"mang manisannya satu yang warna kuning"


"Yang jumbo atau yang biasa?!"


Tanya si mang emang penjual dengan ramah. Alvin meminta yang jumbo, ia memberikan uang pecahan 50ribu ke penjualnya.


"Kegedean mas, itu harganya cuma 10rb aja" ucap s mang.


"Gak papa mang, itu dari saya ikhlas karna saya sedang bahagia" balas Alvin ramah.


"Ia terima kasih banyak mas, semoga selalu bahagia" ucap s emang penjual antusias.


Alvin beranjak dari sana dengan membawa manisan jumbo berwarna kuning, sesampainya didepan Inara ia langsung menyerahkannya kepada Inara.


Mata Inara jelas terlihat berbinar oleh Alvin, "dikasih manisan aja kamu sesenang itu Inara' ucap Alvin dihatinya.

__ADS_1


"Makasih Al, lain kali aku ganti uangnya ya" senyuman bahagia Inara.


"Gak usah ra, aku ikhlas kok" balas Alvin dengan membalas senyuman Inara.


Inara melamun bagai mana caranya besok Inara kestasiun secara kan orang rumah besok bepergian, apa iya dia meminta bantuan Riyan lagi. Sudah banyak sekali Inara merepotkan dan menyusahkan sang sahabat.


"Emm iya Al, aku besok pulang kampung kan sekolah libur 2 minggu bisakah kamu mengantarku besok ke stasiun, karna orang rumah besok bepergian" jelas Inara gamblang meminta bantuan Alvin.


"Iya siap, kalaupun diminta anterin kamu sampai kampungpun aku mau" sergah Alvin.


"gak usah nanti aku ngerepotin kamu, dan bapak sama mamah nanti berpikir yang aneh aneh"


"Iya deh gak papa sampai stasiun juga" ucapan lesu Alvin.


"Terima kasih banyak Al, kalau gak ada kamu aku gak tahu harus minta tolong siapa?" ucapan Inara lirih.


Akhirnya mereka pulang dan Inara diantar pulang oleh Alvin sampai depan rumah.


Inara masuk ke dalam rumah namun nampak sepi, kemana semua orang.


"Assalamualikum?!" salam Inara menggelegar di dalam rumah yang sepi itu, Inara berjalan dan memyimpan sepatunya di rak.


Perlahan Inara berjalan lesu masuk ke dalam kamar, bau parfum menyengat Inara lantas menutup hidungnya gagas membuka jendela kamar karna bau itu masih ada Inara beranjak dan keluar kamar kembali.


"kenapa aku jadi begini terus selalu lapar terus, apa aku masuk angin ya" celoteh Inara.


Tring.. Tring.. Tring..


Suara telpon dari kamar Inara nyaring, ia masuk ke kamar dan mengambil gawainya terus keluar lagi karna bau parfum dikamar masih tercium.


Tertera nama 'Umi' di layar ponsel Inara ia menggeser tombol hijau ke samping dan mendekatkan gawainya ke telinga Inara.


"Assalamualikum teh, Sudah pulang?" Salam umi dari sebrang telpon.


"Waalaikumsalam umi" jawab Inara.


"Umi sudah berangkat tadi jam 11 dengan abah juga Ratu, tadi mau pamit nungguin teteh belum pulang juga ya sudah umi berangkat saja, tadinya mau besok tapi pesawatnya landing hari ini, Teteh gak papa kan besok gak diantar kestasiun" jelas umi panjang lebar ditelpon.


"Iya gak papa umi Inara bisa naik angkot, umi gak perlu khawatir ara udah gede loh, umi hati hati dijalan selamat sampai tujuan ya" balas Inara


"Itu ongkosnya umi simpan dilaci kamar kamu, semoga cukup sampai rumah ya sayang. Maafin umi" suara Umi lirih di sebrang sana.


"Iya tak papa umi, ya sudah ara tutup dulu, mau ke kamar mandi"


"ya sudah umi juga, sebentar lagi landing sayang. Assalamualaikum?!"


Perbicaraanpun terputus, Inara cuma beralasan kekamar mandi itu karna Iya menahan pusing sejak tadi masuk ke kamar, dan perutnya juga seperti dikocok begitu mual dan lemas.


Inara melamun disandaran kursi ruang tamu ia melihat kalender yang terletak di dekat tv sudah akhir bulan dan Inara kaget ia langsung berdiri mengambil kelender kecil itu.


"Apa udah akhir bulan dan aku belum menstruasi satu bulan ini aku telat" Inara syok plus bingung iya terduduk lunglay.


"ahh nggak aku gak boleh mikir yang aneh aneh masa sekali langsung jadi gak mungkin, ini mungkin hormon karna akhir akhir ini aku stres banget" monolog Inara.


Inara ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tanpa mengganti seragamnya, Inara perlahan menutup matanya dan tertidur pulas dengkuran halus itu menandakan Inara ngantuk plus lelah.


.


.


Sudah dulu maaf kalau gak nyambung, dimaklumi ya karna permulaan🙏

__ADS_1


Next Part💖


__ADS_2